Secara konseptual, menurut Murray, Caulier-Grice, dan Mulgan (2010), inovasi sosial dilakukan melalui sedikitnya 6 (enam) tahap sebagaimana dapat dilihat dalam gambar di bawah ini.
Gambar 3.6 Proses Inovasi Sosial (Sumber: Murray, Caulier-Grice and Mulgan, 2010).
Pada Gambar 3.6 dapat dijelaskan bahwa proses inovasi sosial dimulai dengan tahap Prompts yang mengindikasikan adanya kebutuhan bagi penerapan inovasi sosial sebagai hasil dari identifikasi masalah dan
tantangan di suatu wilayah atau komunitas masyarakat. Selanjutnya, dari hasil analisis awal disusun suatu proposal yang mencakup ide yang hendak dijalankan. Tahap berikutnya adalah melakukan prototyping atau melakukan suatu rangkaian uji coba dalam tataran praktis sehingga bisa diketahui kekuatan dan kelemahan dari ide awal untuk kemudian diperbaiki. Setelah selesai proses prototyping dan penyempurnaan model inovasi sosial maka akan dilanjutkan dengan tahap keempat yaitu sustaining dengan menjadikan inovasi sosial tersebut dalam aktivitas sehari-hari dalam lingkup komunitas. Jika sudah berhasil dijalankan maka inovasi sosial tersebut bisa di-scaling-up dan disebarkan pada komunitas atau cakupan wilayah yang lebih besar. Jika tahap kelima ini berhasil dijalankan maka akan sampai pada tahapan systemic change yang dapat menciptakan adanya transformasi atau perubahan dalam skala yang lebih besar, tidak hanya bagi komunitas, tetapi juga sistem yang dijalankan serta melibatkan semua sektor pembangunan.
Empat dinamika dalam proses perubahan sosial menurut Neumeier (2017) adalah: (i) membangkitkan dan membangun gagasan-gagasan untuk perubahan sosial; (ii) menumbuhkan, menguji, mengonsolidasikan inovasi sosial; (iii) mengimplementasikan inovasi sosial dan mengembangkannya (scaling up); dan (iv) mengubah sistem. Dalam contoh kasus di kawasan perdesaan komunitas masyarakat hutan, inovasi sosial dalam kondisi desa yang termarginalkan dapat dilakukan melalui institusi informal dari kepemimpinan informal dan tindakan bersama (collective action) komunitas masyarakat hutan, membangun rasa saling percaya, sebagai basis untuk perubahan yang bersifat bottom-up. Hal ini diimbangi dengan pengetahuan lokal dan kapasitas sosial dari masyarakat hutan.
Dalam beberapa kasus institusi formal, transformasi dapat terjadi melalui berbagai cara misalnya melalui kerja sama (kolaborasi), partisipasi, dan membangun kapasitas, akan dapat merekonfigurasi praktik-praktik sosial, terutama dalam mengembangkan jejaring, dan mempercepat proses transfer pengetahuan yang bersumber dari eksternal. Tentu saja perbedaan dari sisi outcome dapat terjadi karena faktor kompleksitas permasalahan, kepentingan yang beragam, kapasitas yang berbeda, dan adanya perbedaan dalam hal dukungan sektor publik.
Gambar 3.7 Tahapan dan Waktu yang Dibutuhkan dalam Implementasi Model atau Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (hypotetical timeline 2020–2030).
Gambar 3.7 menunjukkan bahwa suatu program dapat saja dilakukan dalam 3 atau 5 tahun, tetapi bisa juga 10 tahun dengan kemungkinan berhasil atau gagal. Narasumber FGD_10 dan FGD_11 yang merupakan para penggiat atau aktivis pemberdayaan masyarakat dari beberapa LSM menyatakan bahwa implementasi suatu konsep atau model atau program pembangunan dan pemberdayaan memerlukan waktu yang cukup panjang. Pada tahap awal (introduction) dibutuhkan adanya sosialisasi dalam memberikan persepsi dan pemahaman yang sama terhadap suatu rencana sekaligus memberikan pengenalan awal bagi kedua pihak. Langkah awal tersebut akan menciptakan rasa saling percaya dan memudahkan proses interaksi yang lebih intensif.
Selanjutnya, proses intervensi awal dapat dilakukan dengan memberikan saran/masukan kepada masyarakat lokal tentang perlunya perubahan/
perbaikan/peningkatan dalam aktivitas ekonomi (dan sosial) melalui pengenalan ide/gagasan/model/bangun yang dapat dilakukan. Proses ini diikuti dengan langkah-langkah advokasi (bila diperlukan) misalnya dalam hal legalitas, dasar hukum, sumber pembiayaan, dan kelengkapan administratif. Tahap krusial berikutnya adalah implementasi yang dilakukan dengan pendampingan/supervisi secara berkelanjutan dan dalam jangka yang cukup lama untuk memastikan semua rencana berjalan dengan baik. Tahapan evaluasi menjadi sarana kontrol atas bekerjanya semua rencana dan bila diperlukan tindakan untuk memperbaiki hal-hal tertentu dengan cepat. Jika semua berjalan dengan baik, maka tahap
akhirnya adalah exit strategy yang dilakukan secara bertahap agar masyarakat bisa menjadi mandiri.
Beberapa contoh kasus di lapangan misalnya dalam pengembangan ekonomi di Desa Panggungharjo (Sleman, Yogyakarta), Ponggok (Klaten, Jawa Tengah), Cikadut (Kab. Bandung, Jawa Barat) dirintis selama bertahun-tahun hingga bisa mencapai kesuksesannya. Keberhasilan dapat diciptakan melalui melakukan institusionalisasi atas dukungan komunitas/masyarakat dan pemerintah. Skema pembiayaan atau investasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan dana program pemerintah, LSM, dan dapat juga melalui skema public private partnership skala kecil. Dalam proses, output dan outcomes penting juga upaya mengeksekusi ide/gagasan, memobilisasi aktor, mengadopsi pengetahuan untuk memperbaiki atau meningkatkan tata praktik sosial yang lebih mandiri dan berkelanjutan serta sensitif terhadap perubahan (adaptasi dan mitigasi), serta mampu secara inklusif meningkatkan kesejahteraan kelompok masyarakat marjinal.
Tabel 3.2 Perbedaan Elemen Pembangunan dalam Desa Adat dan Desa Dinas.
Elemen Desa Adat Desa Dinas
Political Capital Memiliki modal politik yang kuat, memiliki basis masyarakat adat sebagai sumber kekuatan politiknya
Memiliki modal politik yang kuat melalui pemilihan kepala desa
Economic Capital Aset tinggi, sisi anggaran rendah Aset rendah namun secara anggaran tinggi
Sosial Capital Karena berbasis pada masyarakat, memiliki social capital tinggi
Mungkin memiliki social capital rendah
(Sumber: FGD Proper Governance, 23 November 2020).
Berdasarkan hasil identifikasi awal dari tabel di atas, dapat diartikan bahwa sumber daya kapital yang dimiliki oleh kedua kategori desa berdasarkan tata kelola pemerintahan tidak bisa dilepaskan dari modal pembangunan berbasis masyarakat yang akan dibangun. Atas dasar itulah, maka di dalam proses pembangunan rekonstruksi model nantinya yang rencananya akan menghasilkan empat elemen yaitu kelembagaan, pembiayaan, pendampingan, dan keberlanjutan akan terkait dengan konsep tadi sehingga apa yang bisa kita lakukan terhadap aktualisasi
adalah prinsip penguatan dan pengakuan atas praktik yang telah ada baik dalam kelembagaan, pembiayaan, pendampingan, maupun keberlanjutan (continuity). Jika belum terjadi sinergitas antara dinas (state) dan adat (local context atau society), maka perlu dibangun sinergitas di antara keduanya.
Hal yang tampaknya dilakukan di Bali sebagaimana diungkapkan oleh narasumber FGD_11 terutama di sektor ekonomi. Ada nilai-nilai lama di dalam skema pembiayaan dalam perekonomian di desa yaitu perkreditan desa (Labda Pancikreman Desa, Lembaga Perkreditan Desa, LPD) dan masuk nilai baru dengan state dengan adanya BUMDes yang memiliki kesamaan dengan Bupda (Baga Utsaha Padruwen Desa Adat). Kesamaan semacam ini apabila tidak diatur atau tidak disinergikan akan dapat saling tumpang tindih karena adanya perbedaan sumber pembiayaan dan status keberadaannya dalam masyarakat desa. Aktualisasi konsep pembangunan perdesaan berbasis masyarakat akan mengatur ruang lingkupnya sehingga tidak terjadi tumpang tindih, tetapi justru bersinergi dengan baik. Dengan prinsip aktualisasi konsep pembangunan desa, maka setelah adanya pengakuan, penguatan, dan sinergitas dalam pembangunan dapat dimungkinkan untuk adanya introduksi nilai/
praktik baru dalam hal kelembagaan, pembiayaan, pendampingan, dan keberlanjutan secara bottom-up (atas kehendak masyarakat) berdasarkan kesepakatan dan keinginan masyarakat, bukan memaksakan introduksi nilai-nilai baru tersebut ke dalam masyarakat. Oleh karenanya, hal ini menjadi penting untuk dikaji secara lebih mendalam dalam konteks perbedaan karakteristik ekonomi, sosial, dan budaya suatu desa dengan desa yang lain, suatu wilayah dengan wilayah yang lain dalam mengelola pembangunan perdesaan berbasis masyarakat.