• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urgensi Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

Dalam dokumen KLINIK HUKUM LINGKUNGAN (Halaman 82-89)

KONSERVASI LINGKUNGAN HIDUP

6.1 Urgensi Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

S

ebelum lebh jauh kta membahas mengena konservas,

perlu kta lhat mengena pengertan dar sumber daya alam terlebih dahulu. Menurut J.A. Katili deinisi Sumber Daya Alam (SDA) adalah semua unsur tata lingkungan bioisik yang dengan nyata atau potensal dapat memenuh kebutuhan manusa, atau dengan perkataan lan SDA adalah semua bahan yang dtemukan manusa dalam alam, yang dapat dpaka untuk kepentngan hdupnya.1 Dalam ketentuan pasal 1 angka 9 Undang-Undang No.32 Tahun 2009, pengertan dar sumber daya alam adalah unsur lngkungan hdup yang terdr dar sumber daya hayat dan non hayat yang secara keseluruhan membentuk kesatuan ekosstem. Lebh lanjut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservas Sumber Daya Hayat dan Ekosstemnya menyebutkan bahwa Sumber daya alam hayat adalah unsur-unsur hayat d alam yang terdr dar sumber daya alam nabat (tumbuhan) dan sumber dayaalam hewan(satwa) yang bersama dengan unsur nonhayat d sektarnya secarakeseluruhan membentuk ekosstem.

Dar ketga pengertan tersebut dapat dtark unsur bahwa bentuk dar sumber daya alam terdr dar bentuk hayat yang merupakan kumpulan dar seluruh mahluk hdup yang ada d alam dan non hayat yatu komponen yang secara langsung 1 J.A. Katl, Sumber Daya Alam Untuk Pembangunan Nasonal, Ghala

maupun tdak mempunya kemampuan mempengaruh alam serta mendukung kehdupan manusa serta mahluk hdup lainnya. Sedangkan kalau dilihat dari jenis sifatnya, klasiikasi dar sumber daya alam berupa sumber daya alam yang dapat dperbaharu (renewable resources/ low) dan sumber daya alam

yang tdak dapat dperbaharu (Non renewable resources/ stock). Renewable resources/low merupakan sumber daya alam

yang dapat dperbaharu secara terus menerus atau secara alam dapat meregeneras sepert contoh ar, hewan, dan tumbuhan namun, apabla dalam pemanfaatannya tdak memperhatkan aspek keberlanjutan dan kelestaran maka tdak menutup kemungknan dalam waktu tdak lama renewable resources/ low

akan hlang/ punah. Sedangkan non renewable resources/ stock adalah sumber daya alam yang ketersedaan serta jumlahnya terbatas sepert mnyak bum, gas alam, mneral. Sumber daya alam yang bersfat non renewable n, sangat rentan untuk habs

karena khusus untuk sumber daya n banyak deksplotas untuk kepentngan pemenuhan kebutuhan hdup manusa.

Keanekaragaman sumber daya alam bak hayat maupun non hayat merupakan aset utama dalam pengembangan kehdupan ekonom dan sosal masyarakat. Begtu pentngnya aset tersebut menyadarkan kta bahwa keanekaragaman sumber daya alam mempunya nla yang luar basa dalam menjamn keberlanjutan hdup generas saat n maupun yang akan datang

(inter-antargenerasi). Kenyataan yang terjad dewasa n, bahwa

pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam hayat hampr dseluruh bagan duna manapun, telah menmbulkan dampak dan ancaman terhadap rusaknya lngkungan serta punahnya speses yang ada d wlayah tersebut.

Perubahanlngkungan yang mengarah pada keadaaan degeneratf, dmana pencemaran maupun perusakan yang terjad saat ntdak terlepas dar cara pandang manusa mengelola dan berhubungan dengan lngkungan. Dbutuhkan paradgma baru sekalgus perlaku baru terhadap lngkungan, yang bsa danggap sebaga solus terhadap krss ekolog.

Berbaga teor etka lngkungan dapat menjelaskan pola perlaku manusa dalam hubungannya dengan lngkungan.

Teor etka lngkungan n sebagamana dmaksud yatu Shallow

Environmental Ethic(antroposentrisme), Intermediate Environmental Ethic(biosentrisme), dan Deep Environmental Ethic(ecosentrisme).

Dar ketga model teor tersebut, yang palng deal dalam upaya menjaga keberlangsungan lngkungan hdup adalah bosentrsme dan ekosentrsme. Dalam etka lngkungan n yang menjad pusat adalah mahluk hdup dan lngkungannya, bedanya adalah paham etka biosentrime cenderung terpusat pada manusa

dan lngkungan sektar atau komuntasnya saja. Sedangkan etka

ecosentrisme mempunya pandangan lebh luas yang melput

hubungan seluruh ekolog atau komuntas bak hayat maupun non hayat yang ada. Salah satu bentuk pergeseran paradgmana dalam penerapan paham bosentrsme dan ecosentrsme adalah konservas. Konservas merupakan upaya yang dtujukan untuk menjaga kelestaran dengan menerapkan pola-pola pemelharaan lngkungan yang mendukung keanekaragaman hayat maupun non hayat sehngga keberlanjutan mahluk hdup d dalamnya dapat terjaga.

Perkembangan kesadaran lngkungan hdup yang terjad secara global membawa pengaruh terhadap usaha-usaha perlndungan dan pengelolaan lngkungan hdup secara keseluruhan termasuk dantaranya upaya penerapan konservas. Setelah tonggak kesadaran global lngkungan hdup yang ditandai dengan Deklarasi Stockholm 1972, tiga lembaga yang merupakan bagan dar lga bangsa-bangsa yatuUNEP (United

Nation Environmental Program), IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources), dan WWF (World Wild Fund), pada tahun 1980 menyusun strateg khusus dalam

upaya konservas d seluruh duna dalam buku berjudul World Conservation Strategy. Pada prnspnya, konservas menurut World Conservation Strategy, perlu darahkan pada tga tujuan

pokok, yaitu : Pertama, memelhara proses-proses ekolog yang esensal dan sstem penyangga kehdupan; Kedua, pelestaran

keragaman genetk, dan ketga, terjamnnya pemanfaatan speces dan ekosstem secara lestar.2

Indonesa sebaga negara kepulauan yang mempunya potens sumber daya alam dan keanekaragaman hayat berlmpah menyadar dan merespon hal tersebut sepuluh tahun kemudan dengan mengesahkan Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservas Sumber Daya Alam Hayat dan Ekosstemnya. Adapun tujuan konservas dar World Conservation Strategy lebh

lanjut dituangkan dalam paragraph 4 penjelasan umum Undang-Undang No.5 Tahun 1990, yang menyatakan bahwa konservas sumber daya alam hayat dan ekosstemnyaberkatan erat dengan tercapainya tiga sasaran konservasi, yaitu :

1. menjamn terpelharanya proses ekologs yang menunjang

system penyangga kehdupan bag kelangsungan

pembangunan dan kesejahteraan manusa (perlndungan sstem penyangga kehdupan);

2. menjamn terpelharanya keanekaragaman sumber genetk

dan tpetpeekosstemnya sehngga mampu menunjang pembangunan, lmupengetahuan, dan teknolog yang memungknkan pemenuhankebutuhan manusa yang menggunakan sumber daya alam hayat bagkesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah);

3. mengendalkan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam

hayatsehngga terjamn kelestarannya. Akbat sampngan lmu pengetahuandan teknolog yang kurang bjaksana, belum harmonsnya penggunaandan peruntukan tanah serta belum berhaslnya sasaran konservassecara optmal, bak d darat maupun d peraran dapat mengakbatkan tmbulnya gejala eros genetk, polus, dan penurunan potens sumberdaya alam hayat (pemanfaatan secara lestar).

2 Erwn Muhamad, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Kebijakasanaan Pembangunan Lingkungan Hidup, PT Reika Aditama, Bandung, 2009 Hlm.

Tujuan konservas sebagamana datur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tersebut datas kemudan dterjemahkan dengan makna :

a) Preservas yang berart proteks atau perlndungan sumber daya alamterhadap eksplotas komersal, untuk memperpanjang pemanfaatannyabag keperluan stud, rekreas dan tata guna ar.

b) Pemulhan atau restoras, yatu koreks kesalahan-kesalahan masa lalu yangtelah membahayakan produktvtas pengkalan sumber daya alam.

c) Penggunaan yang seeisien mungkin. Misal teknologi makanan harusmemanfaatkan sebak-baknya bj rambutan, bj mangga, bj salak danlan-lannya yang sebetulnya bers bahan organk yang dapat dolahmenjad bahan makanan. d) Penggunaan kembal (recyclng) bahan lmbah buangan

dar pabrk, rumahtangga, nstalas-nstalas ar mnum dan lan-lannya. Penanganan sampahsecara modern mash dtunggu-tunggu.

e) Mencarkan penggant sumber alam yang sepadan bag sumber yang telahmenps atau habs sama sekal. Tenaga nuklr menggantkan mnyak bum.

f) Penentuan lokas yang palng tepat guna. Cara terbak dalam pemlhansumber daya alam untuk dapat dmanfaatkan secara optmal, msalnyapembuatan waduk yang serbaguna d Jatluhur, Karangkates, Wonogr,Sgura-gura.

g) Integras, yang berart bahwa dalam pengelolaan sumber dayadperpadukan berbaga kepentngan sehngga tdak terjad pemborosan,atau yang satu merugkan yang lan. Msalnya, pemanfaatan mata ar untuksuatu kota tdak harus

mengorbankan kepentngan pengaran untukpersawahan.3

Selan mengesahkan Undang-Undang No.5 Tahun 1990, Wujud kepedulan Indonesa dalam menjaga kekayaan alam dan 3 Dwdjoseputro, Ekologi Manusia dengan Lingkungannya, PT. Erlangga,cetakan

keberagaman sumber daya hayati adalah dengan meratiikasi konvens PBB tentang keanekaragaman hayat (United Nation Convention on biological diversity) menjad Undang-Undang

No. 5 Tahun 1994. Dilihat dari sejarah lahirnya, United Nations

Convention on Biological Diversity ditandatangani oleh 157 kepala

negara dan/atau perwaklan negara d Ro de Janero, Brazl. Penandatanganan n terlaksana selama penyelenggaraan United

Nations Conference on Environment and Development (UNCED),

pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992.Indonesia merupakan Negara kedelapan yang menandatangan Konvens d Ro de Janero, Brazl, pada tanggal 5 Jun 1992.Konvens n dbuka untuk dtandatangan pada tanggal 5 Jun 1992.Konvens n tetap dibuka untuk ditandatangani hingga 4 Juni 1993, dan mulai berlaku pada tanggal 29Desember 1993.

Menndaklanjut peran Indonesa dalam upaya melndung keanekaragaman hayat, secara nasonal konservas kemudan dikedepankan dengan strategi sebagai berikut :

a) Perlindungan sistem penyangga kehidupan, antara lain:

1) Perlndungan daerah-daerah pegunungan yang

berlereng curam danmudah terjad eros dengan membentuk hutan-hutan dlndung.

2) Perlndungan wlayah panta dengan pengelolaan yang terkendal bagdaerah hutan bakau dan hutan panta serta daerah hamparan karang.

3) Perlndungan daerah alran sunga, lereng perbuktan dan tep sunga,danau dan ngara (revine) dengan

pengelolaan yang terkendal terhadapvegetas

4) Pengembangan daerah aliran sungai sesuai dengan rencanapengembangan secara menyeluruh.

5) Perlndungan daerah hutan luas msalnya djadkan taman nasonal,suaka marga satwa dan cagar alam. 6) Perlndungan tempat-tempat yang mempunya nla

unk, kendahanyang menark atau memlk cr khas budaya (cagar budaya)

7) Mengadakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

(AMDAL)sebaga suatu syarat mutlak untuk

melaksanakan semua rencanapembangunan.4

b) Pengawetan keanekaragaman jenis lora fauna beserta ekosstemnyaPengawetan jens tumbuhan dan satwa dlakukan dengan cara menetapkanjens tumbuhan dan satwa yang dlndung. Perlndungan terhadapekosstem dlakukan dengan cara penetapan kawasan suaka alam.

c) Pemanfaatan secara lestar sumber daya alam hayat dan ekosstem.Sumber daya alam hayat dan ekosstemnya dapat dmanfaatkan untukmenngkatkan kesejahteraan masyarakat dan menngkatkan mutu

kehdupanmanusa. Pemanfaatan secara lestar

dilakukan melalui kegiatan:

1) Pemanfaatan konds lngkungan kawasan

pelestaran alam secara nonkonsumtfsepert

parwsata, peneltan, penddkan dan

pemantauanlngkungan.

2) Pemanfaatan jens tumbuhan dan satwa lar antara lan denganpengembangan perkanan, kehutanan dan pemunguntan hasl hutansecara lestar, pengaturan perdagangan lora fauna melalui peraturandan pengawasan dalam menentukan jatah (quota) dan perjnan,memajukan bududaya dan perbakan selektf (permulaan) semua jensyang

mempunya nla langsung bag manusa.5

Dalam upaya untuk mengendalkan kegatan perlndungan dan pengawetan keanekaragaman jens satwa dan dan tumbuhan,

konservas dlakukan d dalam maupun dluar kawasan (in situ

– ex situ).Konservas dalam kawasan (insitu) adalah konservas

4 Bambang Pamulardi, Hukum Kehutanan dan Pembangunan Bidang Kehutanan, cet.2, PT. Raja Graindo Persada, Jakarta, 1996, hlm. 179

yang dlakukan d dalam habtat aslnya.tujuannya agar proses evolus kehdupan dalam ekosstem dapat berjalan secara alam dan asl. Kegatan konservas nmelput upaya-upaya perlndungan sepert konservas dalam bentuk hutan lndung, kawasan suaka alam (suaka marga satwa dan/ cagar alam),dan taman nasonal. Sedangkan konservas d luar kawasan (eksitu) adalah upaya konservas yangdlakukan melalu cara

pengumpulan jens,pemelharaaan dan buddaya (penangkaran) serta mengembangbakkan jens tumbuhan dan satwa d luar habtat aslnya. Konservas ndlakukan dengan membentuk ekosstem buatan sepert kebun botan, kebun bnatang, taman hutan raya, penangkaran satwa, kebun raya,taman safar dll.

Selan Undang No. 5 Tahun 1990 dan Undang-Undang No. 5 Tahun 1994 tersebut diatas, konservasi sebagai bagan dar upaya perlndungan dan pelestaran lngkungan hdup, tdak terlepas dar keberadaan payung hukum perlndungan dan pengelolaan lngkungan hdup sebagamana datur dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009. Undang-Undang n merupakan basic yuridis seluruh produk hukum perlndungan

dan pengelolaan lngkungan hdup serta sumber daya yang ada d Indonesa, dmana seluruh ketentuan dalam peraturan perundang-undangan d bdang lngkungan hdup bak yang sudah ada (lex lata) maupun yang akan berlaku (lex veranda) harus

dsesuakan dengan Undang-Undang No.32 Tahun 2009. Dalam artan terkat pelestaran keanekaragaman hayat dan lngkungan ekosstem melalu upaya konservas, selan memperhatkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan d bdang konservas (lex specialis) juga harus memperhatkan

Undang-Undang No.32 Tahun 2009 sebaga pengaturan perlndungan lngkungan secara umum (lex generalis).

6.2. Pengaturan Konservasi dalam Peraturan

Dalam dokumen KLINIK HUKUM LINGKUNGAN (Halaman 82-89)