• Tidak ada hasil yang ditemukan

Instrumen Hukum Pidana

Dalam dokumen KLINIK HUKUM LINGKUNGAN (Halaman 74-79)

PENYELESAIAN SENGKETA

5.2 Instrumen Hukum Pidana

5.2.1 Macam-macam Tindak Pidana Lingkungan Hidup

UUPPLH mempunya banyak pasal tentang sanks pdana bla dbandngkan dengan UUPLH dan UULH sepert tanggung jawab perusahaan (corporate crime) delk forml (speciic crime)

dan hukuman tata tertb (procedural measure).Seharusnya dengan

berlakunya UUPPLH, banyak pencemar dan perusak lngkungan hdup dapat djatuh hukuman pdana karena UUPPLH memberkan kemudahan dalam penuntutan, terutama dengan menerapkan pasal-pasal tentang delk formal.

Ada dua macam tndak pdana yang dperkenalkan dalam UUPPLH, yatu delk materl (generic crimes) dan delk forml

(speciic crimes).2Delk materl merupakan perbuatan melawan hukum yang menyebabkan pencemaran dan perusakan lngkungan hdup.Perbuatan melawan hukum sepert n tdak harus dhubungkan dengan pelanggaran aturan-aturan hukum

admnstras sehngga delk n juga dsebut sebaga Administrative Independent Crimes.3 Dalam UUPPLH Pasal 98 dan 99 mengatur tentang delk materl yakn delk yang baru danggap voltoid met het intreden van het (terlaksana penuh dengan tmbulnya akbat)

yang dlarang.4

Prasyarat untuk dapat dtuntutnya telah melakukan tndak pdana lngkungan hdup adalah akbat dar adanya pencemaran dan/atau perusakan lngkungan hdup. Dengan demkan, akbat dar suatu perbuatan dapat dpertanggungjawabkan secara pdana yakn haruslah dapat dbuktkan benar benara tentang telah terjadnya pencemaran dan/atau perusakan lngkungan hdup. Sehngga ada 2 jens tndak pdana lngkungan hdup, yatu5 :

1. Pencemaran lngkungan hdup (environmental pollution) yang

dlakukan secara melawan hukum dan dengan sengaja 2. Perusakan lngkungan hdup (environmental damage) yang

dlakukan secara melawan hukum dan dengan sengaja. Delk Forml (speciic crimes) dartkan sebaga perbuatan

yang melanggar aturan aturan hukum admnstras sepert pelanggaran terhadap zn.Untuk menjatuhkan sanks pdana kepada pelakunya, pembuktan terjadnya delk forml tdak dperlukan pembuktan terjadnya pencemaran dan perusakan lngkungan hdup sepert dalam delk materl, tetap cukup dengan membuktkan pelanggaran hukum admnstras. Dalam UUPPLH ketentuan delk forml n datur dalam Pasal 99 sampa Pasal 115. In merupakan delk yang danggap telah

voltoid (sepenuhnya terlaksana) dengan dlakukannya perbuatan

dlarang

3 Ibd

4 Mohammad Topan, 2009, Kejahatan Korporasi Di Bidang Lingkungan Hidup, Nusa Meda, Bandung, hal. 83

5 Barda Nawawi Arief, 2007, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum

5.2.2 Tindakan Tata Tertib

UUPPLH juga membawa perubahan paradgma terhadap hukum pdana, yang sebelumnya menganut teor bahwa hanya ndvdu atau perorangan yang dapat dkenakan sanks pdana sedangkan badan hukum karena da tdak bas melakukan kejahatan tdak dapat djatuh sanks pdana yang dkenal dengan stlah societas delinquere non potest. UUPPLH mengaku tentang

tanggung jawab korporasi seperti yang diatur dalam Pasal 117 jka tndak pdana dlakukan oleh atau atas nama badan hukum, perseroan, perserkatan, yayasan, atau organsas lan, ancaman pdananya dperberat sepertga. Dsampng pdana denda, korporas yang melakukan tndak pdana lngkungna hdup bas djatuhkan hukuman pokok berupa denda dan hukuman tambahan berupa tndakan tata tertb sepert yang tercantum dalam Pasal 119 UUPPLH yaitu :

1. Perampasan keuntungan yang dperoleh dar tndak pdana

2. Penutupan seluruh atau sebagan tempat usaha dan/atau kegatan

3. Perbakan akbat tndak pdana

4. Perwajiban mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak

5. Penempatan perusahaan d bawah pengampuan palng lama

3 (tga) tahun.

5.2.3 Kejahatan Korporasi Di Bidang Lingkungan Hidup

Kejahatan Korporasi dideinisikan sebagai berikut6 menurut Marshall B. Clnard dan Meter C. Yeger sepert dkutp oleh H Setyono “A Corporation crime is any act commited by corporation that is punished by the state, regardless of whether it is punished under administrative, civil or criminal lawi”. (kejahatan korporas

alah setap tndakan yang dlakukan oleh korporas yang bas dber hukuman oleh negara entah dbawah hukum admnstras negara, hukum perdata ataupun hukum pdana).

6 H. Setyono, 2005, Kejahatan Korporasi (Analisis Victimologi dan Pertanggungjawaban Korporasi Dalam Hukum Pidana Indonesia), Bayumeda

Dari deinisi tersebut menurut Steven Box seperti yang dkutp oleh Aref Amrullah, memberkan beberapa pembedaan menyangkut kejahatan korporas sebaga berkut7 :

a. Crime for corporation (kejahatan yang dlakukan oleh korporas

untuk mencapa tujuan korporas berupa perolehan keuntungan untuk kepentngan korporas atau dengan kata lan, corporate crime is clearly commited for the cororate and not against it.

b. Crime against corporation( kejahatan terhadap korporas,

dalam hal n yang menjad sasaran kejahatan alah korporas sehngga korporas yang menjaad korban.

c. Criminal corporations (korporas dgunakan sarana untuk

melakukan kejahatan.

Kejahatan korporas dbdang lngkungan hdup tmbul dar tujuan dan kepentngan korporas yang bersfat menympang sehubungan dengan peranannya dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam, kegatan perndustran dengan memanfaatkan lmu pengetahuan dan teknolog maju untuk mencapa sasaran pembangunan d bdang ekonom tanpa memperdulkan eksstens makhluk hdup lannya, bak manusa, hewan maupun tumbuhan, serta menempatkan lngkungan hdup sebaga objek yang berkonotas komodt dan dapat deksplotas untuk tujuan dan kepentngan organsasonal berupa prioritization of proit.Perlaku yang menympang sepert

nlah yang menmbulkan bencana terhadap lngkungan hdup dan menmbulkan permasalahan pencemaran dan perusakan lngkungan hdup.

Perumusan Pdana dan Pemdaan Korporas dalam UUPPLH dtentukan dalam Pasal 116 UUPPLH memberkan hukuman

kepada rechtperson atau korporas yang telah melakukan tndak

pdana lngkungan hdup dengan ancaman denda yang dperberat dengan menambah sepertiga dari sanksi maksimal (Pasal 117) 7 Arief Amrullah, 2006, Kejahatan Korporasi, Banyumeda Publshng, Malang

yang dtentukan pada pasal-pasal terkat.Adapun jens sanks pdana tersebut hanyalah berupa pdana pokok berupa penjara dan denda yang djatuhkan secara kumulatf.

5.2.4 Pertanggungjawaban Pidana Lingkungan

Dalam ruang lngkup asas pertanggung jawaban pdana,

menurut Sudarto8, bahwa dsampng kemampuan bertanggung

jawab, kesalahan (schuld) dn melawan hukum (wederechtelijk)

sebaga syarat untuk pengenaan pdana alah pembahayaan masyarakat oleh pembuat. Dengan demkan, konseps pertanggung jawabanpdana, dalam art dpdananya pembuat ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu :

1. Adanya suatu tndak pdana yang dlakukan oleh pembuat

2. Ada pembuat yang mampu bertanggung jawab

3. Adanya unsur kesalahan berupa kesengajaan atau kealpaan

4. Tidak ada alasan pemaaf.

Pengaturan pertanggungjawaban pdana korporas

dalam bdang lngkungan hdup dapat dlhat dalam Pasal 166 (2) UUPPLH.Pengaturan n tentu ddasa oleh tmbulnya kerugan terhadap aspek lngkungan hdup dmana korban dar kejahatan lngkungan hdup n butuh perlndungan. Dapat dpertanggungjawabkannya suatu tndak pdana akan member perlndungan terhadap korban dan juga terhadap lngkungan hdup dan memberkan deterent efect atau efek jera bag s pelaku

(korporas) yang melakukan tndak pdana lngkungan hdup. Pertanggungjawaban pdana menurut ketentuan dalam pasal n dapat dikenakan terhadap :

1. Badan usaha yang dwakl oleh pengurus yang berwenang

(Pasal 118 UUPPLH)

2. Mereka yang memberkan perntah atau pemmpn dalam

tndak pdana tersebut (Pasal 116 ayat 2 UUPPLH)

8 Sudarto, 1981, Suatu Pembaharuan Sstem Pdana Indonesa, Pdato Pengukuhan Guru Besar dalam Kumpulan Pdato-Pdato Pengukuhan,

Dalam dokumen KLINIK HUKUM LINGKUNGAN (Halaman 74-79)