Tanggung Jawab Hukum Direksi

Top PDF Tanggung Jawab Hukum Direksi:

ANALISIS YURIDIS TANGGUNG JAWAB HUKUM DIREKSI PADA BUMN BERDASARKAN PRINSIP AKUNTABILITAS SKRIPSI

ANALISIS YURIDIS TANGGUNG JAWAB HUKUM DIREKSI PADA BUMN BERDASARKAN PRINSIP AKUNTABILITAS SKRIPSI

Segala kemuliaan, pujian dan ucapan syukur hanya kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan Rahmat dan Hidayah dari awal hingga akhir pengerjaan skripsi ini. Terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada kedua orangtua, abang-abang dan adik, sehingga akhirnya Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ANALISIS YURIDIS TANGGUNG JAWAB HUKUM DIREKSI PADA BUMN BERDASARKAN PRINSIP AKUNTABILITAS”. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Tanggung Jawab Hukum Direksi pada BUMN Berdasarkan Prinsip Akuntabilitas

Analisis Yuridis Tanggung Jawab Hukum Direksi pada BUMN Berdasarkan Prinsip Akuntabilitas

Analisis data kualitatif adalah proses analisis kualitatif yang mendasarkan pada adanya hubungan semantis antar variabel yang sedang diteliti. Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif agar mendapatkan makna hubungan variabel- variabel sehingga dapat digunakan untuk menjawab masalah yang dirumuskan dalam penelitian.Penggunaan metode analisis data kualitatif ditujukan agar dapat mengolah dan menganalisis data-data yang terkumpul menjadi data yang sistematik, teratur, terstruktur dan mempunyai makna.Analisis data kualitatif dilakukan dengan mengumpulkan doktrin, asas-asas, teori-teori, pasal-pasal, serta norma-norma hukum yang terdapat didalam peraturan perundang-undangan yang relevan dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Tanggung Jawab Hukum Direksi pada BUMN Berdasarkan Prinsip Akuntabilitas

Analisis Yuridis Tanggung Jawab Hukum Direksi pada BUMN Berdasarkan Prinsip Akuntabilitas

Di Indonesia, kerangka hukum dan perundang-undangannya telah mengadopsi prinsip-prinsip Good Corporate Governance ini, baik secara langsung maupun secara tersirat dalam peraturan perundang-undangan yang ada. Sejauh mana peraturan perundang-undangan di Indonesia mendukung pelaksanaan prinsip GCG, sangatlah penting untuk dikaji kerangka peraturang perundang-undangan yang ada.Kerangka hukum dan peraturan perundang- undangan di Indonesia terkait dengan pengimplementasian prinsip-prinsip GCG pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perusahaan swasta, perbankan, dan industri pasar modal Indonesia. 72
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Analisis Yuridis Tanggung Jawab Hukum Direksi pada BUMN Berdasarkan Prinsip Akuntabilitas

Analisis Yuridis Tanggung Jawab Hukum Direksi pada BUMN Berdasarkan Prinsip Akuntabilitas

Penerapan Good Corporate Governance Mengesampingkan Hak-hak Istimewa Demi Kelangsungan Usaha,Jakarta : Kencana, 2008.` Peraturan Perundang-undangan Undang-undang Nomor 19 Tahun 200[r]

5 Baca lebih lajut

Kedudukan, Peran Dan Tanggung Jawab Hukum Direksi Dalam Pengurusan BUMN

Kedudukan, Peran Dan Tanggung Jawab Hukum Direksi Dalam Pengurusan BUMN

penghapusan secara bersyarat dan penghapusan secara mutlak piutang perusahaan negara/daerah dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berikutnya Pasal 20 menyatakan: bahwa tata cara dan penghapusan secara bersyarat dan penghapusan secara mutlak atas piutang perusahaan negara/daerah yang pengurusan piutang diserahkan kepada PUPN diatur lebih lanjut dengan peraturan Menteri Keuangan. Dengan demikian, peraturan-peraturan tersebut tidak memisahkan antara kekayaan BUMN Persero dan kekayaan negara sebagai pemegang saham, yang kemudian memunculkan polemik apakah piutang-piutang pada penanggung hutang (debitur) masuk pada kekayaan negara ataukah kekayaan BUMN Persero sebagai suatu perseroan terbatas yang merupakan badan hukum yang tunduk pada ranah hukum privat. Pada akhirnya Menteri Keuangan mengajukan surat kepada Mahkamah Agung (MA) untuk meminta fatwa hukum. MA mengeluarkan fatwa melalui suratnya tanggal 16 Agustus Tahun 2006 Nomor WKMA/Yud/20/VIII/2006 menyatakan bahwa penyertaan modal pemerintah pada BUMN Persero merupakan kekayaan negara yang dipisahkan dari pengelolaan dan mekanisme pertanggungjawaban APBN, tetapi selanjutnya didasarkan pada prinsip- prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat tunduk pada pengaturan UUPT
Baca lebih lanjut

167 Baca lebih lajut

Kajian Hukum Atas Peran Dan Tanggung Jawab Direksi Dalam Pembelian Kembali Saham Pada Perseroan Terbatas

Kajian Hukum Atas Peran Dan Tanggung Jawab Direksi Dalam Pembelian Kembali Saham Pada Perseroan Terbatas

UUPT secara umum menyatakan bahwa suatu perseroan sekurang-kurangnya harus diurus oleh satu orang atau lebih anggota direksi, dengan pengecualian bagi perseroan yang bidang usahanya melakukan pengerahan dana masyarakat, perseroan yang menerbitkan surat pengakuan utang atau perseroan terbatas terbuka, harus memiliki sekurang-kurangnya dua orang anggota direksi. 63 Tidak ada suatu pembatasan mengenai keanggotaan direksi dalam perseroan. Tidak hanya warga negara Indonesia, melainkan juga keanggotaan direksi warga negara Asing yang memenuhi syarat yang ditetapkan (oleh Departemen Tenaga Kerja) dapat menjadi anggota direksi perseroan. 64 UUPT mensyaratkan bahwa anggota direksi haruslah orang perseorangan. 65 Hal ini berarti dalam sistem hukum perseroan Indonesia tidak dikenal adanya pengurusan perseroan oleh badan hukum perseroan lainnya maupun oleh badan usaha lain, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. 66 Selanjutnya orang perseorangan tersebut adalah mereka yang cakap untuk bertindak dalam hukum, tidak pernah dinyatakan pailit oleh pengadilan, maupun yang menjadi anggota direksi atau komisaris perseroan tersebut dan belum pernah dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal pengangkatannya. 67
Baca lebih lanjut

147 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Mengenai Penerapan Doktrin Fiduciary Duty Terhadap Tanggung Jawab Direksi Berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 2007  (Studi: PT.Bank Permata, TBK.)

Tinjauan Yuridis Mengenai Penerapan Doktrin Fiduciary Duty Terhadap Tanggung Jawab Direksi Berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 2007 (Studi: PT.Bank Permata, TBK.)

Sungguhpun sampai batas-batas tertentu seorang direksi dapat dikategorikan sebagai “pekerja” dalam suatu perseroan, sehingga sampai batas- batas tertentu hukum tenaga kerja berlaku kepadanya, dimana direksi sebagai buruh dan perseroan (bukan pemegang saham) adalah sebagai majikannya. Sehingga sering juga dikatakan bahwa direksi adalah the officer of the company. Akan tetapi, direksi bukanlah pekerja (worker) atau buruh (labor) dalam arti yang strict. Kedudukan hukum dari direksi lebih mendekati kedudukan para profesional (seperti lawyer, akuntan), sehingga dia berkedudukan mandiri terbebas dari campur tangan pihak lain, kecuali untuk perubahan-perubahan yang fundamental dari perseroan merupakan kewenangan organ perusahaan yang lain, atau setidak- tidaknya memerlukan persetujuan dari organ perusahaan yang lain tersebut seperti dari komisaris atau rapat umum pemegang saham. Perubahan fundamental tersebut misalnya perubahan anggaran dasar, merger dan akuisisi, penjualan sebagian besar aset perseroan, dan lain-lain.
Baca lebih lanjut

131 Baca lebih lajut

Tinjauan Yuridis Mengenai Penerapan Doktrin Fiduciary Duty Terhadap Tanggung Jawab Direksi Berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 2007 (Studi: PT.Bank Permata, TBK.)

Tinjauan Yuridis Mengenai Penerapan Doktrin Fiduciary Duty Terhadap Tanggung Jawab Direksi Berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 2007 (Studi: PT.Bank Permata, TBK.)

5. Prof. Dr. Tan Kamello, SH., MS., selaku Ketua Departemen Hukum keperdataan, yang juga adalah Dosen Pembimbing I, atas bimbingan dan pengetahuan serta arahan yang telah diberikan mulai dari masa-masa perkuliahan di Departemen yang Beliau pimpin, sampai sekarang ini.

9 Baca lebih lajut

ANALISA HUKUM TENTANG DOKTRIN PIERCING THE CORPORATE VEIL, TERHADAP TANGGUNG JAWAB DIREKSI PADA PERSEROAN TERBATAS BAB I PENDAHULUAN - Paper ttg Doktrin Piercing The Corporate Veil

ANALISA HUKUM TENTANG DOKTRIN PIERCING THE CORPORATE VEIL, TERHADAP TANGGUNG JAWAB DIREKSI PADA PERSEROAN TERBATAS BAB I PENDAHULUAN - Paper ttg Doktrin Piercing The Corporate Veil

Tuntutan terhadap Direksi yang pada gilirannya mengakibatkan diterapkannya piercing the corporate veil. Tuntutan terhadap Direksi pada dasarnya berusaha untuk menyibak tabir dari perseroan, yaitu Suatu proses untuk perbuatan hukum yang dilakukan oleh suatu perusahaan, tanpa melihat kepada fakta bahwa perbuatan tersebut sebenarnya dilakukan oleh perseroan pelaku tersebut. Dalam hal seperti ini pengadilan akan mengabaikan status badan hukum dari perusahaan tersebut, dan membebankan tanggung jawab kepada pihak manager dari persseroan tersebut dengan mengabaikan prinsip tanggung jawab terbatas dari perseroan, yang biasanya mereka nikmati.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP PERBUATAN HUKUM PERSEROAN YANG MERUGIKAN PIHAK KETIGA | Ritonga | Jurnal Ilmu Hukum 7201 15654 1 SM

TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP PERBUATAN HUKUM PERSEROAN YANG MERUGIKAN PIHAK KETIGA | Ritonga | Jurnal Ilmu Hukum 7201 15654 1 SM

Dengan demikian dalam hal terjadi sengketa pihak ketiga dengan perseroan, maka perseroan sebagai badan hukum dapat digugat bersama-sama dengan pribadi direksinya. Sebab keduanya merupakan subjek hukum yang terpisah dan memiliki tanggung jawab terpisah dalam hal tertentu termasuk terhadap kerugian pihak ketiga. Sekiranya dalam proses persidangan di pengadilan terjadi tolak menolak tanggung jawab terhadap siapa sesungguhnya kerugian pihak ketiga dibebankan, maka demi hukum dan keadilan dan demi asas peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan, maka pengadilan berwenang menentukan terhadap siapa kerugian pihak ketiga dibebankan apakah terhadap perseroan atau terhadap pribadi direksinya atau bahkan secara tanggung renteng. Dengan cara itu akan memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi pihak ketiga yang menderita kerugian akibat perbuatan hukum perseroan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

Kepailitan atau dalam bahasa Inggris disebut bankruptcy, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut failliet merupakan pranata hukum yang dikenal banyak negara, baik yang menganut sistem hukum Civil Law maupun Common Law. Dalam bahasa Indonesia sehari – hari sering dipakai istilah “bangkrut”. Sedangkan dalam sistem hukum Common Law terkadang dipergunakan juga istilah Insolvency. Istilah Insolvency dimaksudkan sebagai suatu ketidaksanggupan membayar utang ketika utangnya itu jatuh tempo pada saat bisnis dari debitor akan kolaps. Sementara yang dimaksud dengan istilah bankruptcy, adalah status hukum dari debitur yang sangat khusus, status mana ditetapkan oleh Pengadilan 8 .
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

6. Harus diumumkan di 2 (dua) surat kabar ( Pasal 15 ayat (4) Undang – Undang Nomer 37 tahun 2004 tentang Kepailitan). Dengan demikian jelaslah, bahwa akibat hukum bagi debitur setelah dinyatakan pailit adalah bahwa ia tidak boleh lagi mengurus harta kekayaannya yang dinyatakan pailit, dan selanjutnya yang akan mengurus harta kekayaan atau perusahaan debitur pailit tersebut adalah Kurator. Untuk menjaga dan mengawasi tugas seorang kurator, pengadilan menunjuk seorang Hakim Pengawas, yang mengawasi perjalan proses kepailitan (pengurusan dan pemberesan harta pailit).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

A. Pendahuluan - TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS

A. Pendahuluan - TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS

Seiring dengan perkembangan dunia usaha, maka berbagai pihak mengajukan untuk melakukan pengkajian terhadap dunia usaha tersebut secara komprehensif, baik dari sudut pandang praktis maupun secara teoritis. Munculnya pemikiran semacam itu, memang suatu hal yang tidak mungkin dihindarkan pada saat sekarang ini, karena jika berbicara dalam konteks bisnis hampir tidak ada batas-batas antarnegara. Hal itu disebabkan dalam dekade terakhir ini mobilitas bisnis melintas antarnegara demikian cepat. Untuk itu tanpa terasa norma hukum maupun karakteristik dari perusahaan yang akan melakukan kegiatannya di suatu negara sedikit banyak juga akan
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan Perusahaan Publik

Tanggung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan Perusahaan Publik

Suatu perusahaan dapat disebut sebagai badan hukum, apabila memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh Undang-Undang. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) tidak memberi ketegasan kapan satu perusahaan dinyatakan sebagai badan hukum, akan tetapi di Negeri Belanda yang merupakan tempat asal mula KUHD telah lama dinyatakan bahwa naamloze vennootschap (NV) telah menjadi badan hukum manakala telah diperoleh pengesahan Menteri kehakiman. 2 Dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan terbatas hal tersebut tidak perlu diragukan lagi, karena dalam Pasal 7 ayat 4 dengan tegas dinyatakan bahwa perseroan memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum perseroan.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direktur Perusahaan Pengembang Tentang Perbuatan Perusahaan Yang Tidak Melakukan Penyesuaian Anggaran Dasarnya Chapter III V

Tanggung Jawab Direktur Perusahaan Pengembang Tentang Perbuatan Perusahaan Yang Tidak Melakukan Penyesuaian Anggaran Dasarnya Chapter III V

Untuk perbuatan-perbuatan tertentu, direksi perusahaan pengembang wajib meminta persetujuan RUPS atau dewan komisaris. Jadi, keabsahan dari perbuatan direksi itu terikat pada perbuatan pelengkap tertentu, yaitu persetujuan RUPS atau dewan komisaris dari perusahaan. Namun, persetujuan tadi bukan merupakan instruksi yang wajib dilaksanakan oleh direksi perusahaan pengembang. Jadi, sekalipun direksi telah meminta dan memperoleh persetujuan RUPS atau komisaris, akan tetapi direksi tetap bebas untuk memutuskan apakah perbuatan hukum yang bersangkutan akan dilakukannya atau tidak. Bahkan apabila keadaan menunjukkan bahwa pelaksanaan perbuatan itu seyogyanya diurungkan, maka direksi wajib membatalkannya. Ini sesuai dengan tanggung jawab direksi perusahaan pengembang dan masing - masing anggota direksi sebagai mana diatur dalam UUPT. Oleh karena itu, direksi tidak pernah dapat bersembunyi dibelakang persetujuan RUPS atau komisaris. Pemberian persetujuan oleh RUPS atau komisaris tidak dapat membebaskan direksi dari
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direksi Yang Bertindak Sebagai Penanggung Utang Perseroan Jika Perseroan Dinyatakan Pailit

Tanggung Jawab Direksi Yang Bertindak Sebagai Penanggung Utang Perseroan Jika Perseroan Dinyatakan Pailit

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 memberikan pengertian bahwa Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-undang dan peraturan pelaksanaanya. Sebagai organisasi yang teratur perseroan mempunyai organ yang terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Direksi dan Komisaris. Dalam Pasal 97 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 menyatakan bahwa Direksi bertanggung jawab atas pengurusan Perseroan. Untuk kepentingan dan tujuan perseroan maka Direksi dalam melakukan pengurusan untuk kepentingan dan tujuan perseroan baik didalam maupun diluar pengadilan.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan Perusahaan Publik

Tanggung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan Perusahaan Publik

Bahwa jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif analisis dengan sumber data berasal dari data sekunder berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui penelitian kepustakaan (library research) data yang ada di Perpustakaan baik melalui penelusuran katalog maupun browsing internet sedangkan analisa data dilakukan dengan pendekatan kualitatif selanjutnya ditarik suatu kesimpulan yang bersifat deduktif sebagai jawaban atas permasalahan yang diteliti.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan Perusahaan Publik

Tanggung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan Perusahaan Publik

12.Tidak ketinggalan penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada staff dan pengawai Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara antara lain Ibu Niar, Ibu Ganti, Kak Fitri, Kak Fika, Bang Udin, Bang Hendra dan staff lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis, yang telah senantiasa membantu penulis secara administrasi dan memberikan dorongan serta motivasi demi penyelesaian penulisan ini.

14 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direksi PT (Persero) Go-Public Terhadap Penjualan Saham Perusahaan

Tanggung Jawab Direksi PT (Persero) Go-Public Terhadap Penjualan Saham Perusahaan

Sangat penting bagi hakim dan juga masyarakat umum untuk mempelajari perbuatan dan pertimbangan bisnis apa saja yang tidak dilindungi oleh Prinsip Business Judgement Rule. Bila pernah melihat putusan - putusan pengadilan di Amerika Serikat, bisa ditemukan beberapa fakta bahwa ternyata pengadilan - pengadilan disana tidak selalu sama dalam merumuskan pengecualian - pengecualian atas perbuatan dan pertimbangan bisnis tersebut. Ada yang berpendapat bahwa pertimbangan seorang anggota direksi tidak dapat diganggu gugat kecuali apabila keputusan tersebut didasarkan atas suatu kecurangan (fraud) atau menimbulkan benturan kepentingan (conflict of interest) dan bisa juga apabila keputusan itu merupakan perbuatan yang melanggar hukum (illegality). Ada juga pengadilan yang menganggap bahwa keputusan Direksi, yang dalam mengambil keputusan dan pertimbangannya telah menimbulkan kerugian bagi perseroan, maka anggota Direksi yang bersangkutan tidak dilindungi oleh Business Judgement Rule apabila kerugian tersebut adalah sebagai akibat dari kelalaian berat (Gross Negligence) dari anggota Direksi yang bersangkutan. 9
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...