• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jalur Pengamatan Jarak antar petak sampel ± 100

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Indeks Keberlanjutan Kawasan Pasca Tambang Batubara

Analisis keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara menghasilkan nilai indeks keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara (Appraisal Post Coal Mining Sustainable = APCMS). Secara multidimensi diperoleh nilai indeks keberlanjutan sebesar 36,01 pada skala berkelanjutan 0-100 seperti terlihat pada Gambar 17.

Gambar 17. Nilai Indeks Keberlanjutan Multi Dimensi Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara Sebesar 36.01

Nilai APCMS yang diperoleh berdasarkan penilaian terhadap 21 atribut yang tercakup dalam tiga dimensi (ekologi, ekonomi dan sosial) termasuk ke dalam kategori kurang berkelanjutan. Hal ini membuktikan kebenaran issu tentang kerusakan lingkungan dan dampak negatif aktifitas kegiatan eksploitasi batubara yang meninggalkan berbagai kerusakan. Kerusakan yang paling nampak secara fisik adalah degradasi lahan dan adanya kolong (kolam).

APCMS Ordination 36.01 DOWN UP BAD GOOD -80 -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100

Post Coal Mining Sustainability

Ot he r D is ti ngi s hi ng Fe a tur e s

Berikut uraian 21 atribut dari dimensi ekologi, dimensi ekonomi dan, dimensi sosial yaitu:

1. Dimensi ekologi : persentase tumbuhan, pergantian (suksesi) pertumbuhan tanaman, banjir, ketersediaan air, erosi, kemampuan lahan, dan tingkat kesuburan tanah.

2. Dimensi ekonomi: sarana perekonomian, status penguasaan lahan, aktivitas perekonomian pasca tambang batubara, sarana dan prasarana transportasi, pendapatan masyarakat pasca tambang batubara, mata pencaharian pasca tambang batubara, dan kontribusi terhadap PDRB relatif terhadap desa di sekitar lokasi.

3. Dimensi sosial : migrasi penduduk, angka beban tanggungan keluarga,

persepsi masyarakat terhadap pertambangan, rasio relatif jenis kelamin, epidemi penyakit kulit dan diare, tatanan adat dan kebiasaan masyarakat, serta konflik sosial.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kegiatan pertambangan batubara yang dilaksanakan di Kabupaten Kutai Kartanegara selama ini kurang memperhatikan aspek-aspek ekologi, ekonomi dan sosial secara terpadu. Untuk mengetahui dimensi pengelolaan yang masih lemah dilakukan analisis MDS pada setiap dimensi. Analisis dilakukan untuk penentuan indeks keberlanjutan dan penentuan atribut yang paling sensitif dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara.

Nilai indeks keberlanjutan untuk setiap dimensi berbeda-beda dan masing-masing memiliki prioritas dimensi apa yang lebih dominan. Perbedaan ini dalam konsep pembangunan berkelanjutan memiliki satu kesamaan prinsip yaitu bagaimana setiap dimensi berada pada kategori ”baik” status keberlanjutannya. Gambar diagram layang-layang (kite diagram) nilai APCSM, Kabupaten Kutai Kartanegara menunjukkan bahwa tiga dimensi yang diteliti termasuk kategori kurang berkelanjutan. Diagram layang-layang nilai indeks keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara dapat dilihat pada Gambar 18.

Nilai Dimensi Ekologi, Ekonomi dan Sosial 39.40 34.96 39.09 0 20 40 60 80 100 Ekologi Ekonomi Sosial

Gambar 18. Diagram Layang-Layang (Kite Diagram) Nilai Indeks Keberlanjutan Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara

Hasil analisis parameter statistik nilai “stress” dan koefisien determinasi (R2) menunjukkan bahwa metode MDS telah memiliki kualitas yang baik. Hal ini dapat dilihat dari nilai stress pada hasil multi dimensi dan masing-masing dimensi (ekologi, ekonomi dan sosial) yang memiliki nilai di bawah 25%. Demikian pula nilai koefisien determinasi (R2) yang sudah mendekati 1. Hasil analisis keberlanjutan untuk beberapa parameter statistik dapat dilihat pada Tabel 40.

Tabel 40. Hasil Analisis Keberlanjutan untuk Beberapa Parameter Statistik

Nilai Statistik Multi Dimensi Ekologi Ekonomi Sosial

Stress 0.131042 0,15 0,14 0,14

R2 0.9523419 0,95 0,94 0,94

Jumlah Iterasi 2 2 2 2

Sumber: Hasil analisis (2009)

Hasil analisis Monte Carlo pada penelitian ini tidak terdapat banyak kesalahan dalam mengubah nilai indeks total masing-masing dimensi. Hal ini juga mendukung baiknya kualitas hasil analisis yang telah dilakukan. Hasil analisis Monte Carlo untuk nilai indeks keberlanjutan multidimensi dan masing-masing dimensi secara rinci dapat dilihat pada Tabel 41.

Tabel 41. Hasil Analisis Monte Carlo untuk Nilai Indeks Keberlanjutan Mutidimensi dan Masing-Masing Dimensi pada Selang Kepercayaan 95%

Status Indeks Keberlanjutan

Hasil MDS Hasil Monte Carlo Perbedaan

Mutidimensi 36,01 36,56 0.55

Dimensi Ekologi 39,40 39,79 0,39

Dimensi Ekonomi 34,96 34,30 0.66

Dimensi Sosial 39,09 39,40 0.77

Sumber: Hasil Analisis (2009)

Analisis Monte Carlo sangat membantu dalam analisis APCMS untuk melihat pengaruh kesalahan pembuatan skor pada setiap atribut pada masing-masing dimensi yang disebabkan oleh: (1) kesalahan prosedur atau pemahaman atribut, (2) variasi pemberian skor karena perbedaan opini atau penilaian peneliti berbeda, (3) stabilitas proses analisis MDS, (4) kesalahan memasukkan data atau ada data yang hilang, dan (5) nilai “stress” yang terlalu tinggi. Analisis Monte Carlo dilakukan beberapa kali pengulangan dan hasilnya mengandung kesalahan yang tidak banyak mengubah nilai indeks total (multi dimensi) maupun nilai indeks masing-masing dimensi.

Berdasarkan Tabel 41, dapat dilihat bahwa nilai status indeks keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara pada selang kepercayaan 95% memberikan hasil yang tidak banyak mengalami perbedaan dengan hasil analisis MDS. Kecilnya perbedaan nilai indeks keberlanjutan antara hasil analisis metode MDS dengan analisis Monte Carlo mengindikasikan hal-hal sebagai berikut: (1) kesalahan dalam pembuatan skor setiap atribut relatif kecil; (2) variasi pemberian skor akibat perbedaan opini relatif kecil; (3) proses analisis yang dilakukan secara berulang-ulang stabil; dan (4) kesalahan memasukkan data dan data yang hilang dapat dihindari.

Perbedaan hasil analisis yang relatif kecil sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 41 menunjukkan bahwa analisis menggunakan metode MDS untuk menentukan keberlanjutan pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, dan metode yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu alat evaluasi untuk menilai

APCMS Ordination 39.40 DOWN UP BAD GOOD -60 -40 -20 0 20 40 60 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Post Coal Mining Sustainability

O th er D ist in g ish in g F eat u res

Real Post Coalmining References Anchors

secara sistemik, cepat, obyektif, dan terukur pengelolaan kawasan pasca tambang batubara di suatu wilayah.

Nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi adalah sebesar 39,40 pada skala 0 – 100. Jika dibandingkan dengan nilai APCMS yang bersifat multidimensi maka nilai indeks dimensi ekologi berada di bawah nilai APCMS multidimensi, termasuk ke dalam kategori kurang berkelanjutan. Kondisi ini sesuai dengan kenyataan di lapangan yang menunjukkan bahwa pengambilan batubara di bawah permukaan tanah dilakukan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan, yang berakibat serius terhadap sumberdaya lahan, sehingga lahan tidak mempunyai nilai ekonomi lagi.

Hasil analisis MDS yang dilakukan dapat digunakan untuk simulasi arahan kebijakan yang akan mendorong nilai ekonomi kawasan pasca tambang batubara tetap bernilai ekonomi tinggi selain menghasilkan batubara. Nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan, Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dilihat pada Gambar 19.

Gambar 19. Nilai Indeks Keberlanjutan Dimensi Ekologi Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara Sebesar 39,40

Leverage of Attributes 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 Tingkat kesuburan tanah Kemampuan lahan Erosi Ketersediaan Air Banjir Pergantian pertumbuhan tanaman Persentase tumbuhan At tr ib u te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

Terdapat dua atribut yang paling sensitif yang mempengaruhi nilai keberlanjutan dimensi ekologi, yaitu erosi dan banjir. Atribut yang paling sensitif sebagai faktor pengungkit dimensi ekologi dapat dilihat pada Gambar 20.

Gambar 20. Nilai Masing-masing Atribut Dimensi Ekologi

Erosi dan banjir menjadi atribut yang paling sensitif karena pergantian pertumbuhan tanaman relatif rendah (kerapatan vegetasi pada kisaran 25 – 50%) dari standar baku mutu yaitu >70% yang membuat tidak ada penghambat aliran permukaan air ketika curah hujan tinggi. Kerapatan vegetasi dan tinggi tanaman, mengakibatkan butiran hujan cepat menghancurkan tanah dan terjadi pemindahan tanah (terangkutnya tanah) mengikuti aliran permukaan sampai mengakibatkan banjir.

Curah hujan rata-rata di lokasi penelitian adalah >100 mm/bulan, Oldeman mengelompokkan curah hujan seperti ini kedalam bulan basah dan berpeluang untuk menanam padi sawah. Kondisi basah berpeluang menjadi banjir karena terjadi aliran permukaan dan dalam kondisi yang demikian vegetasi yang

APCMS Ordination

34.96

0 20 40 60 80 100

Post Coal Mining Sustainability

O the r D is ti n gi s hi n g Fe a tur e s

Real Post Coal Mining References Anchors

tidak memadai juga akan berpeluang mengakibatkan erosi karena aliran permukaan berbanding lurus dengan erosi. Penelitian ini tidak menganalisis banjir secara mendetail, namun menggunakan literatur penelitian yang dilakukan di Kecamatan Separi masih di Kabupaten Kutai Kartanegara sehingga rujukan ini dianggap masih relevan. Berdasarkan penelitian Hakim (2008) salah satu penduga banjir adalah berdasarkan distribusi curah hujan yang mana besarannya sebesar di atas 100 mm/bulan.

Nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekonomi adalah sebesar 34,96 pada skala 0 – 100. Jika dibandingkan dengan nilai dimensi ekologi nilai dimensi ekonomi berada di bawah nilai dimensi ekologi dan masih termasuk ke dalam kategori kurang berkelanjutan. Nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan, Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dilihat pada Gambar 21.

Gambar 21. Nilai Indeks Keberlanjutan Dimensi Ekonomi Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara Sebesar 34,96

Atribut yang paling sensitif mempengaruhi nilai keberlanjutan dimensi ekonomi ada empat, yaitu: sarana perekonomian, aktivitas perekonomian pasca

Leverage of Attributes 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 Pendapatan masyarakat pasca tambang Mata pencaharian pasca tambang batubara Aktivitas perekonomian pasca tambang batubara Sarana Perekonomian Status Penguasaan Lahan Masyarakat Sarana dan prasarana

transportasi Kontribusi terhadap PDRB relatif terhadap

desa sekitar lokasi

Attr

ib

u

te

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

tambang batubara, status penguasaan lahan masyarakat serta sarana dan prasarana transportasi. Nilai masing-masing atribut dimensi ekonomi dapat dilihat pada Gambar 22.

Gambar 22. Nilai Masing-masing Atribut Dimensi Ekonomi

Sarana perekonomian berdasarkan gambaran umum pada Tabel 17 dan 18, tidak banyak mengalami perubahan yang signifikan, namun pada hasil MDS memperlihatkan bahwa atribut ini memberikan nilai paling sensitif diantara atribut lainnya. Hal ini memberikan indikasi bahwa dalam dimensi ekonomi atribut sarana perekonomian harus menjadi prioritas dalam pengembangannya.

Aktivitas perekonomian pasca tambang masyarakat mengalami penurunan dibandingkan dengan kondisi sebelum terdapatnya kegiatan tambang batubara. Hal ini dapat dijelaskan karena keberadaan tambang batubara diharapkan akan memberikan multiplier effect bagi aktivitas perekonomian wilayah setempat. Kebutuhan tenaga kerja di perusahaan pertambangan batubara memberikan implikasi bagi kebutuhan tenaga kerja, tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari. Berkurang atau berhentinya produksi perusahaan tambang batubara secara signifikan berdampak bagi aktivitas perekonomian.

APCMS Ordination 39.09 DOWN UP BAD GOOD -60 -40 -20 0 20 40 60 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Post Coalmining Sustainability

O the r D is ti ngi s hi n g Fe a tur e s

Real Post Coalmining References Anchors

Berdasarkan Tabel 15 terdahulu dapat digambarkan bahwa status penguasaan lahan sebagian besar masyarakat pasca tambang batubara masih tetap. Kondisi ini disebabkan karena belum dilakukan penataan kembali (land reform) dari lahan pasca tambang, sehingga masyarakat masih dapat memanfaatkan lahan tersebut.

Sarana dan prasarana transportasi pasca tambang batubara semakin memburuk dengan keberadan tambang batubara. Ruas jalan dari dan menuju kawasan tambang batubara kondisinya rusak akibat kendaraan yang berkapasitas muatan besar.

Nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi sosial adalah sebesar 39,09 pada skala 0 – 100. Jika dibandingkan dengan nilai dimensi ekologi maupun nilai dimensi ekonomi, nilai indeks dimensi sosial berada nomor dua setelah dimensi ekologi namun masih termasuk kategori kurang berkelanjutan. Nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan, Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dilihat pada Gambar 23.

Gambar 23. Nilai Indeks Keberlanjutan Dimensi Sosial Pengelolaan Kawasan Pasca Tambang Batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara Sebesar 39, 09

Terdapat empat atribut yang paling sensitif mempengaruhi nilai keberlanjutan dimensi sosial, yaitu: migrasi penduduk, angka beban tanggungan

Leverage of Attributes

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 Konflik sosial

Migrasi Penduduk Rasio Relatif Jenis

Kelamin Angka Beban Tanggungan Keluarga

Tatanan Adat dan Kebiasaan Masyarakat Persepsi Masyarakat Terhadap Pertambangan Epidemi Penyakit

Diare dan ISPA

Attribute

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

keluarga, persepsi masyarakat terhadap keberadaan pertambangan batubara, dan konflik sosial yang terjadi di kawasan pasca tambang batubara baik antar sesama warga atau dengan warga sekitar. Nilai masing-masing atribut dimensi sosial dapat dilihat pada Gambar 24.

Gambar 24. Nilai Masing-masing Atribut Dimensi Sosial

Migrasi penduduk yang tinggi seperti dapat dilihat pada Tabel 23 dan Tabel 24, terjadi di wilayah pasca tambang batubara memberikan dampak bagi kehidupan sosial di masyarakat. Migrasi ini terjadi akibat terhentinya kegiatan tambang batubara yang semula beroperasi di wilayah tersebut. Penduduk memilih untuk pindah untuk mencari pekerjaan ke luar lokasi, baik pada perusahaan tambang maupun memilih pada mata pencaharian lain. Kondisi lingkungan yang sudah rusak maupun sumberdaya yang tidak lagi menjanjikan untuk menopang perekonomian masyarakat menjadi faktor pendorong masyarakat untuk ke luar wilayah, sedangkan kondisi daerah lain yang lebih menarik aktivitas perekonomiannya akan menjadi faktor penarik masyakarat untuk melakukan migrasi.

Angka beban tanggungan keluarga di wilayah pasca tambang batubara yang tergolong tinggi memberikan indikasi bahwa jumlah usia produktif yang

terdapat pada wilayah tersebut masih rendah, seperti dapat dilihat pada Tabel 21. Angka beban tanggungan keluarga yang tinggi dapat disebabkan dari tingginya tingkat migrasi penduduk yang termasuk di dalamnya usia produktif. Pada saat berakhirnya penambangan batubara, masyarakat setempat terutama buruh tambang akan mengalami tekanan ekonomi karena akan menjadi pengangguran sehingga angka beban tanggungan keluarga juga meningkat.

Berdasarkan hasil wawancara, sebanyak 96% masyarakat memberikan persepsi negatif terhadap keberadaan pasca tambang batubara dalam menyikapi beberapa kebijakan yang diberikan oleh pihak perusahaan sehingga berpengaruh terhadap keberlanjutan kegiatan tambang batubara. Masyarakat yang menganggap bahwa perusahaan tidak pro lingkungan pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya konflik sosial yang mengganggu ketentraman masyarakat.

Analisis pada setiap dimensi (ekologi, ekonomi dan sosial) memperlihatkan bahwa dari ketiga dimensi yang dianalisis ternyata aspek sosial memiliki indeks keberlanjutan nomor dua paling tinggi, sedangkan yang memiliki indeks keberlanjutan terendah adalah dimensi ekonomi. Dari nilai indeks keberlanjutan setiap aspek hasil analisis MDS tidak satupun dimensi pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara yang termasuk kategori “baik” atau berkelanjutan.

Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan tiga dimensi pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, terdapat 10 atribut yang sensitif mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara. Atribut-atribut tersebut merupakan faktor-faktor pengungkit dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara pada saat ini. Atribut-atribut yang menjadi faktor pengungkit dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara, Kabupaten Kutai Kartanegara adalah:

1. Erosi 2. Banjir

3. Sarana perekonomian

4. Aktivitas perekonomian pasca tambang batubara 5. Status penguasaan lahan masyarakat

7. Migrasi penduduk

8. Angka beban tanggungan keluarga

9. Persepsi masyarakat terhadap keberadaan pertambangan batubara 10.Konflik sosial.

Seluruh faktor pengungkit tersebut dianalisis untuk menentukan faktor kunci pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan. Penentuan faktor kunci dilakukan dengan melibatkan stakeholder dan pakar. Hasil FGD menunjukkan bahwa terdapat lima faktor pengungkit yang merupakan faktor kunci pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan, Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu: (1) erosi, (2) banjir, (3) aktivitas perekonomian pasca tambang batubara, (4) sarana perekonomian, dan (5) sarana dan prasarana transportasi.

Gambar 25. Pengaruh dan Ketergantungan Antar Faktor Pengungkit

Faktor kunci pengelolaan kawasan pasca tambang batubara berkelanjutan ini diambil dari kuadran kiri atas dan kanan atas pada diagram kartesius tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor dalam sistem. Alasan pengambilan kuadran kiri atas karena variabel yang terdapat di kuadran kiri atas merupakan variabel yang mempunyai pengaruh tinggi terhadap variabel lain, namun tidak tergantung terhadap variabel lainnya. Sementara itu, variabel yang terdapat pada

Pengaruh dan Ketergantungan antar faktor pengungkit dalam pengelolaan kawasan pasca tambang batubara 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 Ketergantungan P e ng a ruh Erosi Banjir Aktivitas perekonomian pasca t ambang batubara Sarana perekonomian Sarana dan prasarana t ransportasi

St atus pengusahaan lahan masyarakat Konflik Sosial

Angka beban t anggungan keluarga M igrasi Penduduk

kuadran kanan atas mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap variabel lain namun mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap variabel lainnya. Pengaruh dan ketergantungan antar faktor pengungkit pengelolaan kawasan pasca tambang batubara dapat dilihat pada Gambar 25.

5.3. Permasalahan dan Kebutuhan Stakeholder dalam Pengelolaan Kawasan