• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 HASIL PENELITIAN

4.3. Analisis dan Interpretasi Hasil Penelitian

4.3.1. Akurat

Keakuratan informasi sangatlah penting untuk diperhatikan dalam melakukan pengawasan. Ketidakakuratan data dapat menyebabkan kesalahan baik dalam menarik kesimpulan maupun juga tindakan yang akan dilakukan dalam mengawasi. Pengujian keakuratan data atau informasi merupakan suatu tugas penting yang harus dikerjakan untuk mendapatkan pengawasan yang efektif. Disnakertrans sendiri dalam melakukan pengawasan terhadap pekerja anak di Kota Serang sampai saat ini berusaha untuk mendapatkan data dan informasi yang akurat mengenai jenis pekerjaan dan ancaman maupun pekerjaan terburuk yang dihadapi oleh anak yang terlibat pada dunia kerja.

Tanpa adanya data pasti dan akurat terkait pekerja anak yang ada di Kota Serang, tentu sulit untuk melakukan pengawasan secara efektif kepada para pekerja anak. Hal ini dikarenakan keberadaan pekerja anak dan permasalahan yang terjadi masih belum diketahui secara pasti. Di wilayah Kota Serang, Disnakertrans menyampaikan bahwa pekerja anak di Kota Serang ini secara kasat mata tidak terlihat keberadaannya, meski tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan pekerja anak di lapangan nyatanya memang ada. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Seksi Norma Pekerja Perempuan dan Anak :

“Di Kota Serang sendiri secara kasat mata tidak dilihat adanya pekerja anak yang terlibat dalam Bentuk Pekerjaan Terburuk Anak, meski mungkin di lapangan bisa saja ada.” (Wawancara dengan Ibu Uswatun, 20 November 2014, pukul 09.40 WIB di Kantor Disnakertrans)

Salah satu kesulitan yang disampaikan oleh Disnakertrans untuk menemukan pekerja anak di Kota Serang dan informasi-informasi terkait pekerja anak selain tidak terlihat secara kasat mata adalah karena beberapa pekerja anak yang ada memang bukanlah anak-anak yang berasal dari Kota Serang. Hal ini membuat pihak Disnakertrans mempertimbangkan lebih jauh dalam melakukan tindakan terhadap para pekerja anak yang ada karena memang keluarga dari pekerja anak juga tidak tinggal di wilayah Kota Serang, seperti yang diungkapkan oleh I1-2:

“Kalau berdasarkan informasi dari data memang di Kota Serang malah dianggap tidak ada, meski sebenarnya di lapangan secara realita ada pekerja anak di Kota Serang, namun ya memang bukan juga dibilang masyarakat Kota Serang, karena banyak rata-rata dari mereka memang pendatang dan bukan asli Kota Serang, ada yang dari Baros, ada yang dari Ciruas. Karena memang disini ada home industry yang memang bisa

menyerap lapangan pekerjaan.” (Wawancara dengan Bapak Ruli Riatno,

ST, M.Si, 23 April 2015, pukul 08.15 WIB, di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Serang)

Setelah dikonfirmasi dengan pihak pabrik yang mempekerjakan pekerja anak, diketahui bahwa para pekerja anak yang ada di tempat kerjanya memang hampir jauh lebih banyak berasal dari wilayah lain di luar Kota Serang. Pemilik pabrik juga menyatakan bahwa hanya sekitar 30 persen pekerja di tempatnya yang memang berasal dari kampung tempat pabrik tersebut beroperasi. Hal ini dikemukakan sebagai berikut:

“Kalo untuk pekerja yang bekerja dan berasal dari wilayah kampung sini itu paling sekitar 30 persen, sisanya ada yang dari kampung-kampung

lain.” (Wawancara dengan Bapak JN, Pemilik Pabrik, di Pabrik Kue, 23

Pekerjaan yang dikerjakan oleh rata-rata pekerja anak dalam data dan pengawasan Disnakertrans sebenarnya memang bekerja dalam kadar jenis pekerjaan ringan, dimana rata-rata dari mereka bekerja menyusun kue. Namun tak dapat dipungkiri bahwa meski pekerjaan ini ringan, anak-anak telah menghadapi pekerjaan yang menyita waktu mereka dan mengakibatkan mereka tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan sebagai bekal mereka bagi masa depan, seperti apa yang diungkapkan oleh I2-7 yang merupakan pekerja anak di Kota Serang:

“Kerjanya nyusun kue-kue kering, biasanya datang sekitar jam 8 pagi trus

pulang jam 4 sore.” (Wawancara dengan Pekerja Anak, AN, Pabrik kue, 23 April 2015, pukul 15.30 WIB)

Hal tersebut juga disampaikan oleh I2-8:

“Ya bikin kue. Biasanya kerja dari rumah jam 6, ada jemputan. Jadi kalau sudah sampe ya langsung masuk kerja, tidak ada jam yang tetap.” (Wawancara dengan Pekerja Anak, NR, Pabrik kue, 23 April 2015, pukul 15.45 WIB)

Data yang dimiliki oleh Disnakertrans menyatakan bahwa ada sekitar 73 pekerja anak di Kota Serang, dimana mereka adalah yang bekerja di pabrik roti dan masuk dalam pekerjaan ringan. Beberapa dari mereka merupakan anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu, sehingga harus putus sekolah dan bekerja demi membantu ekonomi keluarga, seperti juga yang disampaikan oleh I 2-1:

“Kalo di pabrik B banyak yang masih usia anak sudah bekerja. Biasanya

mulai mereka SD kelas 5 juga sudah mulai pada bekerja, atau juga

kisaran usia SMP.”(Wawancara dengan Ibu SR, Ketua RT 08, pukul

Selain dari anak-anak yang didata oleh Disnakertrans, masyarakat menyampaikan bahwa pekerja anak di Kota Serang bukan hanya mereka yang terlibat dalam pekerjaan ringan dan bekerja di pabrik roti, tapi beberapa pekerja anak juga terlibat dalam dunia kerja konstruksi ataupun pekerjaan informan lainnya, dimana pekerjaan mereka bersifat serabutan. Hal ini disampaikan I2-2:

“Biasanya kalau anak sini berhenti sekolahnya paling di jenjang SMP, ada juga yang kadang abis SMP ya udah langsung nikah. Kalau misalnya yang cowo baru biasanya langsung pada kerja, entah serabutan atau kerjaan lainnya.” (Wawancara dengan Ibu JJ, Ketua RT 03, 23 April 2015 pukul 16.15 WIB di Karundang)

Mereka yang terlibat dalam dunia kerja sejak usia sekolah memang rata-rata memutuskan bekerja karena faktor ekonomi dimana mereka rata-rata-rata-rata putus sekolah di tingkat pendidikan SMP. Jumlah anak-anak yang putus sekolah di beberapa wilayah Kota Serang juga cukup mencengangkan, salah satunya adalah di wilayah Taktakan dimana sekitar 20 persen dari anak di wilayah tersebut tidak bersekolah, entah mereka yang bersekolah hanya sampai SD maupun mereka yang bahkan tidak lulus SD, seperti apa yang disampaikan oleh I2-9:

“Berdasarkan survei kita di lapangan dari masyarakat binaan kami, di daerah Taktakan sendiri banyak yang anak usia sekolah dan bekerja, dimana dalam masa keemasan mereka yang seharusnya dikembangkan fisik, mental, sosial dan intelektualnya tetapi mereka tidak bersekolah. Ada mereka yang bersekolahnya hanya sampai SD saja, ada juga yang bahkan SD saja juga tidak lulus, misalnya hanya sampai kelas 4 SD. Kemudian juga ada yang tidak sekolah sampai ke SMA, artinya hanya sampai lulus SMP dan tidak melanjutkan, ada juga yang kelas 2 SMP dan kemudian berhenti dan ini jumlahnya cukup banyak, bisa mencapai 50 orang dalam wadah binaan kita, dimana yang kita bina sekitar 100-200 anak. Artinya, sekitar dari 20% masyarakat Taktakan itu memiliki anak

yang tidak bersekolah.”(Wawancara dengan Badrudin, Pendamping PKH, 24 Februari 2015, RM Surabayan, pukul 11.40 WIB)

Melihat kondisi ini, tentunya dapat kita pastikan bahwa pekerja anak yang ada di Kota Serang tidak hanya mereka yang terdata oleh Disnakertrans bekerja di pabrik, tapi juga mereka yang terpaksa terlibat dalam dunia kerja karena berbagai faktor dan juga bekerja di berbagai sektor pekerjaan termasuk sektor informal yang bisa saja membahayakan fisik, mental, maupun intelektualnya. Sampai saat ini upaya yang dilakukan oleh Disnakertrans dalam memperlengkapi data pekerja anak yang ada adalah dengan melakukan pendataan langsung ke perusahaan maupun pabrik yang ada di Kota Serang. Hal ini disampaikan oleh I1-4:

“Kalau kemarin kebetulan ada program dari pembinaan untuk pendataan pekerja anak. Jadi disitu kita sekaligus cek ke lapangan dan

perusahaannya.”(Wawancara dengan Bapak Joyo, Pengawas

Ketenagakerjaan, 23 April 2015 , Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Serang, pukul 08.40 WIB)

Pendataan ke pihak perusahaan saja tidak cukup, mengingat juga bahwa beberapa perusahaan tidak secara terbuka memberitahu keberadaan pekerja anak di tempat kerjanya, sehingga upaya yang dilakukan Disnakertrans mengatasi hal ini adalah dengan bekerja sama bersama masyarakat sekitar dengan memberikan sosialisasi kepada pihak masyarakat mengenai pekerja anak dan bahayanya. Harapannya ialah bahwa melalui sosialisasi ini, masyarakat bisa memahami dampak berbahaya yang ditimbulkan bagi pekerja anak, dan masyarakat ke depan bisa aktif dan turut serta membantu program pengurangan pekerja anak yang dicanangkan pemerintah. Hal ini disampaikan oleh I1-1:

“Sosialisasi penghapusan BPTA merupakan bentuk pertanggungjawaban

Serang. Sosialisasi yang ada diharapkan jadi momentum untuk mencegah dan menanggulangi pekerja anak di Kota Serang. Tentunya keterlibatan pihak lain sangat membantu tujuan dan harapan pemerintah, mulai dari keluarga, pengusaha dan pemerintah untuk sama-sama memastikan

anak-anak tidak terlibat dalam dunia pekerjaan.”(Wawancara dengan Bapak

DR. H. Toha, M.Pd., Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Serang, 24 Februari 2015, pukul 09.30 WIB, RM Surabayan)

Masyarakat bersama para tokoh masyarakat memegang kunci utama dalam membantu pemerintah mengatasi persoalan pekerja anak ini karena pekerja anak beraktivitas di lingkungan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Setiap faktor yang menyebabkan mereka bekerja dan pihak yang berkapasitas untuk mengawasi pekerjaan mereka dengan lebih terperinci adalah masyarakat lingkungan di sekitar tempat mereka bekerja ataupun tinggal.

Selain kondisi pekerja anak, masyarakat juga memiliki informasi yang lebih jelas mengenai kondisi pabrik atau tempat usaha yang mempekerjakan pekerja anak. Meski demikian, tidak mudah untuk bisa mendapatkan informasi terkait tempat usaha yang mempekerjakan pekerja anak. Beberapa pabrik tempat pekerja anak memang sifatnya tertutup terhadap masyarakat sekitar dan tidak terbuka, sehingga masyarakat sekitarpun sulit untuk mengetahui kondisi pekerja anak di tempat kerja tersebut, seperti apa yang disampaikan oleh I2-1:

“Pabriknya juga masih bingung antara masuk wilayah RT ini atau RT lain

karena sampai saat ini tidak ada data yang jelas dari pihak pabrik roti. Soalnya memang sedang bermasalah sampai saat ini antara masuk RT sini atau RT lain karena memang juga tidak pernah melaporkan ke RT. Sampai saat ini dari pihak RT juga ga kunjungan kesana dan pihak pabrik juga tidak datang untuk lapor dan ijin. Mungkin juga karena RT ini pemekaran jadi masih beberapa warga belum daftar.”(Wawancara dengan Ibu SR, Ketua RT 08, Kelurahan Unyur, pukul 13.15 WIB)

Disnakertrans sebagai perwakilan pemerintah yang bertugas menangani persoalan pekerja anak tentunya harus secara terbuka bekerjasama dalam memastikan keberadaan dan kondisi pekerja anak. Tidak bisa Disnakertrans hanya terpaku pada perusahaan, tapi juga penting memvalidasi data dengan mencari informasi yang akurat dan sesuai kenyataan di lapangan. Ketika dikonfirmasi dengan pihak ketua RT di lingkungan pabrik pekerja anak, diketahui bahwa masyarakat belum dilibatkan secara aktif dan diberi tanggung jawab oleh Disnakertrans untuk sama-sama mengawasi persoalan pekerja anak ini. Hal ini yang disampaikan oleh I2-2:

“Dari orang dinas juga kemarin ada yang datang dan cariin pabriknya tapi ya memang pas tidak ada pemiliknya. Biasanya yang punya suka maunya ditipin pesan lewat ibu saja, tapi ya kan orang dinasnya mau ketemu langsung tetap sama yang punya pabriknya. Jadi ibu kurang tau juga pihak dari dinasnya mau ngapain, jadi ya saya tunjukin aja tempat

baru pabriknya dan mereka kesana.” (Wawancara dengan Ibu JJ, Ketua

RT 03, 23 April 2015 pukul 16.15 WIB, wilayah Karundang)

Pengetahuan masyarakat menjadi penting untuk bisa menanamkan kesadaran dan pemahaman baru untuk bisa memperhatikan dan turut serta mengawasi para pekerja anak yang ada sehingga kemudian memberikan informasi kepada Disnakertrans untuk bisa ditangani lebih lanjut. Sebab tanpa informasi serta data akurat dan terkini, maka akan sulit sekali bagi Disnakertrans memetakan persoalan pekerja anak ini dan menemukan solusi tepat bagi permasalahan pekerja anak. Hal ini yang juga dikemukakan oleh I1-2:

“Masyarakat sekitar lingkungan pekerja anak, mempunyai kapasitas lebih dalam mendekatkan diri kepada pekerja anak, membina dan memberi nasehat untuk mereka yang bekerja agar kembali ke sekolah kepada

mereka yang bekerja dengan alasan apapun.”(Wawancara dengan Ruli Riatno, ST, M.Si., Kepala Bidang Pembinaan dan Pengawasan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Serang, 23 April 2015, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Serang, pukul 08.15 WIB)

Data pekerja anak ini memang merupakan data yang sangat sulit didapat dengan tepat, mengingat bahwa hampir rata-rata pekerja anak yang bekerja di pabrik tidak bekerja dengan hari kerja yang tetap setiap minggunya. Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa pekerja anak rata-rata memilih bekerja meski umur mereka masih belum mencukupi standar usia orang bekerja karena mereka putus sekolah. Selain itu, beberapa pekerja anak dalam pekerjaannya juga tidak memiliki kewajiban tetap untuk masuk setiap hari kerja di pabrik tempat mereka bekerja. Hal ini membuat para pekerja anak juga merasa bekerja tidak menjadi kewajiban yang mengikat, berbeda dengan sekolah yang mewajibkan kehadirannya setiap hari. Hal ini yang diungkapkan oleh pemilik pabrik (I2-6):

“Sampai saat ini pekerja juga beda-beda orangnya, seperti di absen ada

100 orang pekerja, tapi yang datang suka hanya 50an orang, jadi ya memang kalau dia mau masuk ya masuk, kalau tidak ya tidak apa-apa. Memang beda aturan disini tidak seperti perusahaan.”(Wawancara dengan Bapak JN, Pemilik Pabrik, Pabrik Kue, 23 April 2015 pukul 14.20 WIB)

Dari pemaparan-pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Serang sampai saat ini belum memiliki data yang akurat terkait pekerja anak di wilayah Kota Serang. Pekerja anak yang ada masih banyak bekerja secara serabutan sehingga sulit untuk terdata. Selain itu, beberapa pekerja anak yang berasal dari luar Kota Serang juga menimbulkan kesulitan bagi Disnakertrans dalam menentukan tindak lanjut yang tepat bagi

mereka. Masyarakat yang menjadi kunci dan mengenali kondisi nyata pekerja anak maupun pabrik juga masih banyak yang belum memahami persoalan dan program pengawasan pekerja anak. Kenyamanan anak dalam bekerja dan ketidaksadaran dampak negatif yang ditimbulkan kemudian masih menjadi persoalan yang membuat fenomena pekerja anak cukup sulit diatasi. Apalagi dengan belum adanya data yang akurat terkait jumlah pasti pekerja anak yang ada, menyebabkan pengawasan menjadi bias dan sulit bisa mengenai sasaran dengan tepat dan menyelesaikan permasalahan yang ada.