Pendekatan pembangunan yang selama ini cenderung bersifat fragmented, teknokratik, sektoral, dan top-down banyak mendapat kritik dari berbagai pihak. Hal ini karena banyak program akhirnya tidak tepat guna sehingga sumber daya menjadi sia-sia. Sementara itu, permasalahan pembangunan yang dihadapi bersifat multisektoral dan terdiri atas banyak elemen yang saling terkait. Dengan demikian, pembangunan berbasis masyarakat menjadi pendekatan alternatif yang digunakan agar sesuai dengan kebutuhan dari arah pembangunan yang hendak dicapai dan masyarakat terlibat di dalam proses tersebut. Dalam konsep pembangunan, partisipasi dan inklusi merupakan dua hal yang berbeda dan saling melengkapi.
Partisipasi berupaya untuk memperoleh masukan masyarakat terhadap isi program dan kebijakan. Di sisi lain, inklusi merupakan satu langkah lebih dari partisipasi dengan upaya terus-menerus untuk melibatkan masyarakat dalam menentukan proses, isi program, dan kebijakan (co-producing) (Quick dan Feldman, 2011).
Secara harfiah, pembang unan inklusif/pert umbuhan inklusif atau pembangunan sosial inklusif dapat dipahami sebagai konsep pertumbuhan yang erat kaitannya dengan menciptakan kesempatan yang sama dan dapat diakses peruntukkannya oleh semua orang, tidak hanya bagi orang miskin. Selain itu, seluruh anggota masyarakat turut berpartisipasi dan berkontribusi untuk proses pertumbuhan yang merata.
Untuk mencapai pertumbuhan inklusif dan pembangunan inklusif
seharusnya dapat melibatkan kombinasi aksi yang saling memperkuat termasuk (i) mempromosikan secara efisien dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, (ii) memastikan level politik yang setara, (iii) penguatan kapasitas, dan (iv) menyediakan jaring pengaman sosial (Rauniyar dan Kanbur, 2009). Hal ini sejalan pula dengan Thomas (1997) yang mengutarakan bahwa pertumbuhan yang inklusif sangat ditentukan oleh pengurangan kemiskinan, menyempitnya ketimpangan struktural, meningkatnya perlindungan sosial, dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Oleh karena itu, kata kunci yang penting dalam pembangunan inklusif meliputi partisipasi, akses, dan kesetaraan. Di sisi lain, hal ini juga menekankan akan keterlibatan seluruh aktor dalam proses dan pemanfaatan hasil dari pertumbuhan yang dihasilkan.
Dalam konteks mikro, khususnya di level perdesaan, pembangunan inklusif masih menjadi hal yang belum sepenuhnya bisa terimplementasi secara baik. Dalam kajian yang dilakukan oleh Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI (2018) melalui Program Prioritas Nasional yang mengambil lokasi di beberapa daerah di Indonesia diantaranya Langkat (Sumatera Utara), Dipasena (Lampung), Demak (Jawa Tengah), Kepulauan Selayar (Sulawesi Selatan), dan Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat). Desa-desa tersebut memiliki karakteristik sistem sosial dan ekologi yang tidak sama sehingga model pengelolaannya juga berbeda. Khusus untuk pengelolaan hutan mangrove Desa Lubuk Kertang, dilakukan pelibatan aktif seluruh stakeholder dalam menyusun organisasi pengelolaan hutan desa terutama dalam penyusunan peraturan desa. Pentingnya peraturan desa disusun, sebagai dasar hukum pelaksanaan hak dan kewajiban serta sangsi pelanggaran dalam pengelolaan hutan mangrove desa. Berdasarkan Peraturan Desa (Perdes) yang telah tersusun, organisasi pengelola diisi oleh perwakilan kelompok pengelola dan perwakilan masyarakat desa. Harapannya organisasi pengelola hutan desa ini dapat menjadi pusat koordinasi dan konsultasi pembangunan desa, khususnya yang terkait dengan pembangunan ekosistem mangrove atau merupakan bentuk one stop service program pembangunan yang bersinggungan dengan ekosistem mangrove (di luar program rutin yang dijalankan oleh pemerintah desa). Permasalahan pembangunan perdesaan masih menitikberatkan pada persoalan SDM,
infrastruktur, dan kelembagaan. Secara umum, akses yang belum merata di Indonesia mendatangkan permasalahan sosial dan ekonomi lanjutan bagi masyarakat sekitar sehingga tidak mengherankan angka kemiskinan di perdesaan belum menunjukkan penurunan secara cepat. Program pemerintah melalui dana desa yang harapannya dapat mengurangi laju ketimpangan akses terbukti memberikan banyak dampak positif bagi beberapa daerah yang memiliki pemimpin lokal yang paham akan kebutuhan dan potensi wilayahnya. Namun hal sebaliknya terjadi, di mana daerah dengan perangkat desa yang pasif cenderung tidak bisa melakukan inovasi-inovasi yang tentu saja pada akhirnya tidak ada multiplier effect yang dihasilkan.
Dari sisi kelembagaan, peran desa dan perangkat di dalamnya dalam mengakomodir permasalahan-permasalahan desa melalui tata kelola kelembagaan masih menunjukkan hasil yang kurang menggembirakan.
Kelembagaan sebenarnya dapat menjadi legalitas pemerintah lokal untuk bisa berbuat banyak bagi kemajuan daerahnya. Untuk itu, kehadiran local champion di tingkat tapak menjadi hal yang penting. Inisiator-inisiator pembangunan ini harus bisa terus dipertahankan untuk bisa meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Mengingat banyak masyarakat desa enggan untuk ikut serta dikarenakan merasa
‘rendah diri’ dan tidak memiliki pengetahuan mumpuni sehingga keinginan untuk bisa berkontribusi relatif rendah. Inklusi dalam pembangunan merupakan suatu konsep yang perlu direstrukturisasi oleh masyarakat. Ini merupakan proses pembelajaran terus-menerus di mana ruang pembelajarannya adalah masyarakat itu sendiri dan instrumen pembelajarannya adalah institusi (aturan praktik, tradisi, dan budaya) yang ada dan terbuka untuk digunakan, diadaptasi, atau dicipta ulang oleh masyarakat yang bersangkutan (Daeli dkk., 2017). Dengan begitu, pembangunan membawa perubahan sosial dan aspek keberlanjutan menjadi hal yang bisa dipertahankan.
Konsep pembangunan ekonomi inklusif yang telah disusun oleh pemerintah merupakan sebuah upaya untuk menghindari adanya eksklusi sosial dan tiga krisis besar, berupa: ketimpangan sosial, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, paradigma pembangunan baru diarahkan pada model pembangunan bersifat inklusif. Pada tahun
2019, Kementerian PPN/Bappenas bersama dengan lembaga SMERU telah menyusun Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif (IPEI). Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif merupakan alat untuk mengukur dan memantau sejauh mana tingkat inklusivitas pembangunan Indonesia baik pada level nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Indonesia terdiri atas 514 kabupaten/kota dengan karakteristik berbeda sehingga prioritas pembangunan di tingkat daerah bisa jadi berbeda dengan tingkat nasional. Disagregasi ke tingkat kabupaten/kota merupakan sebuah upaya memonitor tingkat inklusivitas pembangunan pada level kabupaten/kota agar perumusan kebijakan pembangunan ekonomi inklusif dapat lebih presisi sesuai prioritas pembangunan daerah masing-masing.
Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif mengukur inklusivitas pembangunan di Indonesia melalui aspek pertumbuhan ekonomi, ketimpangan, dan kemiskinan, serta akses dan kesempatan. Angka indeks terdiri atas 3 pilar dan 8 sub-pilar serta 21 indikator pembentuk indeks pembangunan ekonomi inklusif. Pada pilar pertama, pertumbuhan dan perkembangan ekonomi yang tinggi menjadi landasan fundamental untuk menciptakan dan memperluas kesempatan ekonomi dan kesempatan kerja, dan pada akhirnya menciptakan pembangunan ekonomi yang inklusif. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan salah satu syarat mutlak sebuah pembangunan ekonomi yang inklusif. Pertumbuhan ekonomi menggambarkan aktivitas ekonomi ataupun pemenuhan kebutuhan sehari-hari di masyarakat. Pertumbuhan dan perkembangan perekonomian tidak lepas dari demografi ketenagakerjaan di suatu wilayah. Semakin luas kesempatan kerja suatu wilayah, pertumbuhan dan perkembangan ekonomi akan semakin meningkat. Kesempatan kerja yang luas secara langsung meningkatkan tingkat produktivitas dan berpengaruh pada tingkat pembangunan ekonomi. Sementara itu, infrastruktur ekonomi mengukur seberapa jauh pertumbuhan ekonomi sudah dapat diakses masyarakat luas. Pertumbuhan ekonomi tidak hanya berpaku pada tingginya angka pendapatan, namun juga perlu memerhatikan infrastruktur sebagai daya dukung untuk memperlancar pencapaian target pertumbuhan. Infrastruktur yang dimaksud adalah perangkat dukungan yang dapat memperluas akses bagi masyarakat untuk mendapatkan manfaat dari tingginya pertumbuhan ekonomi.
Pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan menjadi pilar kedua karena pembangunan ekonomi inklusif harus memastikan adanya pemerataan ekonomi ke seluruh lapisan masyarakat. Ketimpangan dari sisi pendapatan, gender, maupun wilayah harus dihapuskan. Pengentasan kemiskinan merupakan syarat cukup pembangunan ekonomi yang inklusif. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang disertai angka kemiskinan yang tinggi membuat pertumbuhan itu sendiri tidak berkelanjutan.
Sementara pilar ketiga, perluasan akses dan kesempatan, bertujuan untuk memastikan seluruh masyarakat mendapatkan kemudahan akses terhadap penggunaan infrastruktur dasar dan keuangan yang inklusif serta memberikan kesempatan pengembangan kapabilitas sumber daya manusia yang adil dan berkualitas. Perluasan akses dan kesempatan ini ditandai dengan sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan sejahtera yang di kemudian hari dapat berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang lebih tinggi dan inklusif. Akses terhadap infrastruktur yang lebih luas menunjukkan sebuah pembangunan yang sudah lebih merata juga memudahkan kelompok masyarakat yang relatif tertinggal untuk mengejar laju pertumbuhan ekonomi. Perluasan akses juga tidak lepas dari ketersediaan infrastruktur dasar yang mapan. Di sisi lain, institusi keuangan memiliki fungsi intermediasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, akses terhadap institusi keuangan yang lebih luas mampu memastikan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang inklusif.