• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KARAWITAN MINANGKABAU DAN JURUSAN KARAWITAN

3.3 Adat Minangkabau

Bagi orang Minangkabau adat adalah peraturan hidup sehari-hari. Jika hidup tanpa aturan bagi orang Minangkabau namanya “tak beradat”. Jadi aturan adalah adat. Adat itulah yang menjadi pakaian sehari-hari (Amir MS, 1997:14).103

Bagi orang Minang, duduk dan tegak beradat. Berbicara beradat. Berjalan beradat. Makan minum beradat. Bertamu baradat. Bahkan menguap dan batukpun bagi orang Minang beradat. Adat yang semacam ini disebut dengan adat sopan santun. Masih banyak aturan-atuan lain yang terdapat dalam adat Minangkabau yang mengatur hal-hal yang mendasar.104

Artinya: kalau ingin bertanya kepada seseorang yang baru datang ke tempat kita, apa maksud kedatangannya, maka adat mengajarkan supaya kita harus bersabar, sampai yang bersangkutan hilang lelahnya selama perjalanan. Kalau yang datang

Amir MS mengemukakan sebuah contoh sikap beradat, misalnya;

Batanyo lapeh orak, Barundiang sudah makan (bertanya lepas lelah, Berunding sesudah makan)

103 Amir MS, 1997. Adat Minangkabau: Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Hal. 14.

104 Amir MS. Ibid. hal.14

sudah tenang, barulah kita mengajukan pertanyaan, untuk memuaskan rasa ingin tahun kita.105

I. NAGARI NAN AMPEK: 1. Pertama Banjar

Menurut Filsuf Adat Minangkabau DATUK PANDUKO ALAM – Koto nan Ampek – Payakumbuh dalam Amir MS (1997:20), yang disebut dengan adat nan ampek adalah:

2. Kedua Taratak 3. Ketiga Koto 4. Keempat Nagari II. ADAT NAN AMPEK: 1. Adat nan sabana Adat

2. Adat nan diadatkan 3. Adat nan teradat 4. adat Istiadat III. HUKUM NAN AMPEK: 1. Hukum Bajinah

2. Hukum Qarinah 3. Hukum Ijtihad 4. Hukum Ilimu

IV. UNADANG NAN AMPEK: 1. Undang-Undang Luhak Rantau 2. Undang-Undang Pembentukan Nagari

3. Undang-Undang dalam Nagari 4. Undang-Undang Nan 20

105 Amir MS. Ibid. hal.14

cxxxvi

5.3.1. Bunyi-Bunyian dalam Konteks Adat Minangkabau

Setiap buni-bunian dalam konteks adat Minangkabau mendapat perlindungan dari undang. undang tersebut bernama Undang-Undang Nan 9 Pucuak. Berdasarkan wawancara dengan bapak Hajizar, menurut beliau, terdapat penjelasan tentang konsep dan konteks buni-bunian dalam adat Minangkabau.

Konsep buni-bunian (bunyi-bunyian) dalam Undang-undang Nan Sambilan Pucuak adalah semua bentuk bunyi yang musikal, baik bunyi itu fungsional sebagai media legitimasi peresmian, seperti aguang (gong), maupun bunyi itu fungsional sebagai media pemberitahuan, seperti canang, tongtong, dan pupuik tanduak, ataupun bunyi yang bersifat ensambel yang tersaji dalam bentuk komposisi musik adalah fungsional sebagai penyemarak alek106

Bunyi canang yang dipukul hilir-mudik dalam kampung oleh seseorang adalah fungsional sebagai media pemberitahuan untuk bergotong royong jalan pada saat akan masuk bulan ramadhan, atau bergotong-royong tali bandar air ke yang bernilai hiburan untuk semua konteks upacara adat atau agama sesuai dengan situasi-kondisi nagari masing-masing.

Bunyi aguang (gong) pada konteks upacara Batagak Pangulu menjadi sesuatu bunyi yang sakral yang fungsional sebagai media legitimasi peresmian seorang penghulu; artinya sempurnalah kebesaran gelar yang disandang seseorang sebagai penghulu dalam suatu nagari setelah berkumandang paluan bunyi aguang di tengah pesta perayaan adat pengangkatan penghulu tersebut.

106 Kenduri; pesta.

sawah pada saat akan masuk musim ke sawah setelah melakukan permainan baalang-alang107

107 Layang-layang

di musim kemarau.

Bunyi tong-tong di surau adalah fungsional sebagai media pemberitahuan untuk telah masuknya waktu shalat, atau sebagai media pemberitahuan untuk acara wirid pengajian di surau tersebut. Sedangkan bunyi tong-tong di pondok atau dangau ladang pada lereng-lereng bukit adalah fungsional sebagai media pemberitahuan untuk masuknya waktu makan tengah hari (siang), atau masuknya waktu minum kopi (minum kawa) di sore hari pada konteks kerja pertanian di ladang tersebut.

Bunyi Pupuik Tanduak di surau adalah fungsional sebagai media pemberitahuan untuk masuknya waktu sahur pada bulan ramadhan. Bunyi

‘komposisi musik tradisional’ yang bersifat ensambel, seperti talempong pacik, talempong unggan, gandang tambua, saluang-dendang, Sijobang, rabab dan sebagainya adalah fungsional sebagai penyemarak alek untuk semua konteks upacara adat atau agama sesuai dengan keadaan nagari masing-masing. Semuanya ini mendapat perlindungan dari para pimpinan adat.

Melalui Undang-Undang Nan Sambilan Pucuak para penguasa adat Minangkabau meletakkan posisi musik tradisional pada tempat yang pantas, dan mengandung peringatan kepada masyarakat untuk tidak meremehkan kehadiran musik itu dalam konteks upacara atau acara yang sedang disemangati kegembiraannya oleh penyajian musik tersebut.

cxxxviii

Semuanya ini bukan didasarkan atas konvensi kesepakatan masyarakat, karena sudah berlaku umum sebagai bagian adat istiadat di seluruh Minangkabau.

Dalam konteks ini, pengertian ‘bunyi’ bukanlah sekedar pelengkap penderita mengisi kehidupan, tetapi kehidupan – baik individual atau kelompok sosial – membutuhkan penetrasi psikologis mereka yang dikandung oleh bunyi-bunyian yang musikal itu. Dalam hal ini, penguasa adat mempunyai kepentingan untuk menjaga eksistensi bunyi-bunyian tersebut, yaitu dengan memberi payung hukum berupa Undang-undang Nan Sambilan Pucuak. Menurut saya (Hajizar), bahwa realita upacara dan kesenian ini yang tidak bisa terbantahkan oleh institusi agama

‘alim-ulama’ di tengah kehidupan sosial masyarakat Minangkabau, sehingga pelaku-pelaku seni --laki-laki dan perempuan-- dan pewarisannya tetap berlanjut hingga sekarang.

Menurut Hajizar, bahwa kehadiran Undang-Undang Nan Sambilan Pucuak itu sebagai sebuah pembuktian bahwa spirit kebesaran suatu upacara atau acara-acara sosial masyarakat di nagari mestilah mendapat pengayoman langsung dari institusi adat yang dijalankan oleh para penghulu di nagari masing-masing.

Dengan demikian, semua item kebesaran adat dan semua item material, serta audio-visual pendukungnya semestinyalah berada pada posisi yang kuat, sehingga psikologis masa yang liar dalam suatu keramaian helat akan langsung terkoordinir melalui gaung karisma Undang-Undang Nan Sambilan Pucuak.

Menurut pengalaman saya (Hajizar) di kampung, mayoritas masyarakat memiliki rasa kekaguman terhadap seniman pelaku seni di nagari mereka masing.

Malahan umumnya kebanggaan-kebanggaan suatu nagari adalah diemban atau

terpikul pada pundak para seniman pelaku di nagari masing-masing itu. Menurut pandangan orang tua-tua, bahwa suatu nagari yang tidak memiliki kesenian adalah dianggap ‘indak barono’ atau hambar saja kehidupan sosial masyarakatnya; tetapi suatu nagari yang memiliki banyak jenis kesenian adalah dikatakan ‘nagari tu mudo’ atau dinamika komunikasi yang ceria terjadi sepanjang hari yang telah menjadi sikap kegembiraan di dalam diri individu masing-masing, dan puncak komunikasi mereka bertemu pada saat berlangsungnya suatu upacara adat atau resepsi acara tradisional lainnya.

Hajizar memberikan kutipan butir-butir Undang-Undang Nan Sambilan Pucuak sebagai berikut: Adat Minangkabau: Nan Salingka Hiduik oleh H.

Suarman, SH, dkk (tt) Solok: Dinas Pariwisata & Budaya.

Undang-undang Nan Sambilan Pucuak, sapucuak limo ratuih anaknyo antara lain:

1. Undang-undang takluk kapado Rajo 2. Undang-undang takluk kapado Pangulu 3. Undang-undang takluk kapado Alam 4. Undang-undang takluk kapado Pakaian 5. Undang-undang takluk kapado Permainan 6. Undang-undang takluk kapado Bunyi-bunyian 7. Undang-undang takluk kapado Ramian-ramian 8. Undang-undang takluk kapado Kebesaran Alam 9. dan seterusnya …

…....Takluk kepada permainan, bunyi-bunyian, rami-ramian108

108Keramaian.

adalah termasuk takluk kepada permainan Anak Nagari; artinya permainan anak nagariitu harus dikembangkan, dibina, dipelihara karena menyangkut kesukaan

cxl

anak muda-muda, sehingga para pelakunya disebut Anak Mudo (Suarman, tt: 225-226).

5.3.2. Karawitan Minangkabau

Dalam pepatah adat Minangkabau ada dikatakan: duduek baparintang, tagak bapamenan (artinya: jika duduk mempunyai sesuatu sebagai perintang waktu dan berdiri mempunyai permainan). Berdasarkan pepatah ini kelihatannya orang Minangkabau sangat efisien mempergunakan waktunya. Jika berdiri tidak hanya berpangku tangan melainkan harus ada sesuatu yang dikerjakan. Permainan dan perintang waktu inilah yang berkembang menjadi kesenian seperti saluang, sarunai, dendang, dan lain-lain yang pada mulanya hanya berfungsi sebagai pengisi waktu saja109

3.4. Jenis Karawitan Minangkabau

(Martamin dan Rizaldi, 1983: 25).

Berdasarkan pepatah tersebut, Martamin berpendapat bahwa kegiatan berkesenian sudah menyatu dalam kehidupan orang Minangkabau. Kesenian ini tidak hanya muncul pada waktu ada upacara-upacara adat seperti yang terlihat sekarang, tetapi juga di waktu berada seorang diri seperti waktu mengembala ternak dan sebagainya.

Martamin (1983:27) menuliskan bahwa jenis karawitan yang populer di Sumatera Barat adalah dari jenis salueng, rabab, talempong, dendang, sarunai,

109Ibid.hal. 25.

bansi, dan pupuik batang padi. Orang Minangkabau akan segera mengenal apabila melihat dan mendengar alat-alat musik tersebut110

5.4.1. Salueng

.

Sudah banyak orang yang tidak mampu memainkan karawitan Minangkabau, tetapi masih banyak orang Minangkabau yang mampu untuk mengenal dan menikmatinya. Agar dapat dikanal, Martamin menjelaskan lebih lengkap tentang karawitan Minangkabau sebagai berikut:

111

Salueng pada mulanya hanya terdapat di daerah inti Minangkabau saja, yaitu Luhak Tanah Datar, Agam, dan Lima Puluh Kota. Kemudian berkembang ke daerah lain, terutama ke daerah rantau, tempat di mana orang Minangkabau berusaha menambah mata pencahariannya. Martamin berkesimpulan, bahwa salueng yang berkembang di daerah Sumatera Barat sekarang ini berkemungkinan besar berasal dari Luhak Nan Tigo itu.

Martamin mengatakan, tidak dapat dinyatakan dengan tegas, bahwa salueng merupakan alat kesenian asli Minangkabau, mengingat alat semacam salueng juga terdapat di Hindia Belakang dan di India sekarang. Dahulu, berabad-abad yang lalu pengaruh kedua daerah tersebut sangat besar sekali terhadap Indonesia, sehingga mungkin saja di waktu itulah alat kesenian salueng ini di bawa, diterima, dan berkembang di daerah Minangkabau112

Martamin menuliskan, bahwa sebaliknya di Indonesia sendiri jenis alat musik seperti salueng ini tidak ada, tetapi yang banyak ditemukan adalah

.

110Ibid. Hal. 27

111Ada juga yang menulis saluang.

112Ibid. Hal. 28

cxlii

semacam suling memakai lidah untuk memudahkan meniupnya. Jenis seperti salueng itu sendiri tidak ditemukan sehingga Martamin menyimpulkan bahwa alat salueng merupakan milik budaya Minangkabau, yang berarti hanya suku bangsa Minangkabaulah satu-satunya yang memiliki alat karawitan itu, sedangkan pada suku bangsa lain di Indonesia tidak memiliki jenis karawitan seperti itu.

Usaha pemeliharaan dan pengkajian terhadap salueng ini harus dilakukan oleh orang Minangkabau itu sendiri. Martamin berpendapat bahwa tidak akan ada orang lain yang mau datang dengan senang hati atau suka rela untuk memelihara dan mengembangkannya karena mereka sendiri juga akan sibuk dengan seni budayanya sendiri.

Secara umum bentuk fisik salueng seperti tabung terbuat dari bambu tipis (talang) dan berlobang di ujung dan pangkalnya. Terdapat beberapa buah lobang (biasanya 4 buah) untuk melodi.

Berdasarkan hasil survei yang pernah dilakukan, baik oleh tenaga akademik maupun mahasiswa ASKI Padangpanjang, maka Martamin mengkategorikan secara garis besar empat jenis salueng, yaitu:

3.4.1.1. Salueng Darek

Salueng Darek mulanya hanya didapati dan berkembang di daerah inti Minangkabau saja113

113Ibid. Hal. 29

. Salueng Darek berkembang ke daerah lain di Minangkabau bahkan sampai jauh ke luar daerah Minangkabau. Orang Minangkabau dari daerah

inti membawanya serta ketika mereka pergi merantau sehingga kesenian salueng ini juga ada di luar daerah Minangkabau.

Salueng Darek terbuat dari seruas talang atau sebangsa bambu tipis.

Lobang di ujung dan pangkal talang dibiarkan saja terbuka tanpa sumbat atau lidah. Tempat meniup di pangkal salueng ditajamkan atau diraut sedikit agar udara masuk ke rongga salueng lebih lancar.

Lobang nada (melodi) hanya empat buah. Nada yang dapat dihasilkan sebanyak lima buah (pentatonis), yaitu mendekati bunyi nada diatonis do-re-mi-fa-sol. “Mendekati” di sini berarti bahwa nada yang dihasilkan oleh salueng itu tidak persis sama dengan nada diatonis114

3.4.1.2. Salueng Sirompak

, tetapi bagaimana persisnya nada salueng itu belum dapat dikatakan, karena memang belum di ukur sama sekali.

Salueng Sirompak masih termasuk jenis Saluang Darek. Daerah perkembangannya hanya terdapat di daerah Kecamatan Payakumbuh saja, khususnya di daerah Taeh, Simalanggang115

Saluang Sirompak juga terbuat dari talang, tetapi di samping lobang yang empat, seperti umumnya Salueng Darek, masih terdapat sebuah lobang lagi di sebelah bawah lobang keempat dari ujung. Lobang di sebelah bawah ini berfungsi sebagai pengubah bunyi menjadi oktaf yang lebih rendah. Dengan adanya lobang tambahan tersebut, nada yang dihasilkan menjadi 10 buah yaitu: fi-la-do-re-mi (tinggi) dan fi-la-do-re-mi (rendah). Nada-nada yang tinggi dihasilkan dengan

.

114Ibid. Hal. 30

115Ibid. Hal. 30

cxliv

tiupan yang agak keras sedangkan nada-nada rendah ditiup dihasilkan dengan tiupan yang agak lunak116

Ukuran besar talang kira-kira sebesar ibu jari kaki, tetapi ukuran itu tidak mutlak, karena sering juga tergantung kepada keinginan si pembuat sampai mengeluarkan bunyi yang cocok dengan selera. Tetapi, ukuran yang biasa adalah sebesar ibu jari kaki si pembuatnya

.

Pengukuran metrik yang digunakan dalam pembuatan salueng tidak dengan sistem metrik konvensional, seperti centi meter (cm) dan sebagainya.

Masyarakat tradisional cenderung menggunakan anggota tubuh sebagai alat ukur, misalnya jari-jari tangan, jengkal, ibu jari kaki, kepalan tangan, dan sebagainya.

Tidak terdapat ukuran yang pasti atau standard untuk Salueng Sirompak.

Selera si pembuat salueng adalah patokan utama untuk ukuran maupun bunyi nada yang dihasilkan.

117

Martamin menuliskan, bahwa ukuran panjang Salueng Sirompak kira-kira tiga jengkal empat jari. Ukuran ini pun tidak mutlak, karena ukuran jari setiap orang juga tidak sama. Tetapi, jika diukur dengan ukuran meter, maka panjang Salueng Sirompak kira-kira 70-75 cm

.

Jelaslah bahwa ketidak standardan ukuran ini tidak mungkin didapatkan jika yang dijadikan patokan adalah ukuran ibu jari kaki si pembuat salueng.

Ukuran ibu jari kaki seseorang tentu tidak sama dengan orang lain.

118

Jarak antara lobang pertama dengan ujung salueng adalah kira-kira dua kali lingkaran ujung salueng, yaitu kira-kira 17 cm. Jarak antara lobang pertama

.

116Ibid. Hal. 30

117Ibid. Hal. 31

118Ibid. Hal. 31

dan kedua dan antara labang kedua dan ketiga dan antara lobang ketiga dan keempat setengah lingkaran ujung salueng, yaitu kira-kira 4 cm119

Jarak lobang keempat dengan pangkal salueng adalah sepanjang dua jengkal, yaitu kira-kira 41 cm. lobang tambahan kelima persis terletak di bawah lobang ke empat

.

120

Penulis berkesimpulan bahwa orang Minang sangat bersahaja dalam menciptakan alat musik tradisionalnya. Sistem pengukuran yang mereka gunakan adalah yang ada pada diri mereka sendiri, seperti jari-jari tangan, ibu jari tangan, jengkal, kepalan tangan, ibu jari kaki, dan sebagainya. Alam Minangkabau telah menyediakan bahan-bahan baku untuk keperluan alat musik mereka dari sejenis bambu atau talang. Garis tengah bambu juga digunakan sebagai dasar pengukuran untuk jarak antar lobang salueng. Tergambarlah di sini kesatuan antara manusia dan alam lingkungannya. Manusia memanfaatkan alam, menyatu, dan belajar

.

Dari penjelasan di atas Martamin berkesimpulan, bahwa ukuran Salueng Sirompak dan salueng lainnya di Minangkabau tidak mempunyai ukuran mutlak atau standar. Hal itu disebabkan karena sangat tergantung pada ukuran lingkaran ujung salueng, sedangkanbesar lingkaran ujung salueng ditentukan pula oleh besar kecilnya ukuran ibu jari kaki si pembuatnya dan ukuran ibu jari kaki itu jelas tidak sama untuk setiap orang. Di samping itu ukuran jengkal setiap orang pun tidak sama pula, sedangkan ukuran jengkal ini akan menentukan pula ukuran leher Salueng Sirompak. Jadi, ukuran semua Salueng Sirompak sangat relatif sekali.

119Ibid. Hal. 31

120Ibid. Hal. 31

cxlvi

mengenal dan mengambil manfaat dari alam seperti pepatah Minangkabau Alam takambang jadi guru (alam terkembang jadi guru).

3.4.1.3. Salueng Sungai Pagu

Sungai Pagu terdapat di Muara Labuh Kabupaten Solok. Salueng Sungai Pagu dinamakan juga Salueng Panjang karena ukurannya lebih panjang dari salueng Darek dan salueng lainnya yang ada di Sumatera Barat.

Keistimewaan Salueng Sungai Pagu ini adalah lobang melodinya hanya tiga buah saja. Martamin menuliskan, diduga Salueng Sungai Pagu ini berasal dari daerah Tanah Datar tetapi di daerah asalnya itu, saluang berlobang tiga ini, sudah tidak ditemukan lagi karena sudah mengalami perkembangan baru menjadi saluang berlobang empat121

Sistem pengukuran yang digunakan untuk menentukan ukuran Salueng Sungai Pagu sama halnya dengan salueng lainnya, adalah anggota tubuh, seperti kepalan tangan, jari-jari tangan, dan sebagainya. Diungkapkan oleh Martamin, bahwa ukuran dasar yang digunakan adalah “lebar kepalan tangan” yang dinamakan pacik. Ukuran Salueng Sungai Pagu sepanjang delapan pacik. Satu pacik kepalan orang dewasa sepanjang kira-kira 9-10 cm. Dengan demikian, ukuran panjangSalueng Sungai Pagu seluruhnya kira-kira antara 72-80 cm

. Salueng berlobang tiga ini masih berkembang di Sungai Pagu hingga saat ini. Bahan baku Salueng Sungai Pagu terdiri dari talang, tetapi ada juga yang di buat dari buluh kasok (sebangsa talang yang lebih kecil).

122

121Ibid. Hal.32

122Ibid. Hal. 32

.

Pengukuran diameter talang dilakukan secara tradisional menggunakan ibu jari tangan. Ibu jari tangan menjadi ukuran penentu diameter talang, tidak boleh terlalu sempit dan juga tidak boleh terlalu longgar. Martamin menuliskan, bahwa besar lobang talang kira-kira sebesar ukuran ibu jari tangan. Cara mengukurnya adalah: jika ibu jari tangan tidak masuk ke dalam lobang talang, maka talangnya dianggap tidak memenuhi syarat; terlampau besar juga tidak memenuhi syarat.

Ukuran lobang talang dianggap memenuhi syarat apabila ibu jari tangan pas masuknya ke dalam lobang talang tersebut123

Lobang Salueng Sungai Pagu yang tiga buah tersebut, dua terletak di atas sejajar dengan lobang di pangkal dan lobang itu dinamakan lobang pertama dan lobang kedua. Sedangkan, lobang ketiga terdapat di bawah bertentangan dengan lobang di pangkal salueng. Ketiga lobang itu menimbulkan bunyi yang bernada:

(1) do-re-mi-fa dengan tiupan lembut dan (2) so-la-si-do dengan tiupan keras .

Tempat meniup terletak di pangkal talang yang sekaligus menjadi pangkal salueng. Untuk menghasilkan bunyi dibuatlah sebuah lobang di pangkal salueng.

Penulis mencermati data yang dituliskan oleh Martamin tentang nada-nada yang dihasilkan dari Saluang Sungai Pagu berjumlah satu oktaf. Kuat-lemah (keras lembut) tiupan mempengaruhi ketinggian nada. Tiupan lemah menghasilkan empat nada pertama, sedangkan tiupan keras menghasilkan empat nada kedua.

124.

123Ibid. Hal. 33

124Ibid. Hal. 33

cxlviii

3.4.1.4. Salueng Paueh

Paueh merupakan nama sebuah nagari di Kota Padang. Nama Paueh dipakai untuk menamai alat musik atau sebuah kesenian salueng.

Salueng Paueh tumbuh dan berkembang di Nagari Paueh, Kecamatan Lubuk Begalug, Kota Padang. Dari Nagari Paueh itu Salueng Paueh berkembang ke daerah sekitarnya seperti Kecamatan Lubuk Bagalung dan Kecamatan Koto Tangah, Kota padang.

Martamin mencatat, bahwa perbedaan dua salueng terakhir (Salueng Sungai Pagu dan Salueng Paueh) dengan kedua salueng sebelumnya (Salueng Darek dan Salueng Sirompak ) terletak pada teknik pembuatan, bunyi yang dihasilkan, wilayah perkembangan, dan lagu-lagu yang dimainkannya.

Penulis menyimpulkan bahwa Salueng Darek berasal dari dan berkembang di daerah inti Minangkabau yaitu Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Lima Puluh Kota. Sedangkan, Salueng Sirompak juga berasal dari Darek tetapi khusus tumbuh dan berkembang di daerah Taeh-Simalanggang yang termasuk ke dalam Luhak Lima Puluh Kota.

Martamin menyimpulkan persamaan dan perbedaan keempat salueng yang ada di Minangkabau. Persamaan terletak pada bahan pembuatan dan bentuknya, sedangkan perbedaan terletak pada ukuran, tangga nada, bunyi yang dihasilkan, teknik memainkan dan barangkali juga fungsinya di tengah-tengah masyarakat125

Selanjutnya mengenai alat penghasil bunyi, ukuran panjang dan diameter salueng disimpulkan oleh Martamin sebagai berikut: Salueng termasuk jenis alat .

125Ibid. Hal. 33

musik tiup yang tidak memakai lidah. Pada umumnya ukuran panjang salueng berkisar antara 50-75 cm. garis tengah lobang di ujung-pangkal salueng berkisar antara 2-3 cm. Makin besar rongga talang yang dijadikan salueng semakin sulit pula untuk membunyikannya126

Berdasarkan fungsi salueng dalam masyarakat Minangkabau, Martamin menuliskan bahwa salueng berfungsi sebagai pengiring dendang biasa maupun dendang kaba

.

127

5.4.2. Rabab

. Dendang biasa lebih kerap diringi oleh salueng. namun salueng juga dapat ditampilkan sendirian tanpa dendang.

Rabab merupakan alat musik gesek. Martamin (1983) menuliskan, bahwa rabab di Minangkabau terdiri dari tiga jenis, yaitu Rabab Darek, Rabab Pariaman, dan Rabab Pesisir.

Alat musik rabab, berdasarkan sumber bunyinya, diklasifikasikan sebagai alat musik chordophone128(chordo berarti dawai atau tali, sedangkan phone berarti bunyi). Berdasarkan sumber bunyi tersebut Erizal (2000:29) mengatakan dalam tulisannya, bahwa alat musik chordophone Minangkabau terdiri dari Rabab Pariaman, Rabab Pesisir, Rabab Darek, Rabab Tanjung Beringin, Kecapi, dan Talempong Sambilu yang terdapat di Kabupaten Lima Puluh Kota129

126Ibid. Hal. 34

127Sejenis cerita rakyat yang disampaikan melalui dendang (nyanyian)

128 Chordophone – Kordofon. Alat musik berdawai (bersenar). Menilik cara membunyikannya, kordofon terbagi atas dawai gesek(senar gesek: biola); dawai petik(senar petik: gitar); dawai pukul (senar pukul: piano). Pono Banoe, 2003. Kamus Musik.

129Erizal, 2000. Instrumen Musik Chordophone Minangkabau. Hal. 29.

.

cl

Beberapa alat musik kordofon Minangkabau yang dikemukakan Erizal dapat kita bagi lagi berdasarkan tipe dasarnya. Menurut Ruth Migley, alat musik kordofon mempunyai lima tipe dasar yaitu: (1) bow, (2) Lyre, (3) Harp, (4) Lute,

Beberapa alat musik kordofon Minangkabau yang dikemukakan Erizal dapat kita bagi lagi berdasarkan tipe dasarnya. Menurut Ruth Migley, alat musik kordofon mempunyai lima tipe dasar yaitu: (1) bow, (2) Lyre, (3) Harp, (4) Lute,