II TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Analisis Kebijakan
Analisis kebijakan merupakan suatu disiplin ilmu terapan yang memanfaatkan berbagai metode dan teknik untuk menghasilkan informasi yang relevan dengan kebijakan. Analisis ini diperlukan dalam praktek pengambilan keputusan dengan adanya perubahan lingkungan yang kompleks dan dinamis. Oleh karena itu, analisis kebijakan dibutuhkan oleh para politisi, konsultan dan pengambil keputusan di pemerintahan. Hal senada dikemukakan oleh Dunn (2003), bahwa analisis kebijakan adalah disiplin ilmu sosial terapan yang menggunakan multiple methods untuk mengajukan inquiry dan argument untuk menghasilkan dan mentransformasikan informasi kebijakan yang relevan yang akan digunakan dalam kerangka politik untuk mengatasi suatu masalah kebijakan.
Analisis kebijakan adalah suatu cara untuk mensintesakan informasi termasuk hasil riset ke dalam suatu keputusan kebijakan (dalam bentuk pilihan-pilihan alternatif) dan menetapkan kebutuhan masa mendatang sebagai informasi kebijakan yang relevan (Williams, 1971). Analisis kebijakan adalah client-oriented advice yang berkaitan dengan keputusan publik dan isinya mengandung nilai-nilai sosial (Weimer dan Vining, 1999).
Ilmu kebijakan dibangun untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perannya dalam upaya meningkatkan kualitas keputusan, yang diperoleh dari proses perumusan tujuan kebijakan, mengenali permasalahan kebijakan, dan mencari jalan pemecahan masalah kebijakan. Pengetahuan analisis kebijakan berkembang pesat, apabila: (1) terjadi keterpaduan antara praktisi dan akademisi atas dasar pengalaman, hasil-hasil renungan, dan hasil-hasil penelitian, (2)
menyatukan peranan sistem nilai ke dalam studi kebijakan, (3) peningkatan kualitas proses refleksi dan pengambilan keputusan, (4) kemampuan mengaitkan berbagai bidang kajian dengan praktik kebijakan, (5) kemampuan membuat kerangka permasalahan kebijakan, (6) kemampuan meningkatkan kredibilitas pelaksana studi kebijakan (Eriyatno, 1989).
Analisis kebijakan adalah suatu proses pencarian kebenaran yang dapat menjelaskan sebab-sebab dan akibat dari sebuah kebijakan. Ada tiga jenis analisis kebijakan, yaitu: (1) analisis prospektif, (2) analisis retrospektif, dan (3) analisis terintegrasi (Dunn, 2004). Analisis prospektif merupakan analisis kebijakan yang terkait dengan produksi dan transformasi informasi sebelum tindakan kebijakan dilakukan. Analisis retrospektif, sebaliknya, berkaitan dengan produksi dan transformasi informasi setelah tindakan kebijakan dilakukan. Analisis terintegrasi adalah analisis kebijakan yang secara utuh mengkaji seluruh daur kebijakan dengan menggabungkan analisis prospektif dan retrospektif.
Metodologi analisis kebijakan merupakan perpaduan elemen-elemen dari berbagai disiplin seperti ilmu politik, sosiologi, psikologi, ekonomi, ilmu terapan lain dan termasuk ilmu lingkungan. Analisis kebijakan bersifat deskriptif, valuatif dan dapat pula bersifat normatif yang bertujuan menciptakan dan melakukan kritik terhadap klaim pengetahuan tentang nilai kebijakan untuk generasi masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Metodologi analisis kebijakan menggabungkan lima prosedur umum yang lazim dipakai dalam pemecahan masalah manusia, yaitu: (1) perumusan masalah menghasilkan informasi mengenai kondisi-kondisi yang menimbulkan masalah kebijakan, (2) peramalan menyediakan informasi mengenai konsekuensi di masa mendatang dari penerapan alternatif kebijakan termasuk jika tidak melakukan sesuatu, (3) rekomendasi menyediakan informasi mengenai nilai atau kegunaan relatif dari konsekuensi di masa depan dari suatu pemecahan masalah, (4) pemantauan menghasilkan informasi tentang konsekuensi sekarang dan masa lalu dari diterapkannya alternatif kebijakan, dan (5) evaluasi menyediakan informasi mengenai nilai atau kegunaan dari konsekuensi pemecahan masalah..
Keberhasilan kebijakan sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia, institusi, dan organisasi yang juga harus memiliki kemampuan untuk melakukan
rekayasa ulang. Bennis dan Mische (1996) menyatakan bahwa rekayasa ulang adalah pilihan yang tepat jika kita ingin meraih keberhasilan dimasa mendatang. Carswell (1996) menyatakan bahwa rekayasa ulang adalah suatu proses yang mengubah budaya organisasi dan menciptakan proses, sistem, struktur, dan cara baru untuk mengukur kinerja dan keberhasilan. Menurut Parsons (1995), dalam model proses suatu penetapan kebijakan dapat dikaji dari input dan output. Faktor-faktor input terdiri dari persepsi, organisasi, tuntutan, dukungan, dan keluhan. Unsur kebijakan antara lain adalah regulasi, distribusi, redistribusi, kapitalisasi, dan nilai-nilai etika. Outputnya antara lain adalah aplikasi, penegakan hukum, interpretasi, evaluasi, legitimasi, modifikasi, penyesuaian, dan penarikan diri atau pengingkaran.
Institusi adalah seperangkat pola perilaku manusia yang sudah terpatri dalam waktu lama, dan pola perilaku ini mencakup struktur, tata aturan, prosedur dan mekanisme yang akan mempengaruhi kebijakan. Menurut teori institusi berkembang menjadi empat aliran yaitu:
1. Aliran sosiologi, semua proses formal yang berlangsung dalam organisasi membentuk suatu struktur serta mengarah pada upaya pencapaian tujuan organisasi, sehingga proses kebijakan bervariasi sesuai karakteristik keseluruhan dan dinamika perjalanan kehidupan organisasi karena lingkungan juga mempengaruhi kualitas kebijakan.
2. Aliran ekonomi, suatu institusi sebagai suatu proses transaksi atau hasil proses kontrak yang ditandai adanya rasa saling percaya secara terbatas, penuh ketidakpastian dan memiliki metode pengelolaan yang bervariasi.
3. Peranan penting governance adalah pada sistem pengelolaan yang transparan, demokratis, akuntabel dan partisipatif.
4. Aliran politik, aktor dalam institusi berperan penting dalam pembuatan dan implementasi kebijakan. Aktor menggunakan kekuasaan dalam pembuatan kebijakan serta posisinya dalam institusi mempengaruhi kepentingan, tanggungjawab dan arah komunikasi, karena efektivitas pembuatan dan implementasi kebijakan dipengaruhi posisi aktor.
Menganalisis kebijakan yang ada terkait pertambangan batubara, teknik analisisnya dengan memahami substansi butir-butir kebijakan dengan studi
literatur, untuk mengetahui respon responden melalui kuesioner dan mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bagi stakeholder, maka terlebih dahulu diperlukan analisis kebutuhan dengan tujuan mengidentifikasi kebutuhan setiap pelaku yang terlibat dalam pengelolaan pasca tambang batubara dilokasi penelitian.
Analisis kebutuhan merupakan tahap awal dari pengkajian sistem. Pada tahap ini diidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dari masing-masing pelaku sistem (stakeholders). Kebijakan yang benar akan memberikan manfaat dan sebaliknya kebijakan yang keliru mendatangkan kesulitan bagi masyarakat.
Menurut Hornby (1974) kebijakan merupakan rencana kegiatan, pernyataan suatu tujuan ideal yang dibuat oleh pemerintah, partai politik atau kegiatan usaha. Kebijakan pemerintah merupakan hasil rumusan pola intervensi atau pengaturan pemerintah dalam lingkup sistem politik tertentu, yang dapat diterapkan di semua wilayah pemerintahan berdasarkan ketetapan legislatif, aturan main administrasi publik, serta adanya dukungan publik yang berpengaruh bagi masyarakat luas. Kebijakan menyangkut kepentingan publik sehingga seringkali disebut kebijakan politik.
Model proses suatu penetapan kebijakan dapat dikaji dari input dan output. Faktor-faktor input terdiri dari persepsi, organisasi, tuntutan, dukungan, dan keluhan, sedangkan unsur kebijakan antara lain adalah regulasi, distribusi, redistribusi, kapitalisasi, dan nilai-nilai etika. Outputnya antara lain adalah aplikasi, penegakan hukum, interpretasi, evaluasi, legitimasi, modifikasi, penyesuaian, dan penarikan diri atau pengingkaran (Parsons, 1995).
Menurut Dunn (2004), analisis kebijakan adalah cara untuk menghasilkan pengetahuan dan segala proses dalam kebijakan. Sementara itu, Patton dan Savicky (1993), menjelaskan bahwa analisis kebijakan adalah tindakan yang diperlukan untuk dibuatnya sebuah kebijakan, baik kebijakan yang baru sama sekali, atau kebijakan yang baru sebagai konsekwesi dari kebijakan yang ada. Analisis kebijakan merupakan kegiatan pokok dalam perumusan kebijakan karena memberikan pijakan awal kenapa sebuah kebijakan harus dibuat. Proses analisis kebijakan adalah serangkaian kegiatan intelektual yang dilakukan dalam proses kegiatan yang pada dasarnya bersifat politis. Kegiatan politis tersebut dijelaskan
sebagai proses pembuatan kebijakan. Tahap-tahap pembuatan kebijakan adalah: (a) penyusunan agenda; (b) formulasi kebijakan, (c) adopsi kebijakan, (d) implementasi kebijakan, dan (e) evaluasi kebijakan.