• Tidak ada hasil yang ditemukan

Integrated Agriculture Development

Pembangunan perdesaan memiliki keterkaitan yang erat dengan pertanian sehingga diskusi tentang pembangunan desa tidak akan lepas dari pembahasan pembangunan sektor pertanian. Hal ini dikarenakan karakteristik wilayah perdesaan yang sebagian besar melakukan aktivitas pertanian. Keeratan hubungan pertanian dan perdesaan juga dapat diketahui dari penjelasan Ploeg dkk., (2002) yang menyebutkan pertanian sebagai sumber produksi di perdesaan, berkontribusi pada terjaganya ketersediaan lanskap pertanian, mobilisasi, reproduksi, dan pemanfaatan sumber daya perdesaan. Dalam evolusi perkembangan

ide, konsep, dan kebijakan pembangunan perdesaan terlihat pula hubungan pembangunan perdesaan dengan pertanian. Hayami dan Ruttan (1985) menyebutkan lima model pembangunan perdesaan dan pertanian yaitu (1) Resources exploitation model yang merupakan ekspansi sumber daya ekonomi perdesaan dan pertumbuhan produksi pertanian (utama); (2) Conservation model yang mempertahankan kapasitas/daya dukung lingkungan dalam pembangunan pertanian; (3) Urban industrial impact model yang disebutkan sebagai aktivitas ekonomi perdesaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan yang meningkat; (4) Diffusion model menggambarkan peningkatan pembangunan perdesaan melalui adanya transfer dan adopsi pengetahuan dan informasi; dan (5) High-payoff input model (green revolution), optimal resource allocation yang dijelaskan sebagai model pemanfaatan sumber daya secara optimal dengan mengadopsi hasil penelitian dan pengembangan (litbang) yang sesuai dengan kondisi/karakteristik wilayah serta sumber daya yang dimiliki sehingga intervensi pemerintah dilakukan secara spesifik dan tepat untuk mengatasi kekurangan dan mengoptimalkan kapasitas ekonomi desa.

Ellis dan Biggs (2001) membagi timeline pembangunan perdesaan dari era tahun 1950 hingga 2000-an yang menunjukkan irisan pembangunan perdesaan dan pertanian. Bermula dari konsep pembangunan pertanian di wilayah perdesaan yang masih banyak berupa aktivitas pertanian tradisional, subsisten, dan padat karya hingga tahun 1950-an, kemudian berkembang ide untuk menciptakan modernisasi dengan mekanisasi pertanian yang lebih baik di tahun 1960-an melalui penemuan-penemuan baru dari alat produksi pertanian.

Selanjutnya Ellis dan Biggs (2001) menyatakan bawah dengan diawali oleh munculnya revolusi hijau untuk meningkatkan produksi pertanian di tahun 1970-an, pembangunan perdesaan dan pertanian semakin berkembang seiring dengan adanya ide Integrated Rural Development (IRD).

Di era tahun 1970-an ini, konsep pembangunan perdesaan dan pertanian dilaksanakan dengan lebih komprehensif melalui peningkatan peran pemangku kepentingan atau aktor dalam pembangunan perdesaan dan keterkaitan antarsektor ekonomi. Peran pemerintah masih dominan dalam era tahun ini dalam bentuk State-led Rural Development (SRD).

Pada tahun 1980-an, pembangunan perdesaan mulai diarahkan pada peran dan upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan yang merupakan sistem yang lebih kompleks dari sektor pertanian dan juga upaya pengentasan kemiskinan di perdesaan (Ellis dan Biggs, 2001).

Konsep ini kemudian makin berkembang di era tahun 1990-an dengan penambahan isu lingkungan dan keberlanjutan yang menjadi perhatian dalam pembangunan perdesaan. Di tahun 1990-an, upaya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat desa melalui pemberdayaan juga menjadi salah satu topik penting dalam pembangunan perdesaan. Hal ini berlanjut di era tahun 2000-an di mana isu mengenai keberlanjutan kehidupan perdesaan, good governance, pembangunan multisektoral, partisipasi masyarakat, dan pengurangan kemiskinan cukup dominan dalam pembangunan perdesaan.

Hodge dan Midmore (2008) menyebutkan adanya orientasi kebijakan pembangunan akan memengaruhi jenis implementasi kebijakan yang dijalankan pada suatu wilayah desa. Menurut Hodge dan Midmore (2008), pendekatan pembangunan pertanian dan perdesaan bisa dilihat dari perubahan kebijakan yang semula sangat sektoral dengan dominasi komoditas pertanian menjadi multi-sektoral dengan adanya implementasi kebijakan diversifikasi produksi di perdesaan. Namun demikian, pendekatan multisektoral saja tidak cukup mengingat adanya keterbatasan sumber daya dan juga kapasitas ekonomi masing-masing desa. Misalnya dalam pembangunan suatu desa memiliki dominasi sektor pertanian yang sangat besar sehingga tidak memungkinkan bagi peningkatan kapasitas ekonomi nonpertanian.

Tabel 3.1 Kebijakan dan Implementasi Pembangunan Pertanian

No. Orientasi Kebijakan

Model

Pembangunan Implementasi kebijakan 1 Kebijakan Pertanian Sektoral Dukungan bagi komoditas pertanian 2 Kebijakan Pertanian Multisektoral Diversifikasi

3 Kebijakan Pertanian Teritorial Pembangunan Perdesaan 4 Kebijakan Perdesaan Lokal Pembangunan komunitas lokal

(Sumber: Hodge dan Midmore, 2008)

Pendekatan teritorial yang membuka peluang kerja sama antarwilayah dan memperkuat jaringan serta peningkatan keterkaitan ekonomi antarwilayah perdesaan dan juga termasuk dengan wilayah perkotaan. Hal tersebut yang kemudian memunculkan adanya pembangunan perdesaan dan bukan sekedar pembangunan desa. Pendekatan multisektoral dan teritorial cukup mendominasi dalam strategi pembangunan perdesaan saat ini. Tantangan yang dihadapi dalam pendekatan teritorial dan juga multisektoral adalah inklusivitas dalam pembangunan perdesaan. Hal ini dikarenakan adanya kelompok atau individu yang tetap menghadapi masalah marginalisasi dengan ketidakmampuan untuk bersaing atau masuk dalam pasar kerja dan juga dalam pasar produksi.

Walaupun pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menyediakan peluang atau pasar kerja bagi masyarakat secara inklusif, tentu tetap akan ada kesulitan untuk bisa menjangkau hingga ke level individu.

Bahkan, pemerintah daerah pun belum tentu bisa mengatasi hal ini dengan baik. Oleh karena itu, muncul pendekatan secara lokal dalam arti pendekatan individual yang menyasar pada upaya membantu individu dalam meningkatkan kapasitasnya untuk turut berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi di perdesaan. Dalam pendekatan lokal ini, peran dari kelembagaan lokal dan juga modal sosial dalam masyarakat digabungkan dalam bentuk local community development atau pembangunan berbasis komunitas lokal. Pendekatan semacam ini mengalami perkembangan dalam model dan konsep pembangunan perdesaan dan pertanian di tahun 2010-an hingga saat ini dengan digabungkan dengan model integrated (rural and agricultural) development, serta upaya shifting dari top-down approach menjadi bottom-up approach atau kombinasi dari kedua hal tersebut.

Pembangunan pertanian adalah tentang peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan ekonomi petani melalui eksploitasi sumber daya alam dengan peningkatan layanan pertanian, insentif, dan teknologi pertanian, serta sumber daya yang digunakan dalam pertanian, seperti tanah, irigasi, sumber daya manusia, dan infrastruktur pedesaan. Dalam konteks yang lebih luas, yaitu pembangunan perdesaan adalah proses meningkatkan peluang dan kesejahteraan masyarakat perdesaan dan menjadi awal proses perubahan dalam karakteristik masyarakat perdesaan. Selain pertanian, pembangunan perdesaan melibatkan pembangunan manusia bagi

kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Selanjutnya, transformasi perdesaan melibatkan beberapa hal seperti peningkatan produktivitas pertanian; peningkatan komersialisasi dan surplus produk yang dapat dipasarkan; dan diversifikasi pola produksi dan mata pencaharian. Hal ini juga melibatkan upaya perluasan lapangan kerja di luar pertanian yang layak, peluang wirausaha, cakupan yang lebih baik ke akses layanan dan infrastruktur, dan kapasitas masyarakat untuk memengaruhi proses kebijakan yang relevan. Semua ini mengarah pada pertumbuhan pedesaan yang luas (dan lebih luas) dan kawasan pedesaan yang dikelola dengan lebih baik dan berkelanjutan.

Agriculture development Rural

Poverty y Reduction

and a d Inclusiononon

Rural development

Rural transformation

Inclusive Rural transformation

Agriculture-boosting, agriculture-modernizing, agriculture-sustaining

Gambar 3.2 Hubungan Pembangunan Perdesaan, Pembangunan Pertanian, dan Transformasi Perdesaan (Sumber: IFAD, 2016).

Dengan transformasi pedesaan yang semakin baikmaka akan mampu menciptakan pembangunan perdesaan yang inklusif. Artinya, setiap orang, tanpa kecuali, dapat menggunakan hak ekonomi, sosial, dan politik mereka, mengembangkan kemampuan mereka, serta memanfaatkan peluang yang tersedia di lingkungan mereka. Inklusivitas ini akan mengarah pada perbaikan nyata dalam posisi ekonomi dan kualitas hidup petani kecil, pekerja miskin, dan kelompok masyarakat yang tidak memiliki tanah. Dalam proses perubahan dan pembangunan yang berkelanjutan akan mampu menciptakan transformasi struktural yang merupakan penyebab sekaligus dampak pertumbuhan ekonomi. Ini melibatkan peningkatan produktivitas dalam pertanian dan ekonomi perkotaan,

perubahan dalam komposisi ekonomi dari pertanian yang dominan ke industri dan jasa, meningkatnya keterlibatan dalam perdagangan internasional, meningkatnya migrasi desa-kota dan urbanisasi, dan realisasi transisi demografis (tingkat fertilitas yang terkontrol dan angka mortalitas yang menurun dengan life expectancy yang membaik) yang harus dikelola untuk keberlanjutan jangka panjang.

Dalam konteks pembangunan desa pertanian, beberapa studi telah melakukan penelitian terkait adopsi teknologi dan inovasi dalam lingkungan komunitas pertanian skala kecil. Adanya social learning menjadi salah satu parameter keberhasilan adopsi teknologi dan inovasi terhadap produktivitas para agen pertanian. Keputusan seorang mengadopsi suatu teknologi dan inovasi dipengaruhi oleh keputusan petani lain (Besley dan Case, 1993, 1994; Foster dan Rosenzweig, 1995; Munshi, 2004). Oleh karena itu, keputusan ini erat kaitannya dengan ukuran komunitas tersebut (network size). Semakin kecil ukuran komunitas, informasi keputusan adopsi teknologi seorang petani akan lebih mudah diterima oleh petani lainnya sehingga tingkat adopsi teknologi di komunitas tersebut akan tinggi. Di lain pihak, jika terdapat kesamaan komoditas yang diproduksi oleh satu petani dan petani lain maka teknologi yang diadopsi dapat digunakan secara kolektif. Hal ini menurunkan biaya tetap yang timbul dari adopsi teknologi tersebut. Dalam kondisi ini, komunitas yang lebih besar akan memiliki probabilitas adopsi teknologi yang lebih besar pula (Besley dan Case, 1994; Bandiera dan Rasul, 2006). Faktor internal petani juga turut berperan dalam tingkat adopsi teknologi dan inovasi. Petani di lingkungan yang lebih miskin memiliki akses finansial yang lebih rendah sehingga memiliki probabilitas untuk mengadopsi teknologi dan inovasi yang lebih rendah. Sejalan dengan itu, tingkat kemiskinan cenderung memiliki korelasi dengan tingkat pendidikan. Petani dengan tingkat pendidikan rendah akan cenderung memiliki kemampuan adopsi teknologi yang rendah (Uematsu dan Mishra, 2010; Alene dan Manyong, 2007).

Narasumber FGD_3 menyatakan bahwa konsep usulan pembangunan kawasan pertanian diarahkan pada bentuk pendekatan kawasan, korporatisasi, keberpihakan pada petani, dan terintegrasi secara nasional dengan peta jalan yang jelas dan dapat diikuti. Pendekatan korporatisasi

atau badan hukum usaha rakyat menjadi isu yang penting dalam kerangka mencapai skala ekonomi di kawasan perdesaan. Sebagai salah syarat pendukung, narasumber FGD_3 juga memberikan saran tentang perlu dibangunnya infrastruktur nasional sebagai jaringan agar masyarakat dapat memasarkan produknya lebih luas dan tercipta keterkaitan dengan desa-desa yang lainnya. Selain itu, perlu juga ada aktor di desa yang mampu mengatur, mengarahkan, dan menerjemahkan apa yang telah menjadi strategi pembangunan di sebuah desa. Kemudian, aspek lokalitas juga harus dipertimbangkan dalam pembangunan kawasan perdesaan atau kawasan pertanian karena akan berkaitan dengan intervensi yang dapat memberikan dampak yang optimal.

Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui narasumber FGD_6, diketahui bahwa masih terdapat kendala dalam pengembangan dan pemanfaatan SDA di kawasan perdesaan, antara lain bahwa implementasi BUMDes Bersama (BUMDESMA), BKAD (Badan Kerja sama Antardesa), dan Prukades belum dapat meningkatkan value added (nilai tambah) bagi masyarakat pedesaan secara optimal. Selain itu, para pemangku kepentingan, termasuk instansi pemerintah, BUMN, dan swasta, belum dapat bersinergi sesuai RPKP (Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan). Narasumber FGD_6 juga mengungkapkan bahwa BUMDes sebetulnya memiliki filosofi ekonomi kerakyatan dan juga sebagai bagian dari program inovasi. Oleh karena itu, BUMDes dapat berperan dalam mengakomodasi nilai-nilai kearifan lokal, sejalan dengan prinsip local community development, yang mencakup partisipasi masyarakat lokal atau konten lokal lainnya. Terdapat beberapa BUMDes yang telah dapat mengoptimalkan potensi lokalnya dan beberapa desa yang dapat berkembang lebih pesat. Namun demikian, terdapat pula kendala yang dihadapi di tingkat lokal, misal hanya pihak tertentu yang menguasai desa, atau pemerintah desa yang masih bergaya tradisional, yang tidak sesuai dengan UU Desa yang baru yang seharusnya melibatkan segenap masyarakat desa.