Top PDF Hadhanah Setelah Terjadi Perceraian Menurut Kompilasi Hukum Islam Dan...

Hadhanah Setelah Terjadi Perceraian Menurut Kompilasi Hukum Islam Dan...

Hadhanah Setelah Terjadi Perceraian Menurut Kompilasi Hukum Islam Dan...

Untuk mengkaji berbagai permasalahan di atas, dilakukan penelitian dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif dan sosiologis. Lokasi penelitian dilaksanakan di Pengadilan Agama Kelas I – A Medan. Untuk mendapatkan data primer secara lengkap, maka dilakukan wawancara terhadap beberapa hakim Pengadilan Agama Medan sebanyak 3 orang, panitera 3 orang, pengacara/advokat 3 orang dan beberapa masyarakat yang pernah mengajukan perkara hadhanah ke Pengadilan Agama Medan. Alat pengumpul data primer adalah kuesioner dan wawancara sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif baik deduktif maupun induktif
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

VAGINISMUS SEBAGAI ALASAN PERCERAIAN MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN FIQH SYAFI’IYAH

VAGINISMUS SEBAGAI ALASAN PERCERAIAN MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN FIQH SYAFI’IYAH

Penyebab vaginismus menurut Ibnu M. Rasyid, hampir sama dengan yang diungkapkan oleh Abu Zakaria, adalah karena adanya pengaruh factor-faktor jasmaniah dan factor rohaniah. Faktor jasmaniah misalnya karena memang ada kelainan dalam vagina itu, sehingga kalau melakukan senggama faraj menjadi nyeri sehingga otot-otot di sekitar vagina menjadi kejang. Sedangkan faktor rohaniah misalnya kecemasan tertentu, kisah-kisah yang mengerikan tentang orang yang melakukan senggama yang didengarnya sewaktu masih kecil. Adanya pengalaman seksual yang mengecewakan pada masa lampau seperti akibat perkosaan atau pemaksaan yang benar-benar menimbulkan rasa takut terhadap kehidupan seksual. 19
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PUTUSNYA PERKAWINAN KARENA PERCERAIAN TERHADAP ANAK DAN HARTA BERSAMA MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM

AKIBAT HUKUM PUTUSNYA PERKAWINAN KARENA PERCERAIAN TERHADAP ANAK DAN HARTA BERSAMA MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM

untuk hewan, tumbuh-tumbuhan dan manusia. Berbeda dengan itu “nikah” digunakan pada manusia karena mengandung keabsahan secara hukum nasional, adat istiadat, dan terutama menurut agama. Makna nikah adalah akad atau ikatan, karena dalam suatu proses pernikahan terdapat ijab (pernyataan penyerahan dari pihak perempuan) dan kabul (pernyataan penerimaan dari pihak lelaki). Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 2 disebutkan bahwa perkawinan adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqon gholiidhan (akad yang suci) untuk menaati perintah Allah dan
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama Setelah Terjadinya Perceraian Menurut Kompilasi Hukum Islam

Pelaksanaan Pembagian Harta Bersama Setelah Terjadinya Perceraian Menurut Kompilasi Hukum Islam

3. Kendala yang dihadapi oleh Kantor pengadilan Aga Langsa dalam penerapan KHI adalah keterikatan yang erat antara masyarakat dengan adat setempat sehingga materi hukum yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum-hukum adat (adat istiadat) mereka tidak bersedia melaksanakannya, kendala ini telah diupayakan jalan keluarnya melaui penyuluhan hukum dan koordinasi dengan istansi terkait.

1 Baca lebih lajut

Pelanggaran Taklik Talak Menurut Kompilasi Hukum Islam Sebagai Alasan Perceraian Suami Istri

Pelanggaran Taklik Talak Menurut Kompilasi Hukum Islam Sebagai Alasan Perceraian Suami Istri

Pasal 1 huruf e Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyebutkan taklik talak adalah perjanjian yang diucapkan calon mempelai pria setelah akad nikah yang dicantumkan dalam akta nikah berupa janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang datang. Oleh karena itu di dalam Buku I KHI tentang Perkawinan telah menempatkan taklik talak sebagai perjanjian dapat mengadakan perjanjian perkawinan dalam bentuk taklik talak dan perjanjijan lain yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Selanjutnya, taklik talak sebagai alasan penceraian telah pula diatur secara eksplisit dalam Pasal 116 huruf g, yaitu suami melanggar sighat taklik talak. Namun dalam kenyataaan banyak para suami melanggar sighat taklik talak. Karena itu, perlu dibahas tentang akibat hukum dari pelanggaran taklik talak, faktor – faktor yang menyebabkan suami melanggar taklik talak, dan upaya hukum yang ditempuh oleh istri dalam hal suami melanggar taklik talak.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

KONSEP HADHANAH DALAM KASUS PERCERAIAN BEDA AGAMA DAN PENYELESAIANNYA MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

KONSEP HADHANAH DALAM KASUS PERCERAIAN BEDA AGAMA DAN PENYELESAIANNYA MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

Ketentuan KHI diatas tampaknya tidak dapat berlaku secara universal, karena hanya akan mengikat bagi mereka yang memeluk agama Islam (yang perkaranya diperiksa dan diputus di Pengadilan Agama). Sedangkan untuk orang-orang yang bukan beragama Islam (yang perkaranya diperiksa dan diputus di Pengadilan Negeri), tidak ada pedoman yang secara tegas mengatur batasan pemberian hak asuh bagi pihak yang menginginkan. Hakim dalam putusannya mempertimbangkan antara lain; pertama, fakta-fakta yang terungkap dipersidangan; kedua, bukti-bukti yang diajukan oleh para pihak; serta argumentasi yang dapat meyakinkan hakim mengenai kesanggupan dari pihak yang memohonkan hak asuh anak tersebut dalam mengurus dan melaksanakan kepentingan dan pemeliharaan atas anak tersebut baik secara materi, pendidikan, jasmani dan rohani dari anak tersebut.
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

Pelanggaran Taklik Talak Menurut Kompilasi Hukum Islam Sebagai Alasan Perceraian Suami Istri...

Pelanggaran Taklik Talak Menurut Kompilasi Hukum Islam Sebagai Alasan Perceraian Suami Istri...

Pasal 1 huruf e Instruksi Presiden No mor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyebutkan taklik talak adalah perjanjian yang diucapkan calon mempelai pria setelah akad nikah yang dicantumkan dalam akta nikah berupa janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang datang. Oleh karena itu di dalam Buku I KHI tentang Perkawinan telah menempatkan taklik talak sebagai perjanjian dapat mengadakan perjanjian perkawinan dalam bentuk taklik talak dan perjanjian lain yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Selanjutnya, taklik talak sebagai alasan penceraian telah pula diatur secara eksplisit dalam Pasal 116 huruf g, yaitu suami melanggar sighat taklik talak. Namun dalam kenyataan banyak para suami melanggar sighat taklik talak. Karena itu, perlu dibahas tentang akibat hukum dari pelanggaran taklik talak, faktor-faktor yang menyebabkan suami melanggar taklik talak, dan upaya hukum yang ditempuh oleh isteri dalam hal suami melanggar taklik talak.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Perkawinan Dengan Perempuan Yang Diceraikan Diluar Pengadilan (Studi Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh)

Perkawinan Dengan Perempuan Yang Diceraikan Diluar Pengadilan (Studi Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh)

Faktor yang menjadi penyebab terjadinya perceraian di luar Pengadilan adalah faktor ekonomi, faktor sosial dan kebiasaan masyarakat setempat serta faktor agama. Keabsahan perkawinan selanjutnya yang dilakukan perempuan yang diceraikan diluar pengadilan dalam perspektif hukum Islam dan hukum Positif memiliki dua status hukum yang berbeda sesuai dengan konteks hukum Islam yang berlaku di Indonesia. Dalam lingkup hukum Islam asal (fiqih), status perceraian yang dilakukan masyarakat di luar Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah tidak bertentangan dengan hukum fiqih sehingga tetap dianggap sah dan perbuatan yang diakibatkan dari perceraian tersebut (perkawinan yang baru maupun anak yang dihasilkan dari perkawinan yang baru pasca perceraian) tetap sah. Sedangkan dalam konteks hukum Islam yang ada di Indonesia yaitu Kompilasi Hukum Islam (KHI), perceraian yang dilakukan di luar Pengadilan/Mahkamah Syar’iyah dianggap tidak sah karena tidak sesuai dengan ketentuan perceraian yang diatur dalam KHI dalam Pasal 115 dan Pasal 142. Akibat hukum perceraian yang dilakukan diluar pengadilan antara lain dapat menimbulkan madlarat, karena tidak adanya kepastian hukum, talak yang dilakukan diluar pengadilan adalah ikatan perkawinan antara suami isteri tersebut belum putus secara hukum, atau dengan kata lain suami isteri tersebut masih sah tercatat sebagai suami isteri.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

Perceraian Karena Li’an dan Akibat Hukum Dalam Perspektif Fiqih Islam Dan Kompilasi Hukum Islam

Perceraian Karena Li’an dan Akibat Hukum Dalam Perspektif Fiqih Islam Dan Kompilasi Hukum Islam

Li’an adalah ucapan tertentu yang digunakan suami untuk menuduh istrinya yang telah melakukan perbuatan yang mengotori dirinya (zina) atau dapat menjadi alasan suami untuk menolak anak yang dilahirkan oleh istrinya. Tentang kapan terjadi li’an sebagai mana para ahli Fiqih Islam mengatakan sejak selesainya pengucapan li’an antara suami dan istri, maka sejak itu suami istri tersebut harus dipisahkan, dimana pengucapan sumpah yang dilakukan suami istri tersebut dihadapan orang yang beriman dalam jumlah yang banyak. Sedangkan didalam Pasal 128 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa li’an hanya sah apabila dilakukan dihadapan sidang pengadilan agama. Sehingga perlu dikaji mengenai prosedur perceraian karena li’an menurut Fiqih Islam dan Kompilasi Hukum Islam, akibat hukum dari perceraian yang disebabkan li’an dalam perspektif Fiqih Islam dan Kompilasi Hukum Islam, serta perlindungan hukum yang diberikan kepada istri dan anak akibat perceraian yang disebabkan oleh li’an.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Perceraian Karena Li’an dan Akibat Hukum Dalam Perspektif Fiqih Islam Dan Kompilasi Hukum Islam

Perceraian Karena Li’an dan Akibat Hukum Dalam Perspektif Fiqih Islam Dan Kompilasi Hukum Islam

Dari hasil penelitian diketahui bahwa prosedur perceraian karena li’an menurut Fiqih Islam yaitu suami harus mengangkat sumpah sebanyak empat kali bahwa dia termasuk orang yang benar dalam tuduhannya, dan sumpah kelima laknat Allah menimpa dirinya apabila dia berdusta, kemudian istri mengangkat sumpah penolakan sebanyak empat kali bahwa suaminya berdusta dalam tuduhannya dan sumpah kelima murka Allah atasnya apabila suaminya berkata benar, kedua suami istri tersebut melakukan li’an dihadapan orang-orang yang beriman. Berdasarkan Pasal 127 Kompilasi Hukum Islam menjelaskan bagaimana prosedur pelaksanaan li’an dan li’an hanya sah apabila dilakukan dihadapan sidang Pengadilan Agama. Akibat hukum dari li’an didalam Fiqih Islam dan Kompilasi Hukum Islam hanya memiliki satu kesamaan yaitu putusnya penikahan untuk selama-lamanya, sedangkan didalam Fiqih Islam li’an masih memiliki beberapa akibat hukum lainnya. Perlindungan hukum terhadap istri yang dili’an oleh suaminya di dalam Fiqih Islam yaitu istri memperoleh hak atas mahar yang diberikan oleh suaminya sepenuhnya, dan didalam KHI istri berhak atas harta bersama harta bawaan serta istri dapat membersihkan nama baik dengan mengangkat sumpah balasan. Anak mula’anah memiliki kedudukan yang sama dengan anak diluarnikah, dalam Fiqih Islam anak mula’anah tidak memiliki hak apapun atas suami yang meli’an ibunya, didalam KHI dijelaskan bahwa tidak terdapat larangan anak mula’anah menerima hibah ataupun wasiat dari suami yang meli’an ibunya. Anak mula’anah berhak memperoleh perlindungan berdasarkan Pasal 23 Undang-Undang No.23 Tahun 2002 dan berhak menerima hak-haknya sebagai anak
Baca lebih lanjut

127 Baca lebih lajut

Pendaftaran Dan Pergantian Harta Waqaf Ditinjau Dari Hukum Islam Dan Peraturan Pemerintah...

Pendaftaran Dan Pergantian Harta Waqaf Ditinjau Dari Hukum Islam Dan Peraturan Pemerintah...

Waqaf menurut Kompilasi Hukum Islam Indonesia adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadat atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam. Pada masa sebelum lahirlah Kompilasi Hukum. Islam jarang harta / tanah waqaf didaftarkan menurut peraturan yang berlaku, akibatnya sewaktu terjadi persengketaan tentang status tanah waqaf tersebut atau tanah waqaf itu digusur dengan tujuan pembangunan, maka pihak kenadziran sulit membuktikan bahwa tanah waqaf yang digusur itu benar-benar tanah waqaf. Selanjutnya setelah tanah waqaf itu dibayar ganti ruginya, kemana hasil penggantian tanah tersebut harus digunakan. Oleh karena itu dikaji bagaimana tats cara pendaftaran tanah waqaf dan bagaimana status tanah waqaf yang tidak didaftarkan, serta alasan- alasan apa yang dapat menggantikan tanah waqaf tersebut.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pendaftaran Dan Pergantian Harta Waqaf Ditinjau Dari Hukum Islam Dan Peraturan Pemerintah (Penelitia

Pendaftaran Dan Pergantian Harta Waqaf Ditinjau Dari Hukum Islam Dan Peraturan Pemerintah (Penelitia

Waqaf menurut Kompilasi Hukum Islam Indonesia adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadat atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam. Pada masa sebelum lahirlah Kompilasi Hukum Islam jarang harta/tanah waqaf didaftarkan menurut peraturan yang berlaku, akibatnya sewaktu terjadi persengketaan tentang status tanah waqaf tersebut atau tanah waqaf itu digusur dengan tujuan pembangunan, maka pihak kenadziran sulit membuktikan babwa tanah waqaf yang digusur itu benar-benar tanah waqaf. Selanjutnya setelah tanah waqaf itu dibayar ganti ruginya, kemana hasil penggantian tanah tersebut harus digunakan. Oleh karena itu perlu dikaji bagaimana tata cara pendaftaran tanah waqaf dan bagaimana status tanah waqaf yang tidak didaftarkan. serta alasan-alasan apa yang dapat menggantikan tanah waqaf tersebut.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KETENTUAN-KETENTUAN WASIAT MENURUT KUHPERDATA DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KETENTUAN-KETENTUAN WASIAT MENURUT KUHPERDATA DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM

Wasiat (testament) menurut KUHPerdata yaitu suatu akta yang memuat pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendakinya dan terjadi setelah ia meninggal dunia, dan yang olehnya dapat dicabut kembali. Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam wasiat adalah pemberian suatu benda dari pewaris kepada orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia. Pengaturan yang ada mengenai pengertian wasiat (testament) ataupun pewasiat baik dalam KUHPerdata dan Kompilasi Hukum Islam memang berbeda. Akan tetapi pengaturan-pengaturan yang ada baik di dalam KUHPerdata maupun Kompilasi Hukum Islam ini semata-mata merupakan pembatasan dari apa yang akan diberikan oleh pemberi wasiat kepada penerima wasiat dimana yang akan berlaku apabila pemberi wasiat tersebut telah meninggal dunia. Permasalahan dalam penulisan skripsi ini adalah apa saja kriteria penerima wasiat berdasarkan KUHPerdata dan Kompilasi Hukum Islam, larangan-larangan pada pelaksanaan wasiat berdasarkan KUHPerdata dan Kompilasi Hukum Islam, dan bagaimana tata cara pelaksanaan wasiat berdasarkan KUHPerdata dan Kompilasi Hukum Islam.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

KAJIAN TERHADAP PERCERAIAN YANG DILAKUKAN DI LUAR SIDANG PENGADILAN SETELAH BERLAKUNYA UNDANG UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 (STUDI KASUS DI KECAMATAN SEMIDANG ALAS MARAS KABUPATEN SELUMA) - UNIB Scholar Repository

KAJIAN TERHADAP PERCERAIAN YANG DILAKUKAN DI LUAR SIDANG PENGADILAN SETELAH BERLAKUNYA UNDANG UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 (STUDI KASUS DI KECAMATAN SEMIDANG ALAS MARAS KABUPATEN SELUMA) - UNIB Scholar Repository

Menurut ketentuan Undang undang Nomor 1 Tahun 1974 bahwa tidak dibenarkan melakukan perceraian di luar sidang pengadilan karena perceraian tersebut menjadi tidak sah, tetapi menurut hukum adat setempat sah karena berdasarkan hukum Islam. Akibat yang juga ditimbulkan yaitu tidak adanya legalitas hukum terhadap perceraian yang dilaksanakan, isteri tidak bisa mendapatkan dan menuntut haknya pasca terjadinya perceraian dan anak-anak yang menjadi korban perceraian menjadi terlantar. Untuk itu bagi masyarakat yang hendak memutuskan hubungan perkawinan sebaiknya melalui badan resmi yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu pengadilan agama, sehingga apabila terjadi perceraian hak dan kewajiban suami isteri dapat diputuskan dan ditetapkan sebagaimana mestinya, dengan demikian anak-anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan tersebut dapat dilindungi.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

EJAKULASI PREMATUR SEBAGAI ALASAN PERCERAIAN MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM (KHI) DAN FIQH SYAFI’IYAH

EJAKULASI PREMATUR SEBAGAI ALASAN PERCERAIAN MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM (KHI) DAN FIQH SYAFI’IYAH

secara harfiah memang tidak menyebutkan dengan tegas bahwa ejakulasi prematur dijadikan sebagai alasan perceraian, namun bila ditinjau lebih mendalam dari alasan-alasan perceraian yang dikemukan dalam KHI dalam pasal 116 di atas pada poin “e”, dapat dipahami secara tersirat bahwa ejakulasi prematur bisa dijadikan alasan perceraian, karena termasuk ke dalam salah satu kategori alasan-alasan perceraian yang disebutkan dalam pasal 116 KHI. Hal ini dipahami dari segi tidak terpenuhinya kebutuhan bathin dari pihak istri, karena ejakulasi prematur yang dialami oleh suami tidak dapat mendatangkan titik klimaks kepuasan bagi pihak istri dalam melakukan hubungan seksual.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENCABUTAN WASIAT MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM

PENCABUTAN WASIAT MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM

setiap daerah kemungkinan besar memiliki kekhasan masalah, yang tidak pernah terjadi di masa Rasul. Untuk menghadapi masalah itu para ulama melakukan ijma dengan mencari analogi dengan yang terjadi di masa Rasul, yang dalam bahasa Arab disebut qiyas. Proses pencarian keputusan hukum lewat prosedur analogi atau qiyas itu kemudian dianggap sebagai sumber hukum pula. Dari berbagai pendekatan yang telah dikemukakan maka disimpulkan bahwa sumber-sumber hukum Islam ada 3 (tiga) yaitu : Al- Qur’an, sebagai sumber yang pertama dan utama, Hadits atau Sunnah Rasul, dan Ar Ro’yu (akal) dalam hal ini Ijtihad
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Saksi dari pihak keluarga dalam gugat cerai menurut hukum islam dan hukum acara perdata: studi kasus putusan pengadilan agama Tangerang perkara nomor: 221/Pdt.G/2008/P.A Kota Tangerang Banten

Saksi dari pihak keluarga dalam gugat cerai menurut hukum islam dan hukum acara perdata: studi kasus putusan pengadilan agama Tangerang perkara nomor: 221/Pdt.G/2008/P.A Kota Tangerang Banten

Alasan hakim memutus perkara tersebut karena pemohon tetap pada pendiriannya untuk bercerai, penyebabnya adalah termohon keras kepala dan tidak mau patuh perintah pemohon lagi sehingga pertengkaran terjadi terus menerus,hal ini membuktikan bahwa rumah tangganya sudah tidak dapat lagi dibina dengan baik, agar kedua belah pihak tidak lebih jauh melanggar norma hukum dan norma agama maka perceraian merupakan alternatif terakhir untuk menyelesaikan permasalahan bagi pemohon dan termohon.

76 Baca lebih lajut

Penyelesaian Sengketa Hadhanah Menurut Perspektif Fiqih dan Kompilasi Hukum Islam

Penyelesaian Sengketa Hadhanah Menurut Perspektif Fiqih dan Kompilasi Hukum Islam

Oleh karena itu masyarakat mengharapkan manfaat dalam pelaksanaan hukum atau penegakan hukum harus memberi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat.Jangan sampai justru karenanya dilaksanakan atau ditegakkan timbul keresahan di dalam masyarakat. 19 Secara sederhana maslahat (al- maslahah) diartikan sebagai sesuatu yang baik atau sesuatu bermanfaat. Misalnya menuntut ilmu itu mengandung kemaslahatan, maka hal ini berarti menuntut ilmu itu penyebab diperolehnya manfaat secara lahir dan bathin. Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan dari pada kedatangan Hukum Islam adalah memperoleh kemaslahatan serta menghindari kemudhaaratan. Hukum Islam memelihara 3 hal, yaitu: 20
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Penyelesaian Sengketa Hadhanah Menurut Perspektif Fiqih dan Kompilasi Hukum  Islam

Penyelesaian Sengketa Hadhanah Menurut Perspektif Fiqih dan Kompilasi Hukum Islam

Pihak yang berhak mengasuh anak pada saat tenggang waktu penentuan hak hadhanah anak belum diputuskan adalah ibu, hal ini sejalan dengan urutan pertama bagi orang-orang yang berhak melaksanakan tugas hadhanah atas anak. Apalagi jika anak tersebut masih belum mumayizz (Pasal 105 KHI) akan tetapi bila anak tersebut telah mumayyiz maka anak dapat menentukan sendiri untuk sementara berada dalam pengasuhan pihak yang dikehendakinya baik itu ayah, ibu, nenek, kakek maupun kerabat lainnya. Penyelesaian sengketa hadhanah menurut perspektif fiqih dapat ditempuh dengan dua cara yaitu:1. Di luar pengadilan dengan cara melakukan perdamaian(al-islah/shulh) dengan mengunakan metode at-tahkim, 2. Melalui lembaga peradilan Islam. Sedangkan penyelesaian sengketa hadhanah menurut KHI dapat dilakukan dengan cara mediasi dan dengan mengajukan gugat di pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah. Hak orang tua yang hak hadhanahnya tidak jatuh kepadanya, diantaranya adalah hak untuk melihat/ mengujungi anak, hak mendapat penghormatan, hak menjadi wali nikah (bila anak tersebut perempuan), hak menjadi ahli waris dari anak-anaknya, sementara kewajibannya terhadap anak diantaranya kewajiban menafkahi anak (bila tugas hadhanah berada pada ibu), memberikan kasih sayang kepada anak.
Baca lebih lanjut

147 Baca lebih lajut

Penyelesaian Sengketa Hadhanah Menurut Perspektif Fiqih dan Kompilasi Hukum Islam

Penyelesaian Sengketa Hadhanah Menurut Perspektif Fiqih dan Kompilasi Hukum Islam

Perkawinan tidak selamanya berjalan seperti apa yang diharapkan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah karena harus putus sebabkan perceraian sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 38 Undang-Undang Perkawinan. Perceraian menimbulkan berbagai akibat hukum terhadap suami istri dan tidak terkecuali terhadap anak, yakni terkait masalah pemeliharaan anak (hadhanah) setelah terjadinya perceraian. Masing-masing orang tua menganggap diri mereka sebagai pihak yang lebih pantas melaksanakan tugas hadhanah anak-anak yang telah lahir dari perkawinan tersebut hingga menimbulkan sengketa diantara keduanya. Agartercapai suatu penyelesaian diantara mereka maka harus dilakukan suatu upaya penyelesaiannya baik itu menurut perspektif fiqih dan Kompilasi Hukum Islam (KHI).Permasalahan yang timbul dalam penyelesaian sengketa hadhanahini adalah terkait pihak mana yang lebih berhakmengasuh anak pada saat tenggang waktu penentuan hak hadhanah anak belum diputuskan, bagaimana penyelesaian sengketa hadhanah menurut perspektif fiqih dan KHI, bagaimana hak dan tanggung jawab orang tua yang hak hadhanah tidak jatuh kepadanya.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...