Top PDF Laporan Praktikum Ekstraksi Pelarut

Laporan Praktikum Ekstraksi Pelarut

Laporan Praktikum Ekstraksi Pelarut

dimulai dari perpindahan solven dari larutan ke permukaan solid (adsorpsi), diikuti dengan difusi permukaan solid (adsorpsi), diikuti dengan difusi solven ke dalam solid dan pelarutan solut oleh solven, kemudian difusi ikatan solut-solven ke solven ke dalam solid dan pelarutan solut oleh solven, kemudian difusi ikatan solut-solven ke  permukaan solid, dan desorpsi campuran solut-solven dari permukaan solid kedalam badan  permukaan solid, dan desorpsi campuran solut-solven dari permukaan solid kedalam badan  pelarut. Pada umumnya perpindahan solven ke permukaan terjadi sangat cepat di mana  pelarut. Pada umumnya perpindahan solven ke permukaan terjadi sangat cepat di mana  berlangsung pada saat terjadi kontak antara solid dan solvent, sehingga kecepatan difusi  berlangsung pada saat terjadi kontak antara solid dan solvent, sehingga kecepatan difusi
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

LAPORAN HASIL PENELITIAN “ EKSTRAKSI FLAVONOID PADA DAUN KERSEN dengan PELARUT ETANOL“

LAPORAN HASIL PENELITIAN “ EKSTRAKSI FLAVONOID PADA DAUN KERSEN dengan PELARUT ETANOL“

Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Surabaya Laporan Hasil Penelitian “ Ekstraksi Flavonoid Pada Daun Kersen dengan Pelarut Etanol “ BAB III PENDAHULUAN III.1 Bahan – bahan yang digunakan ............................................................... 14

8 Baca lebih lajut

Laporan Praktikum Ekstraksi Minyak Dan Lemak

Laporan Praktikum Ekstraksi Minyak Dan Lemak

Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Seringkali campuran bahan padat dan cair (misalnya bahan alami) tidak dapat atau sukar sekali dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis atau termis yang telah dibicarakan. Misalnya saja, karena komponennya saling bercampur secara sangat erat, peka terhadap panas, beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah. Dalam hal semacam.itu, seringkali ekstraksi adalah satu-satunya proses yang dapat digunakan atau yang mungkin paling ekonomis. Sebagai contoh pembuatan ester (essence) untuk bau-bauan dalam pembuatan sirup atau minyak wangi, pengambilan kafein dari daun teh, biji kopi atau biji coklat dan yang dapat dilihat sehari-hari ialah pelarutan komponen- komponen kopi dengan menggunakan air panas dari biji kopi yang telah dibakar atau digiling (Rahayu, 2009).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

EKSTRAKSI SILIKA DARI ABU SEKAM PADI MENGGUNAKAN PELARUT NaOH

EKSTRAKSI SILIKA DARI ABU SEKAM PADI MENGGUNAKAN PELARUT NaOH

Penulis menyadari bahwa laporan ini belum sempurna dan masih banyak kekurangan mengingat keterbatasan pengalaman dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun, sangat penulis harapkan demi hasil yang lebih baik di masa mendatang. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan digunakan sebagai mana mestinya.

11 Baca lebih lajut

EKSTRAKSI KOMPONEN BIOAKTIF BEKATUL BERAS LOKAL DENGAN BEBERAPA JENIS PELARUT

EKSTRAKSI KOMPONEN BIOAKTIF BEKATUL BERAS LOKAL DENGAN BEBERAPA JENIS PELARUT

Sompong  et  al.,  (2010)  melaporkan  bahwa  perbedaan   varietas   dan   tempat   tumbuh   menghasilkan   bekatul   dengan   kadar   komponen   bioaktif   yang   berbeda.   Sampai   saat   ini   belum   ada   laporan   mengenai   komposisi   komponen   bioaktif   yang   terkandung   di   dalam   bekatul   dari   beberapa   varietas,   khususnya   bekatul   yang   ada   di   Kabupaten   Tabanan   Bali   begitu   juga   dengan   aktivitas   antioksidannya.   Untuk   mengetahui   komposisi   komponen   bioaktif   yang   terkandung   dalam   bekatul,   maka   perlu   dilakukan   proses   ekstraksi.   Proses  ekstraksi  komponen  bioaktif  sangat  dipengaruhi  oleh   beberapa   hal,   salah   satunya   adalah   jenis   pelarut.   Karena   kelarutan   suatu   zat   ke   dalam   suatu   pelarut   sangat   ditentukan   oleh   kecocokan   sifat   antara   zat   terlarut   dengan   pelarut,  yaitu  like  disolves  like  (Sari  et  al.,  2005),  oleh  karena   itu   perlu   dilakukan   penelitian   untuk   mengetahui   jenis   pelarut   yang   tepat   untuk   digunakan   sebagai   pelarut   dalam   proses   ekstraksi   komponen   bioaktif   yang   terdapat   dalam   bekatul.    
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Laporan Praktikum Ekstraksi Cair-Cair.pdf

Laporan Praktikum Ekstraksi Cair-Cair.pdf

Percobaan ekstraksi dengan sistem batch yaitu dengan menggunakan corong pisah yang diisi oleh TCE sebanyak 10mL ; air sebanyak 10 mL dan variasi konsentrasi asam propionat yang kemudian dikocok sehingga solute yang terkandung di dalam pelarut diluent akan dibawa atau diserap oleh solvent dan akan terjadi 2 lapisan yaitu rafinat dan ekstrak. Pada hasil praktikum dengan ekstraksi sistem batch, didapat data bahwa konsentrasi rafinat semakin berkurang seiring bertambahnya waktu yaitu dari 0,036 N ; 0,032 N ; 0,028 N ; 0,024 N ; 0,020 N. Dan juga didapat data konsentrasi ekstrak semakin bertambah seiring bertambahnya waktu yaitu dari 0,060 N ; 0,082 N ; 0,102 N ; 0,124 N ; 0,154 N.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Proposal Praktikum Biomolekul EKSTRAKSI (1)

Proposal Praktikum Biomolekul EKSTRAKSI (1)

Endapan hasil soklet dilarutkan dengan pelarut air 40 mL. Endapan disaring dengan menggunakan kertas saring. Endapan dilarutkan lagi dengan pelarut air sebanyak 40 mL disertai pemanasan. Setelah terjadi dekantasi larutan dipipet 2 mL ke dalam tabung reaksi. 2 ml Natrium Hidroksida 10% dipipet dan diteteskan pada tabung reaksi. Kemudian diteteskan larutan tembaga sulfat 0,1% sebanyak satu tetes. Sampel pada tabung reaksi dikocok. Bila tidak terjadi perubahan warna dilakukan penambahkan 1-10 tetes larutan tembagasulfat 0,1%

12 Baca lebih lajut

Optimasi Ekstraksi Spent Bleaching Earth (Sbe) Dengan Pelarut N-Heksana Menggunakan Reaktor Ekstraksi

Optimasi Ekstraksi Spent Bleaching Earth (Sbe) Dengan Pelarut N-Heksana Menggunakan Reaktor Ekstraksi

11. Buat teman-teman satu partner PKL di Pusat penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Elpina Ginting, Betria Natalia Hutapea dan Lidya Debby Sitorus. Saya mengucapkan banyak terima kasih untuk bantuan, dukungan, doa dan kerja sama yang baik. Serta terima kasih atas semua canda tawa, dan kebersamaannya selama ini, sampai kita bisa menyelesaikan PKL dan Laporan ini.

14 Baca lebih lajut

LAPORAN AKHIR EKSTRAKSI ANTIOKSIDAN LYCOPENE DARI BUAH TOMAT ( Hylocereus Undatus ) MENGGUNAKAN PELARUT ETANOL - HEKSAN

LAPORAN AKHIR EKSTRAKSI ANTIOKSIDAN LYCOPENE DARI BUAH TOMAT ( Hylocereus Undatus ) MENGGUNAKAN PELARUT ETANOL - HEKSAN

Tomat (Lycopersicum esculentum) merupakan salah satu produk hortikultura yang berpotensi, menyehatkan dan mempunyai prospek pasar yang cukup menjanjikan. Tomat memiliki kandungan senyawa karotenoid yang bernama likopen. Likopen adalah salah satu zat pigmen kuning tua sampai merah tua yang termasuk kelompok karotenoid yang bertanggung jawab terhadap warna merah pada tomat. Senyawa Karotenoid ini dikenal baik sebagai senyawa yang memiliki daya antioksidan tinggi, senyawa ini mampu melawan radikal bebas akibat polusi dan radiasi sinar UV. Pemisahan antioksidan dari buah tomat dengan metoda ektraksi cair – cair, Menggunakan campuran etanol dan heksana sebagai solven. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan ekstrak cair buah tomat kaya antioksidan ( likopen ) sebagai produk intermediet yang memiliki banyak manfaat untuk dijadikan bahan baku industri. Pada penelitian ini memakai variabel perbandingan F/S = ( 1:1, 1:2, 1:3, 1:4, 1:5 ), temperatur ekstraksi T = ( 45, 55, 60, 65, 75 ) 0 C , dan waktu ekstraksi t = ( 60 ) menit. Selanjutnya penentuan kadar antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode analisa spektrofotometri UV- VIS. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi optimum operasi ekstraksi lycopene dengan menggunakan solven campuran etanol dan n-heksana adalah pada perbandingan F/s, 4 : 1 pada suhu operasi 65 0 C dan 60 menit untuk variabel waktu ekstraksi. Pada kondisi ini lycopene yang terekstrak sebesar 6,049 mg/100gram atau sebesar 47,2%.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

LAPORAN PRAKTIKUM DAN EKSTRAKSI MASERASI.doc

LAPORAN PRAKTIKUM DAN EKSTRAKSI MASERASI.doc

Setelah 3 menit, batang muda Gandarusa Justicia gendarussa dimasukkan ke botol winkler yang berisi campuran larutan alkohol-xilol dngan perbandingan 9:1 dan didiamkannya selama 3 menit d[r]

21 Baca lebih lajut

Laporan Praktikum Kimia Analitik Ekstraksi Pelarut

Laporan Praktikum Kimia Analitik Ekstraksi Pelarut

Pengaruh adanya pelarut lain yang tercampur pada pelarut pertama dapat menambah kelarutannya bila pelarut keduatersebut bereaksi dengan zat terlarut. Jenis ikatan mempengaruhi kelarutan kompleks pada fase organik. Kelarutan elektrolit pada medium yang sangat polar akan bertambah dengan gaya elektrostatik. Kelarutan zat pada air atau alkohol lebih ditentukan oleh kemampuan zat tersebut membentuk ikatan hidrogen. Kelarutan zat-zat aromatik pada fase organik sebanding dengan kerapatan elektron pada inti aromatik dari senyawa-senyawa tersebut. Garam-garam logam tidak dapat larut sebab bersifat sebagai elektrolit kuat. Sifat kelarutan khelat atau asosiasi ion sangat penting pada mekanisme ekstraksi.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

LAPORAN EKSTRAKSI PELARUT

LAPORAN EKSTRAKSI PELARUT

Pada percobaan kali ini dilakukan pemisahan ion logam dengan metode ekstraksi pelarut. Ekstraksi merupakan suatu metoda pemisahan berdasarkan kelarutan suatu zat yang tak saling campur. Ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ekstraksi menggunakan pelarut didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran (Suyitno, 1989). Prinsip yang digunakan pada percobaan kali ini adalah di mana suatu solute terdistribusi antara dua cairan yang tak saling campur, sehingga pada keadaan yang berkesetimbangan erdapat hubungan definit antara konsentrasi pada kedua cairan tersebut.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

LAPORAN DAN PRAKTIKUM EKSTRAKSI PTK

LAPORAN DAN PRAKTIKUM EKSTRAKSI PTK

Berdasarkan prinsip soxhletasi, sampel dimasukkan dalam klonsong dan pelarut akan menyaring simplisia tersebut secara berkesinambungan. Pelarut yang digunakan adalah kloroform dimana penggunaan kloroform dilakukan karena pelarut ini bersifat mudah menguap dengan titik didih yang rendah dan merupakan pelarut yang dapat melarutkan minyak atau lemak dengan baik sehingga cocok digunakan pada isolasi lemak yang terkandung di dalam buah, kloroform juga tidak mudah terbakar sehingga bila bereaksi dengan udara tidak akan menimbulkan ledakan. Sebelum melakukan pemanasan, penambahan batu didih harus dilakukan terlebih dahulu agar tidak terjadi bumping pada saat proses pemanasan berlangsung. Pemanasan pelarut organik dilakukan selama enam kali sirkulasi atau sampai pelarut tidak berwarna lagi yang berarti bahwa pelarut sudah tidak membawa komponen yang ingin diisolasi. Pada proses soxhletasi diperoleh lemak yang bercampur dengan pelarut yang digunakan yaitu kloroform. Pemisahan lemak dengan kloroform dilakukan dengan menggunakan metode destilasi sederhana.
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

LAPORAN PRAKTIKUM EKSTRAKSI PTK 4

LAPORAN PRAKTIKUM EKSTRAKSI PTK 4

Maserasi adalah salah satu jenis metoda ekstraksi dengan sistem tanpa pemanasan atau dikenal dengan istilah ekstraksi dingin, jadi pada metoda ini pelarut dan sampel tidak mengalami pemanasan sama sekali. Sehingga maserasi merupakan teknik ekstraksi yang dapat digunakan untuk senyawa yang tidak tahan panas ataupun tahan panas (Hamdani, 2014). Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari.

10 Baca lebih lajut

PENGARUH RASIO BERAT RUMPUT LAUT-PELARUT TERHADAP EKSTRAKSI AGAR-AGAR

PENGARUH RASIO BERAT RUMPUT LAUT-PELARUT TERHADAP EKSTRAKSI AGAR-AGAR

Pada ekstraksi sistem padat-cair, perpindahan massa terjadi secara difusi di dalam padatan dan konveksi antar fase padatan-cairan. Perancangan suatu alat ekstraktor dapat dilakukan dengan baik dan operasi dapat dilakukan secara optimum, bila nilai parameter-parameter dalam peristiwa transfer massa tersebut diketahui dengan tepat. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil ekstraksi adalah : jenis pelarut, rasio berat bahan dengan volume pelarut, suhu, pengadukan, waktu ekstraksi, ukuran padatan, dan perendaman.

6 Baca lebih lajut

Optimasi Ekstraksi Spent Bleaching Earth (Sbe) Dengan Pelarut N-Heksana Menggunakan Reaktor Ekstraksi

Optimasi Ekstraksi Spent Bleaching Earth (Sbe) Dengan Pelarut N-Heksana Menggunakan Reaktor Ekstraksi

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kondisi optimum untuk proses ekstraksi minyak dari SBE dengan menggunakan reaktor ekstraksi sehingga kandungan minyak pada SBE dapat terekstrak seluruhnya sehingga diperoleh persen rendemen yang tinggi. Proses ini juga dilakukan untuk mengamati bagaimana pengaruh lamanya waktu ekstraksi terhadap rendemen minyak yang diperoleh dan untuk menentukan kadar air, kadar kotoran, kadar asam lemak bebas, warna dan penentuan bilangan iod pada minyak hasil ekstraksi dan hasilnya dibandingkan dengan standar mutu CPO secara SNI sehingga dapat disimpulkan apakah minyak hasil ekstraksi dari SBE layak digunakan kembali menjadi minyak goreng atau tidak.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Optimasi Ekstraksi Spent Bleaching Earth (Sbe) Dengan Pelarut N-Heksana Menggunakan Reaktor Ekstraksi

Optimasi Ekstraksi Spent Bleaching Earth (Sbe) Dengan Pelarut N-Heksana Menggunakan Reaktor Ekstraksi

Optimasi ekstraksi spent bleaching earth (SBE) dengan pelarut n-heksana menggunakan reaktor ekstraksi telah dilakukan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi ekstraksi terbaik pada proses ekstraksi SBE untuk memperoleh minyak dari SBE dan juga untuk menganalisa mutu minyak SBE. Pada proses ekstraksi dilakukan dengan pemanasan pada temperatur 55°C dengan menggunakan pelarut n-heksana dan dengan adanya pengadukan dengan kecepatan 12 rpm selama 1 sampai 10 jam dengan menggunakan reaktor dalam skala sampel 30 kg. Pengukuran kualitas minyak yang dihasilkan dilakukan melalui lima parameter yaitu analisa kadar air, penentuan bilangan iodin, analisa kadar asam lemak bebas, analisa kadar kotoran dan uji warna pada minyak, hasil analisis ini kemudian dibandingkan dengan syarat mutu CPO yang ditetapkan pada SNI – 01 – 2901 – 2006. Berdasarkan persen hasil rendemen minyak yang diperoleh dari ekstraksi SBE dengan menggunakan reaktor menunjukkan bahwa kondisi terbaik yang digunakan untuk ekstraksi SBE yaitu selama 10 jam, dimana dari waktu 1 sampai 10 jam persen rendemen yang diperoleh terus meningkat, sehingga pada waktu ekstraksi selama 10 jam menghasilkan persen rendemen yang paling tinggi yaitu 2,3101 %. Dari hasil analisis pengukuran kualitas minyak yang dilakukan diperoleh kadar air sebesar 8,30 %, kadar kotoran sebesar 0,675%, bilangan iodin sebesar 44,981 g/ 100 g dan kadar asam lemak bebas sebesar 16,465 % dengan warna minyak yaitu jingga kecoklatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa minyak SBE tidak memenuhi persyaratan mutu CPO yang ditetapkan pada SNI – 01 – 2901 – 2006 sebagai bahan baku dalam pembuatan minyak goreng sehingga minyak yang diperoleh dari hasil ekstraksi SBE tidak dapat diolah kembali menjadi minyak goreng.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Laporan Praktikum X dan Laporan Praktikum Laporan Praktikum Lapo

Laporan Praktikum X dan Laporan Praktikum Laporan Praktikum Lapo

Luas tersebut akan dijadikan sebagai kawasan wisata yang didalamnya terdapat atraksi wisata yaitu taman bermain untuk anak, taman olahraga untuk lansia atau remaja dan dewasa, taman hija[r]

16 Baca lebih lajut

Optimasi Ekstraksi Spent Bleaching Earth (Sbe) Dengan Pelarut N-Heksana Menggunakan Reaktor Ekstraksi

Optimasi Ekstraksi Spent Bleaching Earth (Sbe) Dengan Pelarut N-Heksana Menggunakan Reaktor Ekstraksi

Pada cara kering, bahan dibungkus atau ditempatkan dalam thimbel, kemudian dikeringkan dalam oven untuk menghilangkan airnya. Pemanasan harus dilakukan secepatnya dan hindari suhu yang terlalu tinggi. oleh karena itu, dianjurkan menggunakan vakum oven (suhu 70 o C). Penentuan kadar lemak dengan cara ekstraksi kering dapat menggunakan alat yang dikenal dengan nama soxhlet. Ekstraksi dengan soxhlet ini dilakukan secara terputus- putus. Uap tersebut kemudian masuk ke kondensor melalui pipa kecil dan keluar dalam fase cair. Kemudian, pelarut masuk ke dalam selongsong berisi padatan. Pelarut akan membasahi sampel dan tertahan di dalam selongsong sampai tinggi pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di selongsong. Kemudian, pelarut seluruhnya akan mengalir masuk kembali ke dalam labu didih dan begitu seterusnya. Peristiwa ini disebut dengan efek sifon. (Bintang, 2010)
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Ekstraksi Kopi Robusta Menggunakan Pelarut Heksana dan Etanol

Ekstraksi Kopi Robusta Menggunakan Pelarut Heksana dan Etanol

Gambar 4 menggambarkan kontur plot dan kurva 3 dimensi untuk optimasi pengambilan minyak kopi. Pada gambar diatas menunjukkan bagaimana waktu ekstraksi dan volume pelarut mempengaruhi nilai respon % oil yield. Perbedaan warna pada grafik kontur menunjukkan nilai respon % oil yield. Warna biru menunjukkan nilai respon % oil yield terendah yaitu 7,09%. Warna merah menunjukkan nilai respon % oil yield tertinggi yaitu 12,42%. Pada grafik tiga dimensi, perbedaan ketinggian permukaan menunjukkan nilai respon yang berbeda -beda pada setiap komponen.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...