• Tidak ada hasil yang ditemukan

Syarat bagi Percepatan Transformasi Pembangunan Perdesaan

Berdasarkan pembahasan permasalahan umum di atas, maka diperlukan adanya suatu aktualisasi konsep dan model pembangunan perdesaan yang berbasis komunitas. Basis komunitas ini akan digunakan untuk mencapai berbagai macam target pembangunan perdesaan yaitu menciptakan kemandirian, daya saing, inklusivitas, dan keberlanjutan pembangunan. Kemandirian desa tidak hanya dilihat dari capaian hasil indeks pembangunan desa saja, tetapi secara menyeluruh sebagai bentuk atau upaya percepatan transformasi pembangunan perdesaan melalui implementasi program dan kebijakan pemerintah yang memanfaatkan

inovasi sosial dalam menciptakan nilai tambah dari aktivitas produksi dan reproduksi kapital yang menyinergikan peran aktor-aktor pembangunan perdesaan di perdesaan secara inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Habiyaremye, Kruss, dan Booyens (2020) mengungkapkan bahwa transformasi perdesaan membutuhkan solusi yang inovatif yang mengarah pada perluasan basis produksi perdesaan, dari aktivitas tradisional menjadi sektor yang lebih produktif, yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat perdesaan. Transformasi perdesaan dapat dicapai melalui proses yang melibatkan pendekatan inklusif terhadap inovasi, dengan partisipasi aktif baik dari masyarakat perdesaan maupun dari pemerintah. Proses yang inklusif dalam inovasi ini dapat membantu mengurangi efek disruptif dari perubahan sosial, serta adopsi terhadap metode produksi dan teknologi baru. Pemerintah dapat berperan penting dalam memanfaatkan kebijakan inovasi, misalnya untuk mengembangkan metode produksi pertanian, serta untuk intervensi dalam mencapai transformasi yang inklusif dan menjamin adanya inovasi sosial yang pro-poor.

Berdasarkan studi dari Habiyaremye, Kruss, dan Booyens (2020) ini, ketika pemerintah lebih terlibat secara langsung pada setiap level dan seluruh wilayah, terdapat potensi besar agar transformasi dapat berhasil mengarah sesuai tujuan. Namun demikian, ketika agen pemerintah berperan dalam intervensi untuk mendorong peningkatan kapabilitas lokal, peluang keberhasilan transformasi perdesaan bahkan dapat menjadi lebih besar lagi. Dengan kata lain, pemerintah juga perlu mengupayakan pemberdayaan masyarakat perdesaan agar dapat mengoptimalkan peluang yang ada, selagi mengurangi ancaman yang mungkin timbul dengan adanya proses transformasi ini. Habiyaremye, Kruss, dan Booyens (2020) juga mengatakan bahwa negara berkembang membutuhkan adanya percepatan transformasi perdesaan agar dapat mengatasi ketimpangan dengan cara meningkatkan partisipasi masyarakat pedesaan dalam perekonomian serta meningkatkan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Dalam hal tersebut, negara berperan untuk mempromosikan inovasi untuk transformasi pedesaan guna mendorong inklusi sosial dan ekonomi masyarakat. Negara dan badan pembangunan daerah memiliki

peran sentral untuk merancang inovasi dan strategi pembangunan untuk transformasi struktural yang seimbang dan inklusif.

Sejalan dengan Li (2015), narasumber FGD_9,6 menyebutkan pentingnya menghargai proses dalam pembangunan perdesaan. Li (2015) mendasari argumennya dari contoh dua proyek, yakni pertama adalah proyek dari The Nature Conservancy untuk meningkatkan kesadaran masyarakat desa terhadap pentingnya konservasi; dan yang kedua adalah proyek dari World Bank untuk pembangunan berbasis komunitas (Community Driven Development). Dari pembelajaran kedua proyek tersebut, beberapa permasalahan diidentifikasi. Pertama, kurangnya perhatian mengenai peningkatan kapasitas masyarakat desa karena dipandang sebagai sesuatu yang belum mendesak untuk diprioritaskan. Kedua, kecilnya insentif bagi pejabat pemerintah, termasuk pemerintah desa, untuk terlibat dalam proses desain proyek. Peran mereka yang hanya untuk mengawasi dan berkoordinasi, tanpa dapat turut campur dalam aktivitas proyek.

Ketiga, masyarakat desa tidak memiliki insentif tertentu untuk fokus pada proyek pemberdayaan karena sudah cukup banyaknya pendanaan proyek mikro dari berbagai kementerian. Keempat, terkait opportunity cost yang dihadapi masyarakat desa dalam menjalani proyek pemberdayaan desa dan konservasi, yang dianggap kurang menarik karena panjangnya proses partisipatif dan aturan yang dianggap memberatkan. Terlebih lagi, rangkaian aktivitas pelatihan atau banyaknya pertemuan konsultasi mengenai aksi konservasi tersebut, dianggap tidak memberikan imbalan atau keuntungan materi secara riil padahal masyarakat juga perlu memenuhi kebutuhan hidup yang masih bersifat subsisten. Artinya, mereka lebih memilih untuk melakukan kegiatan yang dapat langsung atau lebih cepat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek.

6 Penyusunan buku ini melibatkan narasumber dari berbagai pemangku kepentingan melalui rangkaian focus group discussion (FGD) secara daring dan luring di tahun 2020. Hal ini dilakukan untuk dapat menggali dan mengumpulkan serta mendalami dinamika pembangunan perde-saan dengan berbagai permasalahan, tantangan, dan capaiannya selama ini. FGD_9 dilaksana-kan pada tanggal 6 November 2020.

Beberapa faktor tersebut yang diungkapkan oleh Li (2016) mengakibatkan

‘sistem proyek’ menjadi penghambat untuk mencapai tujuan transformasi perilaku melalui pemberdayaan masyarakat desa, termasuk perilaku pejabat pemerintahannya. Proyek rancangan World Bank dalam pemberdayaan telah berupaya untuk mengembangkan kapasitas yang terdapat dalam modal sosial dan mengarahkannya agar masyarakat perdesaan di Indonesia mampu mengejar capaian pembangunan melalui cara mereka sendiri. Proses pemberdayaan ini termasuk pula berupaya memperkuat sensitivitas terhadap kalangan miskin (pro-poor), meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana proyek, serta implementasi reward and punishment terhadap tindak korupsi.

Akan tetapi, dominasi dari elite desa dan keterbatasan komitmen dari pejabat pemerintah masih menjadi kendala utama yang terjadi sehingga transformasi yang diharapkan masih sulit terjadi (Li, 2016). Permasalahan semacam ini menurut Damayanti dan Syarifuddin (2020) juga menjadi penghambat tercapainya pendekatan partisipatif sebagai wujud dari pemberdayaan masyarakat.

Damayanti dan Syarifuddin (2020) menyatakan bahwa partisipasi masyarakat secara inklusif dalam proses perencanaan pembangunan, yang tidak hanya secara fisik, tetapi juga terlibat langsung dalam mengkaji masalah dan menentukan aktivitas yang dibutuhkan, kurang dapat terealisasi karena adanya distorsi untuk kepentingan politik dan ekonomi tertentu. Terkait hal ini, dibutuhkan upaya meminimalisasi kesenjangan kekuasaan antara pemangku kepentingan, penegakan hukum dan peraturan, serta dukungan integrasi pengetahuan dan proses pembelajaran yang efektif dengan basis data yang memadai dalam implementasi proses partisipasi dalam perencanaan pembangunan perdesaan (Akbar dkk., 2020). Belum tercapainya tujuan transformasi pembangunan masyarakat perdesaan berkaitan dengan yang dikatakan oleh narasumber FGD_9 bahwa proses adopsi inovasi tidaklah mudah, terutama di level masyarakat bawah. Dengan keragaman masalah dan tantangan dalam upaya transformasi pembangunan, maka cara pemerintah yang cenderung mengukur keberhasilan dari segi proporsi penyerapan anggaran atau secara kuantitas dianggap kurang tepat karena tidak terlalu berfokus pada keberhasilan program secara kualitas.

Pemberdayaan Masyarakat, Kemiskinan, dan Transformasi Hijau