BAB III KARAWITAN MINANGKABAU DAN JURUSAN KARAWITAN
3.9 Mata Kuliah Musik Barat di Jurusan Karawitan ISI
mata kuliah yang berhubungan dengan musik Barat yang (pernah) diberikan di Jurusan Karawitan ISI Padangpanjang adalah Teori Musik, Solfegio, Harmoni, Piano, dan Transkripsi Analisis. Latar belakang pendidikan Hafif adalah musik Barat. Ia seorang pemain horn. Hafif mengajar di Jurusan Karawitan ISI Padangpanjang sejak tahun 2005.
Sejak tahun 2010 mata kuliah Teori Musik diberikan selama tiga semester.
Teori Musik I berhubungan dengan dasar-dasar pengetahuan musik dan sistem notasi. Teori Musik II berhubungan dengan tangga nada dan triad. Agak sedikit unik, ternyata Teori Musik III yang berhubungan dengan harmoni hanya diperuntukkan bagi mahasiswa bidang Pengkajian sedangkan mahasiswa bidang komposisi mendapatkan Teori Musik I dan II. Hal ini sangat disayangkan oleh Hafif. Ia berharap Teori musik I sampai III diajarkan kepada mahasiswa bidang penciptaan musik. Lebih disayangkan lagi, sekarang Teori Musik hanya dipelajari selama satu semester saja.
Menurut Hafif, pengetahuan dasar musik yang didapatkan dari perkuliahan Teori Musik sangat membantu mahasiswa Karawitan ketika mereka menggarap karya musik. Bahkan terlihat kecenderungan yang makin meningkat di kalangan
clxxxvi
mahasiswa Karawitan dalam menggarap musik dengan menggunakan sistem harmoni serta instrumentasi Barat konvensional.
BAB IV
IDIOM MUSIKAL MINANGKABAU DALAM KOMPOSISI KARAWITAN INSTITUT SENI INDONESIA PADANGPANJANG
Penulis membahas dua karya musik dari dua orang komposer. Karya pertama berjudul Galodo Saluang Panjang yang merupakan karya dari Siswandi (2004) dan karya kedua berjudul Bagaluik Di Nan Batingkah karya dari Betmon Oktivi Paulin (2011). Komposisi Galodo Saluang Panjang dianilisis lebih mendalam untuk menemukan dan membuktikan adanya adaptasi terhadap musik Barat. Analisis terhadap komposisi Bagaluik Di Nan Batingkah dilakukan sebagai pembanding untuk membuktikan, bahwa setelah Siswandi ada mahasiswa lain yang berkarya dengan konsep yang relatif sama bahkan fenomena ini memiliki kecenderungan yang terus meningkat hingga saat ini.
Analisis terhadap kedua karya ini lebih ditujukan untuk mengetahui hal-hal apa saja dari elemen, struktur, dan instrumen musik Barat yang digunakan dalamkomposisi musik yang berangkat dari idiom musikal Minangkabau. Hal ini penting dilakukan dalam penelitian ini agar dapat diketahui secara lebih detail tentang konsep komposisi musik yang meliputi terminologi komposisi, komposer, arrangement, dan arranger serta penggunaan elemen, instrumen, dan struktur dari musik Barat sehingga dapat dipahami sebagai sebuah adaptasi musikal.
Komposisi Galodo Saluang Panjang ini merupakan karya Tugas Akhir yang cukup fenomenal di masanya, tahun 2004. Siswandi mesti berhadapan dengan tudingan-tudingan miring sebagai kebarat-baratan karena komposisinya menggunakan alat-alat musik Barat. Berikut ini kutipan tulisan dari sebuah surat
clxxxviii
kabar Sumatera Barat yang menggambarkan situasi dan kondisi ketika karya Siswandi menjadi bahan perbincangan, khususnya di kampus STSI Padangpanjang:
...Baik Siswandi maupun Yunaidi, S.Sn, M.Sn, tidak mengalami kendala dalam mentransformasikan ide-idenya kepada para musisi yang berlatar belakang musik Barat. Dengan atau tanpa notasi Barat karya ini berhasil dipergelarkan dengan baik. Digunakan atau tidak, notasi musik Barat jangan dijadikan penghalang untuk mentransformasikan ide-ide dari/oleh komposer yang berlatar belakang musik tradisional ke musisi yang berlatar belakang musik Barat. Apalagi membuat dikotomi antara musik Barat dan Tradisional (Timur) hanya dengan alasan digunakan atau tidaknya notasi musik (Barat).
Notasi merupakan catatan di mana ide-ide seorang komposer tertuang. Selain sebagai sebuah dokumen juga untuk lebih memudahkan mengingat elemen-elemen karyanya. Bagi pemain, notasi merupakan panduan belaka, yang jika sudah hafal boleh tidak digunakan. Notasi musik sebagai sarana, tidak pernah punya peranan menentukan arah musik. Dia tidak lebih dari tulisan steno, sejak zaman “neume” di abad ke-8, sampai notasi grafik yang seperti lukisan abstrak. Maka terlalu berlebihan kalau tulis menulis musik dianggap unsur penting dari Barat.
Beberapa mahasiswa yang berlatar belakang musik Tradisional (Karawitan) mengeluh lesu ketika karya musiknya dinilai sebagai sebuah karya musik “Barat” karena komposer menggunakan notasi musik Barat, instrumen Barat, orkestra(?), dan harmoni Barat(?). Timbul sebuah problem. Ada apa dengan musik Barat dan konsep musik Barat? Apakah mengolah komposisi musik dengan menggunakan instrumen musik Barat harus serta merta menggunakan sistem harmoni Barat?...148
...Sebenarnya kita sudah cukup banyak “membaratkan”
instrumen-instrumen tradisional kita (Minangkabau), seperti penalaan talempong dengan sistem diatonis dan penalaan saluang atau bansi dengan bantuan chromatic tuner, dan penggunaan sistem harmoni akor dalam permainan Talempong (-Goyang). Kita tidak lagi mengandalkan (percaya diri) kemampuan alamiah indera pendengaran dalam penalaan talempong, saluang, bansi, dsb. lalu kenapa mesti “alergi” dengan semua yang berbau musik Barat? Jati diri budaya kita tidak akan hilang hanya karena lagu kebangsaan kita Indonesia Raya dibuat menurut estetika musik Barat.
Bahkan sebaliknya lagu tersebut dapat mempersatukan kita dalam semangat nasionalisme yang kuat. Alasan apa lagi untuk “alergi” dengan musik Barat?...149
148 Erizon Koto, 2005. “Tarik Ulur Musik Tradisi dan Barat: Konsep Berkarya Lintas Disiplin Ilmu Musik di STSI Padangpanjang ”, bagian ke-1 dari 2 bagian. Padang Ekspres, Edisi Minggu, 09 Januari. Hal. 22.
149Ibid. bagian ke-2 dari 2 bagian. Edisi Minggu, 16 Januari 2005.
Sehubungan dengan tulisan di atas, Siswandi pun pernah mengutarakan keluh kesahnya kepada penulis, karena karya musik untuk Tugas Akhir-nya ini dipermasalahkan oleh dosen pembimbingnya sebagai karya musik yang tidak Minangkabau lagi. Bahkan hampir saja ia mengganti karya itu dengan komposisi lain agar bisa cepat menyelesaikan kuliah. Beberapa teman memberi dukungan moril dan membantu Siswandi agar ia tetap bersemangat mempertahankan Tugas Akhir-nya ini.
Sebuah tantangan bagi penulis, bahwa dokumentasi dari karya Siswandi sulit didapatkan. Penulis tidak menyangka akan terkendala dalam memperoleh laporan karya komposisi Galodo Saluang Panjang ini, karena penulis menyangka Siswandi masih menyimpannya. Ternyata, ketika penulis menghubungi Siswandi via telepon untuk meminjam laporan karyanya yang berisi notasi musik Galodo Saluang Panjang, Siswandi dengan sangat menyesal mengatakan bahwa dirnya tidak lagi menyimpan laporan karya itu bahkan juga beserta rekaman audio visualnya. Benda-benda itu sudah tidak ada sejak setelah Siswandi pulang ke kampung (Padang Aro, Solok Selatan) setelah menyelesaikan studi di STSI Padangpanjang. Penulis sedikit kecewa, bagaimana mungkin seorang pemilik karya musik tidak lagi menyimpan notasi karya musiknya sendiri? Penulis berharap masih bisa mendapatkan laporan tersebut dari perpustakaan ISI Padangpanjang. Penulis meminta bantuan seorang teman untuk mencarikan laporan karya tersebut. Untuk kedua kalinya penulis merasa sangat gusar, karena di perpustakaan ISI Padangpanjang dan perpustakaan Jurusan Karawitan juga tidak lagi ditemukan laporan tersebut. Penulis sudah menunggu-nunggu hampir
cxc
satu bulan untuk bisa mendapatkannya. Akhirnya, penulis mohon kepada salah seorang dosen Karawitan untuk membantu mencarikan lagi laporan karya Siswandi tersebut. Dia mencarinya sejak pagi di gudang arsip Jurusan Karawitan.
Menjelang salat Jumat (kebetulan hari Jumat) penulis, di Medan, mendapat panggilan telepon dari dosen tersebut, bahwa ia telah menemukan laporan karya yang dimaksud. Penulis merasa lega. Tinggal menunggu laporan itu dikirmkan via pos kepada penulis di Medan. Namun, rekaman audio visualnya sampai sekarang belum bisa ditemukan.
Penulis bersyukur, masih bisa mendapatkan notasi musik dari komposisi Galodo Saluang Panjang. Penulis merasa beruntung karena notasi yang digunakan oleh Siswandi untuk mendokumentasikan karyanya tersebut adalah notasi musik konvensional sehingga sangat membantu penulis dalam menganalisis karya musik tersebut. Notasi tersebut ditulis dengan komputer menggunakan perangkat lunak encore. Perangkat lunak encore ini lazim digunakan oleh mahasiswa jurusan musik dan karawitan di STSI Padangpanjang pada masa itu.
Ide musikal Galodo Saluang Panjang ini berangkat dari kesenian saluang panjang dan dendang yang berasal dari Muara Labuh Kabupaten Solok Selatan Sumatera Barat. Siswandi menggunakan sebuah dendang (lagu) yang berjudul Duo-Duo sebagai ide utama materi komposisinya150
150 Siswandi, 2004. “Galodo Saluang Panjang”: Laporan Karya Seni. Hal. 6.
. Selanjutnya, Siswandi menyatakan keinginannya untuk menggarap kembali kesenian saluang panjang menjadi sebuah komposisi baru.
Keinginan Siswandi untuk melakukan sebuah usaha kreatif dan inovatif dalam karyanya adalah dalam rangka usaha pelestarian dan pengembangan kesenian saluang panjang. Demikianlah yang dapat disimpulkan dari laporan karyanya. Siswandi menggunakan pendapat dari Johanes Mardimin sebagai dasar pemikirannya dalam mengangkat kesenian tradsional berupa lagu yang berjudul Duo-Duo menjadi sebuah komposisi musik baru. Pendapat Johanes Mardimin dalam tulisan Triyono Bramantyo “Revitalisasi Musik Tradisi dan Masa Depannya”, sebagai berikut:
“seni tradisi bukanlah benda mati. Seni tradisi secara kronologis selalu berubah untuk mencapai tahap mantap menurut tata nilai hidup pada zamannya. Dengan demikian seniman dituntut untuk selalu pandai menyesuaikan diri. Pelestarian kesenian tradisi tidak mempunyai keharusan mempertahankan seperti semula. Perubahan sebagai arahan tidak berarti merombak, melainkan membenahi salah satu atau beberapa yang dirasa tidak memenuhi selera masa kini”.
Analisis yang dilakukan terhadap komposisi Galodo Saluang Panjang meliputi motif, melodi, instrumentasi, harmoni, dan tekstur. Deskripsi analisis ini menggunakan notasi musik, angka-angka, grafik-grafik, dan keterangan-keterangan agar lebih mudah dipahami.
4.1. Lagu Duo-Duo dalam Komposisi Galodo Saluang Panjang
Lagu Duo-Duo merupakan ide dasar dari komposisi Galodo Saluang Panjang. Lagu tersebut disajikan secara utuh dalam Galodo Saluang Panjang.
Selanjutnya, dari lagu Duo-Duo dianalisis unsur-unsur sebagai berikut: 1) tangga nada, 2) modus, 3) nada dasar, 4) wilayah nada, 5) interval, 6) pola kadens, 7)
cxcii
formula melodi, 8) bentuk, 9) tema, 10) teks dan musik, 11) kontur, dan 12) meter.
Berikut notasi melodi lagu Duo-Duo yang penulis peroleh dari karya Galodo Saluang Panjang dalam laporan karya Siswandi:
Gambar 23. Notasi Vokal Lagu Duo Duo.
4.1.1. Analisis tangga nada
Nada-nada yang dipakai dalam lagu Duo-Duo berdasarkan urutan nada-nada yang muncul dalam lagu adalah: F—C—E—D—G.Dengan demikian tangga nada ini disebut Pentatonickarena tersusun atas lima buah nada. Tangga nada pentatonik terdiri dari lima nada, tetapi tidak semua tangga nada yang berjumlah lima nada bisa dikatakan pentatonik. Susunan interval dalam sebuah tangga nada
sangat menentukan penggolongan tangga nada tersebut ke dalam diatonis atau non diatonis.
Jika lima buah nada tersebut disusun berdasarkan nada terendah ke nada yang lebih tinggi maka akan didapatkan deretan nada sebagai berikut: G—C—
D—E—F. Jika diamati berdasarkan konsep tetrachord, makatangga nada yang digunakan dalam lagu Duo-Duo adalah sebagai berikut:
Gambar 24. Notasi Tetrakord Lagu Duo Duo.
Jika nada-nada disusun berdasarkan urutan tangga nada (scalic) yang berpusat pada nada C maka didapatkan susunan sebagai berikut:
Gambar 25. Dua Tetrakord Berhimpitan.
Jika tangga nada di atas penulis bandingkan dengan tetrachord diatonis, maka dapat disimpulkan bahwa tangga nada yang digunakan dalam lagu Duo-Duo adalah mengandung unsur tetrachord diatonis. Empat buah nada (C-D-E-F) memenuhi kriteria diatonis, yaitu kombinasi dari dua interval tonos dan satu semi tonos. Interval C-D = tonos, D-E = tonos, dan E-F = semi tonos.
cxciv
4.1.2. Analisis modus
Kekerapan munculnya nada-nada tertentu dalam sebuah lagu disebut sebagai modus. Modus yang terdapat dalam lagu Duo-Duo adalah G=4, C=31, D=2, E=18, F=10. Modus lagu Duo-Duo disusun berdasarkan kekerapan nada yang paling tinggi hingga terendah yang disimbolkan dengan lambang waktu relatif (notasi waktu). Not penuh digunakan sebagai simbol untuk menegaskan nada yang memiliki kekerapan yang paling tinggi disusul dengan not setengah, seperempat, seperdelapan, dan seperenambelas yang menegaskan nada dengan kekerapan yang semakin rendah. Kekerapan nada yang muncul dalam lagu Duo-Duo dapat diamati dari notasi berikut:
Gambar 26. Notasi Analisis Modus.
4.1.3. Analisis nada dasar
Tabel 1.
Kuantitas Nada Lagu Duo-Duo
Frase
Nada-nada yang dipakai
Jlh % G g' C c' D d' E e' F f'
A 2 0 16 0 1 0 9 0 5 0 33 45,5
A' 2 0 15 0 1 0 9 0 5 0 32 54,5
Jlh 4 0 31 0 2 0 18 0 10 0 65 100
Berdasarkan tujuh metode Nettl dalam menentukan nada dasar, maka nada dasar untuk lagu Duo-Duo adalah:
1. Nada yang paling sering dipakai Frase A:
Gambar 27. Notasi Nada Yang Sering Dipakai Pada Frase A.
cxcvi
Frase A':
Gambar 28. Notasi Nada Yang Sering Dipakai Pada Frase A'.
Nada yang paling sering dipakai adalah nada C yaitu 31kali. Nada C enam belas kali muncul dalam baris sampiran pantun. Lima belas kali dalam baris isi pantun. Berikut ini notasi musik lagu Duo-Duo frase A (sampiran pantun) dan frase A' (isi pantun) dengan nada-nada C (dalam kotak) yang ditandai urutan kemunculannya dengan angka.
2. Nada yang nilai durasinya paling besar adalah nada C dengan nilai waktu relatif 3/4:
Gambar 29. Notasi Nada Berdurasi Paling Besar.
3. Nada akhir, tengah, atau awal komposisi yaitu nada C-E-G:
Gambar 30. Notasi nada awal, tengah, dan akhir.
4. Nada paling rendah atau tepat di tengah yaitu nada G-C:
Gambar 31. Notasi Nada Paling Rendah dan Tepat di Tangah
5. Nada yang berada pada posisi oktaf yaitu nihil
6. Nada dengan tekanan ritmis paling kuat yaitu nada F-E-C
cxcviii
Gambar 32. Notasi Nada dengan Ritme Paling Kuat
7. Nada yang memberikan kesan bahwa lagu telah berakhir
Gambar 33. Notasi Nada Akhir