Top PDF Pertanggungjawaban Direksi Perseroan Terbatas Yang Melakukan Perbuatan Melawan Hukum

Pertanggungjawaban Direksi Perseroan Terbatas Yang Melakukan Perbuatan Melawan Hukum

Pertanggungjawaban Direksi Perseroan Terbatas Yang Melakukan Perbuatan Melawan Hukum

dalam menjalankan tugasnya mengelola perseroan terbatas memiliki kemungkinan untuk melakukan perbuatan melawan hukum baik bersifat perdata maupun pidana. Akan tetapi, perbuatan melawan hukum itu dapat langsung dilakukan oleh perusahaan melalui organ-organnya, atau sebaliknya perbuatan melawan hukum itu dilakukan oleh pegawai dan perusahaan wajib mempertanggungjawabkan. Berdasarkan hal tersebut maka didapatlah permasalahan yakni 1) Bagaimana bentuk perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Direksi di dalam mengurus perseroan terbatas? 2) Bagaimana tanggung jawab Direksi Perseroan Terbatas yang melakukan perbuatan melawan hukum? Metode penelitian ini menggunakan penelitian hukum normatif, dengan studi kepustakaan dari bahan hukum primer dan sekunder. Berdasarkan temuan penelitian diketahui bahwa: 1) Bentuk perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh direksi: mempergunakan uang/ kekayaan perseroan untuk kepentingan pribadi, informasi perseroan untuk kepentingan pribadi, melakukan transaksi dengan perseroan, larangan bersaing dengan perseroan 2) Pertanggungjawaban direksi atas perbuatan melawan hukum diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 direksi bertanggung jawab atas pengurusan perseroan dimana pengurusan itu wajib dilaksanakan setiap anggota direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab. Dari hal tersebut sebaiknya Perlu optimalisasi pelaksanaan dan pengawasan UUPT yang secara substansial memberikan perlindungan kepada pelaku bisnis dan hak-hak publik lainnya.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

BAB II PENGATURAN DIREKSI MENURUT KETENTUAN UNDANG-UNDANG PERSEROAN TERBATAS A. Kedudukan Direksi Sebagai Pengurus dalam PT - Pertanggungjawaban Direksi Karena Kelalaian Atau Kesalahannya Yang Mengakibatkan Perseroan Pailit

BAB II PENGATURAN DIREKSI MENURUT KETENTUAN UNDANG-UNDANG PERSEROAN TERBATAS A. Kedudukan Direksi Sebagai Pengurus dalam PT - Pertanggungjawaban Direksi Karena Kelalaian Atau Kesalahannya Yang Mengakibatkan Perseroan Pailit

Merumuskan kedudukan direksi dalam dua hubungan hukum bukan masalah, sepanjang kedua hubungan hukum tersebut dapat diterapkan secara konsisten dan sejalan. Dalam hubungan hukum yang dirumuskan untuk direksi di atas di satu sisi, direksi sebagai penerima kuasa dari perseroan untuk menjalankan perseroan sesuai dengan kepentingannya untuk mencapai tujuan perseroan sebagaimana telah digariskan dalam anggaran dasar perseroan, dan di sisi lain di perlakukan sebagai karyawan perseroan, dalam hubungan atasan dan bawahan dalam perjanjian perburuhan yang mana berarti direksi tidak diperkenankan untuk melakukan sesuatu yang bukan tugasnya. Disinilah sifat pertanggungjawaban renteng dan pertanggungjawaban pribadi direksi menjadi sangat relevan, dalam hal direksi melakukan penyimpangan atas kuasa dan perintah perseroan untuk kepentingan perseroan. 22
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Perlindungan Hukum Terhadap Pihak Investor Dalam Pertanggungjawaban Direksi Perseroan Terbatas Terkait Tindakan Ultra Vires

Perlindungan Hukum Terhadap Pihak Investor Dalam Pertanggungjawaban Direksi Perseroan Terbatas Terkait Tindakan Ultra Vires

Kendati pun pengaturan mengenai Perseroan Terbatas yang dituangkan dalam KUHD mulai dari Pasal 26 sampai dengan Pasal 56 secara berturut-turut sudah digantikan dengan dikeluarkannya Undang-undang No. 1 Tahun 1995 dan Undang- undang No. 47 Tahun 2007, penggunaan istilah Perseroan Terbatas masih tetap dipertahankan. Disamping menggunakan Perseroan Terbatas sebagai nama atau titel, kedua undang-undang tersebut secara khusus juga mencantumkan pengertian atau definisi mengenai apa yang dimaksudkan dengan Perseroan Terbatas. Pengertian tersebut diatur dalam Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 47 Tahun 2007 yang menentukan Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.
Baca lebih lanjut

101 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PERSEROAN TERBATAS YANG BELUM MELAKUKAN PENYESUAIAN ANGGARAN DASAR TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS.

AKIBAT HUKUM PERSEROAN TERBATAS YANG BELUM MELAKUKAN PENYESUAIAN ANGGARAN DASAR TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS.

Pada hakikatnya suatu PT mempunyai dua sisi, yang pertama sebagai suatu badan dan yang kedua pada sisi yang lain adalah suatu wadah atau tempat diwujudkannya kerjasama antara pemegang saham atau pemilik modal. Jelas terlihat bahwa PT merupakan suatu badah hukum yang sengaja diciptakan dengan demikian PT adalah subyek hukum yang mandiri, yang mempunyai hak dan kewajiban, yang pada dasarnya tidak berbeda dengan hak dan kewajiban subyek hukum manusia. Sebagai suatu subyek hukum yang mandiri, maka keberadaan PT tidak bergantung pada keberadaan para pemegang saham, direksi dan dewan komisaris. Pergantian pemegang saham, direksi, atau komisaris tidak mempengaruhi keberadaan PT. maka suatu perbuatan perdata semata-mata tidak dapat menjadikan suatu organisasi menjadi badan hukum, akan tetapi harus berdasarkan undang-undang. Hal ini berbeda dengan yayasan yang menjadi badan hukum berdasarkan sistem terbuka yaitu dengan tidak berdasar pada undang-undang atau dengan undang-undang, tetapi berdasarkan kebiasaan, doktrin, dan mungkin didukung oleh yurisprudensi 21 . Jika dilihat dari butir 9.0 lampiran III Kepmen Nomor. M.03-PR.08.01 Tahun 1996, tentang tata Cara Penyampaian Laporan Akta
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

Penerapan Business Judgement Rule Dalam Pertanggungjawaban Direksi Bank Yang Berbadan Hukum Perseoran Terbatas

Penerapan Business Judgement Rule Dalam Pertanggungjawaban Direksi Bank Yang Berbadan Hukum Perseoran Terbatas

Pemberian persetujuan atau bantuan oleh Dewan Komisaris kepada Direksi dalam melakukan perbuatan hukum tertentu bukan merupakan tindakan pengurusan. Undang-undang ini membolehkan komisaris memiliki wewenang tertentu yang tidak diberikan kepada Direksi sepanjang hal itu diatur dalam anggaran dasarnya, tetapi wewenang eksekusinya tetap berada di tangan Direksi. Tujuannya adalah sebagai proses pengawasan pada hal-hal tertentu yang dianggap sangat krusial dan memiliki risiko tinggi. Ketentuan ini juga mewajibkan bentuk persetujuan harus tertulis, yang bisa ditafsirkan bahwa sebelum mengambil keputusan menyetujui usulan Direksi tentunya harus ada alasan dan analisa yang mendukung disetujuinya usulan tersebut. Alasan dan usulan tersebut nantinya akan berguna sebagai dasar untuk menilai apakah seorang Komisaris bersalah atau tidak jika kelak akibat keputusan tersebut perseroan menderia kerugian.
Baca lebih lanjut

151 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Direksi Disuatu Perseroan Terbatas Ketika Terjadi Kepailitan Pada Umumnya Dan Menurut Doktrin Hukum Perusahaan & Undang-Undang No.40 Tahun 2007

Pertanggungjawaban Direksi Disuatu Perseroan Terbatas Ketika Terjadi Kepailitan Pada Umumnya Dan Menurut Doktrin Hukum Perusahaan & Undang-Undang No.40 Tahun 2007

Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi atas saham-saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang- Undang tentang Perseroan Terbatas serta di ikuti dengan Peraturan-Peraturan pelaksanaannya. Organ-organ penting dalam Perseroan terbatas sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, selanjutnya disebut UUPT adalah terdiri atas Rapat Umum Pemegang Saham ( selanjutnya disebut RUPS, Direksi, dan Dewan Komisaris. Diantara ketiga organ perseroan terbatas ini yang memilki kewenangan penuh terhadap perseroan adalah direksi. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 Ayat (5) UUPT, “Direksi adalah; Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan,
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Pidana Direksi Bumn yang Berbentuk Perseroan Terbatas dalam Tindak Pidana Korupsi di Bumn

Pertanggungjawaban Pidana Direksi Bumn yang Berbentuk Perseroan Terbatas dalam Tindak Pidana Korupsi di Bumn

Terhadap sanksi yang dijatuhkan terhadap direksi yang melakukan tindak pidana korupsi yang sebagaimana diatur dan disebutkan didalam undang-undang tindak pidana korupsi yaitu terdapat dalam Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi : 35 “Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).” Dan dalam Pasal 3 yang berbunyi : 36 “Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).”
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS YANG DINYATAKAN PAILIT

TANGGUNG JAWAB DIREKSI PERSEROAN TERBATAS YANG DINYATAKAN PAILIT

Dalam melaksanakan kepengurusan terhadap Perseroan, Direksi tidak hanya bertanggung jawab terhadap Perseroan, melainkan juga terhadap pihak ketiga yang mempunyai hubungan hukum dengan Perseroan, baik langsung maupun tidak langsung dengan Perseroan. Oleh karena itu, seorang Direksi harus bertindak hati-hati dalam melakukan tugasnya (duty of care). Selain itu dalam melakukan tugasnya seorang Direksi tidak boleh mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri atas perusahaan (duty of loyalty). Pelanggaran terhadap kedua prinsip tersebut dalam hubungannya dengan fiduciary duty dapat menyebabkan Direksi untuk dimintai pertanggungjawaban hukumnya secara pribadi terhadap perbuatan yang dilakukannya, baik kepada pemegang saham maupun kepada pihak lainnya 4 .
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

KONSEKUENSI PERALIHAN KEWENANGAN DIREKSI DALAM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS

KONSEKUENSI PERALIHAN KEWENANGAN DIREKSI DALAM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS

Fred B.G. Tumbuan dalam Seminar Sehari tentang Revitalisasi Tugas dan Wewenang Kurator/Pengurus, Hakim Pengawas dan Hakim Niaga Dalam Rangka Kepailitan, Le Meridien Hotel, Jakarta, 16 Oktober 2003 mengatakan bahwa kepailitan hanya mencakup aktiva dan pasivanya. Perseroan pailit tetap cakap melakukan perbuatan hukum. Yang perseroan tidak berwenang melakukan adalah mengurus dan mengalihkan serta mengikat kekayaannya yang tercakup dalam harta pailit untuk utang yang terjadi setelah pernyataan pailit. Kewenangan dimaksud ada pada Kurator secara eksklusiv .
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PERSEROAN TERBATAS YANG BELUM MELAKUKAN PENYESUAIAN ANGGARAN DASAR TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS.

AKIBAT HUKUM PERSEROAN TERBATAS YANG BELUM MELAKUKAN PENYESUAIAN ANGGARAN DASAR TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS.

Pada hakikatnya suatu PT mempunyai dua sisi, yang pertama sebagai suatu badan dan yang kedua pada sisi yang lain adalah suatu wadah atau tempat diwujudkannya kerjasama antara pemegang saham atau pemilik modal. Jelas terlihat bahwa PT merupakan suatu badah hukum yang sengaja diciptakan dengan demikian PT adalah subyek hukum yang mandiri, yang mempunyai hak dan kewajiban, yang pada dasarnya tidak berbeda dengan hak dan kewajiban subyek hukum manusia. Sebagai suatu subyek hukum yang mandiri, maka keberadaan PT tidak bergantung pada keberadaan para pemegang saham, direksi dan dewan komisaris. Pergantian pemegang saham, direksi, atau komisaris tidak mempengaruhi keberadaan PT. maka suatu perbuatan perdata semata-mata tidak dapat menjadikan suatu organisasi menjadi badan hukum, akan tetapi harus berdasarkan undang-undang. Hal ini berbeda dengan yayasan yang menjadi badan hukum berdasarkan sistem terbuka yaitu dengan tidak berdasar pada undang-undang atau dengan undang-undang, tetapi berdasarkan kebiasaan, doktrin, dan mungkin didukung oleh yurisprudensi 21 . Jika dilihat dari butir 9.0 lampiran III Kepmen Nomor. M.03-PR.08.01 Tahun 1996, tentang tata Cara Penyampaian Laporan Akta
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

WEWENANG DIREKSI DAN AKIBAT HUKUMNYA BAGI PERSEROAN TERBATAS

WEWENANG DIREKSI DAN AKIBAT HUKUMNYA BAGI PERSEROAN TERBATAS

Pada prinsipnya, segala tindakan direksi yang dilakukan secara sah, dalam arti sesuai dengan kewenangannya, untuk dan atas nama perseroan, bukan untuk kepentingan pribadi, maka tindakan yang demikian itu merupakan tindakan perseroan. Oleh karena itu, segala konsekuensi yuridis atas tindakan perseroan itu, baik atau buruk, untung atau rugi, akan dipikul sendiri oleh perseroan. Dengan demikian, segala pertanggungjawaban yang timbul dari perbuatan tersebut hanya dapat dibebankan kepada badan hukum (PT) itu sendiri, terlepas dari (harta kekayaan) pribadi orang yang melakukan perbuatan itu. Hal ini sesuai dengan karakteristik PT yang kedudukannya mandiri dan pertanggung-jawabannya terbatas. Namun demikian, ada yang mengatakan bahwa tidak selalu tindakan direksi itu mengikat PT yang bersangkutan. Dalam arti, sungguhpun hal itu merupakan tindakan perseroan, dalam beberapa hal (kasus) masih terbuka kemungkinan bagi perseroan untuk melepaskan tanggungjawabnya, dalam arti yang harus bertang-gungjawab atas tindakan tersebut adalah pihak direksi secara pribadi, bukan perseroan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Perbuatan Hukum Perseroan Yang Dimuat Dalam Akta Notaris  (Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas Dan Kitab Undang-Undanghukum Perdata)

Pertanggungjawaban Perbuatan Hukum Perseroan Yang Dimuat Dalam Akta Notaris (Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas Dan Kitab Undang-Undanghukum Perdata)

Dengan demikian, Direksi suatu Perseroan bisa lolos dari tanggung jawab pribadi bilamana bisa membuktikan: sudah bertindak berdasarkan iktikad baik (good faith) telah memperoleh informasi yang cukup (well-informed) dan secara masuk akal dapat dipercaya bahwa tindakan yang diambil adalah yang terbaik untuk kepentingan Perseroan (the best interest of the corporation) 446 . Dalam konteks prinsip fiduciary duty, konsep Business Judgement Rule sudah diadopsi ke dalam UUPT di Indonesia. Walaupun tidak ada rumusan yang secara eksplisit dan tegas mengakuinya. Fiduciary duty merupakan prinsip kepercayaan yang diberikan Perseroan kepadanya, dan prinsip yang merujuk pada kemampuan dan kehati-hatian Direksi bertindak. Keputusan yang diambil Direksi haruslah keputusan yang menurut dia adalah yang terbaik buat perusahaan. Dan baginya keputusan tersebut juga akan diambil oleh orang lain yang berada pada posisi yang sama 447 . Konsepsi diatas tidak mengartikan bahwa Direksi kebal hukum, melainkan konsepsi tersebut memperbolehkan pengadilan menguji secara objektif putusan yang diambil Direksi walaupun dilakukan secara terbatas (standard of view). Konsepsi kedua, abstention doctrine, mengandung arti putusan Direksi yang telah memenuhi kriteria Business Judgement Rule tidak boleh dilakukan review atau pemeriksaan isinya, apalagi dihadapkan pada undang-
Baca lebih lanjut

193 Baca lebih lajut

A.Latar Belakang - Pertanggungjawaban Direksi Atas Perbuatan Melawan Hukum Yang Dilakukan Dalam Mengurus Perseroan Terbatas

A.Latar Belakang - Pertanggungjawaban Direksi Atas Perbuatan Melawan Hukum Yang Dilakukan Dalam Mengurus Perseroan Terbatas

Sebagai badan hukum atau artificial person, perseroan terbatas mampu bertindak melakukan perbuatan hukum melalui “wakilnya”. Untuk itu ada yang disebut “agent”, yaitu orang yang mewakili perseroan serta bertindak untuk dan atas nama perseroan. Karena itu, perseroan juga merupakan subjek hukum, yaitu subjek hukum mandiri atau personastandi in judicio. Dia bisa mempunyai hak dan kewajiban dalam hubungan hukum sama seperti manusia biasa atau natural person atau naturlijke persoon, dia bisa menggugat maupun digugat, bisa membuata keputusan dan bisa mempunyai hak dan kewajiban, utang-piutang, mempunyai kekayaan seperti layaknya manusia. 17
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

BAB II RUANG LINGKUP KEDUDUKAN DIREKSI PERSEROAN TERBATAS A. Pengangkatan direksi - Pertanggungjawaban Direksi Atas Perbuatan Melawan Hukum Yang Dilakukan Dalam Mengurus Perseroan Terbatas

BAB II RUANG LINGKUP KEDUDUKAN DIREKSI PERSEROAN TERBATAS A. Pengangkatan direksi - Pertanggungjawaban Direksi Atas Perbuatan Melawan Hukum Yang Dilakukan Dalam Mengurus Perseroan Terbatas

Kemudian tidak berbeda pula dengan anggota direksi atau komisaris yang pernah dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit. Kalau ada anggota direksi atau komisaris pernah diperkarakan dan diputuskan oleh pengadilan bersalah seperti itu, dipandang reputasinya tidak baik dalam mengelola suatu perseroan. Orang tersebut dinilai tidak mampu mengurus perseroan, sehingga perseroan menjadi jatuh dan tidak mampu membayar utang. Anggota direksi atau komisaris yang dalam menjalankan tugasnya memiliki cacat yang mengakibatkan kerugian perseroan sebgaiamana dimaksud, jelas ridak dapat untuk diangkat menjadi direksi baik dalam perseroan yang sama maupun perseroan lain, karena diragukan kemampuannya untuk mengurus perseroan. 30
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Perbuatan Melawan Hukum Komisaris terhadap Pemberhentian Sementara Direksi Perseroan Terbatas

Perbuatan Melawan Hukum Komisaris terhadap Pemberhentian Sementara Direksi Perseroan Terbatas

Dengan demikian Sung Samuel Ham Wing selaku Komisaris PT. JOBS DB dan PT. JOBS DB dalam memberhentikan Eddy Santoso Tjahja secara tetap atau permanen telah melanggar Pasal 105 UUPT, karena mekanisme pemberhentian Eddy Santoso Tjahja tidak berdasarkan keputusan RUPS, sedangkan yang mempunyai kewenangan memberhentikan secara definitif dan permanen adalah pemegang saham dalam kedudukan dan kapasitas sebagai pemilik perseroan yang diimplementasikan dalam organ RUPS. Forum RUPS sendiri, dalam hal untuk memberhentikan secara tetap atau permanen terhadap diri Eddy Santoso Tjahja juga tidak pernah diselenggarakan baik di dalam forum RUPS maupun di luar RUPS, apalagi memberikan kesempatan kepada Eddy Santoso Tjahja untuk membela diri di dalam forum RUPS, karena forum RUPS sendiri tidak pernah ada.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Direksi Atas Perbuatan Melawan Hukum Yang Dilakukan Dalam Mengurus Perseroan Terbatas

Pertanggungjawaban Direksi Atas Perbuatan Melawan Hukum Yang Dilakukan Dalam Mengurus Perseroan Terbatas

Sebenarnya, arti istilah naamioze vennootschap tidak sama dengan arti istilah perseroan terbatas. Naamioze vennootschap, diartikan sebagai persekutuan tanpa nama dan tidak mempergunakan nama orang sebagai nama persekutuan, seperti firma, melainkan nama usaha yang menjadi tujuan dari perusahaan yang bersangkutan. Sedangkan perseroan terbatas adalah persekutuan yang modalnya terdiri atas saham-saham, dan tanggung jawab persero bersifat terbatas pada jumlah nominal daripada saham-saham yang dimilikinya. Jadi, istilah perseroan terbatas lebih tepat daripada istilah naamioze vennootschap, sebab arti “perseroan terbatas” lebih jelas dan tepat menggambarkan tentang keadaan senyatanya, sedangkan arti istilah naamioze vennootschap kurang dapat menggambarkan tentang isi dan sifat perseroan secara tepat. Ada istilah Inggris yang isinya hampir mendekati istilah perseroan terbatas, yaitu company limited by shares”. Perseroan terbatas ini di Jerman, Austria dan Swiss disebut aktiengensellschaft dan di Prancis disebut societe annonyme. 13
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Direksi Perseroan Terbatas Dalam Pelanggaran Merek

Pertanggungjawaban Direksi Perseroan Terbatas Dalam Pelanggaran Merek

Undang-undang Merek No. 15 Tahun 2001 menganut sistem konstitutif dimana perlindungan hukum terhadap pemegang hak atas merek baru akan diperoleh apabila merek tersebut didaftarkan (first to file), menggantikan sistem deklaratif (first to use) yang pertama kali dianut oleh Undang-undang No. 21 Tahun 1961 tentang Merek Perusahaan dan Merek Perniagaan. Ketentuan Pidana yang mengatur tentang sanksi dan denda bagi pelanggar merek diatur dalam Pasal 90 – 95 Undang-undang No. 15 tahun 2001 tentang Merek. Inti pada setiap bisnis yang sukses adalah merek yang digunakan oleh pelaku bisnis untuk mengidentifikasikan barang/jasa yang dijualnya. Sehingga dengan demikian pasar Indonesia akan terbebas dari barang bermutu rendah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi di sisi lain, tampaknya tidak mudah untuk melakukan penegakan hukum di masyarakat. Selain itu juga, sosialisasi oleh pemerintah secara terus menerus mengenai pentingnya HKI dan khususnya penegakan hukum atas merek di masyarakat dinilai masih sangat penting. Pelanggaran hak merek itu mulai meningkat di Indonesia sejak kebijakan Pasar bebas yang dicanangkan pemerintahan Indonesia, dimana Investor Asing diberikan kesempatan untuk menanam modalnya di Indonesia. Untuk melindungi para pengusaha ataupun pemegang hak merek dari perbuatan melawan hukum yang dilakukan terhadap hak merek barang terdaftar, maka perlu diberikan perlindungan hukum terhadap hak merek barang terdaftar. Perlindungan hukum dapat berupa pemberian sanksi hukum terhadap pelanggaran hak merek, baik dalam bentuk ganti rugi maupun dalam bentuk tuntutan pidana.
Baca lebih lanjut

163 Baca lebih lajut

PERTANGGUNGJAWABAN PIHAK BANK ATAS PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM E-TRANSACTION DI BIDANG PERBANKAN

PERTANGGUNGJAWABAN PIHAK BANK ATAS PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM E-TRANSACTION DI BIDANG PERBANKAN

Selain itu, pemanfaatan teknologi informasi ini juga tidak luput dari potensi risiko kegagalan sistem maupun cybercrime oleh orang tidak bertanggung jawab. Hal ini dapat merugikan nasabah dan menimbulkan pertanyaan pihak mana yang harus bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Komputer yang merupakan sebuah alat tidak dapat dipersalahkan jika terjadi permasalahan di dalamnya, sehingga pertanggungjawaban meleka pada pihak yang menjalankan komponen tersebut atau pihak yang menyediakan jasa layanan. Namun, dalam hal tertentu yang wajib bertanggung jawab adalah pihak yang mengembangkan atau membuat komponen tersebut sekiranya terdapat cacat tersembunyi dalam program yang bersangkutan. Dalam menentukan pertanggungajawaban atas kejadian tersebut, kita haus kaitkan permasalahan ini dengan dasar pokok aturan yang terdapat dalam PBI No.9/15/PBI/2007 mengenai kewajiban Bank Umum dalam menggunakan teknologi informasi untuk kegiatan perbankan sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN. Perseroan Terbatas merupakan subjek hukum yang dapat melakukan, mengadakan suatu

BAB I PENDAHULUAN. Perseroan Terbatas merupakan subjek hukum yang dapat melakukan, mengadakan suatu

Berdasarkan bukti-bukti yang diajukan ke persidangan, Majelis Hakim mengambil kesimpulan bahwa adanya utang telah terbukti dengan dikeluarkannya surety bond sebagai jaminan utang Ciplas Harum Sentosa kepada Frederick Rahmat. Pembuktian utang secara sederhana untuk memenuhi ketentuan pasal 6 (3) UUK dengan demikian telah terpenuhi. Majelis Hakim berpendapat walaupun harus dibuktikan secara sederhana, dalam prosesnya tetap dikedepankan kecermatan dan kehati-hatian. Selain itu adanya 2 kreditur atau lebih dapat dibuktikan dengan adanya klaim dari Perseroan Terbatas Cipta Daya Mandiri dan Perseroan Terbatas Inti Manunggal Inwargo terhadap Wataka General Insurance. Dengan demikian Majelis Hakim memutuskan untuk menyatakan Wataka General Insurance pailit. 7
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Aspek Hukum Pertanggungjawaban Komisaris Nominee Dalam Perseroan Terbatas Atas Tindak Pidana Yang Dilakukan Perseroan

Aspek Hukum Pertanggungjawaban Komisaris Nominee Dalam Perseroan Terbatas Atas Tindak Pidana Yang Dilakukan Perseroan

3. Pengenaan pertanggungjawaban pidana baik terhadap perseroan maupun terhadap Komisaris Nominee secara bersama-sama dapat dilakukan apabila telah diatur dalam peraturan perundang-undangan khusus yang mengatur tentang itu, seperti misalnya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Dengan demikian, tidak semua peraturan perundang-undangan pidana di Indonesia dapat menggunakan pengenaan pertanggungjawaban pidana yang demikian oleh karena ketenutan-ketentuan dalam KUHP Indonesia yang berlaku pada saat penelitian tesis ini dibuat belum mewadahi hal tersebut.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects