TUGAS TERSTRUKTUR
STRUKTUR ORGANISASI BK DI SEKOLAH MATA KULIAH BIMBINGAN DAN KONSELING
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling yang diampu oleh Dr. Naharus Surur, M.Pd.
Disusun oleh:
Nama : Dina Maretta NIM : K5418025 Kelas : A
PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2020
Struktur organisasi BK di Sekolah dapat digambarkan dalam bagan berikut:
Dari bagan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Kepala Sekolah membawahi guru BK, yang berfungsi mengkordinir, menyediakan sarana dan prasarana BK. Kepala Sekolah dalam membuat keputusan, dan mengevaluasi BK di Sekolah yaitu bersama dengan Komite Sekolah dan juga bisa mendatangkan ahli-ahli konseling dari luar. Sedangkan guru BK tidak bekerja sendiri, melainkan dibantu oleh wali kelas dan guru mata pelajaran dalam menghadapi masalah di kelas. Jadi tidak langsung menyerahkan peserta didik yang membutuhkan bimbingan ke guru BK, tapi bisa melalui wali kelas maupun Guru Mapel. Jika wali kelas dan guru mapel tersebut belum bisa memberi solusi atas masalah peserta didik maka mereka berhak mereferensikan peserta didik ini ke guru BK, dan jika guru BK tidak sanggup maka guru BK akan mengkonsultasikan dengan Kepala Sekolah beserta Komite Sekolah untuk mendatangkan ahli konseling dari luar guna menyelesaikan permasalahan yang ada pada peserta didik.
Keterlibatan Komite Sekolah dalam keberjalanan Bimbingan dan Konseling di sekolah sangat berpengaruh karena Komite Sekolah merupakan pihak yang anggotanya orang tua murid atau tokoh masyarakat yang dibentuk untuk membantu sekolah termasuk keterlaksanaan BK yang kerjasama dilakukan melalui Kepala Sekolah. Contoh keterlibatan Komite Sekolah dalam keberjalanan Bimbimbang dan Konseling di sekolah, misalnya ruang BK menyatu dengan ruang UKS dengan ukuran sangat sempit. Sekolah memandang perlu
Kepala Sekolah ---
--- Wakil Kepala
Sekolah
Ahli Lain Komite Sekolah
Koordinator BK ---
--- Guru BK
Guru Mata Pelajaran Wali Kelas
S i s w a
Tata Usaha
adanya ruang BK yang layak dan memenuhi standar sarana prasarana. Maka melalui kepala sekolah membicarakan hal tersebut dengan komite sekolah untuk mendapatkan bantuan guna membangun ruang BK.
Kepala Sekolah mengadakan kerjasama dengan lembaga lain guna mendukung pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling. Contoh kerjasama yang dilakukan dengan instansi seperti Puskesmas, Kepolisian, Lembaga Psikologi, Tokoh Masyarakat, dll.
Kerjasama dilakukan melalui sekolah, misalnya untuk mengetahui kemampuan, bakat dan minat peserta didik, maka harus bekerjasama dengan Lembaga psikologi untuk mengadakan tes sedangkan apabila terdapat masalah kriminal, maka kerjasama yang dilakukan dengan lembaga Kepolisian. Adapun masalah lain yang terkait dengan peserta didik misalnya anak yang sering terlambat dan sering mengantuk di kelas, juga prestasi belajarnya rendah. Untuk membantu peserta didik apabila masih diperlukan informasi atau data, maka akan dilakukan kunjungan rumah atau dengan memanggil orang tua. Namun data peserta didik sudah dimiliki oleh sekolah, sehingga kunjungan rumah atau memanggil orang tua diperlukan untuk mendapatkan informasi yang belum ada.
Masalah yang dihadapi peserta didik beragam, seperti peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mempelajari mata pelajaran matematika sehingga mengalami ketertinggalan jika dibandingkan dengan teman yang lain. Disini guru BK dapat membantu peserta didik dengan cara mengalihtangankan kasus tersebut kepada guru mata pelajaran matematika agar memberikan kelas tambahan bagi peserta didik tersebut. Namun, guru BK juga masih tetap bertanggungjawab atas permasalahan peserta didik tersebut. Selain itu, masalah peserta didik juga melibatkan pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan tersebut dilakukn oleh peserta didik yang mempunyai masalah, bukan guru BK atau oranglain yang mengambil keputusan karena itu merupakan masalah pribadi peserta didik. Namun apabila berkaitan dengan kebijakan, maka aturan tetap berlaku tetapi pengambilan keputusan tetap pada peserta didik.
Didalam tugas Wali Kelas, salah satunya adalah ikut serta dalam konferensi kasus.
Konferensi kasus dilakukan untuk menangani masalah yang perlu keterlibatan pihak-pihak lain atau konferensi adalah pertemuan sedangkan kasus adalah permasalahan. Maksut dari kegiatan ini adalah membahas permasalahan yang dihadapi oleh konseli dengan menghadirkan pihak-pihak yang dapat memberi keterangan, kemudahan, dan komitmen sehingga permasalahan dapat terlesaikan. Misalnya ada peserta didik yang nilai prestasi
belajarnya rendah dan dipredeksi tidak akan naik kelas. Berdasarkan konseling dengan guru BK, peserta didik tersebut ternyata setiap harinya harus membantu orang tuanya sehingga tidak bisa belajar di rumah. Untuk membantu peserta didik tersebut, perlu keterlibatan orang tua, wali kelas, dan juga guru mata pelajaran dalam membantu memecahkan masalah yang dihadapi peserta didik sesuai dengan perannya masing-masing. Misal orang tua mengurangi beban di rumah, Wali Kelas lebih memperhatikan peserta didik tersebut, dan guru mata pelajaran membantu dalam penguasaan materi pelajaran. Selain itu, tugas wali kelas juga sebagai pengaturan dan penempatan peserta didik. Maksudnya adalah peserta didik ditempatkan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya, termasuk dalam penempatan tempat duduknya. Seperti pesesrta didik yang diketahui mempunyai kelainan dalam penglihatan, misalnya tidak bisa lihat jauh, tidak bisa lihat dekat, juling kanan atau juling kiri, mereka yang mempunyai kelainan tersebut perlu mendapatkan tempat duduk sesuai dengan kondisinya sehingga tidak mengganggu proses belajarnya.
Dari bagan Struktur Organisasi BK diatas serta beberapa penjelasan mengenai tugas dari masing-masing jabatan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Penanggung jawab penuh terhadap kegiatan di sekolah adalah Kepala Sekolah.
2. Kepala sekolah menugaskan guru BK untuk melaksanakan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Guru BK bertanggung jawab atas kegiatan Bimbingan dan Konseling yang dilakukan.
3. Dalam melaksanaka kegiatan guru BK tidak bisa sendiri dan perlu bekerjasama dengan pihak-pihak lain baik guru mata pelajaran, Wali Kelas, petugas Tata Usaha, orang tua maupun Lembaga lain di luar sekolah.
4. Kerjasama dengan pihak lain di luar sekolah dilakukan atau mendapat persetujuan Kepala Sekolah.
5. Kerjasama dengan pihak-pihak terkait dilakukan dalam rangka agar program Bimbingan dan Konseling dapat terlaksana dengan baik.
Untuk lebih detail mengenai tugas masing-masing jabatan adalah sebagai berikut:
1. Kepala Sekolah
Kepala sekolah mengkoordinir segenap kegiatan pengajaran, pelatihan dan bimbingan dan konseling merupakan kesatuan yang terpadu, harmonis dan dinamis.
1) Menyediakan dan melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan.
2) Memberikan kemudahan bagi terlaksananya program bimbingan dan konseling di sekolah
3) Melakukan supervisi terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah.
4) Membagi tugas guru BK/konselor dan menetapkan koordinator BK.
5) Mengadakan kerjasama dengan instansi lain guna mendukung pelaksanaan program bimbingan dan konseling.
2. Koordinator BK
Koordinator bimbingan dan konseling mampu mengkoordinasi guru BK/konselor.
1) pemasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling 2) penyusunan program bimbingan dan konseling 3) pelaksanaan program bimbingan dan konseling
4) pengadministrasian kegiatan bimbingan dan konseling 5) pelaksanaan evaluasi bimbingan dan konseling
6) pelaksanaan tindak lanjud evaluasi program bimbingan dan konseling
Koordinator bimbingan dan konseling bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling
1) membuat usulan dan mengusahakan terpenuhinya tenaga, sarana dan prasarana bimbingan dan konseling;
2) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan program bimbingan dan konseling.
3. Guru BK
Guru BK/konselor melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling secara profesional.
1) memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling 2) menyusun program bimbingan dan konseling
3) melaksanakan program bimbingan dan konseling
4) mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling 5) melaksanakan evaluasi bimbingan dan konseling
6) melaksanakan tindak lanjut evaluasi program bimbingan dan konseling
7) mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling pada koordinator
4. Guru Mata Pelajaran
Guru Mata Pelajaran memberikan peran penting dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling.
1) Membantu memasyaratkan bimbingan dan konseling pada peserta didik;
2) Membantu mengidentifikasi peserta didik yang memerlukan bantuan bimbingan dan konseling;
3) Mengalihtangankan peserta didik yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling pada guru BK/konselor;
4) Menerima peserta didik alih tangan dari guru BK/konselor yang memerlukan pengajaran khusus ;
5) Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru – peserta didik yang menunang pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.
6) Memberikan kesempatan dan kemudahan pada peserta didik yang memerslukan layanan bimbingan dan konseling.
7) Berpartisipasi pada kegiatan khusus penanganan masalah peserta didik, seperti konferensi kasus;
8) Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka evaluasi pelayanan bimbingan dan konseling dan upaya tindak lanjut.
5. Wali Kelas
Wali kelas memberikan peran penting dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling.
1) Mengumpulkan data tentang peserta didik;
2) Menyelenggarakan penyuluhan
3) Meneliti kemajuan dan perkembangan peserta didik;
4) Pengaturan dan penempatan peserta didik;
5) Mengidentifikasi peserta didik sehari-hari;
6) Kunjungan rumah atau konsultasi dengan orang tua/wali;
7) Membantu guru mata pelajaran melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya.
8) Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya untuk mengikuti layanan bimbingan dan konseling;
9) Ikut serta dalam konferensi kasus.
6. Staf Tata Usaha/Administrasi
Staf Tata Usaha/Administrasi memberikan peran penting dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling.
1) Membantu dalam mengadministrasikan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah;
2) Membantu mempersiaokan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling;
3) Membantu sarana yang diperlukan dalam kegaitan bimbingan dan konseling
4) Membantu melengkapi dokumen tentang peserta didik, seperti catatan komulatif peserta didik.