Dengue Shock Syndrome (DSS)

Top PDF Dengue Shock Syndrome (DSS):

Risk Factors for Mortality in Dengue Shock Syndrome (DSS) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Risk Factors for Mortality in Dengue Shock Syndrome (DSS) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

The pathogenesis of DSS is controversial. Epidemiolo- gical studies indicate that pre-existing dengue virus anti- bodies may predispose an individual to DHF on sub- sequent infection with another dengue virus serotype. 2-4 Other studies have demonstrated that DEN-2 and DEN- 3 are more virulent than DEN-1 and DEN-4, but all four serotypes can cause severe or fatal disease. 5-9 Epidemio- logical observations have provided evidence that age and race may be risk factors for DHF. DSS has been almost confined to children 10 and the age group most severely affected was 5-9 years. 11 Blacks are less susceptible to dengue shock syndrome than whites and Asians. 3
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

FAKTORFAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DENGUE SHOCK SYNDROME (DSS) PADA ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TUGUREJO KOTA SEMARANG

FAKTORFAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DENGUE SHOCK SYNDROME (DSS) PADA ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TUGUREJO KOTA SEMARANG

Dengue Shock Syndrome (DSS) merupakan penyebab utama kematian penyakit DBD. Pasien yang mengalami DSS akan menghadapi risiko kematian apabila tidak ditangani dan mendapat pengobatan. Tujuan penelitian adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Dengue Shock Syndrome (DSS) pada anak di RSUD Tugurejo.Metode penelitian menggunakan survei analitik dengan pendekatancase control.Sampel berjumlah 31 anak pada masing-masing kelompok kasus dan kontrol yang diambil dengan metode simple purposive sampling.Analisis data menggunakan uji chi square dengan derajat kemaknaan (α) = 0,05. Hasil penelitian ada hubungan antarausia anak (p=0,011, OR=4,444), status gizi anak (p=0,014, OR=4,875), kadar hematokrit (p=0,002, OR=6,234), kadar trombosit (p=0,042, OR=3,325), lama sakit sebelum masuk RS (pre hospital) (p=0,028 OR=4,282), keterlambatan berobat (p=0,033, OR=4,5,133),pelaksanaan rujukan (p=0,005, OR=5,227). Variabel yang tidak berhubungan adalah jenis kelamin (p=0,794), riwayat infeksi DBD sebelumnya (p=0,761), tingkat pendidikan ibu (p=1,000), jenis pekerjaan ibu (p=0,120), tingkat pendapatan orang tua (p=0,611), wilayah tempat tinggal (p=0,797), akses pelayananan kesehatan (p=0,611). Saran peneliti diharapkan RSUD Tugurejo melakukan pemeriksaan kadar hematokrit secara berkala serta melengkapi sarana maupun prasarana dalam pemeriksaan karena faktor yang paling berisiko terhadap kejadian DSS.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

this PDF file Determinan sosial kejadian dengue shock syndrome di kota Semarang | Pradipta | Berita Kedokteran Masyarakat 1 PB

this PDF file Determinan sosial kejadian dengue shock syndrome di kota Semarang | Pradipta | Berita Kedokteran Masyarakat 1 PB

Tujuan:   Penelitian ini bertujuan       ​untuk   ​mengetahui   determinan sosial yang berhubungan dengan           dengue shock syndrome       ​(DSS).   ​Metode:   ​Studi meng-     gunakan desain     ​ case control     ​Kasus adalah penderita       DBD yang mengalami syok sindrom berdasarkan             diagnosis dokter rumah sakit, dan kontrol adalah               penderita DBD yang tidak mengalami syok sindrom.               Pengambilan sampel dengan       ​ purposive sampling,     berdasarkan rekam medik rumah sakit dan register               kasus DBD tahun 2015 di Dinas Kesehatan kota                 Semarang, kemudian subjek diminta persetujuan           tertulis untuk diwawancarai.       ​Hasil:   ​Sebanyak 73     kasus dan 73 kontrol dilibatkan dalam penelitian              
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

The Role of Cytokines in Activation of Coagulation and Fibrinolysis in Dengue Shock Syndrome

The Role of Cytokines in Activation of Coagulation and Fibrinolysis in Dengue Shock Syndrome

In a prospective clinical study of 50 patients with Dengue Shock Syndrome (DSS), we investigated the association of tumor necrosis factor-␣ (TNF-␣), interleukin-1␤ (IL-1␤), IL-1 receptor antagonist (IL-1Ra), and IL-6 with activation markers of coagulation (F1+2 and TATc) and fibrinolysis (t-PA, PAPc, and D-dimer). We found that TNF-␣, IL-1␤ and Il-1Ra, but not IL-6, concentrations were elevated in the circulation during the early stage of infection and at discharge from hospital. TNF-␣ was significantly associated with D-dimer, an activation marker of fibrinolysis (p < 0.003), but not with activation markers of coagulation. IL-1␤ was significantly associated with t-PA (p < 0.03). IL-1Ra was significantly associated with F1+2, TATc (p < 0.04 and p < 0.02, respectively), whereas IL-6 was significantly associated with both, activation markers of coagulation (F1+2; p < 0.03) and fibrinolysis (PAPc; p = 0.002). Our data are in line with studies in bacterial sepsis. In severe dengue virus infection the same cytokines are involved in the onset and regulation of hemostasis.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang bersifat endemis di Indonesia. DBD dapat bermanifestasi klinis menjadi Dengue Shock Syndrome (DSS) yang dapat mengakibatkan kematian pada penderita. Berdasarkan data surveilans kota Medan tahun 2014 terdapat 1.699 kasus DBD. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik penderita DBD dengan DSS dan Non DSS, penelitian dilakukan di RSUD Dr. Pirngadi Medan dengan desain case series.

2 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “KARAKTERISTIK PENDERITA DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DENGAN DENGUE SHOCK SYNDROME (DSS) DAN NON DSS DI RSUD DR PIRNGADI MEDAN TAHUN 2013-2015” ini beserta seluruh isinya adalah benar hasil karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau mengutip dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is contagious disease that endemic in Indonesia. DHF can clinically manifest into dengue shock syndrome (DSS), which can lead into death. Surveillance data Medan in 2014 there were 1,699 cases of dengue. The purpose of this study to determine the characteristics of DHF patients with DSS and Non DSS, the study conducted at RSUD Dr. Pirngadi Medan with case series design.

17 Baca lebih lajut

Evaluasi drug related problems (DRPs) pada pasien anak dengue shock syndrome (DSS) di instalasi rawat inap RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2008 - USD Repository

Evaluasi drug related problems (DRPs) pada pasien anak dengue shock syndrome (DSS) di instalasi rawat inap RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2008 - USD Repository

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit febris akut yang ditemukan di daerah tropis dan subtropik. Selama tahun 2008, jumlah kasus DBD di Yogyakarta adalah 1.952 kasus, dan yang meninggal dunia sebanyak 20 kasus. Salah satu manifestasi dari DBD adalah dengue shock syndrome (DSS). Penentu keberhasilan terapi DBD adalah pemilihan obat dan cairan intravena yang tepat. Dalam pemberian terapi obat sering timbul berbagai masalah. Masalah yang timbul dalam pemberian terapi obat atau drug related problems (DRPs) merugikan pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi DRPs pada terapi DSS anak di RSUP. Dr. Sardjito tahun 2008.
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Anders K.L., Nguyet N.M., Chau N.V., Hung N.T., Thuy T.T., Lien L.B., Farrar J., Wills B.,Hien T.T., Simmons C.P., 2011. Epidemiological Factors Associated with Dengue Shock Syndrome and Mortality in Hospitalized Dengue Patients in Ho Chi Minh City, Vietnam. The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene 84(1): 127 – 134.

3 Baca lebih lajut

DENGUE SHOCK SYNDROME IN A 6-YEARS OLD HIV INFECTED BOY.

DENGUE SHOCK SYNDROME IN A 6-YEARS OLD HIV INFECTED BOY.

HIV co-infection with dengue fever or dengue shock syndrome in children are very rarely found or reported. In this case report, we describe a six years old boy who received highly active antiretroviral therapy developed co-infection with dengue shock syndrome in 2014. Based on World Health Organization, criteria for a case of dengue shock syndrome, it was found fever <7 days with positive tourniquet test, thrombocytopenia 98 x 10 e3 / uL, increased hematocrit, shock with began to narrow pulse pressure, blood pressure 90/60 mm Hg, pulse 120 x / min, weak and regular, cold extremities, in accordance with DHF grade III. On physical examination found Cold in the extremities on the feet and hands, rumple leed positive, Capillary refill time was 3 seconds. Chest X ray (Anteroposterior and right lateral Decubity) showed consolidation in the right lung field, right pleural effusion. The IgM and IgG anti dengue serology were positive. Interaction between the lines dengue pathogenesis of HIV infection, and between antiretroviral treatment with dengue infection still can not be explained, but would require further research.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

DBD dan DSS merupakan penyakit infeksi yang masih menimbulkan masalah kesehatan di negara berkembang, khususnya Indonesia. Hal ini disebabkan oleh masih tingginya morbiditas dan mortalitas. Jumlah penderita DBD yang mengalami renjatan berkisar antara 25-65%, yang dikutip dari Sumarmo dkk (1985) mendapatkan 63%, Kho dkk (1979) melaporkan 50%, Rampengan (1986) melaporkan 59,4%, sedangkan WHO (1973) melaporkan 65,4% dari seluruh penderita DBD yang dirawat (Rampengan, 2007). Beberapa rumah sakit melaporkan angka kematian akibat DSS mencapai 5,7-50% dengan beberapa sebab kematian yaitu, perdarahan masif, syok yang berkepanjangan dan enselopati dengue (Nasronudin dkk, 2007)
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) Yang Mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS) Rawat Inap Di RSU DR. Pirngadi Medan Tahun 2008

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) Yang Mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS) Rawat Inap Di RSU DR. Pirngadi Medan Tahun 2008

Patogenesis DSS masih merupakan masalah yang kontroversial. Teori yang banyak dianut pada DBD dan DSS adalah hipotesis infeksi sekunder (teori secondary heterologous infection) atau hipotesis immune enhancement. Hipotesis ini menyatakan secara tidak langsung bahwa pasien yang mengalami infeksi yang kedua kalinya dengan serotipe virus dengue yang heterolog mempunyai resiko berat yang lebih besar untuk menderita DBD/Berat. Antibodi heterolog yang telah ada sebelumnya akan mengenai virus lain yang akan menginfeksi dan kemudian membentuk kompleks antigen antibodi yang kemudian berikatan dengan Fc reseptor dari membran sel leukosit terutama makrofag. Oleh karena anti bodi heterolog maka virus tidak dinetralisasikan oleh tubuh sehingga akan meningkatkan infeksi dan replikasi dalam sel makrofag. Dihipotesiskan juga mengenai antibodi dependent enhancement (ADE), suatu proses yang akan meningkatkan infeksi dan replikasi virus dengue didalam sel mononuklear. Sebagai tanggapan terhadap infeksi tersebut, terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemia dan shock.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Computed only for a 2x2 table pesentase ht dbd kategorik * diagnosa responden Crosstabulation diagnosa responden Total non dss dss pesentase ht dbd kategorik... 2-sided Exact Sig.[r]

37 Baca lebih lajut

b. Epidemiologi - HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN DENGAN KEJADIAN DENGUE SHOCK SYNDROME PADA ANAK DI RSUD TUGUREJO SEMARANG - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

b. Epidemiologi - HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN DENGAN KEJADIAN DENGUE SHOCK SYNDROME PADA ANAK DI RSUD TUGUREJO SEMARANG - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

antibodi.Komplek antigen-antibodi mengaktivasi komplemen.Mannose Binding Lectin (MBL) merupakan perantara untuk aktivasi komplemen yang baik.Virus Dengue cepat hilang dari darah dan jaringan.Malasit (1990) mendapatkan kenaikan C3a yang mempunyai korelasi dengan berat ringannya penyakit. Kadar C3a pada DSS secara bermakna lebih tinggi daripada kelompok lain yang lebih ringan. Komplemen juga bereaksi dengan epitop virus pada permukaan endotel mengakibatkan waktu paruh trombosit memendek. Komplemen merangsang produksi sitokin seperti tumor necrosis factor (TNF), interferon y, IL-2, dan IL-1. 11
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PERTANYAAN novatif pada peningkatan pemahaman (6)

PERTANYAAN novatif pada peningkatan pemahaman (6)

Infeksi dengue disebabkan oleh virus. Biasanya muncul dalam bentuk demam. Kadang- kadang pasien yang menderita dengue akan mengalami perdarahan. Daerah-daerah perdarahan yang umum terjadi adalah di hidung, gusi atau kulit. Terkadang pasien mengeluarkan muntah hitam seperti kopi dan juga tinja berwarna hitam. Ini menandakan adanya perdarahan pada pencernaan yang serius. Pasien dengue yang disertai dengan perdarahan disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau Demam Berdarah. Terkadang penderita dengue akan mengalami shock; ini disebut DSS (Dengue Shock Syndrome).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

DBD disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus dan memiliki 4 serotipe virus dengue yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Infeksi terhadap salah satu serotipe tidak dapat memberikan imunitas silang terhadap keempatnya, sehingga memungkinkan bagi penduduk yang berada di daerah endemis terinfeksi oleh masing-masing keempat serotipe tersebut (Radji, 2015).

11 Baca lebih lajut

BAB 2 DEMAM BERDARAH DENGUE 2.1 Definisi

BAB 2 DEMAM BERDARAH DENGUE 2.1 Definisi

Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopeniadan diathesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/syok (Suhendro, Nainggolan, Chen, 2006).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA DENGUE SYOCK SYNDROME (DSS)PADA ANAK DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE(DBD) (STUDI KASUS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG).

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA DENGUE SYOCK SYNDROME (DSS)PADA ANAK DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE(DBD) (STUDI KASUS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG).

Pada penelitian univariat dapat diketahui riwayat pernah menderita demam berdarah dengue berisiko lebih besar dari pada belum pernah menderita demam berdarah dengue sebesar 61.0%. Dari hasil yang diperoleh sama dengan teori yang menyatakan bahwa pasien yang mengalami infeksi kedua kalinya dengan serotype virus dengue yang heterolog akan mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita demam berdarah dengue dan dengue syok syndrome. 12 Dari penelitian bivariat dapat dijelaskan pada kejadian dengue syok syndrome (DSS) persentase riwayat pernah menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada kasus (85,4%) lebih besar dari pada kelompok kontrol (41,5%). Sedangkan untuk riwayat tidak pernah menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada kasus (14,6%) lebih kecil dari pada kelompok kontrol (58,5%). Hubungan antara riwayat pernah menderita demam berdarah dengue dengan kejadian dengue syok syndrome bermakna (p value = 0,0001), sementara hasil perhitungan OR diperoleh hasil OR = 8,235 dengan Confidence Interval (CI) 95% = 2,837 – 23,909. Besar risiko kejadian demam berdarah dengue (DBD) dengan dengue syok syndrome (DSS) pada anak dengan riwayat pernah menderita demam berdarah dengue (DBD) sebesar 8,235 artinya besar risiko kejadian demam berdarah dengue (DBD) dengan dengue syok syndrome (DSS) pada anak dengan riwayat pernah menderita demam berdarah dengue (DBD) 8,235 kali lebih tinggi dibanding anak dengan tidak pernah menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 3085 documents...