BAB 4 HASIL PENELITIAN
4.3. Analisis dan Interpretasi Hasil Penelitian
4.3.7. Objektif dan kompherensif
Informasi dalam suatu sistem pengendalian harus mudah dipahami dan dianggap objektif oleh individu yang menggunakannya. Makin objektif sistem pengendalian, makin besar kemungkinannya bahwa individu dengan sadar dan efektif dalam merespons informasi yang diterima, demikian pula sebaliknya. Sistem informasi yang sulit dipahami akan mengakibatkan bias yang tidak perlu dan kebingungan atau frustasi di antara para pegawai.
Pengawasan kepada perusahaan yang dilakukan oleh Disnakertrans dilaksanakan dengan perencanaan yang dibuat dalam rencana kerja setahun. Penetapan pengawasannya dilakukan berdasarkan apa yang diperintahkan oleh kepala dinas sebagai analisa atas perusahaan yang diprioritaskan untuk diadakan pengawasan. Pengawasan kepada perusahaan tertentu juga dilakukan ketika mendapatkan laporan dari masyarakat ketika ditemukan adanya indikasi penyimpangan yang dilakukan perusahaan, seperti yang dijelaskan oleh I1-4:
“Kalau kita mengawasi ke perusahaan itu ada namanya rencana kerja, masukan dari pimpinan atau yang diprioritaskan oleh pimpinan kemana, atau misalnya ada pengaduan dari masyarakat itu yang kita dahulukan.” (Wawancara dengan Bapak Joyo, Pengawas Ketenagakerjaan, 23 April 2015 , Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Serang, pukul 08.40 WIB)
Pemahaman akan sistem pengawasan sebagai landasan ketika melakukan pengawasan sangat penting agar tidak salah dan menyimpang ketika melakukan tindakan. Pengawas dari Disnakertrans sendiri masih kurang mengenali program dari bidangnya terkait tindak lanjut maupun pencegahan yang dilakukan seputar pekerja anak. Anggapan bahwa masalah kebijakan merupakan tugas dari bidang kepala, dan pengawas hanya bertugas mengawasi ke lapangan, mempelajari persoalan sesuai dasar hukum, dan menindaklanjuti ketika ada penyimpangan mempersempit pemahaman dari pengawas akan dunia pekerja anak dan cara efektif mengatasi pekerja anak itu sendiri, seperti yang diungkapkan oleh I1-4:
“Untuk masalah kebijakan sendiri itu biasanya yang tahu adalah bidang kepala dan bukan pengawas. Kalau untuk pengawas, saya lebih bertugas mengawasi ke lapangan langsung, mempelajari sesuai dengan dasar hukum yang ada dan menindaklanjuti jika terjadi penyimpangan. Kebetulan kalau kami di bidang pembinaan dan pengawasan itu ada 2
pengawas, saya dan bapak kepala bidang untuk mengawasi 512 perusahaan di Kota Serang. Dalam satu bulan itu 6 kunjungan perusahaan idealnya. Tapi ya kadang ada juga yang tertunda, jadi dimasukkan bulan berikutnya dalam pengawasannya. Kalau kesulitan untuk mengawasi ke perusahaan sejauh ini tidak ada, karena memang kan kita resmi punya surat untuk mengawasi, jadi jelas saya sudah kirim surat sebelum melakukan pengawasan.” (Wawancara dengan Bapak Joyo, Pengawas Ketenagakerjaan, 23 April 2015 , Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Serang, pukul 08.40 WIB)
Anggapan masyarakat yang muncul ialah bahwa belum objektifnya pengawasan yang dilakukan Disnakertrans terhadap permasalahan pekerja anak ini. Ada beberapa indikasi yang disampaikan sehingga munculnya pandangan belum objektifnya pengawasan yang dilakukan. Salah satunya ialah dilihat dari masih terpakunya data pekerja anak di Disnakertrans yang berasal dari pabrik yang mempekerjakan anak. Belum adanya data lain dari masyarakat maupun temuan lapangan langsung selain dari pabrik membuat pengawasan kurang objektif karena kenyataan di lapangan sangat berbeda dengan data dari pabrik, seperti yang disampaikan oleh I2-3:
“Selama Disnakertrans terpaku pada data yang didapat dari pabrik, akan sulit untuk objektif menangani karena memang permasalahan utama dan faktor penyebab pekerja anak muncul tidak akan sesuai kondisi kenyataan di lapangan.” (Wawancara dengan Bapak Nasarudin, Ketua RT 01/11 Cipare, 24 Februari 2015, RM Surabayan, pukul 11.00 WIB)
Bermunculannya pabrik-pabrik yang dengan mudah beroperasi dan mempekerjakan pekerja anak juga menjadi salah satu indikator penilaian masyarakat akan kurang objektifnya pengawasan yang dilakukan Disnakertrans. Meski pabrik baru yang beroperasi tidak ada lagi yang mempekerjakan pekerja anak, namun di masa-masa menuju hari raya masih banyak pabrik yang beroperasi
dan dengan mudah mempekerjakan pekerja anak yang berasal dari berbagai kampung, seperti yang disampaikan oleh I2-1:
“Belum, karena masih ada pabrik-pabrik yang tetap bebas beroperasi,
apalagi saat seperti menjelang lebaran. Masih banyak pekerja anak yang dipekerjakan dalam pabrik tersebut dan rata-rata mereka meninggalkan sekolah karena bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore.” (Wawancara dengan Ibu SR, Ketua RT 08, Kelurahan Unyur, pukul 13.15 WIB)
Selain data yang kemungkinan tidak sesuai dengan kondisi nyata, pengawasan yang dilakukan hanya dalam lingkup tempat kerja membuat Disnakertrans tidak dapat mengawasi dan menangani permasalahan pekerja-pekerja di lingkup informal. Tindak lanjut terhadap mereka yang telah diawasi dalam pekerjaan formal juga penting, karena tanpa tindak lanjut setelah pengawasan maka hanya akan memperpanjang daftar pekerja anak dan pabrik-pabrik baru. Hal ini timbul karena tak adanya keseganan dari pihak-pihak yang melakukan pelanggaran, seperti yang diungkapkan oleh I2-2:
“Kalau dilihat sih belum, karena mereka yang kerja serabutan sampai saat ini masih belum terawasi, yang di perusahaan juga belum ada yang ditarik dari pekerjaannya. Baru paling sekedar peringatan saja.” (Wawancara dengan Ibu JJ, Ketua RT 03, 23 April 2015 pukul 16.15 WIB, wilayah Karundang)
Ketegasan sangat dibutuhkan untuk bisa melakukan pengawasan secara objektif dan tanpa memandang bulu. Pelarangan pekerja anak merupakan sebuah hal yang jelas dan harus terus ditegakkan meski sulit dalam penegakkannya. Dengan demikian barulah dapat dikatakan bahwa pengawasan berlangsung dengan objektif, seperti yang disampaikan oleh I2-5:
“Baru dapat dikatakan objektif jika memang tegas sanksi yang diberikan kepada mereka yang mempekerjakan anak. Jadi tidak hanya sekedar mengawasi tanpa tindakan lanjut. Pemerintah harus tegas, pelarangan jelas diatur Undang-Undang, jadi tidak ada alasan untuk mentoleransi sesuatu yang jelas dilarang. Karena memang secara hukum pun perlindungan anak jelas diatur dan memiliki sanksi yang jelas.” (Wawancara dengan Mochtar Karim, RW 02, Advokat, di RM Surabayan, 24 Februari 2015, RM Surabayan, pukul 11.35 WIB)
Pemahaman informasi oleh pengawas di Bidang Pengawasan Disnakertrans masih dianggap kurang, mengingat bahwa masih belum dipahaminya apa saja program dan kegiatan dari seksinya, yaitu Seksi Norma Pekerja Perempuan dan Anak akan kegiatan untuk pengurangan pekerja anak. Hal ini menggambarkan bahwa kurangnya pemahaman akan tugas dan fungsi pegawai lain dalam menjalankan program bersama. Padahal, seharusnya sistem pengawasan dipahami dan dianggap objektif oleh individu yang menggunakannya. Seperti yang dikemukakan oleh para masyarakat, pengawasan Disnakertrans dinilai masih belum objektif. Hal ini dilihat dari belum adanya tindakan dan sanksi yang diberikan kepada pabrik yang mempekerjakan pekerja anak, data yang masih banyak terpaku pada perusahaan, dan kurang dilibatkannya masyarakat dalam mengawasi pekerja anak yang ada di Kota Serang.