Dalam Peraturan Menteri Desa PDTT No. 2 Tahun 2016 dan No. 16 Tahun 2018, disebutkan Desa Mandiri adalah ‘desa maju yang memiliki kemampuan melaksanakan pembangunan desa untuk peningkatan kualitas hidup dan kehidupan sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa dengan ketahanan sosial, ketahanan ekonomi, dan ketahanan ekologi secara berkelanjutan’. Selanjutnya didefinisikan juga bahwa Desa Maju adalah ‘desa yang memiliki potensi sumber daya sosial, ekonomi, dan ekologi, serta kemampuan mengelolanya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat desa, kualitas hidup manusia, dan menanggulangi kemiskinan’. Aspek penting untuk digali lebih mendalam adalah seperti apa mekanisme/proses, tata kelola, dan ekosistem yang membuat desa lebih mampu bertransformasi menjadi desa mandiri dan desa maju. Dimensi ini penting untuk dipahami baik dalam formula yang bersifat umum (generalis) ataupun khusus/spesifik/lokal. Desain kebijakan dalam bentuk struktur, aktor, prosedur, dan pembiayaan seperti apa yang memungkinkan menuju desa mandiri, perlu untuk dirumuskan. Dengan pengetahuan ini, maka desa akan lebih mampu bergerak lebih progresif dan bukan sebaliknya bergerak mundur (regresif).
Hingga akhir periode pertama pemerintahan Joko Widodo (2014–2019), jumlah desa mandiri adalah sebanyak 1.444 desa atau belum mencapai 2%
dari total jumlah desa yang ada. Dalam RPJMN 2020–2024, pemerintah menargetkan angka ini naik menjadi sekitar 14% dari total desa di Indonesia yang meningkat menjadi desa mandiri. Tentu saja pencapaian target
ini bukan hal yang mudah, menimbang pada kompleksnya tantangan pembangunan perdesaan. Ekonomi Perdesaan yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan merupakan manifestasi atas kondisi desa yang mandiri. Namun demikian, jika diperhatikan indikator pembangunan ekonomi masih terkotak-kotak pada kepentingan sektoral dan parsial.
Upaya pemerintah untuk mengangkat permasalahan pembangunan dalam kotak tematik juga belum mampu menciptakan sistem kerja yang kolaboratif antarsektor terkait.
Pada sisi lain, konsepsi menuju pada kemajuan ekonomi bersandar atas proses yang berjenjang, dimulai dari factor driven, menuju efficiency driven, dan berujung pada innovation driven. Artinya, inovasi menjadi prakondisi menuju kemajuan dan kemandirian desa. Bersandar pada teori inovasi sosial, maka dapat dipetakan tantangan sosial yang ada serta dicarikan cara-cara untuk melakukan rekonfigurasi sistem sosial agar proses transformasi sosial berjalan lebih baik. Telaah yang ada memperlihatkan inovasi sosial masyarakat perdesaan akan banyak mengalami kegagalan jika diterapkan dalam suatu mekanisme yang bersifat ‘top-down’. Sayangnya, belum banyak riset yang menelaah seperti apa mekanisme inovasi sosial yang tepat (proper). Oleh sebab itu, Neumeier (2017), mengatakan sangat dibutuhkan studi untuk memahami proses inovasi sosial dalam artian menelaah potensi dan tantangannya di tingkat masyarakat desa.
Lebih jauh, dalam upaya membangun proses inovasi sosial atau melakukan rekonfigurasi sosial, maka penting untuk menjalankannya dalam konsepsi proper governance Hidayat (2016). Dengan demikian, kontribusi yang akan dihasilkan tidak saja dalam bentuk elaborasi dan kontekstualisasi konsep inovasi sosial untuk pengembangan ekonomi perdesaan yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan, tetapi juga akan menghasilkan kontribusi dalam bentuk aktualisasi konsep dan model pembangunan perdesaan berbasis komunitas atau partisipasi masyarakat lokal. Selain permasalahan umum yang dihadapi dalam pembangunan desa, ternyata juga terdapat permasalahan khusus pada masing-masing tipologi kawasan desa. Hal ini membutuhkan adanya penanganan atau intervensi kebijakan dari pemerintah secara lebih spesifik berdasarkan kasus yang dialami oleh setiap kawasan perdesaan. Misalnya desa yang mengandalkan aktivitas
ekonomi dan livelihood dari hasil perhutanan tentu berbeda dengan desa yang mengandalkan pertanian ataupun perikanan, demikian juga sebaliknya. Karakteristik desa berdasarkan tipologi wilayah, kegiatan ekonomi, dan latar belakang sosial budaya berbeda ini tersebar di desa-desa yang ada di Indonesia. Artinya, bahwa kawasan perdesa-desaan memiliki permasalahan yang cukup kompleks dan membutuhkan adanya perhatian serius dalam upaya mencari solusinya secara spesifik.
Oleh karena itu, suatu konsep atau model dari desain pengembangan ekonomi perdesaan yang komprehensif melalui inovasi sosial yang berbasis pada sumber daya ekonomi dan komunitas lokal dengan menyinergikan peran multistakeholders dalam pembangunan kawasan perdesaan.
Implementasi dari konsep atau model ini diharapkan akan mampu menjadi solusi dalam mewujudkan transformasi kawasan perdesaan yang mandiri dan tercapainya kondisi keadilan pengelolaan sumber daya ekonomi produktif di perdesaan yang mencakup tiga dimensi, yaitu: distribusi, pengakuan, dan prosedur (McCauley, 2018). Demikian juga, elemen penting dari keadilan SDA, yaitu ketersediaan (availability), akses (accessibility), dan keberlanjutan (sustainability) sebagai jaminan bagi pemenuhan kebutuhan generasi pembangunan perdesaan yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan.
Dengan mempertimbangkan berbagai permasalahan dan tantangan dalam pembangunan perdesaan, maka pertanyaan pokok yang ingin dijawab adalah bagaimana sebaiknya konsep dan model serta strategi pembangunan perdesaan berbasis masyarakat yang sesuai dengan karakteristik dan konteks Indonesia dalam upaya mempercepat transformasi pembangunan perdesaan. Pertanyaan pokok ini dapat diturunkan dalam beberapa pertanyaan operasional pada sebagai berikut:
1. Faktor-faktor apa saja yang sering muncul menjadi permasalahan krusial dalam implementasi pembangunan perdesaan dan bagaimana upaya-upaya yang telah dilakukan oleh para pemangku kepentingan dalam mengatasinya?
2. Bagaimana model-model pembangunan perdesaan berbasis masyarakat diimplementasikan di Indonesia dalam satu dekade terakhir ini?
3. Bagaimana pengembangan konsep proper governance dan inovasi sosial akan dapat menciptakan kebaruan konsep pembangunan perdesaan?
4. Bagaimana bentuk konsep, model, dan strategi pembangunan perdesaan berbasis masyarakat yang sesuai dengan karakteristik dan konteks Indonesia?
Konsep dan model pembangunan wilayah perdesaan berbasis komunitas akan mendukung proses transformasi desa menuju desa mandiri yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan berbasis pada SDA dan kelembagaan lokal, serta mengaktifkan keterlibatan peran multistakeholders dalam pembangunan perdesaan. Langkah-langkah atau tahapan penyusunan konsep dan model pembangunan perdesaan berbasis komunitas diawali dengan penyusunan grand desain berdasarkan hasil dari mapping kondisi permasalahan di perdesaan serta review konsep dan model pembangunan perdesaan dari perspektif akademisi, pengambil kebijakan, dan organisasi masyarakat. Tahap selanjutnya adalah menghasilkan draft konsep desain pembangunan perdesaan yang masih berupa embrio atau rancangan awal dan kemudian melakukan pengujian tahap awal atas konsep atau model pembangunan desa berbasis komunitas sebagai bahan untuk penyempurnaan konsep dan model yang sedang disusun. Langkah berikutnya yang cukup krusial adalah melakukan pengujian tahap lanjutan dari konsep dan model yang telah mengalami penyempurnaan untuk mematangkan model pembangunan perdesaan yang implementatif.
Menguji model pembangunan perdesaan melalui kolaborasi dengan instansi terkait atau lembaga non-pemerintah. Kemudian pada tahap akhir, melakukan evaluasi dan perbaikan tahap lanjutan atas konsep atau desain yang telah mengalami penyempurnaan untuk mematangkan konsep atau model pembangunan perdesaan. Melakukan finalisasi konsep atau desain yang telah mengalami penyempurnaan sebagai rekomendasi strategi pembangunan perdesaan di masa depan seperti dalam penyusunan RPJMN 2025–2029 dan RPJP 2025–2050.