Dengue Shock Syndrome (DSS)

Top PDF Dengue Shock Syndrome (DSS):

this PDF file Determinan sosial kejadian dengue shock syndrome di kota Semarang | Pradipta | Berita Kedokteran Masyarakat 1 PB

this PDF file Determinan sosial kejadian dengue shock syndrome di kota Semarang | Pradipta | Berita Kedokteran Masyarakat 1 PB

Purpose: ​This study aimed to know the social determinants related to dengue shock syndrome. ​Methods​: ​This study used ​a ​case control design in Semarang. Cases were dengue patients with shock syndrome diagnosed by a clinician in the hospital, and controls were dengue patients without shock syndrome. Participants were recruited using purposive sampling, and completed written informed consent to be interviewed using a questionnaire. ​Results: Results showed that children aged <18 years have the highest risk of having DSS compared to other age groups. Referral system was also correlated to dengue shock syndrome. ​Conclusion: ​This study recommends the clinicians to undertake appropriate diagnosis and prompt decision making to reduce the risk of more severe DHF events. The community should improve the awareness of shock syndrome by taking their children immediately to health services for examination if they have dengue symptoms in order to get the adequate treatment.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

The Role of Cytokines in Activation of Coagulation and Fibrinolysis in Dengue Shock Syndrome

The Role of Cytokines in Activation of Coagulation and Fibrinolysis in Dengue Shock Syndrome

Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a severe form of the infection caused by any of four serotypes of the dengue virus. It is characterized by fever, thrombocytopenia, bleeding manifestations ranging from mild to severe, and evidence of plasma leakage. According to the 1997 WHO criteria, dengue shock syndrome (DSS) is defined as DHF with signs of circulatory failure, including narrow pulse pressure (20 mm Hg) and hypotension (DHF grade III) or frank shock (DHF grade IV) (11, 12). Plasma leakage and bleeding are the two major pathophysio- logical changes in DHF/DSS, determining the severity of disease (11-14). Little is known about the pathogenesis of bleeding in DHF/ DSS and in an analogy to sepsis it is attractive to speculate that cyto- kines are key mediators. Preexisting heterotypic dengue antibodies augment dengue virus infection of monocytes or macrophages (15). An increased number of dengue virus-infected monocytes may result in T- lymphocyte activation; the activation of both types of cell may result in the production of elevated levels of the aforementioned cytokines (16).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Risk Factors for Mortality in Dengue Shock Syndrome (DSS) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Risk Factors for Mortality in Dengue Shock Syndrome (DSS) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

The pathogenesis of DSS is controversial. Epidemiolo- gical studies indicate that pre-existing dengue virus anti- bodies may predispose an individual to DHF on sub- sequent infection with another dengue virus serotype. 2-4 Other studies have demonstrated that DEN-2 and DEN- 3 are more virulent than DEN-1 and DEN-4, but all four serotypes can cause severe or fatal disease. 5-9 Epidemio- logical observations have provided evidence that age and race may be risk factors for DHF. DSS has been almost confined to children 10 and the age group most severely affected was 5-9 years. 11 Blacks are less susceptible to dengue shock syndrome than whites and Asians. 3
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “KARAKTERISTIK PENDERITA DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DENGAN DENGUE SHOCK SYNDROME (DSS) DAN NON DSS DI RSUD DR PIRNGADI MEDAN TAHUN 2013-2015” ini beserta seluruh isinya adalah benar hasil karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau mengutip dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

FAKTORFAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DENGUE SHOCK SYNDROME (DSS) PADA ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TUGUREJO KOTA SEMARANG

FAKTORFAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DENGUE SHOCK SYNDROME (DSS) PADA ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TUGUREJO KOTA SEMARANG

Kebocoran plasma merupakan patogenesis utama menimbulkansyok dan kematian.Kondisi penderita yang berlanjut menjadi syok akan memburuk secara cepat setelah periode demam 2-7 hari. Dengue Shock Syndrome (DSS) merupakan kondisi DBD yang berkembang menjadi lebih parah dan biasanya terjadi pada hari ke 3 hingga ke 7 pada saat suhu tubuh mulai menurun. DSS umumnya dapat menyebabkan kematian dalam waktu 8-24 jam, apabila tidak ditangani dengan cepat dan sebaliknya pasien dapat segera sembuh jika dilakukan terapi untuk mengembalikan cairan tubuh.Masa penyembuhan penderita DSS dapat terjadi dalam waktu singkat.Walaupun penderita mengalami syok yang berat, ketika mendapatkan penanganan yang tepat maka penderita akan membaik dalam waktu 2-3 hari meskipun asites dan efusi pleura masih ada. Prognosis yang baik ditunjukkan dengan jumlah urine yang cukup dan kembalinya nafsu makan penderita (Soedarto, 2012).
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

Evaluasi drug related problems (DRPs) pada pasien anak dengue shock syndrome (DSS) di instalasi rawat inap RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2008 - USD Repository

Evaluasi drug related problems (DRPs) pada pasien anak dengue shock syndrome (DSS) di instalasi rawat inap RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2008 - USD Repository

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit febris akut yang ditemukan di daerah tropis dan subtropik. Selama tahun 2008, jumlah kasus DBD di Yogyakarta adalah 1.952 kasus, dan yang meninggal dunia sebanyak 20 kasus. Salah satu manifestasi dari DBD adalah dengue shock syndrome (DSS). Penentu keberhasilan terapi DBD adalah pemilihan obat dan cairan intravena yang tepat. Dalam pemberian terapi obat sering timbul berbagai masalah. Masalah yang timbul dalam pemberian terapi obat atau drug related problems (DRPs) merugikan pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi DRPs pada terapi DSS anak di RSUP. Dr. Sardjito tahun 2008.
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

DENGUE SHOCK SYNDROME IN A 6-YEARS OLD HIV INFECTED BOY.

DENGUE SHOCK SYNDROME IN A 6-YEARS OLD HIV INFECTED BOY.

HIV co-infection with dengue fever or dengue shock syndrome in children are very rarely found or reported. In this case report, we describe a six years old boy who received highly active antiretroviral therapy developed co-infection with dengue shock syndrome in 2014. Based on World Health Organization, criteria for a case of dengue shock syndrome, it was found fever <7 days with positive tourniquet test, thrombocytopenia 98 x 10 e3 / uL, increased hematocrit, shock with began to narrow pulse pressure, blood pressure 90/60 mm Hg, pulse 120 x / min, weak and regular, cold extremities, in accordance with DHF grade III. On physical examination found Cold in the extremities on the feet and hands, rumple leed positive, Capillary refill time was 3 seconds. Chest X ray (Anteroposterior and right lateral Decubity) showed consolidation in the right lung field, right pleural effusion. The IgM and IgG anti dengue serology were positive. Interaction between the lines dengue pathogenesis of HIV infection, and between antiretroviral treatment with dengue infection still can not be explained, but would require further research.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “KARAKTERISTIK PENDERITA DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DENGAN DENGUE SHOCK SYNDROME (DSS) DAN NON DSS DI RSUD DR PIRNGADI MEDAN TAHUN 2013-2015” ini beserta seluruh isinya adalah benar hasil karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau mengutip dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Berdasarkan latar belakang diatas dilakukan survei pendahuluan di RSUD Dr. Pirngadi Medan didapatkan jumlah kasus DBD sebanyak 612 kasus tahun 2013-2015. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut maka perlu dilakukan penelitian mengenai karakteristik penderita DBD dengan DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan tahun 2013-2015.

7 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) Yang Mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS) Rawat Inap Di RSU DR. Pirngadi Medan Tahun 2008

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) Yang Mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS) Rawat Inap Di RSU DR. Pirngadi Medan Tahun 2008

Patogenesis DSS masih merupakan masalah yang kontroversial. Teori yang banyak dianut pada DBD dan DSS adalah hipotesis infeksi sekunder (teori secondary heterologous infection) atau hipotesis immune enhancement. Hipotesis ini menyatakan secara tidak langsung bahwa pasien yang mengalami infeksi yang kedua kalinya dengan serotipe virus dengue yang heterolog mempunyai resiko berat yang lebih besar untuk menderita DBD/Berat. Antibodi heterolog yang telah ada sebelumnya akan mengenai virus lain yang akan menginfeksi dan kemudian membentuk kompleks antigen antibodi yang kemudian berikatan dengan Fc reseptor dari membran sel leukosit terutama makrofag. Oleh karena anti bodi heterolog maka virus tidak dinetralisasikan oleh tubuh sehingga akan meningkatkan infeksi dan replikasi dalam sel makrofag. Dihipotesiskan juga mengenai antibodi dependent enhancement (ADE), suatu proses yang akan meningkatkan infeksi dan replikasi virus dengue didalam sel mononuklear. Sebagai tanggapan terhadap infeksi tersebut, terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemia dan shock.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

b. Epidemiologi - HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN DENGAN KEJADIAN DENGUE SHOCK SYNDROME PADA ANAK DI RSUD TUGUREJO SEMARANG - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

b. Epidemiologi - HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN DENGAN KEJADIAN DENGUE SHOCK SYNDROME PADA ANAK DI RSUD TUGUREJO SEMARANG - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

antibodi.Komplek antigen-antibodi mengaktivasi komplemen.Mannose Binding Lectin (MBL) merupakan perantara untuk aktivasi komplemen yang baik.Virus Dengue cepat hilang dari darah dan jaringan.Malasit (1990) mendapatkan kenaikan C3a yang mempunyai korelasi dengan berat ringannya penyakit. Kadar C3a pada DSS secara bermakna lebih tinggi daripada kelompok lain yang lebih ringan. Komplemen juga bereaksi dengan epitop virus pada permukaan endotel mengakibatkan waktu paruh trombosit memendek. Komplemen merangsang produksi sitokin seperti tumor necrosis factor (TNF), interferon y, IL-2, dan IL-1. 11
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang bersifat endemis di Indonesia. DBD dapat bermanifestasi klinis menjadi Dengue Shock Syndrome (DSS) yang dapat mengakibatkan kematian pada penderita. Berdasarkan data surveilans kota Medan tahun 2014 terdapat 1.699 kasus DBD. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik penderita DBD dengan DSS dan Non DSS, penelitian dilakukan di RSUD Dr. Pirngadi Medan dengan desain case series.

2 Baca lebih lajut

PERTANYAAN novatif pada peningkatan pemahaman (6)

PERTANYAAN novatif pada peningkatan pemahaman (6)

Infeksi dengue disebabkan oleh virus. Biasanya muncul dalam bentuk demam. Kadang- kadang pasien yang menderita dengue akan mengalami perdarahan. Daerah-daerah perdarahan yang umum terjadi adalah di hidung, gusi atau kulit. Terkadang pasien mengeluarkan muntah hitam seperti kopi dan juga tinja berwarna hitam. Ini menandakan adanya perdarahan pada pencernaan yang serius. Pasien dengue yang disertai dengan perdarahan disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau Demam Berdarah. Terkadang penderita dengue akan mengalami shock; ini disebut DSS (Dengue Shock Syndrome).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Virus dengue merupakan bagian dari famili Flaviviridae . Keempat serotipe virus dengue (disebut DEN-1, DEN-2, dst.) dapat dibedakan dengan metode serologi. Infeksi pada manusia oleh salah satu serotipe menghasilkan imunitas sepanjang hidup terhadap infeksi ulang oleh serotipe yang sama, tetapi hanya menjadi perlindungan sementara dan parsial terhadap serotipe yang lain. (Soedarto, 2007)

11 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Anders K.L., Nguyet N.M., Chau N.V., Hung N.T., Thuy T.T., Lien L.B., Farrar J., Wills B.,Hien T.T., Simmons C.P., 2011. Epidemiological Factors Associated with Dengue Shock Syndrome and Mortality in Hospitalized Dengue Patients in Ho Chi Minh City, Vietnam. The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene 84(1): 127 – 134.

3 Baca lebih lajut

this PDF file Faktor risiko kematian akibat dengue di rumah sakit Sardjito Yogyakarta | Trisasri | Berita Kedokteran Masyarakat 3 PB

this PDF file Faktor risiko kematian akibat dengue di rumah sakit Sardjito Yogyakarta | Trisasri | Berita Kedokteran Masyarakat 3 PB

Purpose: ​We examined risk factors of dengue hemorrhagic fever death in Dr. Sardjito Hospital. ​Methods: ​ We conducted a case control study from patient medical records and interviews with parents. ​Results: We found 29 deaths and 58 patients who survived. The probability of death among obese children was 6 times higher than non obese children and the probability of death in children with prolonged shock was 12 times higher than children without prolonged shock. Other variables were family occupation, family income, residential zones, transportation, treatment financing, accuracy of diagnosis in previous health facilities, and fluid resuscitation before being referred had no significant relationship with dengue mortality. ​Conclusion: ​ Obesity and prolonged shock were risk factors of dengue hemorrhagic fever death in children. Improved education to parents about high risk of shock syndrome among patients is needed especially for obese children. Further studies related to social determinants in dengue hemorrhagic fever death are also necessary.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

this PDF file Risk factors of dengue hemorrhagic fever death in tertiary public teaching hospital of Yogyakarta | Trisasri | Berita Kedokteran Masyarakat 2 PB

this PDF file Risk factors of dengue hemorrhagic fever death in tertiary public teaching hospital of Yogyakarta | Trisasri | Berita Kedokteran Masyarakat 2 PB

Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus.             Infeksi mempunyai manifestasi klinis ringan hingga             berat (1). Vaksin masih belum tersedia sehingga upaya                 proteksi efektif dengan menghindari gigitan nyamuk.             Deteksi dini dan penanganan secara cepat sangat               penting untuk menurunkan risiko komplikasi dan             kematian (2). 50-100 juta infeksi baru terjadi di negara                   endemis termasuk asia tenggara dan 20.000 kematian               terjadi akibat ratusan ribu kasus parah (3). Kasus                 meningkat selama 3-5 tahun terakhir di Thailand,               Indonesia dan Myanmar (4).  
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Hubungan Nilai Mean Platelet Voulme (Mpv) Dengan Derajat Sepsis

Hubungan Nilai Mean Platelet Voulme (Mpv) Dengan Derajat Sepsis

4. Artero A, Zaragoza R and Nogueira JM.Epidemiology of Severe Sepsis and Septic Shock. Severe Sepsis and Septic Shock - Understanding a Serious Killer, Dr. Ricardo Fernandez, penyunting. ISBN:978-953-307- 950-9, In-Tech. Tersedia dari: http://www.intechopen.com/books/severe- sepsis-and-septic-shock-understanding-a-serious-killer/epidemiology-of- severe-sepsis-and-septic-shock

Baca lebih lajut

The Detection of Encoding Gene of Toxic Shock Syndrome Toxin-1 S. aureus Isolate from the Milk of Cows and Goats by Polymerase Chain Reaction | Kunda | Jurnal Sain Veteriner 3804 7432 1 PB

The Detection of Encoding Gene of Toxic Shock Syndrome Toxin-1 S. aureus Isolate from the Milk of Cows and Goats by Polymerase Chain Reaction | Kunda | Jurnal Sain Veteriner 3804 7432 1 PB

Staphylococcus aureus adalah bakteri yang pada umumnya terdapat dalam air susu sapi dan kambing. Bakteri tersebut menghasilkan toksin (toxic shock syndrome toxin-1 atau TSST-1) yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit pada hewan maupun manusia. Tujuan penelitian ini adalah mendeteksi gen penyandi TSST-1 isolat S. aureus berasal dari susu sapi dan susu kambing. Penelitian ini diawali dengan tahap identifikasi ulang S. aureus secara konvensional dan dilanjutkan dengan identifikasi S. aureus berbasis molekuler dengan polymerase chain reaction (PCR). Sepuluh isolat S. aureus berasal dari susu sapi dan kambing dikultur aerobik dan dilanjutkan dengan pewarnaan Gram dan uji katalase, koagulase, MSA, VJA and VP. Identifikasi S. aureus berbasis molekuler dilakukan melalui amplifikasi gen 16S rRNA, dilanjutkan amplifikasi gen penyandi TSST-1, kemudian disekuensing untuk memastikan bahwa fragmen DNA yang teramplifikasi merupakan gen penyandi TSST-1 atau tidak. Penelitian ini memberikan hasil positif S. aureus pada uji reidentifikasi, selanjutnya dikonfirmasi identitas spesiesnya secara molekuler. Semua isolat memberikan hasil positif terhadap amplifikasi gen 16S rRNA menghasilkan fragmen tunggal, serta berukuran 745 bp.Deteksi gen penyandi TSST-1 adalah negatif ditandai oleh adanya fragmen DNA yang ukurannya tidak sesuai dengan DNA target. Hasil alignment sekuen gen isolat SA.1 menunjukkan, bahwa sekuen tersebut tidak gen tst, tetapi merupakan gen yang mengkode glutamate synthase milik S. aureus. Sedangkan, sekuen isolat KI.8 adalah gen 50S rRNA milik S. saprophyticus.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Korelasi Nilai Rata-Rata Trombosit dan Hematokrit Pada Berbagai Derajat Penyakit Infeksi Dengue Pada Anak Di RS Immanuel Bandung.

Korelasi Nilai Rata-Rata Trombosit dan Hematokrit Pada Berbagai Derajat Penyakit Infeksi Dengue Pada Anak Di RS Immanuel Bandung.

Setiap tahunnya diperkirakan terdapat lebih dari 20 juta kasus infeksi dengue dan mengakibatkan kira-kira 24 juta kematian (WHO, 1997) Gambaran klinis dari penyakit ini pertama kali dikemukakan oleh Benjamin Rush pada 1789, namun virus penyebab dan Aedes aegypti sebagai vektor perantaranya baru diketahui tahun 1906 dan 1907 (Kanesa-Thasan, Vaughn, Shope, 2004) Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) pertama kali dikenali di Filipina pada tahun 1953. Pada tahun 1960-an sampai 1970-an, Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS) secara progresif meningkat sebagai masalah kesehatan menyebar dari lokasi primernya ke kota-kota dan negara-negara endemik lainnya (Hendarwanto, 1987). Di Rumah Sakit Immanuel sendiri selama periode Januari-Maret 2009 untuk usia 14 tahun ke bawah terdapat sebanyak 276 penderita.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 3085 documents...