Top PDF Peran Kerapatan Adat Nagari ( Kan ) Dalam Pembangunan Nagari ( Studi Pada Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar )

Peran Kerapatan Adat Nagari ( Kan ) Dalam Pembangunan Nagari  ( Studi  Pada Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten   Tanah Datar )

Peran Kerapatan Adat Nagari ( Kan ) Dalam Pembangunan Nagari ( Studi Pada Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar )

Pembangunan desa merupakan bagian penting dari pembangunan nasional, mengingat kawasan pedesaan masih dominan dan lebih setengah penduduk Indonesia masih tinggal di kawasan pedesaan. Kelembagaan lokal merupakan salah satu elemen penting dalam pembangunan desa. Tanpa adanya kelembagaan lokal, infrastruktur tidak akan dapat dibangun atau dipertahankan. Jasa pelayanan masyarakat tidak dapat dilakukan secara maksimal dan pemerintah tidak akan dapat memelihara atau mempertahankan arus informasi yang dibutuhkan masyarakat. Di Sumatera Barat desa disebut dengan istilah Nagari. Nagari merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara kesatuan Republik Indonesia. Kerapatan Adat Nagari ( KAN ) merupakan lembaga kerapatan Niniak Mamak pemangku adat yang telah ada dan diwarisi secara turun-temurun sepanjang adat yang berlaku dimasing- masing Nagari dan merupakan lembaga tertinggi dalam penyelenggeraan adat di Nagari. Pembangunan Nagari merupakan pembangunan untuk meningkatkan ekonomi,sosial dan politik masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan. Pembangunan di Nagari tidak hanya dilakukan oleh Pemerintah Nagari tetapi juga dilakukan oleh Kerapatan Adat Nagari ( KAN ).
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

PERAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT DI PROVINSI SUMATRA BARAT DITINJAU DARI PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATRA BARAT NOMOR 16 TAHUN 2008 TENTANG TANAH ULAYAT.

PERAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM PENYELESAIAN SENGKETA TANAH ULAYAT DI PROVINSI SUMATRA BARAT DITINJAU DARI PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATRA BARAT NOMOR 16 TAHUN 2008 TENTANG TANAH ULAYAT.

Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi yang masyarakatnya tidak jarang menghadapi permasalahan hukum dalam bidang pertanahan. Hal ini dilatarbelakangi oleh perkembangan kabupaten/kota yang semakin maju yang mengakibatkan kebutuhan akan tanah mengalami peningkatan luar biasa. Penyelesaian sengketa tanah ulayat di Minangkabau di selesaikan melalui lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN). Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui dan menganalisis Peran Kerapatan Adat Nagari dalam proses penyelesaian sengketa tanah ulayat dan Kekuatan hukum putusan Kerapatan Adat Nagari provinsi Sumatra Barat.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PERANAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA TANAH PUSAKO DI KENAGARIAN AMPANG GADANG DITINJAU DARI PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 5 TAHUN.

PERANAN KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA TANAH PUSAKO DI KENAGARIAN AMPANG GADANG DITINJAU DARI PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 5 TAHUN.

Tanah merupakan benda tidak bergerak yang memiliki nilai fungsi dalam menunjang kehidupan manusia. Permasalahan tanah yang terjadi dalam masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Minangkabau disebabkan oleh tanah sebagai faktor penting dalam sistem keturunan matrilineal yang dianut oleh Minangkabau. Sengketa adat yang seringkali terjadi di Minangkabau adalah mengenai sengketa tanah khususnya tanah ulayat atau tanah pusako. Sengketa adat diselesaikan secara adat pula melalui lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN). Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui dan menganalisis peranan Kerapatan Adat Nagari (KAN) dalam menyelesaikan sengketa tanah pusako di Kenagarian Ampang Gadang dan perlindungan hukum bagi pihak yang bersengketa terhadap putusan KAN Ampang Gadang.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

J U R N A L H U K U M A C A R A P E R D ATA

J U R N A L H U K U M A C A R A P E R D ATA

Setelah kedua belah pihak didengarkan keterangannya, KAN mempertemukan kedua belah pihak untuk membicarakan penyelesaian yang baik antara suku dengan Nagari. Biasanya KAN menawarkan kepada suku untuk menerima ganti rugi dari Wali Nagari atau Wali Nagari mengembalikan tanah tersebut kepada suku. KAN menyelesaikannya secara musyawarah dan menegakkan keadilan terhadap suku yang merasa dirugikan oleh Nagari. Kesepakatan kedua belah pihak merupakan keputusan yang paling sering diambil oleh KAN supaya dikemudian hari tidak terjadi sengketa lagi. Setelah kedua belah pihak setuju dengan apa yang telah disepakati, maka Wali Nagari membuat Surat keputusan yang isinya sesuai dengan yang telah disepekati dan penghulu-penghulu suku membubuhi tanda tangan sebagai saksi dan Wali Nagari menanda tangani surat keputusan tersebut serta dibubuhi cap/stempel Nagari dan masing-masing pihak yang bersengketa (suku dan Nagari) diberi satu rangkap untuk dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Semua sengketa yang telah diuraikan di atas bila tidak selesai atau tidak berhasil didamaikan oleh mamak paruik, suku dan penghulu, maka perkaranya dilanjutkam kepada lembaga adat tertinggi yaitu Kerapatan Adat Nagari (KAN) sehingga ninik mamak yang ada dalam KAN akan menjadi mediator dalam penyelesaian sengketa dalam Nagari. Hal ini telah diatur oleh Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 1983 bahwa perkara yang ditimbulkan dari sako dan pusako adalah tanggung jawab Kerapatan Adat Nagari untuk menyelesaikannya secara damai. Bahwa funsi-fungsi yang dilakukan oleh KAN berdasarkan asas musyawarah dan mufakat, alur dan patut sepanjang tidak bertentangan dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, kepentingan ketertiban, ketentraman dan kesejahteraan masyarakat nagari
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

BAB IV PENYEBAB TERJADINYA SENGKETA HARTA PUSAKO TINGGI DI KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMATERA BARAT A. Pengertian Harta Pusako Tinggi - PENYELESAIAN SENGKETA HARTA PUSAKO TINGGI STUDI KASUS MENURUT HUKUM ADAT MINANGKABAU DI KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMAT

BAB IV PENYEBAB TERJADINYA SENGKETA HARTA PUSAKO TINGGI DI KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMATERA BARAT A. Pengertian Harta Pusako Tinggi - PENYELESAIAN SENGKETA HARTA PUSAKO TINGGI STUDI KASUS MENURUT HUKUM ADAT MINANGKABAU DI KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMAT

penyelesaiannya melalui lembaga adat tersebut sesuai dengan pepatah adat jikok kasuik disalasaikan, jikok karuah dipajaniahan, maksudnya adalah penyelesaian dilakukan dengan jalan perdamian di antara kedua belah pihak. Kedua belah pihak tidak tercapai kata sepakat, maka Alimin Azian melaporkan Afrizal atas kepemilikan hata pusaka tinggi suku sikumbang. Penyelesaian ini diselesaikan oleh lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang terdiri dari penghulu suku. Hal ini sesuai dengan pepatah adat bajanjang naiak, batanggo turun. Lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN) ini merupakan lemabaga terakhir dalam melakukan penyelesaian sengketa adat yaitu terhadap sako dan pusako.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PERAN PENGHULU DI DALAM NAGARI; SUATU KAJIAN TENTANG PEAN KEPEMIMPINAN ADAT DALAM NAGARI DEWASA INI.

PERAN PENGHULU DI DALAM NAGARI; SUATU KAJIAN TENTANG PEAN KEPEMIMPINAN ADAT DALAM NAGARI DEWASA INI.

Kembali ke nagari sekarang pada prinsipnya kembali kepada sistem budaya dan politik lokal. Budaya dan politik lokal Minangkabau sangat erat kaitannya dengan keberadaan penghulu, merekalah yang menjadi pemimpin dalam kelompok kekerabatan. Dalam tradisi nagari di Minangkabau ninik mamak atau penghulu juga berperan dalam kehidupan politik nagari. Sekarang setelah kurang lebih 20 tatun di Sumatera Barat kehidupan bernagari menghilang dan baru dihidupkan lagi tahun 2000-an ini menarik untuk melihat bagaimana peran penghulu dalam nagari setelah kembali ke nagari.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Arus Balik Baliak Ka Nagari Antara Fakta

Arus Balik Baliak Ka Nagari Antara Fakta

Secara kelembagaan, Nagari paska Orde baru adalah komposisi yang memiliki format hibrida, dengan lembaga adat (Kerapatan Adat Nagari) dan beberapa lembaga lain yang ditambahkan dalam sistem wali nagari dan badan perwakilan desa yang dipilih secara demokratis. Kehadiran lembaga keagamaan yang secara ideologi sangat berpengaruh pun berkontribusi dalam menciptakan keseimbangan kekuatan dalam nagari (Vel dan Bedner 2016). Format hibrida nagari sendiri telah lama terbentuk sebagai hasil institusionalisasi tatanan norma yang saling bersaing sekaligus mengakomodasi antara adat, islam dan negara serta menjadi semacam konsensus sosial (Taufik Abdullah 2010). 3 Ketiga tatanan normatif itu melembaga dalam “ tigo tali sapilin ” dengan representasi tiga kepemimpinan klasik Minangkabau, penghulu, ulama dan cadiak pandai (F dan K Von Benda Beckmann 2006). Dalam konteks ini, pencarian “keaslian adat” atau kembali kepada tatanan lama yang asli adalah sia-sia yang dihadapkan kepada kenyataan “adat yang hybrid ,” yaitu adat yang baru dari hasil relasi dinamis dengan islam dan negara.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PELATIHAN PERANGKAT KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK HUKUM (PIDANA) DI KENAGARIAN BATAGAK , KECAMATAN SUNGAI PUAR, KABUPATEN AGAM.

PELATIHAN PERANGKAT KERAPATAN ADAT NAGARI (KAN) DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK HUKUM (PIDANA) DI KENAGARIAN BATAGAK , KECAMATAN SUNGAI PUAR, KABUPATEN AGAM.

karena dalam hukum adat yang masih diakui oleh masyarakat setempat juga terdapat aturan yang dapat diterapkan bagi peristiwa tersebut. Dalam hal ini Ketua KAN memberikan penjelasan tentang solusi yang ditawarkan menurut hukum adat yang ada, bahwa pihak pelaku harus mengembalikan kambing tersebut karena sesuai perjanjian, keselamatan kambing tersebut menjadi tanggungjawab pelaku. Jika kambing tidak dapat ditemukan, maka pelaku harus mengganti rugi pemilik dengan uang seharga kambing tersebut. Dalam hal ini hitungan ganti kerugian seharga kambing tersebut harus disepakati oleh kedua belah pihak, yaitu tidak merugikan pemilik tapi juga tidak memberatkan pelaku. Kesepakatan dalam kasus tersebut harus dihadiri oleh anggota KAN lainnya sebagai saksi, dan dibuat secara tertulis.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

ANTARA NILAI DEMOKRASI MODERN DAN DEMOKRASI LOKAL: DILEMA PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DI SUMATERA BARAT.

ANTARA NILAI DEMOKRASI MODERN DAN DEMOKRASI LOKAL: DILEMA PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH DI SUMATERA BARAT.

kesejahteraan masyarakat nagari. Walaupun begitu, penghulu adat tidak dapat berbuat banyak dalam pengelolaan harta kekayaan masyarakat adat ini. Tanpa disadari, apa yang dilakukan pemerintah (baca: negara) melalui praktik pemerintahan modern di tingkat terendah telah memarjinalkan peran penghulu adat ini. Selain itu, praktik kekuasaan seperti ini juga mengindikasikan adanya keinginan negara untuk ikut campur terlalu jauh dalam interaksi sosiobudaya masyarakat di nagari. Ini dapat dilihat terbitnya Perda Provinsi Sumatera Barat No. 16/2008 tentang tanah ulayat dan pemanfaatannya untuk memenuhi tuntutan UU No. 5/1960 tentang peraturan dasar- dasar pokok agraria, UU No.41/1999 tentang kehutanan, UU No.32/2004 tentang pemerintahan daerah, UU No. 33/2004 tentang perimbangan kewangan pemerintah pusat dan daerah, UU No. 2/2007 tentang penanaman modal, dan UU No. 26/2007 tentang penataan ruang. Bagaimanapun, intervensi yang dilakukan pemerintah ini mendapat reaksi sebagian masyarakat Sumatera Barat. Sebenarnya sejarah panjang penolakan terhadap rancangan Perda ini sudah ada sebelum Perda ini dibahas oleh DPRD Sumatera Barat. Demonstrasi yang cukup besar terjadi pada tanggal 28 April 2003 yang dilakukan oleh masyarakat dan LSM terkait dengan Ranperda ini karena berlawanan dengan hak asasi masyarakat adat, terutamanya menguasai dan mewarisinya tanah ulayat tersebut.
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...