105Dokumentasi : Beberapa kampanye social (social campaign) sederhana yang
ASAS, TUJUAN, DAN RUANG LINGKUP Bagian Kesatu
Asas Pasal 2
Perlndungan dan pengelolaan lngkungan hdup
dilaksanakan berdasarkan asas:
a. tanggung jawab negara; b. kelestaran dan keberlanjutan; c. keserasan dan kesembangan; d. keterpaduan; e. manfaat; f. kehat-hatan; g. keadlan; h. ekoregon; . keanekaragaman hayat; j. pencemar membayar; k. partspatf; l. kearfan lokal; m. tata kelola pemerntahan yang bak; dan n. otonom daerah. Bagian Kedua Tujuan Pasal 3
Perlndungan dan pengelolaan lngkungan hdup
bertujuan:
a. melndung wlayah Negara Kesatuan Republk Indonesa
dar pencemaran dan/atau kerusakan lngkungan hdup;
b. menjamn keselamatan, kesehatan, dan kehdupan
manusa;
c. menjamn kelangsungan kehdupan makhluk hdup dan
d. menjaga kelestaran fungs lngkungan hdup;
e. mencapa keserasan, keselarasan, dan kesembangan
lngkungan hdup;
f. menjamn terpenuhnya keadlan generas masa kn dan generas masa depan;
g. menjamn pemenuhan dan perlndungan hak atas lngkungan hdup sebaga bagan dar hak asas manusa;
h. mengendalkan pemanfaatan sumber daya alam secara bjaksana; . mewujudkan pembangunan berkelanjutan; dan j. mengantspas su lngkungan global. Bagian Ketiga Ruang Lingkup Pasal 4
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup meliputi:
a. perencanaan; b. pemanfaatan; c. pengendalan; d. pemelharaan; e. pengawasan; dan f. penegakan hukum. BAB III PERENCANAAN Pasal 5
Perencanaan perlndungan dan pengelolaan lngkungan hidup dilaksanakan melalui tahapan:
a. nventarsas lngkungan hdup;
b. penetapan wlayah ekoregon; dan
Bagian Kesatu
Inventarisasi Lingkungan Hidup Pasal 6
(1) Inventarsas lngkungan hdup sebagamana dmaksud dalam Pasal 5 huruf a terdr atas nventarsas lngkungan hidup:
a. tngkat nasonal;
b. tngkat pulau/kepulauan; dan
c. tngkat wlayah ekoregon.
(2) Inventarsas lngkungan hdup dlaksanakan untuk memperoleh data dan nformas mengena sumber daya alam yang meliputi:
a. potens dan ketersedaan;
b. jens yang dmanfaatkan;
c. bentuk penguasaan;
d. pengetahuan pengelolaan;
e. bentuk kerusakan; dan
f. konlik dan penyebab konlik yang timbul akibat pengelolaan.
Bagian Kedua
Penetapan Wilayah Ekoregion Pasal 7
(1) Inventarsas lngkungan hdup sebagamana dmaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a dan huruf b menjad dasar dalam penetapan wlayah ekoregon dan dlaksanakan oleh Menter setelah berkoordnas dengan nstans terkat. (2) Penetapan wlayah ekoregon sebagamana dmaksud
pada ayat (1) dlaksanakan dengan mempertmbangkan kesamaan:
a. karakterstk bentang alam; b. daerah alran sunga;
c. klm;
d. lora dan fauna;
e. sosal budaya; f. ekonom; g. kelembagaan masyarakat; dan h. hasl nventarsas lngkungan hdup. Pasal 8 Inventarsas lngkungan hdup d tngkat wlayah ekoregon sebagamana dmaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf c dlakukan untuk menentukan daya dukung dan daya tampung serta cadangan sumber daya alam.
Bagian Ketiga
Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pasal 9 (1) RPPLH sebagamana dmaksud dalam Pasal 5 huruf c terdr atas: a. RPPLH nasonal; b. RPPLH provns; dan c. RPPLH kabupaten/kota. (2) RPPLH nasonal sebagamana dmaksud pada ayat (1) huruf a dsusun berdasarkan nventarsas nasonal. (3) RPPLH provns sebagamana dmaksud pada ayat (1) huruf b disusun berdasarkan: a. RPPLH nasonal; b. nventarsas tngkat pulau/kepulauan; dan c. nventarsas tngkat ekoregon.
(4) RPPLH kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c disusun berdasarkan:
a. RPPLH provns;
b. nventarsas tngkat pulau/kepulauan; dan c. nventarsas tngkat ekoregon.
Pasal 10
(1) RPPLH sebagamana dmaksud dalam Pasal 9 dsusun oleh Menter, gubernur, atau bupat/walkota sesua dengan kewenangannya.
(2) Penyusunan RPPLH sebagamana dmaksud pada ayat (1) memperhatikan: a. keragaman karakter dan fungs ekologs; b. sebaran penduduk; c. sebaran potens sumber daya alam; d. kearfan lokal; e. aspras masyarakat; dan f. perubahan klm. (3) RPPLH diatur dengan: a. peraturan pemerntah untuk RPPLH nasonal; b. peraturan daerah provns untuk RPPLH provns; dan
c. peraturan daerah kabupaten/kota untuk RPPLH
kabupaten/kota.
(4) RPPLH memuat rencana tentang:
a. pemanfaatan dan/atau pencadangan sumber daya
alam;
b. pemelharaan dan perlndungan kualtas dan/atau
fungs lngkungan hdup;
c. pengendalan, pemantauan, serta pendayagunaan dan
pelestaran sumber daya alam; dan
d. adaptas dan mtgas terhadap perubahan klm. (5) RPPLH menjad dasar penyusunan dan dmuat dalam
rencana pembangunan jangka panjang dan rencana pembangunan jangka menengah.
Pasal 11
Ketentuan lebh lanjut mengena nventarsas lngkungan hdup sebagamana dmaksud dalam Pasal 6, penetapan ekoregon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 8, serta RPPLH sebagamana dmaksud dalam Pasal 9 dan Pasal 10 datur dalam Peraturan Pemerntah.
BAB IV PEMANFAATAN
Pasal 12
(1) Pemanfaatan sumber daya alam dlakukan berdasarkan RPPLH.
(2) Dalam hal RPPLH sebagamana dmaksud pada ayat (1) belum tersusun, pemanfaatan sumber daya alam dlaksanakan berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dengan memperhatikan:
a. keberlanjutan proses dan fungs lngkungan hdup;
b. keberlanjutan produktvtas lngkungan hdup; dan
c. keselamatan, mutu hdup, dan kesejahteraan
masyarakat.
(3) Daya dukung dan daya tampung lngkungan hdup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh:
a. Menter untuk daya dukung dan daya tampung
lngkungan hdup nasonal dan pulau/kepulauan;
b. gubernur untuk daya dukung dan daya tampung
lngkungan hdup provns dan ekoregon lntas kabupaten/kota; atau
c. bupat/walkota untuk daya dukung dan daya tampung
lngkungan hdup kabupaten/kota dan ekoregon d wlayah kabupaten/kota.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan daya dukung dan daya tampung lngkungan hdup sebagamana dmaksud pada ayat (3) datur dalam peraturan pemerntah.
BAB V PENGENDALIAN
Bagian Kesatu Umum Pasal 13
(1) Pengendalan pencemaran dan/atau kerusakan lngkungan hdup dlaksanakan dalam rangka pelestaran fungs lngkungan hdup.
(2) Pengendalan pencemaran dan/atau kerusakan lngkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. pencegahan;
b. penanggulangan; dan c. pemulhan.
(3) Pengendalan pencemaran dan/atau kerusakan lngkungan hdup sebagamana dmaksud pada ayat (1) dlaksanakan oleh Pemerntah, pemerntah daerah, dan penanggung jawab usaha dan/atau kegatan sesua dengan kewenangan, peran, dan tanggung jawab masng-masng.
Bagian Kedua Pencegahan
Pasal 14
Instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup terdiri atas:
a. KLHS; b. tata ruang; c. baku mutu lngkungan hdup; d. krtera baku kerusakan lngkungan hdup; e. amdal; f. UKL-UPL; g. perznan; h. nstrumen ekonom lngkungan hdup;
. peraturan perundang-undangan berbass lngkungan hdup;
j. anggaran berbass lngkungan hdup;
k. analss rsko lngkungan hdup;
l. audt lngkungan hdup; dan
m. nstrumen lan sesua dengan kebutuhan dan/atau perkembangan lmu pengetahuan.
Paragraf 1
Kajian Lingkungan Hidup Strategis Pasal 15
(1) Pemerntah dan pemerntah daerah wajb membuat KLHS untuk memastkan bahwa prnsp pembangunan berkelanjutan telah menjad dasar dan terntegras dalam pembangunan suatu wlayah dan/atau kebjakan, rencana, dan/atau program.
(2) Pemerntah dan pemerntah daerah wajb melaksanakan KLHS sebagamana dmaksud pada ayat (1) ke dalam penyusunan atau evaluasi:
a. rencana tata ruang wlayah (RTRW) beserta rencana rncnya, rencana pembangunan jangka panjang (RPJP), dan rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) nasonal, provns, dan kabupaten/kota; dan
b. kebjakan, rencana, dan/atau program yang berpotens
menmbulkan dampak dan/atau rsko lngkungan hdup.
(3) KLHS dilaksanakan dengan mekanisme:
a. pengkajan pengaruh kebjakan, rencana, dan/atau
program terhadap konds lngkungan hdup d suatu wlayah;
b. perumusan alternatf penyempurnaan kebjakan,
rencana, dan/atau program; dan
c. rekomendas perbakan untuk pengamblan
yang mengntegraskan prnsp pembangunan berkelanjutan.
Pasal 16