II TINJAUAN PUSTAKA
2.7. Hasil Penelitian Terdahulu dengan Analisis Indeks Keberlanjutan
Hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan topik penelitian ini baik dari metode penelitian maupun dari pendekatan sistem yaitu: (1) Wonny Ahmad Ridwan (2006) dengan judul penelitian Model Agribisnis Peternakan Sapi Perah Berkelanjutan pada Kawasan Pariwisata di Kabupaten Bogor (Kasus Kecamatan Cisarua dan Kecamatan Megamendung), (2) Dwi Iswari (2008) dengan judul penelitian Indeks Keberlanjutan Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Jeruk dengan Rap-CITRUS Studi Kasus di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan (3) Hardy Benry Simbolon (2009) dengan judul penelitian Model Analisis Kebijakan Pengembangan Kawasan Transmigrasi Berkelanjutan (Studi Kasus: Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya, Kabupaten Pontianak).
Ridwan (2006) analisis berkelanjutan dilakukan dengan menggunakan multidimensional scalling (MDS), yang mengukur enam atribut dimensi berkelanjutan yaitu dimensi ekologis, dimensi ekonomi, dimensi sosial budaya, dimensi hukum, dimensi kelembagaan, dan dimensi teknologi sedangkan dimensi waktu dilihat dari analisis sistem dinamik dengan memanfaatkan nilai-nilai yang telah ada. Berikut yang diuraikan hanya dimensi ekologi, dimensi ekonomi dan dimensi sosial.
Dimensi keberlanjutan ekologis adalah berkaitan dengan memelihara keberlanjutan daya dukung lingkungan sehingga tidak melewati batas kemampuannya untuk mendukung seluruh aktifitas yang ada didalamnya dan meningkatkan kualitas dari ekosistem yang mendukung keberlanjutan pengembangan sapi perah dilihat dari aspek lingkungannya. Ada 14 atribut yang menjadi ciri dan faktor keberlanjutan ekologis yaitu: (1) pemanfaatan limbah ternak untuk kompos, (2) ketinggian, (3) kecocokan suhu, (4) kecocokan
kelembaban, (5) curah hujan, (6) kemiringan, (7) kesuburan tanah, (8) luas lahan terbuka, (9) kepadatan ternak, (10) sarana pengolah limbah, (11) kepadatan penduduk, (12) daya dukung wilayah, (13) luas lahan pertanian, dan (14) produktivitas rata-rata sapi perah.
Dimensi keberlanjutan ekonomi adalah menggambarkan bahwa keberlanjutan pengembangan sapi perah harus memperhatikan kesejahteraan pelaku usaha sapi perah dan dapat mempertahankan dan meningkatkan tingkat kesejahteraannya. Terdapat 14 atribut yang menjadi ciri dan faktor keberlanjutan ekonomi yaitu: (1) kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD), (2) tingkat upah yang diberikan, (3) tingkat keuntungan, (4) adanya pembatasan usaha, (5) besarnya subsidi, (6) proporsi pendapatan terhadap pengeluaran konsumsi rata-rata, (7) kepemilikan sapi laktasi rata-rata-rata, (8) penyerapan tenaga kerja informal dari setiap peternak, (9) sumber modal, (10) kepemilikan usaha, (11) prospek permintaan produksi, (12) potensi pertumbuhan, (13) ketersediaan sarana produksi, dan (14) pemasaran produksi.
Dimensi keberlanjutan sosial budaya menggambarkan bahwa keberlanjutan pengembangan usaha sapi perah harus memperhatikan interaksi komunitas peternak dan masyarakat sekitarnya serta manfaat yang dapat diambil oleh masyarakat dari adanya pengembangan sapi perah. Terdapat sembilan atribut yang menjadi ciri dan faktor keberlanjutan sosial budaya yaitu: (1) pengalaman beternak sapi perah, (2) pekerjaan orang tua, (3) respon masyarakat terhadap peternakan sapi perah, (4) pertumbuhan rumah tangga peternakan, (5) adanya protes masyarakat terhadap keberadaan peternakan sapi perah, (6) jumlah RT peternakan dibandingkan sektor lain, (7) persentase peternakan dari total pendapatan, (8) adanya kebiasaan/adat yang mengatur pengelolaan alam, dan (9) partisipasi keluarga dalam peternakan.
Hasil penelitian Ridwan (2006) adalah dimensi ekologis, ekonomi, sosial budaya, hukum, kelembagaan, dan teknologi dengan 63 atribut dapat mendukung mengukur tingkat keberlanjutan agribisnis sapi perah di Kecamatan Cisarua dan Kecamatan Megamendung dengan nilai berada pada tingkat 67,13 dalam skala 0 – 100, atau dalam kategori cukup berkelanjutan. Dimensi ekologis berada pada posisi 74,55 dari indeks 0 – 100, atau dalam kategori cukup berkelanjutan.
Analisis leverage dalam RAPDAIRY memperlihatkan atribut pengungkit adalah atribut produktivitas, atribut pengelolaan limbah, atribut ketinggian, atribut luas lahan pertanian, dan atribut daya dukung wilayah. Dimensi ekonomi mempunyai nilai 57,5 atau dalam kategori cukup berkelanjutan dari indeks 0 – 100. Atribut pengungkit yang sangat berperan terhadap keberlanjutan agribisnis sapi perah adalah atribut potensi pertumbuhan, atribut prospek permintaan susu, dan atribut ketersediaan sarana produksi. Dimensi sosial budaya berada pada tingkat 37,40 dari skala 0 – 100, atau dalam kategori kurang berkelanjutan dan seluruh atribut yang ada dalam dimensi sosial budaya masuk dalam kategori penting dan berkontribusi dalam peningkatan keberlanjutan agribisnis sapi perah.
Iswari (2008), analisis berkelanjutan dilakukan dengan menggunakan multidimentional scalling (MDS), dengan kategori nilai indeks keberlanjutan (IKB) yang kurang dari 50% atau <50% termasuk dalam kriteria “tidak berkelanjutan” sedangkan IKB dengan nilai lebih besar dari 50% atau >50% termasuk kriteria “berkelanjutan”. Atribut enam dimensi berkelanjutan yaitu dimensi ekologi, dimensi sosial, dimensi ekonomi, dimensi teknologi, dimensi kelembagaan, dan dimensi etika dan hukum. Berikut yang diuraikan hanya dimensi ekologi, dimensi ekonomi dan dimensi sosial.
Dimensi keberlanjutan ekologi menyertakan 17 atribut dalam analisis keberlanjutan. Atribut yang menunjukkan kondisi di lapangan pengembangan KSPJB untuk dimensi ekologi yaitu: (1) luas lahan usahatani jeruk yang dikelola, (2) luas lahan usahatani bukan jeruk yang dikelola, (3) jumlah tanaman jeruk yang dimiliki, (4) jumlah tanaman yang mati selama pertumbuhan, (5) rata-rata umur tanaman jeruk yang dimiliki, (6) produktivitas per tanaman, (7) tingkat serangan kutu sisik, (8) tingkat serangan Phytophthora sp, (9) tingkat serangan CVPD, (10) jarak kebun dengan rumah, (11) lama tanaman terendam air/banjir, (12) tindakan konservasi pada lahan miring yang dilakukan, (13) pengelolaan lahan dan lingkungan, (14) curah hujan, (15) lama masa kering, (16) penggunaan bibit, dan (17) kesesuaian lahan dan agroklimat jeruk.
Dimensi keberlanjutan ekonomi terdapat sembilan atribut yaitu: (1) hasil selain jeruk, (2) tanaman sela (jarak<4 tahun), (3) tanaman sela (jarak>4tahun), (4) keuntungan dari usahatani jeruk yang diperoleh, (5) cara menjual buah jeruk
yang dihasilkan, (6) tempat penjualan jeruk, (7) daya saing produk, (8) akses jalan, dan (9) akses pasar.
Dimensi keberlanjutan sosial terdapat delapan atribut yaitu: (1) kepemilikan lahan, (2) status lahan yang digunakan, (3) tingkat pendidikan, (4) umur petani, (5) penggunaan waktu untuk usahatani jeruk, (6) partisipasi keluarga (usia kerja 16 – 54 tahun) dalam usahatani jeruk, (7) pandangan masyarakat terhadap usaha tani jeruk, dan (8) respon petani terhadap penggunaan tenaga kerja dengan bertambahnya umur tanaman.
Hasil penelitian Iswari (2006), indeks keberlanjutan (IKB) KSPJB hasil simulasi Rap-CITRUS melalui lima dimensi keberlanjutan yaitu dimensi ekologi, sosial, ekonomi, teknologi, dan kelembagaan menunjukkan bahwa secara keseluruhan pengembangan KSPJB di Kabupaten Agam termasuk dalam kategori tidak berkelanjutan, dengan IKB sebesar 47%. IKB dimensi ekologi dan sosial sebesar 51% dan 56% termasuk dalam kriteria berkelanjutan sedangkan dimensi ekonomi, teknologi dan kelembagaan berturut-turut sebesar 48%, 41% dan 31% termasuk dalam kriteria tidak berkelanjutan. Simulasi Rap-CITRUS melalui peningkatan ke 14 atribut sensitif terhadap keberlanjutan dapat meningkatkan IKB eksisting gabungan lima dimensi dari 46,91% menjadi 54,29% (berkelanjutan), dimensi teknologi dan kelembagaan belum menunjukkan berkelanjutan berturut-turut sebesar 42,63% dan 49,35%.
Faktor dominan/sensitif yang berpengaruh terhadap keberlanjutan KSPJB hasil analisis leverage ada 14 atribut yang diuraikan hanya 10 diantaranya hanya yang berhubungan dengan dimensi ekologi, dimensi ekonomi dan dimensi sosial. Dimensi ekologi (4) memperlihatkan atribut pengungkit adalah atribut rata-rata umur tanaman, atribut jumlah tanaman mati, atribut lama terendam, dan atribut serangan CVPD. Dimensi ekonomi (2) memperlihatkan atribut pengungkit adalah atribut keuntungan jeruk, dan akses jalan. Dimensi sosial (4) memperlihatkan atribut pengungkit adalah tingkat pendidikan petani, status lahan, partisipasi keluarga, dan pandangan tentang usahatani jeruk.
Simbolon (2009), analisis berkelanjutan dilakukan dengan menggunakan multidimentionalscalling (MDS), dengan kategori nilai indeks keberlanjutan lebih dari 75% maka pengembangan tersebut berkelanjutan (sustainable) dan
sebaliknya jika kurang <75% maka termasuk dalam kriteria belum berkelanjutan (unsustainable). Pada kondisi belum berkelanjutan, terdapat beberapa strata yang menunjukkan kondisi kawasan yakni cukup berkelanjutan, kurang berkelanjutan, dan tidak berkelanjutan. Atribut dari lima dimensi berkelanjutan yaitu dimensi ekologi, dimensi sosial, dimensi ekonomi, dimensi teknologi, dan dimensi hukum dan kelembagaan. Berikut yang diuraikan hanya dimensi ekologi, dimensi ekonomi dan dimensi sosial.
Keberlanjutan ekologi adalah stabilitas global untuk seluruh ekosistem, khususnya sistem fisik dan biologi. Dalam kaitan dengan pengembangan kawasan transmigrasi keberlanjutan ekologi adalah menjaga keanekaragaman hayati, konservasi lahan dan air, tidak melakukan eksploitasi berlebih terhadap sumberdaya alam dan tidak terjadi pembuangan limbah yang melebihi kapasitas asimilasi lingkungan. Atribut dimensi ekologi (14) keberlanjutan pengembangan Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya adalah: (1) pemanfaatan limbah pertanian untuk pupuk organik, (2) pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan ternak, (3) penggunaan pupuk organik, (4) penggunaan pestisida kimiawi, (5) lahan (kesuburan tanah), (6) tingkat pemanfaatan lahan, (7) tingkat kesesuaian penggunaan lahan, (8) agroklimat, (9) ketersediaan tempat pembuangan sementara (TPS) limbah pertanian, (10) pola pengembangan usahatani, (11) penggunaan bibit untuk kegiatan usahatani, (12) ketersediaan air, (13) frekuensi musim tanam, dan (14) pola tanam.
Keberlanjutan ekonomi adalah arus maksimum pendapatan yang dapat diciptakan dari asset (modal) yang minimal dengan manfaat yang optimal. Dalam kaitan dengan pengembangan Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya dimensi keberlanjutan ekonomi terdapat 15 atribut yaitu: (1) keuntungan, (2) kontribusi terhadap pajak bumi dan bangunan (PBB) terhadap desa sekitar, (3) rata-rata penghasilan masyarakat transmigran relatif terhadap upah minimum regional (UMR) Provinsi Kalimantan Barat, (4) transfer keuntungan, (5) besarnya pasar, (6) tempat menjual hasil pertanian, (7) besarnya subsidi, (8) harga komoditi hasil pertanian, (9) kemampuan teknis pengelolaan keuangan, (10) akses masyakarat transmigran terhadap sumber modal, (11) tabungan keluarga, (12) kepemilikan teknologi untuk kegiatan usahatani, (13) komoditi unggulan, (14) perubahan
prasarana ekonomi 10 tahun terakhir, dan (15) perubahan jumlah sarana ekonomi 10 tahun terakhir.
Keberlanjutan sosial adalah terjaganya stabilitas sistem sosial dan budaya, termasuk reduksi konflik yang merusak. Dalam kaitan dengan pengembangan kawasan transmigrasi keberlanjutan dimensi sosial adalah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (pangan, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan), mencegah terjadinya berbagai konflik, menciptakan keadilan dalam kehidupan masyarakat, terjadinya pemerataan pemdapatan, terbukanya kesempatan berusaha, dan partisipasi masyarakat. Atribut dimensi sosial keberlanjutan pengembangan Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya (15) yaitu: (1) sosialisasi pekerjaan (individual atau kelompok), (2) pengetahuan terhadap lingkungan, (3) tingkat pendidikan relatif terhadap pendidikan tingkat provinsi, (4) frekuensi konflik antara masyarakat lokal-transmigran, (5) partisipasi keluarga dalam kegiatan usahatani, (6) respon masyarakat lokal terhadap masyarakat transmigran, (7) frekuensi penyuluhan dan pelatihan tentang lingkungan, (8) besarnya pengaruh daerah sekitar, (9) adanya tokoh panutan yang disegani, (10) kerukunan hidup antar umat beragama, (11) budaya gotong-royong, (12) status kesehatan masyarakat, (13) status gizi masyarakat, (14) pertambahan penduduk yang masuk di kawasan transmigrasi, dan (15) frekuensi kegiatan mental/spiritual.
Hasil penelitian Simbolon (2009), indeks keberlanjutan IKKTrans 45,85 pada skala 0 – 100. Dari lima dimensi keberlanjutan yang dianalisis, dimensi sosial serta dimensi hukum dan kelembagaan tergolong pada kategori cukup berkelanjutan, sedangkan dimensi ekologi, ekonomi, dan teknologi tergolong kurang berkelanjutan.
Faktor-faktor sensitif sebagai pengungkit yang mempengaruhi keberlanjutan pengembangan Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya adalah: dimensi ekologi (5): pemanfaatan limbah pertanian untuk pupuk organik, tingkat pemanfaatan lahan, ketersediaan air, penggunaan pestisida kimiawi, dan ketersediaan TPS limbah pertanian. Dimensi ekonomi (4) memperlihatkan atribut pengungkit adalah harga komoditi hasil pertanian, tempat menjual hasil pertanian, besarnya pasar, dan transfer keuntungan. Dimensi sosial (4) memperlihatkan atribut pengungkit adalah pengaruh daerah sekitar, respon masyarakat lokal,
partisipasi keluarga dalam kegiatan usahatani, dan frekuensi konflik. Skenario pengembangan kawasan yang optimal memberikan hasil yang cukup berkelanjutan dengan nilai IKKTrans 68,42 dan skenario moderat memberikan hasil yang cukup berkelanjutan dengan nilai IKKTrans 56,76 pada skala 0 – 100.