Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA)

Top PDF Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA):

Respon Morfo Fisiologi Rumput Pakan Terhadap Cekaman Kekeringan yang diinokulasi FMA (Fungi mikoriza arbuskula)

Respon Morfo Fisiologi Rumput Pakan Terhadap Cekaman Kekeringan yang diinokulasi FMA (Fungi mikoriza arbuskula)

Rumput merupakan makanan utama ternak ruminansia yang diperlukan untuk keperluan produksi, reproduksi maupun kelangsungan hidup. Kualitas, kuantitas dan kontinuitas pakan ternak merupakan aspek penting dalam rangka menjaga kesetabilan produktivitas ternak. Ketersediaan pakan ternak pada musim kemarau sering menjadi kendala yang dihadapi oleh petani peternak terutama pada musim kemarau karena keterbatasan jumlah yang tersedia. Pada lahan kering baik yang bersifat masam atau non masam pada musim kemarau akan mengalami penurunan suplai air yang dapat menyebabkan penurunan produksi hijauan pakan yang sangat nyata. Ketersediaan air di tanah merupakan faktor pembatas dan sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Kebutuhan air tanaman berbeda-beda tergantung pada jenis tanamannya. Apabila jumlah air yang tersedia di tanah tidak mencukupi kebutuhan tanaman, maka tanaman akan mengalami gangguan morfologi dan fisiologis sehingga pertumbuhan dan produktifitasnya akan terhambat, hal ini menyebabkan tanaman mengalami cekaman kekeringan. Pemberian FMA (Fungi mioriza arbuskula) diduga dapat mempengaruhi mekanisme ini karena tanaman yang yang terinfeksi FMA memiliki hifa yang dapat mengabsorbsi air lebih efisien. Berdasarkan uraian diatas perlu dilakukan penelitian respon morfo-fisiologi rumput pakan terhadap cekaman kekeringan yang diinokulasi FMA (Fungi mikoriza arbuskula) untuk mempelajari pengaruh FMA pada respon Morfo-fisiologi tanaman dalam memperoleh kondisi sub- optimal akhibat kekurangan air.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula Pada Areal Tanaman Karet (Studi Kasus Di PTPN III Kebun Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan)

Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula Pada Areal Tanaman Karet (Studi Kasus Di PTPN III Kebun Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan spora, persentase kolonisasi, dan tipe fungi mikoriza arbuskula (FMA) pada areal tanaman karet di PTPN III Kebun Batang Toru dengan kondisi kesuburan tanah yang berbeda. Sampel tanah dan akar diambil dari rizosfer tanaman karet masing-masing 3 plot pada afdeling 1, 2, dan 4. Variabel pengamatan yang dilakukan adalah isolasi, penghitungan kolonisasi, dan identifikasi spora FMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria kepadatan spora dan persentase kolonisasi FMA masing-masing tergolong tinggi dan sedang. Nilai tertinggi dari jumlah spora dan persentase kolonisasi terdapat pada afdeling 1, yaitu 249 dan 319 spora/50 g tanah (lapangan dan trapping) untuk jumlah spora dan 42,5% untuk persentase kolonisasi. Tipe FMA yang diperoleh adalah 44 tipe Glomus dan 3 tipe Acaulospora.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengaruh Cekaman Kekeringan dan Penambahan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) terhadap Pertumbuhan dan ProduktivitasBeberapa Rumput Tropika (Chloris gayana, Paspalum dilatatum, dan Paspalum notatum)

Pengaruh Cekaman Kekeringan dan Penambahan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) terhadap Pertumbuhan dan ProduktivitasBeberapa Rumput Tropika (Chloris gayana, Paspalum dilatatum, dan Paspalum notatum)

Struktur utama dari Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) adalah arbuskula, vesikula, hifa eksternal dan spora antara lain yaitu (Dewi, 2007) : (1) Arbuskula adalah struktur hifa yang bercabang-cabang seperti pohon-pohon kecil yang mirip haustorium (membentuk pola dikotom), berfungsi sebagai tempat pertukaran nutrisi antara tanaman inang dengan jamur. (2) Vesikel merupakan suatu struktur berbentuk lonjong atau bulat, mengandung cairan lemak, yang berfungsi sebagai organ penyimpanan makanan atau berkembang menjadi klamidospora, yang berfungsi sebagai organ reproduksi dan struktur tahan. (3) Hifa eksternal merupakan struktur lain dari FMA yang berkembang di luar akar. Hifa ini berfungsi menyerap hara dan air di dalam tanah. (4) Spora, merupakan propagul yang bertahan hidup dibandingkan dengan hifa yang ada di dalam akar tanah. Spora terdapat pada ujung hifa eksternal dan dapat hidup selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Perkecambahan spora bergantung pada lingkungan seperti pH, temperatur dan kelembaban tanah serta kadar bahan organik.
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

Status dan Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada Tanah Bekas Kebakaran Hutan di Kabupaten Samosir

Status dan Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada Tanah Bekas Kebakaran Hutan di Kabupaten Samosir

Keberadaan FMA di alam bersifat kosmopolitan, artinya fungi mikoriza bisa ditemukan pada berbagai ekosistem. Mikoriza ini memiliki kemampuan bersimbiosis dengan hampir 90% jenis tanaman. Fungi mikoriza penting di bidang pertanian dan kehutanan untuk transfer nutrisi dua arah antara inang dan fungi tersebut (yaitu, saluran karbon inang dan penyerapan nutrisi mineral tanah) sehingga mendorong berbagai proses siklus hara dalam tanah. Mikoriza umumnya dibagi menjadi ektomikoriza (hifa fungi tidak menembus sel-sel akar) dan endomikoriza (hifa fungi menembus dinding sel akar). Endomikoriza cukup bervariasi dan selanjutnya digolongkan sebagai arbuskular, ericoid, arbutoid, monotropoid dan anggrek mikoriza (Gerdemann, 1968). Fungi mikoriza arbuskula ini berhabitat di tanah dan membentuk simbiosis yang menguntungkan dengan akar angiosperma dan tanaman lainnya. Fungi mikoriza arbuskula termasuk Famili Endogonoceae, Ordo Muccorales, Kelas Zygomycetes (Gerdemann dan Trappe, 1968). FMA memiliki beberapa genus yaitu Acalauspora, Entrophospora, Gigaspora, Glomus, Sclerocytis dan Scutellospora.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Respon Morfo-Fisiologi Rumput Pakan Terhadap Cekaman Kekeringan yang diinokulasi FMA (Fungi mikoriza arbuskula).

Respon Morfo-Fisiologi Rumput Pakan Terhadap Cekaman Kekeringan yang diinokulasi FMA (Fungi mikoriza arbuskula).

Rumput merupakan makanan utama ternak ruminansia yang diperlukan untuk keperluan produksi, reproduksi maupun kelangsungan hidup. Kualitas, kuantitas dan kontinuitas pakan ternak merupakan aspek penting dalam rangka menjaga kesetabilan produktivitas ternak. Ketersediaan pakan ternak pada musim kemarau sering menjadi kendala yang dihadapi oleh petani peternak terutama pada musim kemarau karena keterbatasan jumlah yang tersedia. Pada lahan kering baik yang bersifat masam atau non masam pada musim kemarau akan mengalami penurunan suplai air yang dapat menyebabkan penurunan produksi hijauan pakan yang sangat nyata. Ketersediaan air di tanah merupakan faktor pembatas dan sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Kebutuhan air tanaman berbeda-beda tergantung pada jenis tanamannya. Apabila jumlah air yang tersedia di tanah tidak mencukupi kebutuhan tanaman, maka tanaman akan mengalami gangguan morfologi dan fisiologis sehingga pertumbuhan dan produktifitasnya akan terhambat, hal ini menyebabkan tanaman mengalami cekaman kekeringan. Pemberian FMA (Fungi mioriza arbuskula) diduga dapat mempengaruhi mekanisme ini karena tanaman yang yang terinfeksi FMA memiliki hifa yang dapat mengabsorbsi air lebih efisien. Berdasarkan uraian diatas perlu dilakukan penelitian respon morfo-fisiologi rumput pakan terhadap cekaman kekeringan yang diinokulasi FMA (Fungi mikoriza arbuskula) untuk mempelajari pengaruh FMA pada respon Morfo-fisiologi tanaman dalam memperoleh kondisi sub- optimal akhibat kekurangan air.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KERAGAMAN TANAMAN UMBI DAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DI BAWAH TEGAKAN HUTAN RAKYAT SULAWESI SELATAN

KERAGAMAN TANAMAN UMBI DAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DI BAWAH TEGAKAN HUTAN RAKYAT SULAWESI SELATAN

Penerapan sistem agroforestri pada hutan rakyat yang memadukan jenis tanaman kehutanan andalan setempat Vitex cofassus (bitti), Toona sinensis (suren), Tectona grandis (jati) dan Alleurites moluccana (kemiri) dengan jenis tanaman semusim seperti umbi-umbian akan menciptakan peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan ekonomi dan ketahanan pangan. Keberadaan tanaman di bawah tegakan hutan rakyat diharapkan juga dapat mengurangi laju erosi tanah dan memperluas habitat mikroorganisme tanah bermanfaat seperti Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA). Penelitian bertujuan mengidentifikasi keragaman tanaman umbi dan FMA pada rhizosfer tanaman umbi yang tumbuh di bawah tegakan hutan rakyat bitti, suren, jati dan kemiri di Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan (1) terdapat 12 jenis tanaman umbi yang tumbuh di bawah tegakan hutan rakyat, dimana 7 jenis di antaranya merupakan sumber pangan alternatif. (2) Amorphophallus campanulatus (iles-iles/suweg) dan Xanthosoma violaceum (kimpul) merupakan jenis tanaman umbi yang dijumpai tumbuh di bawah semua tegakan hutan rakyat, (3) semua jenis tanaman umbi yang tumbuh di bawah tegakan hutan rakyat berasosiasi dengan FMA, dimana ada 3 genus FMA yaitu Glomus sp. Acaulospora sp. dan Gigaspora sp. dengan kepadatan spora tergolong rendah.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Efek cekaman kekeringan dan penambahan fungi mikoriza arbuskula (FMA) terhadap pertumbuhan dan produksi leguminosa

Efek cekaman kekeringan dan penambahan fungi mikoriza arbuskula (FMA) terhadap pertumbuhan dan produksi leguminosa

Salah satu alternatif yang dapat diterapkan dan dikembangkan untuk beberapa jenis tanaman budidaya dalam mengatasi cekaman air tersebut adalah dengan pemanfaatan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada tanaman. FMA memiliki peran dalam meningkatkan serapan unsur hara (terutama P) melalui hifa eksternalnya dan mampu memberikan ketahanan terhadap kekeringan. Ketahanan ini timbul akibat meningkatnya kemampuan tanaman untuk menghindari pengaruh langsung dari kekeringan dengan jalan meningkatkan penyerapan air melalui sistem gabungan akar dan mikoriza (Rungkat, 2009). Menurut Setiadi (1999), hifa cendawan ternyata masih mampu untuk menyerap air dari pori-pori tanah pada saat akar tanaman sudah kesulitan. Penyebaran hifa di dalam tanah juga sangat luas sehingga tanaman dapat mengambil air relatif lebih banyak. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh mikoriza pada tanaman leguminosa saat kondisi ketersediaan air normal dan stres kekeringan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

STATUS DAN KEANEKARAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) PADA TANAH BEKAS KEBAKARAN HUTAN DI KABUPATEN SAMOSIR LUSI ASTRI SIMAMORA 101201095

STATUS DAN KEANEKARAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) PADA TANAH BEKAS KEBAKARAN HUTAN DI KABUPATEN SAMOSIR LUSI ASTRI SIMAMORA 101201095

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan mengetahui status dan keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada tanah bekas kebakaran hutan di kabupaten Samosir. Sampel tanah dan akar tanaman diambil dari lokasi yang terbakar pada tahun kejadian yang berbeda selama 5 tahun berturut dan satu lokasi sebagai pembanding. Parameter yang diamati yaitu derajat infeksi akar, kepadatan spora dan identifikasi jenis spora. Identifikasi mikoriza dilaksanakan di Laboratorium Biologi Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, dimulai pada bulan Mei sampai September 2014. Karakteristik morfologi yang digunakan untuk mengidentifikasi jenis FMA adalah bentuk ketebalan dinding sel, ada tidaknya substanding hifa, kehalusan permukaan dan reaksi spora terhadap melzers.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ANALISA KANDUNGAN MINYAK ATSIRI PADA RIMPANG TANAMAN JAHE ( Zingiber Officinale Rosc ) YANG DI INDUKSI DENGAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA ( FMA ).

ANALISA KANDUNGAN MINYAK ATSIRI PADA RIMPANG TANAMAN JAHE ( Zingiber Officinale Rosc ) YANG DI INDUKSI DENGAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA ( FMA ).

Untuk meningkatkan metabolit sekunder dari rimpang jahe dapat dilakukan dengan teknik kultur (Hobir, 1998) tapi cara ini membutuhkan biaya yang mahal. Salah satu cara untuk meningkatkan metabolit sekunder yang aman dan murah adalah dengan menggunakan agen hayati Fungi Mikoriza Arbuskula selanjutnya disebut Mikoriza (FMA). Mikoriza ini mempunyai kamampuan untuk berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman, serta telah banyak dibuktikan mampu memperbaiki nutrisi dan meningkatkan pertumbuhan tanaman (Yadi, 2007; Husna, 2007;). Keuntungan yang diharapkan dari pemanfaatan mikoriza ini berkaitan dengan pertumbuhan, kualitas dan produktivitas minyak atsiri dari tanaman jahe. Mikoriza dapat membantu akar tanaman dalam menyerapan unsur hara makro dan mikro terutama fosfat dengan mekanismenya: terjadi peningkatan permukaan absorbsi, kerja enzim fosfatase dan enzim oksalat (Husna, Tuheteru, dan Mahfudz, 2007).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Status Dan Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (Fma) Pada Tanah Bekas Erupsi Gunung Sinabung Di Kabupaten Karo

Status Dan Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (Fma) Pada Tanah Bekas Erupsi Gunung Sinabung Di Kabupaten Karo

Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) bersifat kosmopolitan yaitu hampir ditemukan pada berbagai ekosistem. Letusan gunung merapi mempengaruhi sifat kimia, fisika, dan biologi tanah khusus nya fungi mikoriza arbuskula (FMA). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keanekaragaman fungi mikoriza arbuskula (FMA) pada tanah bekas letusan Gunung Sinabung. Sampel tanah dan akar diambil dari dua lokasi yang berbeda yang terkena debu vulkanik di Desa Sukanalu Kecamatan Barusjahe sedangkan yang tidak terkena debu vulkanik di Desa Kutagugung Kecamatan Namanteran Kabupaten Karo. Parameter yang diamati yaitu derajat infeksi akar, kepadatan spora dan identifikasi spora. Identifikasi mikoriza dilaksanakan di Laboratorium Biologi Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara di mulai Pada bulan Mei sampai Agustus 2015. Karakteristik morfologi yang digunakan untuk mengidentifikasi jenis fungi mikoriza arbuskula (FMA) adalah bentuk ketebalan dinding sel, ada tidaknya substanding hifa,kehalusan permukaan dan reaksi spora terhadap melzer’s. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi peningkatan rata-rata kepadatan spora dari lapangan dan hasil trapping, untuk rata-rata persentase kolonisasi fungi mikoriza arbuskula (FMA) pada akar tanaman sebesar 44,8% termasuk kelas 2 atau kategori sedang. Ditemukan 2 genus, yaitu genus Acalauspora dan genus Glomus. Dari lapangan ditemukan sebanyak 5 Tipe spor adan hasil tapping sebanyak 16 tipe spora.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI PUPUK ORGANONITROFOS DAN PUPUK KIMIA DENGAN PENAMBAHAN BIOCHAR TERHADAP TOTAL FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA SELAMA PERTUMBUHAN JAGUNG

PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI PUPUK ORGANONITROFOS DAN PUPUK KIMIA DENGAN PENAMBAHAN BIOCHAR TERHADAP TOTAL FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA SELAMA PERTUMBUHAN JAGUNG

Fungi mikoriza arbuskula membentuk simbiosis mutualisme dengan tanaman. Fungi dapat memenuhi kebutuhan hidupnya (karbohidrat) dari akar tanaman inang dan tanaman inang mendapatkan unsur hara untuk keperluan pertumbuhannya, melalui hifa ektraradikal yang berperan dalam memperluas sistem serapan hara terutama unsur hara P. Prinsip kerja dari mikoriza adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang dan memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza akan mampu meningkatkan kapasitas penyerapan unsur hara dalam tanah, khususnya unsur hara fosfor karena unsur hara fosfor bersifat tidak mobil di dalam tanah.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Status Dan Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (Fma) Pada Tanah Bekas Erupsi Gunung Sinabung Di Kabupaten Karo

Status Dan Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (Fma) Pada Tanah Bekas Erupsi Gunung Sinabung Di Kabupaten Karo

Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) bersifat kosmopolitan yaitu hampir ditemukan pada berbagai ekosistem. Letusan gunung merapi mempengaruhi sifat kimia, fisika, dan biologi tanah khusus nya fungi mikoriza arbuskula (FMA). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keanekaragaman fungi mikoriza arbuskula (FMA) pada tanah bekas letusan Gunung Sinabung. Sampel tanah dan akar diambil dari dua lokasi yang berbeda yang terkena debu vulkanik di Desa Sukanalu Kecamatan Barusjahe sedangkan yang tidak terkena debu vulkanik di Desa Kutagugung Kecamatan Namanteran Kabupaten Karo. Parameter yang diamati yaitu derajat infeksi akar, kepadatan spora dan identifikasi spora. Identifikasi mikoriza dilaksanakan di Laboratorium Biologi Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara di mulai Pada bulan Mei sampai Agustus 2015. Karakteristik morfologi yang digunakan untuk mengidentifikasi jenis fungi mikoriza arbuskula (FMA) adalah bentuk ketebalan dinding sel, ada tidaknya substanding hifa,kehalusan permukaan dan reaksi spora terhadap melzer’s. Hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi peningkatan rata-rata kepadatan spora dari lapangan dan hasil trapping, untuk rata-rata persentase kolonisasi fungi mikoriza arbuskula (FMA) pada akar tanaman sebesar 44,8% termasuk kelas 2 atau kategori sedang. Ditemukan 2 genus, yaitu genus Acalauspora dan genus Glomus. Dari lapangan ditemukan sebanyak 5 Tipe spor adan hasil tapping sebanyak 16 tipe spora.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Status Dan Keanekaragaman  Fungi Mikoriza Arbuskula (Fma) Pada Lahan Produktif Dan Lahan Non Produktif

Status Dan Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (Fma) Pada Lahan Produktif Dan Lahan Non Produktif

The existence and status of the AMF is influenced by biotic and abiotic factors. This research aims to study and know the status and existence of Arbuscule Mycorrhizal Fungi (AMF) on the land productive and non productive land. Soil samples derived from the productive and non productive land in Tanjung Anom. This research uses the filter to get the spores and staining method to determine root colonization. Results showle that AMF colonization in productive land obtained 17.83% with an average density of 80 spores / 50g soil, and the percent of FMA colonization in non productive land obtained 42.76% with an average density of 89 spores / 50g ground. AMF spore types glomus and Acaulospora on productive land obtained 13 spore types Glomus sp, and on non productive land obtained 14 spore types Glomus sp and sp 2 Acaulospora spore types. Total spore types were obtained 27 spore types, 25 types of spores Glomus sp and 2 Acaulospora sp spore types.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan PGPR terhadap Bintil Akar Tanaman Kedelai Hitam

Pengaruh Pemberian Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan PGPR terhadap Bintil Akar Tanaman Kedelai Hitam

Kedelai (Glycine max (L.) Merril) merupakan tanaman pangan yang penting sebagai sumber protein nabati. Penelitian ini akan dilakukan di Kecamatan Tarogong Kaler Kabupaten Garut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian FMA dan PGPR terhadap jumlah bintil total dan persentase bintil efektif. Lokasi penelitian berada pada ketinggian tempat 650 meter. Rancangan pada penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu empat taraf konsentrasi PGPR dan empat taraf inokulan FMA. Tiap perlakuan diulang sebanyak dua kali, maka jumlah keseluruhan : 4 x 4 x 2 = 32. Hasil menunjukkan bahwa pengaruh pemberian FMA dan PGPR memberikan pengaruh yang nonsignifikan terhadap jumlah bintil total dan persentase bintil efektif.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Potensi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) di Ekosistem Tanaman Karet, Jambi

Potensi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) di Ekosistem Tanaman Karet, Jambi

Interaksi simbiosis mutualisme antara tanaman dengan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) akan menghasilkan tanaman yang dapat tumbuh dengan baik dan dapat bertahan pada kondisi tanah yang kurang unsur hara tanpa melakukan pemupukan. Masyarakat cenderung menggunakan pupuk untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, namun jika pemupukan dilakukan dalam skala sangat besar tentunya mengeluarkan biaya yang besar juga. Oleh sebab itu, perlu alternatif untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Prihastuti et al. (2010) menyatakan bahwa mikoriza juga berpotensi untuk menghemat penggunaan pupuk nitrogen hingga 50%, pupuk fosfat 27% dan pupuk kalium 20%. Menurut Wilarso (1990), FMA adalah fungi yang dapat bersimbiosis dengan akar tanaman dan melalui hifa eksternal mampu meningkatkan serapan hara immobil dari dalam tanah (terutama fosfor), sehingga dapat mengurangi gejala defisiensi dan menghemat penggunaan pupuk TSP (Triple Super Phosphate) 70-90%.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Efek Penambahan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada Tanaman Leguminosa Merambat dalam Kondisi Cekaman Kekeringan.

Efek Penambahan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada Tanaman Leguminosa Merambat dalam Kondisi Cekaman Kekeringan.

Fungi mikoriza arbuskula merupakan tipe mikoriza yang paling banyak mendapat perhatian, karena diketahui dapat bersimbiosis dengan sekitar 80% spesies tanaman (Brundrett et a l., 1996). Secara alami terdapat asosiasi mikoriza antara fungi dan tanaman dalam bentuk simbiosis mutualisme. Manfaat fungsional yang diperoleh FMA dapat dilihat dari adanya pembentukan struktur arbuskula dan vesikula di dalam sel-sel akar serta produksi spora yang tinggi. Perkembangan FMA dan produksi spora membutuhkan energi yang diperoleh melalui penyerapan karbon organik dari tanaman inang (Smith dan Read, 1997). Sementara itu, tanaman inang dapat memanfaatkan fungi simbiosis berupa hara mineral dan air yang penyerapannya dibantu oleh FMA sehingga pertumbuhan dan hasil tanaman meningkat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Respons Pertumbuhan dan Produksi Sorgum (Sorghum bicolor (L.)Moench)  Terhadap Pemberian Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Kompos Kascing

Respons Pertumbuhan dan Produksi Sorgum (Sorghum bicolor (L.)Moench) Terhadap Pemberian Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Kompos Kascing

The aims of this research is to obtain FMA and Vermicompost dosage and the best interactions both of it for sorgum’s (Sorghum bicolor (L) Moench.) growth and production. This research was conducted in UPT BBI Tanjung Selamat village of sub-districts Sunggal, Deli Serdang Medan with altitude + 25 feet above of sea level, from May to August 2012. The design was used Randomized Block Design (RBD) of two treatment factors. The first factor is FMA dosage (0, 5, 10)g/plant. The second factor is vermicompost (0, 30, 60, 90)g/plant. The measured of parameters were plant height, number of leaves, flowering, harvest, panicle seed weight of sample, panicle seed weight of plot, of sample production, production of plot and the degree of root infection. FMA significant effect on 6, 7, 8, and 9 weeks after planting, the degree of root infection. Vermicompost significant effect on 6, 7, 8, 9 weeks after planting. Interaction between FMA and Vermicompost is significantly affect the degree of mycorrhiza infection.
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

Kajian Pustaka Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada Tanaman Kehutanan Jenis Non Dipterocarpaceae

Kajian Pustaka Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) pada Tanaman Kehutanan Jenis Non Dipterocarpaceae

11 ketahanan dan meningkatkan kualitas bibit yang dihasilkan di lapang. Berikut ini merupakan uraian hasil analisis data-data penelitian mengenai aplikasi FMA pada 15 jenis tanaman kehutanan yang termasuk ke dalam jenis non Dipterocarpaceae (Samanea saman, Aquilaria crassna, Melia azedarach, Anthocephalus cadamba, Dyera polyphylla, Tectona grandis, Alstonia scholaris, Sizygium spp., Enterolobium cyclocarpum, Calliandra calothyrsus, Leucaena leucocephala, Palaquium sp., Ficus spp., Gmelina arborea, dan Falcataria moluccana) berdasarkan nilai prosentase status mikoriza, efektivitas mikoriza, interaksi mikoriza dengan media tumbuh, pemupukan dan penambahan mikroba lain.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Respon Pertumbuhan Dan Produksi Jagung (Zea mays L.) Terhadap Pemberian Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Dan Perbedaan Waktu Tanam

Respon Pertumbuhan Dan Produksi Jagung (Zea mays L.) Terhadap Pemberian Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Dan Perbedaan Waktu Tanam

Salah satu alternatif yang digunakan untuk mengatasi waktu tanam yang berbeda pada penanaman jagung dan meningkatkan resistensi tanaman terhadap patogen terutama pada sistem perakaran adalah dengan menggunakan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA). Rhizobia dan FMA sering berinteraksi secara sinergistik menghasilkan bintil akar, pengambilan nutrisi, dan hasil panen yang lebih baik. FMA dapat membantu tanaman untuk menyerang penyakit busuk akar. Hifa mempengaruhi morfofisiologi akar sehingga luas permukaan akar bertambah banyak. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk meneliti respon pertumbuhan dan produksi jagung terhadap pemberian FMA dan perbedaaan waktu tanam.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Evaluasi Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Respon Pertumbuhannya terhadap Bibit Jati (Tectona grandis Linn. F.) di Persemaian

Evaluasi Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Respon Pertumbuhannya terhadap Bibit Jati (Tectona grandis Linn. F.) di Persemaian

Pritchet (1979) dalam Fakuara et al. (1993) menyatakan bahwa cendawan pembentuk stuktur mikoriza sangat penting bagi nutrisi dan pertumbuhan pohon. Nye dan Tinker (1977) dalam Fakuara et al. (1993) juga menyatakan bahwa akar bermikoriza aktif menyerap unsur hara sehingga pertumbuhan tanaman yang bermikoriza lebih cepat dibandingkan dengan tanaman yang akarnya tidak bermikoriza. Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan Harley (1969) dan Bowen (1973) yaitu serapan dan translokasi P lebih cepat jika akar bermikoriza. Selain itu pula, mikoriza dapat berperan sebagai pengendali biologi yaitu dapat menciptakan mekanisme yang memungkinkan dapat meningkatkan ketahanan terhadap patogen akar.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 1481 documents...