Top PDF Ekstraksi dan Karakterisasi Kolagen dari Kulit Ikan Cobia (Rachycentron canadum)

Ekstraksi dan Karakterisasi Kolagen dari Kulit Ikan Cobia (Rachycentron canadum)

Ekstraksi dan Karakterisasi Kolagen dari Kulit Ikan Cobia (Rachycentron canadum)

Gambar 3 menunjukkan bahwa penggunaan NaOH 0,2 M memberikan hasil kelarutan protein tertinggi pada waktu perendaman yang sama. Zhou dan Regenstein (2005) menyatakan bahwa NaOH menyebabkan pengembangan yang signifikan pada kulit dibanding dengan jenis alkali yang lain. Pengembangan ini menyebabkan terlarutnya protein non kolagen pada kulit. Analisis varian (ANOVA) protein terlarut pada larutan NaOH sisa rendaman kulit menunjukkan perlakuan konsentrasi NaOH dan waktu perendaman berpengaruh nyata terhadap total protein non kolagen terlarut. Interaksi antar perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap nilai protein terlarut pada larutan sisa perendaman (Lampiran 2-4). Uji lanjut dengan DMRT pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan perlakuan terbaik yang diperoleh yaitu perendaman pada NaOH 0,05 M selama 6 jam (p<0,05) (Steel dan Torric 1993). Hasil ini sama dengan hasil penelitian Nur’aenah (2013) yang menyatakan bahwa penghilangan protein non kolagen dapat dilakukan pada konsentrasi NaOH 0,05 M selama 6 jam. Zhou dan Regenstein (2005) menyatakan bahwa penghilangan protein non kolagen dapat dilakukan menggunakan NaOH pada konsentrasi 0,01 hingga 0,1 mol/L. Penggunaan konsentrasi di atas 0,1 mol/L tidak berpengaruh nyata pada penghilangan protein non kolagen.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Optimasi Ekstraksi Dan Karakterisasi Kolagen Dari Gelembung Renang Ikan Cunang (Congresox Talabon)

Optimasi Ekstraksi Dan Karakterisasi Kolagen Dari Gelembung Renang Ikan Cunang (Congresox Talabon)

Sodium deodecyl sulfate polycrilamide gel electroforesis (SDS-PAGE) merupakan salah satu teknik pemisahan protein berdasar kemampuannya untuk bergerak terhadap muatan listrik. Protein terpisah berdasarkan ukuran molekul dan interaksinya terhadap muatan listrik. Metode ini digunakan untuk menganalisis protein secara kualitatif. Roy et al. (2012) menyatakan bahwa gel poliakrilamida terbentuk dari polimerisasi akrilamida dengan agen pembentuk ikatan silang bis- akrilamida dan ikatan silang dari polimer akrilamida menghasilkan pori-pori dengan ukuran yang berbeda-beda. SDS-PAGE memiliki matriks berpori pada gel poliakrilamid yang akan memisahkan kompleks SDS-protein berdasarkan berat molekulnya. Protein berukuran kecil akan bergerak lebih cepat melintasi gel dibandingkan protein berukuran besar sehingga protein dengan berat molekul rendah memiliki jarak tempuh (Rf) yang lebih panjang dibandingkan protein dengan berat molekul tinggi. Bollag dan Edelstein (1991) menyatakan bahwa Berat molekul protein dapat ditentukan dengan menggunakan protein baku yang telah diketahui berat molekulnya dan membandingkan dengan nilai mobilitas relatif (Rf ) yang diperoleh. Pola elektroforesis kolagen metode ASC dan hidro-ekstraksi dari gelembung renang ikan cunang disajikan pada Gambar 7.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

Ekstraksi dan Karakterisasi Kolagen dari Kulit Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)

Ekstraksi dan Karakterisasi Kolagen dari Kulit Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)

Tabel 1 menunjukkan bahwa kulit ikan tongkol memiliki kadar air, protein, lemak, dan abu sebesar 71,66%; 24,63%; 2,72%; dan 0,17%. Komposisi kimia kulit ikan tongkol memiliki kadar air dan kadar protein yang tinggi serta kadar lemak dan kadar abu yang rendah apabila dibandingkan dengan kulit ikan cobia dan kulit ikan cucut bambu. Kadar protein kulit ikan tongkol tergolong tinggi karena bernilai lebih dari 20% (Stansby 1963). Kadar protein yang tinggi dari kulit ikan tongkol juga memiliki potensi yang baik untuk dijadikan sebagai sumber kolagen. Alfaro et al. (2013) menyatakan bahwa kadar protein pada kulit ikan sangat menentukan terhadap jumlah kolagen yang terkandung di dalam jaringan kulit. Keberadaan lemak dan abu pada kulit ikan juga akan berpengaruh terhadap karakteristik dan keefektifan kolagen yang dihasilkan sehingga perlu dihilangkan (Shon et al. 2011). Matmaroh et al. (2011) menyatakan bahwa penghilangan lemak dan abu dapat dilakukan dengan perendaman kulit pada larutan alkali dan asam asetat. Kadar lemak dan kadar abu yang rendah dari kulit ikan tongkol juga mengindikasikan sebagai bahan baku yang baik dalam ekstraksi kolagen.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

Ekstraksi kolagen dari kulit ikan gabus (Channa striata) serta aplikasinya untuk skrining dan karakterisasi kolagenase bakteri asal Indonesia.

Ekstraksi kolagen dari kulit ikan gabus (Channa striata) serta aplikasinya untuk skrining dan karakterisasi kolagenase bakteri asal Indonesia.

Kolagen merupakan salah satu jenis protein yang banyak terdapat pada tulang, gigi, dan kulit makhluk hidup. Secara luas kolagen banyak digunakan untuk perawatan anti-penuaan dini, bedah plastik, kemasan edible, suplemen, dan biomaterial untuk produk kosmetik dan gelatin (food grade). Sumber utama kolagen komersial umumnya berasal dari tulang sapi dan babi. Namun, penggunaan tulang sapi mulai menimbulkan kebimbangan dikalangan produsen karena merebaknya Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE), Transmissible Spongiform Encephalopathy (TSE) dan Foot and Mouth Disease (FMD). Selain itu, terdapat unsur agama yang tidak memperbolehkan penggunaan babi sebagai sumber kolagen. Oleh karena itu, diperlukan suatu bahan alternatif yang dapat dijadikan sebagai sumber kolagen, salah satunya adalah limbah organisme perairan. Limbah dari organisme perairan seperti tulang, kulit, dan sisik ikan diketahui banyak mengandung kolagen (Guillen et al. 2002). Kolagen dari kulit ikan (food grade) diketahui mampu diabsorpsi lebih baik di dalam tubuh manusia dan sering digunakan dalam bidang bioteknologi.
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

Isolasi dan Karakterisasi Kolagen dari Kulit Ikan Buntal Pisang (Tetraodon lunaris)

Isolasi dan Karakterisasi Kolagen dari Kulit Ikan Buntal Pisang (Tetraodon lunaris)

Rendemen merupakan persentase kolagen yang dihasilkan dengan bahan baku awal. Rendemen menunjukkan bagian bahan baku yang dapat dimanfaatkan dan menjadi suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai ekonomis serta keefektifan suatu bahan atau produk. Hasil penelitian menunjukkan kolagen kulit ikan buntal pisang memiliki rendemen yang lebih tinggi dari ASC (acid soluble collagen) dan PSC (pepsin soluble collagen) ikan patin siam (Singh et al. 2011), namun lebih rendah dari rendemen kulit ikan cobia (Rachycentron canadum) (Tabel 3). Potaros et al. (2009) menyatakan bahwa perbedaan nilai rendemen pada kolagen yang dihasilkan dapat disebabkan oleh perbedaan metode ekstraksi, konsentrasi larutan untuk menghilangkan protein non-kolagen, dan jenis bahan, suhu dan lama waktu produksi.
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

Ekstraksi Dan Karakterisasi Kolagen Dan Nanokolagen Dari Daging Teripang Gamma (Stichopus Variegatus).

Ekstraksi Dan Karakterisasi Kolagen Dan Nanokolagen Dari Daging Teripang Gamma (Stichopus Variegatus).

Kolagen (N3A1) memiliki kandungan protein sebesar 67,68%, kadar air 13,64%, dan abu 4,15%. Kolagen dari penelitian memiliki kandungan protein yang lebih kecil dibanding kolagen kulit ikan pari pada penelitian Nur’aenah (2012), yaitu 86,97%. Kadar abu yang tinggi tidak hanya terdapat pada kolagen teripang gamma, tetapi juga terkandung pada kolagen serbuk dari kulit Raja kanojei mencapai 3,38% (Shon et al. 2011). Kadar abu yang tinggi dapat diminimalisir melalui demineralisasi pada awal tahap ekstraksi kolagen. Matmaroh et al. (2011) berhasil mengurangi kadar abu sisik ikan Parupeneus heptacanthus dari 42,31% menjadi 0,76% melalui demineralisasi menggunakan larutan EDTA-2Na 0,5M dengan rasio 1:10 (b/v) selama 48 jam. Kadar air kolagen kering dari teripang gamma lebih tinggi dibandingkan kadar air kulit (11,78%) dan syarat mutu kolagen berdasarkan BSN (2014). Wadah penyimpanan kolagen kering yang kurang tepat mengakibatkan penyerapan air selama penyimpanan sebelum sampel dianalisis. Berdasarkan BSN (2009), syarat mutu kolagen memiliki kadar air ≤ 1β%, abu ≤1%, dan total nitrogen 1β -14 %. Hasil analisis logam berat, tidak ditemukan adanya Pb, Hg, dan As. Hal ini menunjukkan kolagen yang dihasilkan aman diaplikasikan pada produk pangan maupun nonpangan.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

ISOLASI DAN KARAKTERISASI KOLAGEN DARI KULIT IKAN PATIN (Pangasius sp.)

ISOLASI DAN KARAKTERISASI KOLAGEN DARI KULIT IKAN PATIN (Pangasius sp.)

Rendemen merupakan persentase kolagen yang dihasilkan dengan bahan baku awal. Rendemen menunjukkan bagian bahan baku yang dapat dimanfaatkan dan menjadi suatu parameter yang penting untuk mengetahui nilai ekonomis, serta keefektifan suatu bahan atau produk. Hasil penelitian menunjukkan kolagen kulit ikan patin memiliki rendemen yang lebih tinggi dari Acid Soluble Collagen (ASC), Pepsin Soluble Collagen (PSC) ikan patin siam (Singh et al. 2011), dan kulit ikan cobia (Rachycentron canadum) (Tabel 4). Potaros, Raksakulthai, Runglerdkreangkrai & Worawattanamateekul (2009) menyatakan bahwa perbedaan nilai rendemen pada kolagen yang dihasilkan dapat disebabkan oleh perbedaan metode ekstraksi, konsentrasi larutan untuk menghilangkan protein non kolagen, jenis bahan, suhu dan lama waktu produksi.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Ekstraksi dan karakterisasi kolagen berstandar cosmetics-grade dari kulit dan tulang ikan cobia (rachynentron canadum)

Ekstraksi dan karakterisasi kolagen berstandar cosmetics-grade dari kulit dan tulang ikan cobia (rachynentron canadum)

Kolagen merupakan salah satu protein terpanjang dengan jumlah paling banyak pada tubuh vertebrata. Kolagen merupakan bahan baku utama yang banyak terdapat pada kulit, urat, pembuluh darah tulang dan tulang rawan. Serat kolagen terdiri dari tiga rantai polipeptida yang saling berhubungan, masing-masing tersusun dalam jenis khusus heliks berputar. Kolagen merupakan protein yang mengandung 35% glisin dan sekitar 11% alanin serta kandungan prolin yang cukup tinggi. Fibril kolagen terdiri dari sub-unit polipeptida berulang yang disebut tropokolagen yang disusun dalam untaian paralel dari kepala sampai ekor. Tropokolagen terdiri atas tiga rantai polipeptida yang berpilin erat menjadi tiga untai tambang
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Ekstraksi dan Karakterisasi Gelatin dari Tulang Ikan Cobia (Rachycentron canadum)

Ekstraksi dan Karakterisasi Gelatin dari Tulang Ikan Cobia (Rachycentron canadum)

Pemanfaatan tulang ikan cobia (Rachycentron canadum) belum dilakukan secara optimal. Konversi tulang menjadi gelatin dapat meningkatkan nilai tambah produk. Isolasi gelatin dari tulang ikan cobia dilakukan melalui empat tahap, yaitu degreasing, deproteinisasi dengan NaOH 0,05M dengan rasio sampel/larutan, yaitu 1:10 (b/v) selama 5 hari, demineralisasi menggunakan HCl 5% dengan rasio sampel/larutan adalah 1:6 (b/v) selama 4 hari, dan ekstraksi menggunakan akuades selama 3 jam pada suhu 70 o C dengan rasio sampel/larutan 1:2 (b/v). Rendemen yang diperoleh berdasarkan perhitungan basis basah adalah 5,76%. Gelatin yang dihasilkan memiliki kandungan protein yang tinggi yaitu 86,65%, kadar air (10,35%), abu (0,75%), dan lemak(1,25%) yang rendah. Nilai pH yang diperoleh yaitu 6,56. Analisis asam amino menunjukkan bahwa gelatin memiliki komposisi glisin dan prolina yang tinggi. Analisis FTIR menunjukkan wilayah penyerapan amida A, B, I, II, III pada 3335, 2923, 1657, 1543, dan 1235 cm -1 .
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

PEMBESARAN COBIA (Rachycentron canadum) DENGAN PEMBERIAN KONSENTRASI TAURIN YANG BERBEDA DI KERAMBA JARING APUNG BALAI BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA LAUT (BBPBL) LAMPUNG

PEMBESARAN COBIA (Rachycentron canadum) DENGAN PEMBERIAN KONSENTRASI TAURIN YANG BERBEDA DI KERAMBA JARING APUNG BALAI BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA LAUT (BBPBL) LAMPUNG

menunjukkan nilai persentase makanan yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh ikan. Jumlah dan kualitas makanan yang diberikan kepada ikan berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan. Cobia merupakan hewan karnivora yang di alam memakan ikan, kepiting, udang, dan cumi-cumi (Kaiser dan Joan, 2010). Menurut Mudjiman (2004), ikan karnivora membutuhkan protein lebih banyak jika dibandingkan dengan ikan pemakan tumbuhan. Di samping itu, ikan karnivora mempunyai kemampuan memanfaatkan protein lebih baik daripada memanfaatkan lemak dan karbohidrat (Cowey, 1979). Meskipun pakan tidak diberi konsentrasi taurin yang merupakan turunan asam amino, pakan rucah sudah mengandung protein yang merupakan molekul polimer asam amino.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

PENAMBAHAN SENYAWA OSMOLIT ORGANIK TAURIN PADA PAKAN ALAMI YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN COBIA (Rachycentron canadum) DI BALAI BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA LAUT (BBPBL) LAMPUNG

PENAMBAHAN SENYAWA OSMOLIT ORGANIK TAURIN PADA PAKAN ALAMI YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN COBIA (Rachycentron canadum) DI BALAI BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA LAUT (BBPBL) LAMPUNG

Perlakuan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 kali ulangan. Penelitian ini terdiri atas 2 perlakuan yaitu (A) penambahan taurin (0,06 mg) pada pakan cumi-cumi (30%), dan ikan rucah (70%), dan (B) penambahan taurin (0,06 mg) pada pakan ikan rucah (100%). Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji T student (T test) pada taraf nyata 5%. Parameter yang diamati (1) berat tubuh, panjang tubuh, dan lingkar perut, (2) Tingkat Kelulushidupan, (3) Ratio konversi pakan, (4) Laju pertumbuhan harian, dan Parameter kualitas fisika-kimia air laut.

8 Baca lebih lajut

Pemberian Senyawa Osmolit Organik Taurin Pada Pakan Buatan Terhadap Respon Pertumbuhan Cobia (Rachycentron canadum) Di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung

Pemberian Senyawa Osmolit Organik Taurin Pada Pakan Buatan Terhadap Respon Pertumbuhan Cobia (Rachycentron canadum) Di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung

Cobia merupakan ikan pelagik terdapat di laut dalam dengan suhu tropis, kecuali di laut timur. Cobia menyukai temperatur air antara 20 0 C-30 0 C. Pada saat musim gugur, Cobia bermigrasi kearah selatan yaitu daerah yang perairannya lebih hangat dan ketika musim semi mereka berpindah kembali ke daerah utara. Cobia terbiasa melakukan migrasi musiman pada sepanjang pantai mencari air dengan cakupan temperatur yang lebih disukai mereka pada saat musim dingin dan biasanya berpindah ke utara pada musim panas, melewati timur Florida pusat dibulan Maret (Aquaculturcenter, 2008b).
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

Isolasi dan Karakterisasi Kolagen Nanopartikel dari Kulit Ikan Cucut Bambu (Chiloscyllium punctatum)

Isolasi dan Karakterisasi Kolagen Nanopartikel dari Kulit Ikan Cucut Bambu (Chiloscyllium punctatum)

Kolagen merupakan biomaterial dari protein yang terkandung dalam tubuh hewan yang bersifat biodegradable. Keunggulan dari hal tersebut dinyatakan oleh Aberoumand (2012) dalam penelitiannya sehingga kolagen banyak digunakan untuk kepentingan biomedis, pharmaceutical, industri obat, industri makanan, dan industri kosmetik. Dalam bidang kosmetik, kolagen berperan sebagai zat aktif yang dapat memberikan banyak manfaat untuk kulit seperti sebagai zat pencegah keriput, meningkatkan kelembaban kulit, menjaga kulit dari radikal bebas, dan menjaga elastisitas kulit. Dalam tubuh manusia kadar kolagen dalam kulit akan semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia, terlebih akan aktifitas manusia yang semakin padat dan seringkali terpapar oleh cahaya UVA serta UVB dari radiasi sinar matahari (Draelos dan Thaman 2006).
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

PENGAMBILAN KOLAGEN PADA SISIK IKAN DARI LIMBAH PABRIK FILLET IKAN MENGGUNAKAN METODE EKSTRAKSI ASAM - ITS Repository

PENGAMBILAN KOLAGEN PADA SISIK IKAN DARI LIMBAH PABRIK FILLET IKAN MENGGUNAKAN METODE EKSTRAKSI ASAM - ITS Repository

Kegiatan industri perikanan sejak di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) hingga di tempat pengolahan ikan (industri) umumnya selalu menghasilkan limbah berupa kepala, insang, isi perut, tulang, sirip, kulit, dan sisik selain limbah cair. Limbah ini umumnya hanya diolah menjadi tepung ikan untuk pakan ternak. Padahal apabila dilakukan pengolahan dapat dihasilkan kolagen sehingga memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. Kolagen merupakan protein yang ditemukan dengan konsentrasi tertinggi, sekitar 30% pada makhluk hidup. Sumber utama kolagen sampai saat ini hanya terbatas dari hewan ternak dan kulit/ tulang babi dan sapi. Namun, akhir-akhir ini ditemukan hewan ternak terinfeksi penyakit bovine spongiform encelopathy (BSE), sehingga perlu dicari alternatif bahan baku yang murah dan lebih aman seperti dari kulit dan sisik ikan ( Ali, 2010 ).
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI INHIBITOR KATEPSIN DARI IKAN BANDENG

EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI INHIBITOR KATEPSIN DARI IKAN BANDENG

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi aktivitas enzim adalah konsentrasi enzim, substrat, produk, senyawa inhibitor dan aktivator, pH, jenis pelarut yang terdapat pada lingkungan, kekuatan ion, dan suhu (Suhartono 1989). Tujuan karakterisasi inhibitor katepsin ini untuk mengetahui kondisi optimum dari kerja inhibitor enzim. Karakterisasi dilakukan pada ekstrak kasar inhibitor ikan bandeng. Karakterisasi meliputi penentuan suhu dan pH optimum, stabilitas panas dan pH, juga karakterisasi untuk mengetahui pengaruh beberapa ion logam terhadap ekstrak inhibitor katepsin.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Document1

Document1

Hasil Fourier Transform Infrared Spectrophotometer (FTIR) kolagen terbaik (N3A1) menunjukkan puncak-puncak serapan tersebar pada wilayah serapan amida A, amida B, amida I, amida II, dan amida III (Gambar 3). Keberadaan amida A dan B pada kolagen S. variegatus ditunjukkan pada bilangan gelombang 3417,27 cm -1 dan 2926,30 cm -1 (Tabel 3). Coates (2000) menyatakan bahwa serapan amida B ini terbentuk dari asimetrikal stretching CH 2 dengan wilayah serapan antara 2935-2915 cm -1 . Puncak amida I kolagen S. variegatus ditemukan pada bilangan gelombang 1656,57 cm -1 . Menurut Kong dan Yu (2007), amida I memiliki wilayah serapan pada kisaran 1690-1600 cm -1 yang menunjukkan vibrasi streching C=O. Frekuensi bilangan gelombang amida I berkaitan dengan struktur sekunder protein. Muyonga et al. (2004) menyatakan bahwa amida I terdiri dari empat komponen struktur sekunder protein, yaitu α- heliks, β-sheet, β-turn, dan random coil yang saling bertumpang tindih. Kong dan Yu (2007) menyatakan bahwa komponen α-heliks ditunjukkan pada wilayah serapan antara 1654 dan 1658 cm-1; β-sheet pada = 1624-1642 cm -1 ; β-turn pada = 1666, 1672, 1680, 1688 cm -1 ; dan random coil pada = 1648±2 cm -1 . Berdasarkan puncak serapan Amida I (1656,57 cm -1 ), kolagen S. variegatus memiliki struktur α-heliks.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Ekstraksi dan Karakterisasi Gelatin Tulang Ikan Tenggiri

Ekstraksi dan Karakterisasi Gelatin Tulang Ikan Tenggiri

air, kadar abu, dan kadar protein, dan warna, serta sifat fungsionalnya berupa kekuatan gel. Rendemen dinyatakan dalam persen (%), dan dihitung berdasarkan perbandingan antara bubuk gelatin yang dihasilkan dengan berat awal tulang ikan. Kadar air dan kadar abu diuji dengan metode pemanasan, sedangkan kadar protein dianalisa berdasarkan metode mikro Kjeldhal, ketiganya mengikuti metode Sudarmadji (2003). Uji kekuatan gel dilaku- kan berdasarkan metode Poppe (1999), meng- gunakan alat Stevens-LFRA Texture Analy- ser, sedangkan uji warna menggunakan alat chromameter merk Minolta menggunakan system notasi warna Hunter dengan 3 para- meter warna yang dinyatakan dengan notasi L* (kecerahan / lightness), a* (warna kroma- tik/hue) dan b* (intensitas warna / chroma). Nilai L* berkisar antara 0 (hitam) sampai 100
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Ekstraksi dan karakterisasi pektin dari kulit buah kakao

Ekstraksi dan karakterisasi pektin dari kulit buah kakao

2, I dari pektin yang masih metoksil standar mutu kadar abu ditetapkan proses ekstraksi yang Kodeks lndonesia lebih dari gugus ester yang content pectin ekstraksi tid[r]

5 Baca lebih lajut

Isolasi Kolagen dari Kulit Ikan Patin (Pangasius sp.).

Isolasi Kolagen dari Kulit Ikan Patin (Pangasius sp.).

Efisiensi proses isolasi kolagen dalam penelitian ini masih rendah. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu rata-rata 2.75 ± 1.32 mg/g bobot kulit (0.28%) lebih rendah dibandingkan dengan hasil yang dilaporkan oleh peneliti sebelumnya yaitu 1.27% dan 9.59% dari tulang rawan ikan hiu dengan metode acid dan pepsin soluble extraction (Kittiphattanabawon et al. 2010). Perbedaan ini dapat disebabkan oleh proses pengadukan (stirring) pada penelitian ini tidak dilakukan secara terus-menerus, sebaliknya pada penelitian Kittiphattanabawon et al. (2010) pengadukan dilakukan secara terus-menerus serta dilakukan penambahan enzim pepsin yang dapat memecah protein menjadi molekul yang lebih kecil, sehingga akan membantu proses ekstraksi kolagen.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Perubahan Kandungan Asam Lemak dan Kolesterol Ikan Cobia (Rachycentron canadum) Akibat Pengukusan

Perubahan Kandungan Asam Lemak dan Kolesterol Ikan Cobia (Rachycentron canadum) Akibat Pengukusan

Karbohidrat memegang peranan penting dalam alam karena merupakan sumber energi utama bagi hewan dan manusia. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa pengukusan memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kadar karbohidrat daging ikan cobia. Tabel 2 menunjukkan bahwa seteleh pengukusan terjadi peningkatan kadar karbohidrat daging ikan cobia sebesar 36,27%. Peningkatan tersebut karena adanya penurunan kadar air, abu dan protein larut dalam air, dan lemak yang terbawa dalam air saat proses pengukusan. Perbedaan kadar karbohidrat pada hasil perairan dipengaruhi oleh habitat, kematangan gonad, proses penangkapan, proses pengolahan dan pakan yang di berikan. Proses pengukusan yang melibatkan pemanasan yang tinggi mengakibatkan karbohidrat terutama gula mengalami karamelisasi (pencoklatan non enzimatis) (Cuq et al. 1982).
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...