• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Penggarapan Komposisi Musik (Peran Pekan Komponis

BAB III KARAWITAN MINANGKABAU DAN JURUSAN KARAWITAN

3.5 Konsep Penggarapan Komposisi Musik (Peran Pekan Komponis

Aktifitas kesenian sebuah kelompok masyarakat sangat berkaitan erat dengan aktifitas atau hal-hal lain yang sudah tumbuh dan melekat dari waktu ke waktu dalam masyarakat tersebut. Pembahasan seni pertunjukan tidak dapat terbatas pada permasalahan disekitar gaya dan teknik keseniannya saja, melainkan juga harus menyentuh masalah-masalah yang terkait dengan nilai-nilai dan konsepsi-konsepsi budaya yang melingkupinnya (PaEni, 2009:1). Selanjutnya PaEni mengemukakan bahwa musik, cabang kesenian yang menggunakan media suara merupakan bentuk ungkapan perasaan dan nilai kejiwaan manusia yang dianggap paling tua dan telah ada bersamaan dengan lahirnya (peradaban) manusia di bumi (2009:4). Dengan demikian, memahami musik dari sebuah masyarakat berarti memahami nilai-nilai kehidupan yang telah ada dalam masyarakat tesebut sejak (peradaban) masyarakat itu ada.

Salah satu unsur dasar ekspresi dalam musik karawitan adalah kevariatifan mikro yang berakar pada interaksi semua pemain sambil bermain (Mack, 2004:506)134

134Dieter Mack, 2004. Sejarah Musik. Jilid 4.

. Interaksi seperti ini telah dimulai sejak awal pembuatan (making) musik di mana seorang komposer yang telah memiliki ide dasar untuk komposisi musiknya dapat saja meminta pendapat atau sumbangan saran kepada pemain musik agar komposisi musik tersebut berkembang baik dari segi teknis maupun struktur.

Hajizar (2014), dalam wawancara dengan penulis, mengungkapkan, bahwa idealnya membuat sebuah komposisi musik itu harus dikerjakan oleh satu orang, namun yang umum terjadi di jurusan Karawitan adalah terlibatnya pemain musik dalam pembuatan dan pengembangan sebuah komposisi musik di bawah pengawasan (kendali) dari komposer yang bersangkutan. Berikut petikan wawancara dengan Hajizar:

Pada masa-masa awal ASKI (program sarjana muda) belum ada mata kuliah khusus komposisi musik. Kegiatan praktik musik masih berkutat di seputar musik iringan tari-tari karya Huriah Adam. Ketika ASKI beralih ke program D-3, mulailah dipelajari musik tari Benten dariPesisir Selatan,musik tari Rantak Kudo dari Pesisir Selatan, musik Tari Piring dari Saning Bakar, dan musik tari Bujang Sambilan. Hajizar menjelaskan bahwa mempelajari musik-musik tari tersebut merupakan modal awal bagi mahasiswa untuk membuat karya musik baru.

Ketika ASKI dengan program D3-nya dikembangkan menjadi program S-1 muncullah mata kuliah komposisi karawitan sebagai hasil dari konsorsium ASKI se-Indonesia. Menurut Hajizar, munculnya mata kuliah komposisi karawitan tersebut seiring dengan perkembangan even bertaraf nasional yang bernama Pekan Komponis Muda sejak 1979. Selain pertunjukan karya musik, topik pembicaraan dalam even Pekan Komponis tersebut didominasi oleh persoalan komposisi musik. Walaupun, menurut Hajizar, pemahaman tentang konsep komposisi musik berbeda dan kadang-kadang berbeda sama sekali dengan pemahaman konsep komposisi musik dalam musik Barat, tetapi dianggap inilah konsep komposisi versi Indonesia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

clxii

semangat dari even Pekan Komponis Muda telah memberi pengaruh terhadap insan-insan dalam Konsorsium Seni sehingga muncullah mata kuliah komposisi musik pada program S-1 sebagai salah satu hasil dari konsorsium tersebut.

Dalam Konsorsium Seni ditetapkan mata kuliah-mata kuliah wajib (nasional) dan mata kuliah-mata kuliah lokal untuk setiap jurusan seni. Jadi, pemunculan sebuah mata kuliah dalam sebuah jurusan tidak bisa sekehendak perguruan tinggi yang bersangkutan tetapi harus melalui konsorsium nasional.

Istilah komposisi karawitan hadir di seluruh ASKI sebagai mata kuliah dalam program D-4. Tetapi, ASKI Padangpanjang, saat itu, hanya memiliki program D-3 karena belum memenuhi syarat untuk membuka program D-4. Oleh karena itu, dosen-dosen ASKI Padangpanjang, pada waktu itu, harus meningkatkan level pendidikannya ke level D-4 antara lain dengan belajar di ASKI Solo, Bali, dan Yogyakarta. Gelar kesarjanaan untuk program D-4 adalah Seniman Karawitan (S.Kar). mereka inilah yang diprogram untuk menjadi komposer di bidang karawitan. Di antara tamatan D-4 tersebut135 bahkan ada yang langsung melanjutkan ke program S-2 (Mahdi Bahar, misalnya. Setelah memperoleh S.Kar ia melanjutkan ke Program S-2 UGM). Sekembalinya dosen-dosen tersebut maka terpenuhilah syarat untuk membuka program D-4 ASKI Padangpanjang yang merupakan filial dari ASKI Solo.136

135 Tamatan D-4 dari ASKI Bali di antaranya adalah Elizar Koto dan Yunaidi.

136Salah seorang tamatan ASKI program D-4 adalah Hafif HR yang bergelar S.Kar, sekarang sebagai dosen di jurusan karwitan ISI Padangpanjang.

Dengan demikian, saat itu, ASKI Padangpanjang sudah memiliki beberapa orang tenaga pengajar komposisi karawitan yang merupakan perintis bagi berkembangnya minat pencipta musik (seniman, komposer).

Seiring dengan Pekan Komponis Muda, Kementrian Pendidikan memunculkan proyek Institut Kesenian Indonesia (IKI) sejak 1980. Proyek IKI mengadakan festival tahunan untuk Akademi Seni se-Indonesia. Salah satu materi festival adalah komposisi karawitan. Festifal IKI II tahun 1981 diselenggarakan di Bandung. ASKI Padangpanjang mendapat giliran sebagai tempat penyelenggaraan dan dianggap mampu untuk mengadakan festival IKI pada tahun 1989 dengan nama proyek BKS PTSI (Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Seni se-Indonesia).

Komposisi pertama Karawitan Minangkabau dari ASKI Padangpanjang ditampilkan di festival IKI Bandung pada tahun 1981. Judul komposisi tersebut adalah Batanyo Kabau Ka Padati karya bersama Hajizar dan Hanefi. Instrumen yang digunakan dalam komposisi tersebut adalah saluang pauah, saluang darek, bansi, sarunai,ganto dan lain-lain. Hajizar menyebut penggunaan alat musik pada waktu itu dengan istilah campua-campuasajo (campur-campur saja). Komposisi disajikan dalam posisi duduk. Ide komposisi berasal dari alat transportasi tradisional Minangkabau yaitu padati kabau yang kerap terlihat oleh Hajizar kala ia berjalan ke arah selatan Padangpanjang. Kerbau itu dikalungi sejenis lonceng yang disebut ganto.

Kala itu, pengelolaan paket seni ASKI Padangpanjang diserahkan kepada ibu Yet (Gusmiati Suid) oleh pak Boestanoel Arifin Adam. Maka, untuk mendukung paket tersebut, ibu Yet menciptakan karya tari pertemuan dua warna.

Musiknya, atas permintaan ibu Yet, dikerjakan oleh Hajizar dan Hanefi. Itulah Batanyo Kabau Ka Padati, sebuah komposisi musik Minangkabau yang pertama kali dari ASKI Padangajang. Jadi, komposisi musik karawitan yang pertama kali

clxiv

tersebut adalah sebuah musik untuk mengiringi tari. Berarti dapat disimpulkan, bahwa keberadaan koreografi pada waktu itu memberi peluang kepada orang-orang dari jurusan karawitan ASKI untuk berkarya membuat komposisi.

Istilah komposisi populer di ASKI se-Indonesia sejak adanya even Pekan Komponis Muda (1979) dan festival Institut Kesenian Indonesia (1981). Mata kuliah komposisi itu sendiri belum ada dalam program D-3 ASKI. Penulis menyimpulkan, bahwa praktik membuat komposisi musik di ASKI pada program D-3 lebih dulu dilakukan atau didapatkan (terutama oleh Hajizar dan Hanefi) dari pada mata kuliah teori komposisi itu sendiri karena pada program D-3 ASKI, waktu itu, belum ada mata kuliah komposisi karawitan. Hal ini merupakan imbas positif dari kedua even festival di atas.

Menurut Hajizar, kemampuan membuat komposisi oleh orang-orang ASKI Padangpanjang didapatkan setelah kuliah di Solo dan Bali. Kiblat komposisi ketika itu adalah ASKI Solo. Hajizar mengungkapkan, Bahwa ketika festival Pekan Komponis Muda dan festival IKI, ASKI Solo merupakan perguruan yang memiliki grade yang tinggi. Di ASKI Solo ada figur-figur komponis/seniman yang memiliki totalitas tinggi seperti Rahayu Supanggah, Waridi, Sri Hastanto, dan lain-lain.

Menurut Hajizar, eksistensi Pekan Komponis betul-betul kuat hingga 1988. Elizar Koto, adik dari Hajizar, adalah salah satu komponis peserta waktu itu. Setelah 1988 eksistensi Pekan Komponis meredup karena even-even tingkat dunia muali eksis di Indonesia. Terakhir, tahun 2005, Otto Sidharta (ketua DKJ) mengadakan pekan Komponis di Solo. Otto ingin merubah bentuk Pekan

Komponis dengan melibatkan sponsor-sponsor besar sehingga bersifat komersial.

Hajizar mengusulkan, jika bentuk festival Pekan Komponis ini dirubah berarti DKJ harus merubah terlebih dahulu visi dan misinya tentang Pekan Komponis.

Hajizar memberikan cerita kilas balik terhadap peran Pekan Komponis, sebenarnya Pekan Komponis dengan visi yang lama, seluruh daerah yang pernah diikutsertakan oleh DKJ, orang-orangnya menjadi tokoh-tokoh pemabaharu di daerah masing-masing. Daerah-daerah sangat berhutang budi terhadap DKJ dalam melahirkan komponis-komponis baru. Setelah tahun 2005 dan dengan banyaknya even-even musik tingkat dunia, maka gaung Pekan Komponis sudah melemah dan akhirnya tidak terdengar lagi.

Setelah 1988 berbagai even musik banyak bermunculan di Indonesia. Di kampus ASKI pun mulai ada program S-1 lengkap dengan mata kuliah komposisi karawitan. Rekan-rekan dosen, yang grade komposisinya tinggi, mengajar komposisi diantaranya Hajizar, Hanefi, Elizar Koto, NedyWinuza,dan lain-lain.

Sejak S-1 ASKI dibuka hingga berubah menjadi STSI, dan kemudian ISI mata kuliah komposisi tetap diadakan.

Beberapa matakuliah ketika ASKI Jurusan Minangkabau filial ASKI Solo adalah Teori Musik dan Ilmu Bentuk dan Analisa (IBA). IBA diajarkan oleh bapak Dirwan Wakidi. Dengan mata kuliah IBA ini, sebenarnya sudah cukup kuat dan bisa dipakai untuk memahami komposisi secara kaidah musik Barat. Sebab, di Barat ada komposisi dan ada aransemen karena dalam IBA ada aplikasi tentang hal ini. Generasi awal ini cukup punya kesadaran untuk membedakan komposisi dan aransemen.

clxvi

Setelah Jurusan Minangkabau berubah menjadi Jurusan Karawitan dan Tari, mata kuliah IBA dihapuskan, namun teori musik tetap ada. Tetapi, tingkat keseriusan untuk teori musik mulai memudar. Setelah berubah menjadi program D-3 pemahaman akan teori musik semakin kurang. Walaupun sudah diberikan pemahaman akan pentingnya teori musik. Mata kuliah teori musik tetap diajarkan sejak dari jurusan ASKI filial, ASKI, STSI hingga ISI Padangpanjang. Jumlah sks-nya bervariasi tergantung hasil konsorsium seni. Mata kuliah IBA sama sekali tidak muncul dan sudah tidak dipelajari lagi.

Ketika mulai S-1, muncullah mata kuliah Transkripsi Analisis. Ini sebenarnya sebuah semangat etno musikologi. Menurut prinsip ilmu etnomusikologi, tanpa bisa mentrasnskripsi dan menganalisis musik tidak ada artinya sebagai seorang sarjana musik. Seiring dengan adanya mata kuliah Transkripsi Analisis muncul pula mata kuliah komposisi karawitan.

Sebenarnya, ketika semangat Pekan Komponis dan IKI muncul, persoalan komposisi sudah mulai tidak merujuk kepada pemahaman dan pengertian menurut konvensi Barat. Sebab waktu itu, yang penting sudah membuat sebuah garapan musik baru maka itu sudah dianggap komposisi. Bahkan tidak disebutkan, ini komposisi karawitan dan itu komposisi Barat. Sebab komposer ada yang menggabungkan musik tradisi dan Barat. Yoesbar Djaelani mengikuti Pekan Komponis I tahun 1979 dengan judul karya Tanya Tak Terjawab. Franky Raden dengan Dilarang Bertepuk Tangan Dalam Toilet. Waktu itu, materi musik, teknik komposisi, dan sumber-sumber komposisi tidaklah menjadi kategori yang penting.

Dalam musik Barat ada istilah musik murni yang tidak mementingkan skenario tertentu. Contoh dalam Rombok Sijobang, idenya dari Sijobang Hajizar tidak membuat suatu alur tertentu tetapi hanya merimbunkan (rombok) sehingga tampilannya menjadi baru. Ada juga yang punya gagasan atau sumber ide yang kemudian dieksplorasi dengan menggunakan instrumen yang ada sehingga ide-ide tersebut terdukung.

Dulu, istilah kontemporer belum muncul. Karya eksploratif yang ekstrim banyak muncul dari ASKI Solo. Misalnya, gong diseret sehingga memunculkan bunyi tertentu maka itulah yang diolah menjadi bentuk baru. Biasanya mereka keluar dari konvensi yang ada. Cukup banyak komposer yang berkarya dengan cara eksplorasi seperti ini yang dipelopori oleh seniman Solo.

Tetapi, banyak garapan komposer waktu itu hanya merangkai materi-materi (lagu) yang sudah ada dari sumber yang bermacam-macam menjadi satu kesatuan dan dianggap sebagai karya komposisi musik. Rangkaian itu didukung dengan eksplorasi dari musik tradisional. Prinsipnya adalah menyambungkan dua atau lebih materi dengan prinsip “yang penting bisa ‘ masuk’/nyambung”. Hasil dari sambungan-sambungan itu dianggap sebuah komposisi musik. Di sinilah mulai timbul kontradiksi pemahaman tentang komposisi dan aransemen. Selama proses berkarya dan dalam kuliah komposisi, persoalan ini tidak pernah dihubungkan dengan aransemen. Jadi seolah-olah di jurusan karawitan tidak mengenal aransemen.

Hajizar sendiri sangat ingin mendudukkan persoalan pemahaman komposisi dan aransemen.Hajizar menuturkan, “Walupun ini kita angkat sebagai

clxviii

topik pembicaraan di karawitan, mereka cuek saja. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri, demikian Hajizar mengungkapkan kekecewaannya”.

Praktek berkarya seperti di atas berlaku secara Nusantara. “Pekan komponis seperti itu; festival IKI juga seperti itu. Kecuali ada peserta dari orang musik Barat, kalau tidak, ya, akan tetap begitu-begitu saja”, demikian ungkap Hajizar.

Suatu waktu Elizar Koto pernah menampilkan karyanya di Jerman. Setelah penampilan karya tersebut, penonton dimintai pendapat tentang karya musik yang sudah disimaknya. Satu orang menjawab, bahwa dirinya tidak menemukan bentuk dari karya tersebut. Karya itu mengalir begitu saja, saling bersambungan dengan banyak ide-ide musikal yang bermacam-macam sehingga sulit ditemukan mana tema utamanya, dan...tiba-tiba selesai. Demikian tanggapan penonton. Akhirnya, menurut penuturan Hajizar, Elizar mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga tentang mana yang komposisi, mana yang aransemen, dan mana yang medley.

Suka Hardjana dan Franky Raden mengkategorikan musik-musik seperti yang ada dalam Pekan Komponis dan IKI ini sebagai musik kontemporer versi Indonesia. Dieter Mack menyebut musik tersebut sebagai musik baru. Penulis berpendapat, dari persoalan konsep berkarya yang ada dalam Pekan Komponis dan IKI tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa bagi komponis-komponis tersebut rasa lebih penting dari pada bentuk.