Top PDF Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner

Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner

Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner

Non STEMI dapat disebabkan oleh penurunan suplai oksigen dan atau peningkatan oksigen demand miokard yang diperberat oleh obstruksi koroner. NSTEMI terjadi karena thrombosis akut dan proses vasokonstriksi koroner. Trombosis akut diawali dengan rupture plak aterom yang tidak stabil dengan inti lipid besar dan fibrous cap tipis dan konsenterasi tissue factor tinggi. Inti lemak yang cenderung rupture mempunyai konsenterasi ester kolesterol dengan proporsi asam lemak tak jenuh yang tinggi. Pada lokasi rupture plak terdapat proses inflamasi dilihat dari jumlah makrofag dan limfosit T. Sel-sel ini akan mengeluarkan sitokin proinflamasi seperti TNF dan IL-6.IL-6 akan merangsang pengeluaran hsCRP di hati. 6,7
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

FAKTOR RESIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN SENAM JANTUNG SEHAT

FAKTOR RESIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN SENAM JANTUNG SEHAT

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kelompok senam jantung sehat memiliki faktor resiko yang bervariasi terhadap kejadian penyakit jantung koroner, dimana semakin banyak faktor resiko yang dimiliki seseorang, maka semakin besar pula kemungkinan orang itu mendapat serangan jantung. Melalui senam jantung sehat diharapkan resiko terjadinya penyakit jantung koroner dapat dikurangi. Tujuan utama senam jantung untuk menjaga kesehatan jantung. Sedangkan manfaat  senam  jantung  khususnya bagi usia lanjut adalah memperlancar aliran darah dari jantung keseluruh tubuh, mampu membakar sumbatan kolesterol dan lemak dalam tubuh yang cenderung membawa penyakit seperti stroke dan jantung koroner. Senam jantung juga dapat menghilangkan trigliserida yang menjadi penyebab kegemukan dan  memperbaiki  denyut  nadi  agar selalu dalam kondisi normal dan stabil
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PERBEDAAN INTAKE SERAT, NATRIUM, DAN ANTIOKSIDAN ANTARA PENDERITA PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN PENYAKIT   Perbedaan Intake Serat, Natrium, Dan Antioksidan Antara Penderita Penyakit Jantung Koroner Dan Penyakit Jantung Non Koroner Pasien Rawat Jalan Di RSU

PERBEDAAN INTAKE SERAT, NATRIUM, DAN ANTIOKSIDAN ANTARA PENDERITA PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN PENYAKIT Perbedaan Intake Serat, Natrium, Dan Antioksidan Antara Penderita Penyakit Jantung Koroner Dan Penyakit Jantung Non Koroner Pasien Rawat Jalan Di RSU

Metode penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian Observasional dengan menggunakan rancangan Cross Sectional. Penelitian dilakukan selama 1 bulan. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 20 pasien penderita penyakit jantung koroner dan 20 penderita penyakit jantung non koroner sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengukur berat badan dan tinggi badan sampel untuk menentukan status gizi, sedangkan data tentang intake serat, natrium, dan antioksidan diperoleh dengan cara recall 24 jam selama 3 hari tidak berturut - turut. Uji beda yang digunakan adalah Independent Sample t Test dan Mann Whitney.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Dislipidemia Sebagai Faktor Resiko Penyakit Jantung Koroner

Dislipidemia Sebagai Faktor Resiko Penyakit Jantung Koroner

PKV merupakan penyakit dengan etiologi multifaktorial sehingga semua faktor resiko perlu dipertimbangkan dalam upaya pencegahan, baik primer maupun sekunder. Faktor resiko tersebut ada yang bisa dimodifikasi seperti: dislipidemia, hipertensi, merokok, obesitas dan diabetes melitus, serta yang tidak hiss dimodifikasi seperti: usia jenis kelamin laki-laki, riwayat keluarga serta riwayat PKV sebelumnya. Agar pencegahan dapat lebih berhasil maka semua faktor resiko yang dapat dimodifikasi harus dikendalikan secara serentak.

10 Baca lebih lajut

Dislipidemia Sebagai Faktor Resiko Penyakit Jantung Koroner

Dislipidemia Sebagai Faktor Resiko Penyakit Jantung Koroner

PKV merupakan penyakit dengan etiologi multifaktorial sehingga semua faktor resiko perlu dipertimbangkan dalam upaya pencegahan, baik primer maupun sekunder. Faktor resiko tersebut ada yang bisa dimodifikasi seperti: dislipidemia, hipertensi, merokok, obesitas dan diabetes melitus, serta yang tidak hiss dimodifikasi seperti: usia jenis kelamin laki-laki, riwayat keluarga serta riwayat PKV sebelumnya. Agar pencegahan dapat lebih berhasil maka semua faktor resiko yang dapat dimodifikasi harus dikendalikan secara serentak.

10 Baca lebih lajut

Ruang Lingkup Penyakit Jantung Koroner (1)

Ruang Lingkup Penyakit Jantung Koroner (1)

Penyakit jantung sering kali menyebabkan gejala yang pertama berupa nyeri atau sesak di dada. Nyeri akibat suatu serangan jantung, biasanya terasa pada bagian tengah dada. Biasanya bersifat berat dan dapat menyebar kearah mana saja, tetapi lebih cenderung menyebar kea rah dagu dan lengan. Nyeri berlangsung, penderita merasa sesak dan sakit, tetapi nyerinya dapat bersifat ringan dank has untuk suatu serangan jantung terutama pada orangtua. Anda akan mengalami nyeri jantung, jika jantung kekurangan darah karena kebanyakan penyakt jantung terutama mengenai bilik kiri jantung, maka paru-paru akan mengalami bendungan dan akan mengakibatkan rasa sesak.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Persepsi Penyakit Jantung Koroner yang Akandilakukan Tindakan Kateterisasi Jantung

Persepsi Penyakit Jantung Koroner yang Akandilakukan Tindakan Kateterisasi Jantung

Semakin hari perkembangan ilmu dan teknologi semakin meningkat tentang kateterisasi jantung merupakan tindakan yang aman itu didukung oleh teknologi yang cangih seperti radio aktif sehingga bisa memonitor aktifitas jantung yang sedang dilakukan kateterisasi jantung juga tersedia sintetis sten yang cocok buat arteri koroner sehinga tidak terjadi masalah apa- apa jika dipasangkan sten di arteri koroner, peneliti mendapatkan persepsi yang benar tentang angapan keberhasilan dan resiko kateterisasi jantung yaitu banyak pasien PJK menggangap kateterisasi jantung merupakan tindakan yang ringan dan tidak memiliki resiko fatal.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PERBEDAAN INTAKE KARBOHIDRAT, PROTEIN, LEMAK, DAN KOLESTEROL ANTARA PENDERITA PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN PENYAKIT  Perbedaan Intake Karbohidrat, Protein, Lemak, Dan Kolesterol Antara Penderita Penyakit Jantung Koroner Dan Penyakit Jantung Non Koroner Pa

PERBEDAAN INTAKE KARBOHIDRAT, PROTEIN, LEMAK, DAN KOLESTEROL ANTARA PENDERITA PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN PENYAKIT Perbedaan Intake Karbohidrat, Protein, Lemak, Dan Kolesterol Antara Penderita Penyakit Jantung Koroner Dan Penyakit Jantung Non Koroner Pa

Penelitian Garcia (1980) et al diukur diet dasar dengan recall 24 jam antara 8218 pria dan menemukan hubungan terbalik yang signifikan antara asupan karbohidrat dan penyakit jantung koroner. Namun, temuan ini mungkin dihasilkan dari kurangnya penyesuaian untuk total energi intake. Seperti penyesuaian yang penting karena variasi total asupan energi sangat ditentukan oleh aktivitas fisik, yang dikenal faktor protektif terhadap penyakit.

12 Baca lebih lajut

Penyakit Jantung Koroner (Arief Darmawan)

Penyakit Jantung Koroner (Arief Darmawan)

Sel miokard yang mengalami injuri tidak akan berdepolarisasi sempurna, secara elektrik lebih bermuatan positif dibanding daerah yang tidak mengalami injuri dan pada EKG terdapat gambaran elevasi segmen ST pada sandapan yang berhadapan dengan lokasi injuri. Elevasi segmen ST bermakna jika elevasi > 1mm pada sandapan ekstremitas dan > 2mm pada sandapan prekordial di dua atau lebih sandapan yang menghadap daerah anatomi jantung yang sama. Perubahan segmen ST, gelombang T dan kompleks QRS pada injuri dan infark mempunyai karakteristik tertentu sesuai waktu dan kejadian selama infark. Aneurisma ventrikel harus dipikirkan jika elevasi segmen ST menetap beberapa bulan setelah infark miokard.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

PROFIL PENYAKIT JANTUNG KORONER DI IRINA F JANTUNG ipi262539

PROFIL PENYAKIT JANTUNG KORONER DI IRINA F JANTUNG ipi262539

Abstract : Heart and Blood Vessels Disease is the leading cause of cardiovascular disorder that mostly happened in developed or industrial country, related to new communicable disease or “infection” caused by imitation of unhealthy lifestyle. 1 The cardiovascular disease divided into several type of heart disease such as; coronary heart disease (CHD) that caused by narrowing of of the coronary arteries due to deposition of fat gathering in and around the cells lining the walls of the coronary arteries and blocking of the blood flow. This research aimed to know the CHD Profile in Irina F Jantung of RSUP Prof.Dr. R.D Kandou Manado in period of January-December 2010. This was retrospective-descriptive study that used medical records in Irina F Jantung of RSUP. Prof. Dr. R.D Kandou Manado. During this period of this research reported 230 cases of CHD; 69 cases (30%) byage groups 61-70 years old, 159 cases (69,13%) by gender and 86 cases were accompanied disease with the greatest proportion of Hypertension 52 cases (55,32%), and Old Myocardial Infarction (OMI) 71 cases (30,87%) as being the most clinical symptom. The frequency of Cardiovascular disease will be increasing every year if there’s no change of diet and unhealthy lifestyle by people in both urban and rural environments and other degenerative diseases are caused
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Aktivitas fisik dengan penyakit jantung koroner di Indonesia

Aktivitas fisik dengan penyakit jantung koroner di Indonesia

hidup, dan tingginya biaya sistem kesehatan. Lebih dari 3/4 kasus PJK dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup dan fokus terhadap faktor risiko sedari dini. Aktivitas fi sik menjadi acuan sebagai upaya pencegahan primer dan sekunder yang bersifat nonfarmakologikal paling penting. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara aktivitas fi sik dengan penyakit jantung koroner di Indonesia. Metode: Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Riwayat penyakit jantung koroner, aktivitas fi sik, usia, jenis kelamin, status ekonomi, dan konsumsi pangan berlemak diperoleh dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Teknik pengambilan sampel pada Riskesdas 2013 adalah multistage cluster sampling. Penelitian ini melibatkan 374.506 wanita dan 347.823 pria berusia di atas 15 tahun yang menjawab pertanyaan terkait PJK. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, Chi-Square, dan regresi logistik berganda. Hasil: Pada mereka yang tidak melakukan aktivitas berat atau yang hanya melakukan kurang dari 80 menit setiap minggunya ditemukan prevalensi PJK yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang jauh lebih aktif [2,63 (2,44-2,86); p=0,00]. Simpulan: Aktivitas fi sik memiliki hubungan yang signifi kan dengan kejadian penyakit jantung koroner pada orang di atas usia 15 tahun di Indonesia.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Perbedaan Rerata Kolesterol Total Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Jantung Koroner Dan Tanpa Penyakit Jantung Koroner.

PENDAHULUAN Perbedaan Rerata Kolesterol Total Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Jantung Koroner Dan Tanpa Penyakit Jantung Koroner.

Diabetes, meskipun merupakan faktor risiko independen untuk PJK, juga berkaitan dengan adanya abnormalitas metabolisme lipid, obesitas, hipertensi sistemik, dan peningkatan trombogenesis (Gray et al., 2003). Salah satu faktor risiko yang fundamental pada kejadian PJK adalah kolesterol dan lemak dalam darah (Soeharto, 2004 & Jamal, 2004). Penelitian membuktikan bahwa kenaikan kolesterol plasma merupakan faktor risiko penting untuk berkembangnya PJK. Kadar kolesterol total >6,5 mmol/L (>251 mg/dl) melipatgandakan risiko PJK yang mematikan, >7,8 mmol/L (>286 mg/dl) meningkatkan risiko sampai empat kali lipat. Penurunan kadar kolesterol total sebesar 20% akan menurunkan risiko koroner sebesar 10% (Davey, 2008). Hampir pada semua kasus PJK didapatkan plak aterosklerosis pada dinding arteri akibat substansi ini (Santoso & Setiawan, 2005).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pasien yang Menderita Penyakit Jantung Koroner di RSUD Pirngadi, Medan Mengenai Penyakit Jantung Koroner

Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pasien yang Menderita Penyakit Jantung Koroner di RSUD Pirngadi, Medan Mengenai Penyakit Jantung Koroner

Pengumpulan keterangan dilakukan melalui anamnesa (wawancara), pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Ini berlaku untuk semua keadaan, termasuk PJK. Awal mula yaitu anamnesis mulai dari keluhan sampai semua hal yang berkaitan dengan PJK. Keluhan yang terpenting adalah nyeri dada. Seperti apakah nyerinya, kapan dirasakan, berapa lama, di dada sebelah mana, apakah menjalar. Nyeri dada yang dirasakan seperti ditindih beban berat, ditusuk-tusuk, diremas, rasa terbakar adalah yang paling sering dilaporkan. Walaupun bisa saja dirasakan berbeda. Biasanya nyeri dirasakan di dada kiri dan menjalar ke lengan kiri. Setelah itu mengumpulkan keterangan semua faktor risiko PJK, antara lain: apakah merokok, menderita darah tinggi atau penyakit gula (Diabetes Mellitus), pernahkah memeriksakan kadar kolesterol dalam darah, dan adakah keluarga yang menderita PJK dan faktor resikonya. Lalu melakukan pemeriksaan fisik, dimaksudkan untuk mengetahui kelainan jantung lain yang mungkin ada. Hal ini dilakukan terutama dengan menggunakan stetoskop. Terdapat banyak jenis penyakit jantung dan pembuluh darah. Diantara yang sering dijumpai adalah penyakit arteri koroner, gagal jantung, penyakit jantung bawaan, penyakit jantung rematik, hipertensi dan lain-lain.
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

Perilaku Pasien Penyakit Jantung Koroner Terhadap Diet Penyakit Jantung Koroner di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010.

Perilaku Pasien Penyakit Jantung Koroner Terhadap Diet Penyakit Jantung Koroner di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010.

menurunkan tekanan darah hingga kurang dari 140/90 mmHg atau 130/85 mmHg bila juga terdapat gagal jantung, insufisiensi ginjal, atau diabetes, (3) menurunkan kolesterol LDL hingga kurang dari 100 mg/dL dan kadar non-HDL kurang dari 130 mg/dL, (4) aktivitas fisik sedang selama 30 menit sehari, 3-4 hari setiap minggu, (5) manajemen berat badan, dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) kurang dari 25, (6) HbA1C kurang dari 7%, (7) menggunakan 75-325 mg aspirin sehari jika tidak ada kontraindikasi, (8) menggunakan 2 obat antihipertensi, angiotensin- converting enzym inhibitor dan β -blockers, setelah infark miokardium, keculai terdapat kontraindikasi.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pasien yang Menderita Penyakit Jantung Koroner di RSUD Pirngadi, Medan Mengenai Penyakit Jantung Koroner

Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pasien yang Menderita Penyakit Jantung Koroner di RSUD Pirngadi, Medan Mengenai Penyakit Jantung Koroner

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang menyerang jantung. . Meningkatnya angka penderita PJK yang dilaporkan setiap tahun adalah karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang faktor resiko penyakit jantung dan juga kurangnya sikap dan perilaku dalam mencegah penyakit tersebut.

13 Baca lebih lajut

Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pasien yang Menderita Penyakit Jantung Koroner di RSUD Pirngadi, Medan Mengenai Penyakit Jantung Koroner

Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pasien yang Menderita Penyakit Jantung Koroner di RSUD Pirngadi, Medan Mengenai Penyakit Jantung Koroner

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang menyerang jantung. . Meningkatnya angka penderita PJK yang dilaporkan setiap tahun adalah karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang faktor resiko penyakit jantung dan juga kurangnya sikap dan perilaku dalam mencegah penyakit tersebut.

2 Baca lebih lajut

Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pasien yang Menderita Penyakit Jantung Koroner di RSUD Pirngadi, Medan Mengenai Penyakit Jantung Koroner

Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pasien yang Menderita Penyakit Jantung Koroner di RSUD Pirngadi, Medan Mengenai Penyakit Jantung Koroner

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang menyerang jantung. Jantung berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Kelainan pada organ tersebut dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah arteri yang mengalirkan darah ke otot jantung, sehingga mengakibatkan berkurangnya suplai oksigen dan nutrisi untuk menggerakkan jantung secara optimal. Penyempitan pembuluh darah tersebut disebabkan oleh pengendapan kalsium dan endapan lemak berwarna kuning yang dikenal dengan aterosklerosis (AHA, 2014).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

HUBUNGAN DISLIPIDEMIA DAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER

HUBUNGAN DISLIPIDEMIA DAN KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER

Lipid, khususnya low density lipoprotein (LDL) saat ini mulai banyak diteliti sebagai nilai prediksi pada PJK, mengingat perannya dalam proses aterogenesis. 14 Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan Imano et al (2011). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada populasi di Jepang terdapat hubungan yang kuat antara kadar LDL >80 mg/dL dengan risiko PJK. 15 Oleh karena itu, seiring dengan meningkatnya angka prevalensi dan mortalitas penyakit jantung koroner di Indonesia, penulis mencoba mengkaji

7 Baca lebih lajut

Hubungan Dislipidemia Dan Kejadian Penyakit Jantung Koroner

Hubungan Dislipidemia Dan Kejadian Penyakit Jantung Koroner

Lipid, khususnya low density lipoprotein (LDL) saat ini mulai banyak diteliti sebagai nilai prediksi pada PJK, mengingat perannya dalam proses aterogenesis. 14 Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan Imano et al (2011). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada populasi di Jepang terdapat hubungan yang kuat antara kadar LDL >80 mg/dL dengan risiko PJK. 15 Oleh karena itu, seiring dengan meningkatnya angka prevalensi dan mortalitas penyakit jantung koroner di Indonesia, penulis mencoba mengkaji

7 Baca lebih lajut

Teori Askep Penyakit Jantung Koroner (Pjk)

Teori Askep Penyakit Jantung Koroner (Pjk)

Penyakit Arteri Koroner ( Coronary Artery Disease Coronary Artery Disease ) adalah penyakit yang ditandai ) adalah penyakit yang ditandai dengan adanya endapan lemak yang berkumpul di dalam sel yang melapisi dinding dengan adanya endapan lemak yang berkumpul di dalam sel yang melapisi dinding suatu

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects