• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

5.1.   Karakteristik Sekolah Subjek

5.3.1.   Bahasan Umum

Studi penilaian kemampuan guru melalui video ini hanya melibatkan 12 guru dari 12 SD/MI di Indonesia. Dua belas guru tersebut berasal dari 10 SD/MI di Jawa dan 2 SD di Sumatera. Oleh sebab itu, ke-12 guru tersebut tidak dapat mewakili semua guru SD dan MI di seluruh Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, hasil penelitian ini, khsususnya yang terkait dengan guru, tidak

dapat digeneralisasikan yang menggambarkan kondisi Indonesia secara umum.

Pemaknaan hasil penelitian ini juga perlu disikapi secara arif dan penuh kehati-hatian.

5.3.2. Langkah Guru Membelajarkan Membaca

Langkah-langkah pokok guru membelajarkan membaca pemahaman dapat diamati pada Tabel 4.7. Dari Tabel 4.7 dapat dibahas hal-hal berikut. 1) Pembelajaran membaca pemahaman di sekolah dasar yang diteliti

dimulai dengan kegiatan siswa membaca teks, baik membaca dalam hati atau membaca bersuara. Hanya ada satu guru (8,33%) yang memulai kegiatan pembelajaran membaca dengan meminta siswa untuk menyimak bacaan.

Pembelajaran membaca pemahaman yang dimulai dari aktivitas membaca teks merupakan langkah yang tepat. Hal itu dapat dipahami

karena pembelajaran membaca pemahaman pada hakikatnya adalah aktivitas menerapilkan siswa dalam memahami isi bacaan. Dengan memberi kesempatan membaca kepada siswa berarti guru telah melakukan langkah awal memahami isi bacaan.

Berdasarkan teori, pemahaman bacaan sebaiknya diawali dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca dalam hati. Dengan membaca dalam hati, konsentrasi siswa akan terfokus pada isi bacaan. Di sisi lain, dengan membaca dalam hati siswa tidak akan terganggu oleh hal-hal lain, misalnya pelafalan yang tidak jelas, intonasi yang kurang tepat, atau penjedaan yang salah. Ketiga hal tersebut bisa jadi akan mengganggu konsentrasi siswa yang pada akhirnya akan memengaruhi kualitas pemahaman isi bacaan. Dengan demikian, dalam pembelajaran membaca pemahaman, pemberian kesempatan kepada siswa untuk membacakan teks yang juga sudah dimiliki siswa merupakan langkah yang kurang tepat. Apalagi pembelajaran membaca yang diawali dengan kegiatan guru membacakan teks dan siswa menyimak bacaan guru merupakan pembelajaran yang salah arah.

2) Kegiatan siswa membaca teks diikuti dengan kegiatan guru menjelaskan isi teks. Kegiatan ini dilakukan oleh 58,33% guru. Penjelasan guru tentang isi teks lebih mengarah pada pemberian informasi, bukan mengajak siswa untuk memikirkan isi teks atau membahas isi teks. Penjelasan guru cenderung mengulas dan menceritakan keseluruhan isi teks dan cenderung dikaitkan dengan kondisi umum dalam kehidupan. Guru tidak menjelaskan isi teks berdasarkan teks yang dibaca siswa.

Dari paparan tersebut terlihat bahwa aktivitas pembelajaran masih didominasi oleh guru. Otoritas guru sebagai pengajar masih sangat tampak sehingga aktivitas guru membelajarkan membaca menjadi kabur. Dalam menerampilkan kompetensi membaca pemahaman seharusnya guru lebih berfokus sebagai fasilitator yang memberi kemudahan bagi siswa untuk belajar memahami isi bacaan.

Penjelasan guru yang tidak melibatkan siswa memiliki sejumlah kelemahan. Pertama, penjelasan guru tentang isi teks cenderung bersifat

umum. Penjelasan yang bersifat umum tersebut bisa jadi akan membingungkan siswa karena sebagian (mungkin juga sebagian besar) penjelasan guru bersifat penafsiran subjektif guru yang sangat mungkin berbeda dengan penafsiran siswa. Dengan cara tersebut siswa dipaksa mengikuti pemahaman guru yang memiliki pengalaman sangat berbeda dengan pengalaman siswa. Kedua, penjelasan seperti itu akan mematikan kreativitas siswa. Hal itu disebabkan siswa harus mengikuti pendapat guru yang dianggap pendapatnya paling benar. Siswa akan malas membaca karena guru pasti akan menjelaskan isi bacaan. Mengapa harus bersusah payah membaca kalau pendapatnya harus sesuai dengan penjelasan guru. Ketiga, langkah tersebut tidak mendidik anak untuk membiasakan diri membaca. Keterampilan siswa dalam memahami isi bacaan tidak pernah berkembang karena kebiasaan membaca tidak dilatihkan. Di sisi lain, dengan cara tersebut kemampuan siswa memahami isi bacaan juga tidak berkembang karena memang tidak pernah dilatihkan cara memahami isi bacaan dengan benar.

Pembahasan isi bacaan merupakan hal yang sangat penting dalam pembelajaran membaca pemahaman. Oleh karena itu, pembahasan ini seharusnya mendapat perhatian khusus dari guru. Dengan perhatian khusus tersebut, pemahaman anak terhadap isi bacaan akan terus berkembang. Untuk itu, guru perlu melibatkan siswa secara aktif dalam setiap pembahasan isi bacaan. Guru cukup memberi jalan agar pemahaman anak bisa berkembang. Guru tidak perlu bak pahlawan memberikan penerangan kepada siswa.

Setidaknya ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan guru dalam membahas isi bacaan. Pertama, siswa harus diposisikan sebagai subjek, bukan sebagai objek. Dengan demikian, aktivitas dan kreativitas siswa dalam usaha memahami isi bacaan menjadi hal utama yang harus diperhatikan guru. Hal itu juga berarti bahwa peningkatan pemahaman siswa juga perlu mendapat perhatian serius oleh guru. Kedua, pembahasan isi bacaan harus berangkat dan kembali pada teks. Hal itu berarti pertanyaan-pertanyaan yang dikembangkan harus berasal dari

teks yang dibaca siswa dan jawabannya juga harus berasal dari teks. Dengan demikian, kebenaran pemahaman isi teks harus dapat dibuktikan dengan merujuk pada teks. Pemahaman bacaan tidak boleh hanya didasarkan atas pemikiran individual yang bisa jadi sangat subjektif. Oleh karena itu, pemaknaan isi teks harus bisa dikembalikan pada teks. Kebenaran pemahaman harus dapat dibuktikan dalam teks. Dalam pembahasan isi teks, guru harus berangkat dan kembali pada larik-larik dalam teks. Ketiga, pembahasan isi bacaan perlu diupayakan untuk meningkatkan kualitas pemahaman isi bacaan, mulai dari pemahaman literal, inferensial, sampai dengan pemahaman kreatif. Dengan demikian, guru perlu memberikan pancingan agar siswa dapat memahami bacaan secara berjenjang. Dengan cara tersebut siswa akan meningkat kemampuan membacanya.

Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada satu pun guru yang melakukan pembahasan isi bacaan dengan cara tersebut. Dengan demikian sangat bisa dipahami kalau kemampuan membaca siswa relatif rendah. Oleh sebab itu, pembinaan dan motivasi dari berbagai sangat

diperlukan agar guru dapat membelajarkan kemampuan membaca pemahaman dengan benar.

3) Kegiatan siswa membaca juga diikuti dengan kegiatan mengemukakan isi bacaan, baik dalam bentuk menulis maupun dalam bentuk menceritakan isi bacaan. Kegiatan seperti itu dilakukan oleh 66,67% guru. Kegiatan menulis dan bercerita tersebut merupakan bentuk aktivitas tindak lanjut kegiatan membaca yang dilakukan sebelumnya. Dengan tindak lanjut tersebut diharapkan pemahaman siswa akan isi bacaan dapat diketahui. Pada akhirnya, dari kegiatan tersebut pemahaman siswa akan meningkat. Peningkatan itu dapat terjadi apabila siswa memperoleh masukan dari guru dan siswa lain tentang kebenaran isi tulisan atau isi cerita.

4) Kegiatan siswa dalam menuliskan isi teks diikuti dengan kegiatan membacakan tulisan (rangkuman) di depan kelas (oleh 50% guru). Kegiatan siswa adalah sekedar membacakan tulisan, tidak disertai komentar dan tanggapan dari teman lain atau dari guru. Demikian juga

halnya dengan aktivitas siswa menceritakan isi bacaan. Siswa hanya diminta menceritakan isi bacaan di depan kelas. Penceritaan tidak disertai dengan pemberian komentar dan tanggapan dari guru maupun siswa lain tentang kebenaran isi cerita.

Cara seperti itu tidak dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami isi bacaan. Dengan cara seperti itu, pemahaman siswa dari tahun ke tahun akan tetap. Siswa tetap saja memahami teks bacaan sesuai dengan cara mereka sendiri. Hal itu disebabkan siswa tidak mengetahui kebenaran rangkuman yang dibacakan atau cerita yang disampaikan. Dengan cara seperti itu, rangkuman dan cerita siswa dari tahun ke tahun juga akan tetap sama. Padahal kebenaran tulisan atau cerita yang bersumber dari bacaan merupakan hal yang sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas pemahaman bacaan. Oleh sebab itu, pembelajaran membaca pemahaman harus diarahkan agar siswa dapat meningkatkan kompetensinya dalam memahami isi bacaan.

Peningkatan pemahaman isi bacaan agar terjadi apabila pembelajaran membaca dirancang secara khusus untuk meningkatkan kompetensi membaca pemahaman, mulai pemahaman literal, pemahaman inferensial, pemahaman kritis, sampai dengan pemahaman kreatif. Untuk itu, guru perlu merancang pembelajaran membaca sesuai

dengan tingkatan pemahaman yang ingin dicapai. Aktivitas pembelajaran untuk mencapai setiap tingkatan pemahaman tentu berbeda. Artinya, tindak lanjut aktivitas siswa membaca tidak harus selalu merangkum dan menceritakan isi bacaan tanpa adanya kontrol tingkat pemahamannya. 5) Sebagian guru (41,67%) meminta siswa mengerjakan tugas (menjawab

pertanyaan dari buku) setelah siswa membaca teks. Hasil pekerjaan siswa dikumpulkan atau dibacakan (sebagaian) di depan kelas. Pekerjaan siswa tidak pernah dibahas untuk melihat kebenarannya.

Langkah itu merupakan langkah klasik yang hampir selalu dilakukan guru. Langkah itu memang merupakan langkah yang sangat mudah dan praktis. Guru tidak perlu membuat persiapan apa-apa. Guru tinggal menyuruh siswa menjawab pertanyaan yang sudah ada dalam buku siswa.

Kemudian meminta siswa mengumpulkan tugasnya atau meminta siswa membacakan hasilnya.

Meminta siswa menjawab pertanyaan bacaan yang ada dalam buku siswa bukan berarti tidak boleh dilakukan oleh guru. Guru tetap boleh meminta siswa menjawab pertanyaan, tetapi guru perlu memperhatikan berbagai persyaratan. Pertama, guru perlu merancang pertanyaan yang memungkinkan siswa berpikir secara bergradasi. Pertanyaan perlu diarahkan untuk mengukur pemahaman literal sampai dengan pemahaman kreatif. Guru tidak boleh sepenuhnya mengandalkan buku pegangan siswa yang bisa jadi tidak membelajarkan siswa memahami bacaan secara bergradasi. Pada saat-saat tertentu guru boleh memanfaatkan pertanyaan bacaan dari buku siswa. Kedua, jawaban siswa perlu dikontrol. Kontrol dapat dilakukan dengan cara meminta siswa lain memberikan komentar, tanggapan, atau penilaian; bisa juga dengan cara guru memberikan komentar/tanggapan. Pemberian tanggapan oleh siswa lain lebih menguntungkan karena aktivitas siswa bertambah yang memungkinkan siswa berpikir kembali tentang pemahaman bacaan yang dilakukannya. Apapun kontrol yang dilakukan, hal yang perlu dicermati adalah penilaian jawaban siswa harus dibahas bersama-sama dengan cara merujuk pada teks bacaan. Kebenaran jawaban siswa harus bisa

dibuktikan pada baris-baris teks. Guru tidak boleh sekedar menyatakan

bahwa jawaban siswa tersebut benar atau salah. Benar dan salahnya jawaban siswa harus dibuktikan dari teks. Hal terakhir ini yang sangat jarang dilakukan oleh guru.

5.3.3. Efektivitas Pembelajaran Membaca

Bahasan pada bagian ini didasarkan pada paparan hasil yang disajikan dalam Tabel 4.7. Bahasan efektivitas pembelajaran membaca diarahkan pada ketercapaian tujuan pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam membaca pemahaman. Ketercapaian tujuan pembelajaran dapat diamati dari dua segi, yaitu (1) kecocokan pembelajaran dan (2) kebenaran

langkah pembelajaran. Kecocokan pembelajaran mengarah pada pertanyaan “apakah pembelajaran yang dilakukan memang mengarah pada pembelajaran

membaca pemahaman atau tidak.” Kebenaran langkah pembelajaran

mengarah pada rangkaian aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran. Langkah pembelajaran dikatakan benar apabila rangkaian aktivitas guru dan siswa memang diarahkan secara sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran membaca pemahaman. Tujuan pembelajaran membaca pemahaman pada umumnya adalah untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam memahami bacaan. Dengan demikian, kebenaran langkah pembelajaran membaca diarahkan pada kebenaran (secara teroretis) langkah-langkah yang dilakukan guru dan siswa untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam memahami isi bacaan.

Berdasarkan paparan hasil 4.3.2 dapat dibahas efektivitas pembelajaran membaca pemahaman berikut.

1) Dari segi kecocokan pembelajaran, sebagian besar guru (91,67%) melakukan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang diharapkan, yaitu kompetensi membaca pemahaman. Hanya ada satu guru (8,33%) yang pembelajarannya tidak mengarah pada pencapaian kompetensi membaca pemahaman. Pembelajaran yang dilakukan guru tersebut lebih mengarah pada pencapaian kompetensi menyimak dan menulis.

Kondisi tersebut sangat menggembirakan karena arah pembelajaran membaca pemahaman sudah benar, yaitu memupuk kompetensi membaca untuk memahami suatu teks. Aktivitas pembelajaran tersebut perlu dipertahankan agar kesalahan arah pembelajaran tidak akan terjadi. Untuk itu, motivasi kepada guru perlu dilakukan agar pembelajaran tersebut dapat dipertahankan.

2) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 91,67% guru yang melakukan kecocokan pembelajaran, 50% guru memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca dalam hati, 25% guru memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca sambil menyimak bacaan teman lain, 8,33% guru memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca sambil menyimak bacaan guru,

8,33% guru memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca keras bersama-sama. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hanya 50% guru yang benar-benar melakukan pembelajaran membaca pemahaman secara efektif dan efisien.

Dalam pembelajaran membaca pemahaman, kesempatan yang diberikan kepada siswa seharusnya diarahkan pada pemberian kesempatan kepada siswa untuk memahami teks melalui kegiatan membaca dalam hati, bukan membaca sambil mendengarkan siswa lain atau guru membacakan teks. Dengan membaca dalam hati siswa lebih terkonsentrasi pada aktivitas memahami isi bacaan. Akan lebih terarah lagi kalau pada awalnya guru sudah menjelaskan hal apa saja yang perlu mendapat perhatian pada saat membaca dalam hati. Dengan cara ini siswa lebih terkonsentrasi lagi terhadap hal-hal yang perlu mendapat perhatian khusus.

Hal-hal yang perlu mendapat perhatian siswa secara khusus pada saat membaca pemahaman adalah hal-hal yang terkait dengan jenjang/tingkat pemahaman yang akan dibelajarkan pada saat itu. Pada saat tertentu aspek yang perlu diperhatikan siswa dalam membaca berbeda dengan pada saat lainnya. Hal itu terjadi karena jenjang pemahaman yang akan dibelajarkan memang berbeda. Untuk itu, guru perlu merancang secara khusus jenjang pemahaman apa yang akan dibelajarkan sehingga penjelasan kepada siswa tentang aspek yang perlu diperhatikan pada saat membaca dapat dilakukan secara tepat.

Dalam pembelajaran membaca pemahaman, pemberian kesempatan kepada siswa lain membacakan teks secara keras atau guru membacakan teks secara keras dianggap kurang efeisien. Hal tersebut disebabkan dengan mendengarkan bacaan orang lain akan mengganggu konsentrasi siswa dalam memahami isi bacaan. Dengan demikian, kualitas pemahaman bacaan bisa jadi akan berkurang. Demikian juga halnya dengan pemberian kesempatan kepada siswa secara bersama-sama membaca dengan nyaring. Pada saat membaca nyaring pikiran siswa terpecah antara berpikir teknik membaca nyaring dan pemahaman bacaan.

Pemberian kesempatan kepada siswa lain untuk membacakan teks secara nyaring atau meminta siswa berama-sama membaca nyaring dapat dianggap efisien apabila tujuan pembelajaran memang diarahkan pada peningkatan kompetensi membaca teknis. Dalam pembelajaran membaca teknis, aspek intonasi, lafal, dan jeda memang merupakan hal utama yang harus dibelajarkan kepada siswa. Sebagai variasi pembelajaran, memang dibolehkan guru membuat pembelajaran yang berbeda dengan biasanya. Akan tetapi, variasi itu harus ditutupi dengan aktivitas lain yang memang mengarah pada peningkatan kompetensi membaca pemahaman.

3) Dari segi kebenaran langkah pembelajaran, sebagian besar guru (91,67%) melakukan pembelajaran yang seirama langkah-langkah pembelajaran membaca pemahaman secara umum. Hanya ada satu guru (8,33%) yang pembelajarannya tidak mengikuti langkah-langkah pembelajaran membaca. Hal itu disebabkan guru tersebut tidak tepat dalam mengarahkan pencapaian kompetensi membaca pemahaman.

4) Dari 91,67% guru yang benar dalam melakukan langkah-langkah pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga. Empat guru (33,33%) melakukan pembelajaran dengan langkah membaca, menulis, dan membacakan; 25% guru melakukan pembelajaran dengan langkah membaca diteruskan bercerita; dan 50% guru meminta siswa mengerjakan/menjawab soal setelah membaca. Dari paparan tersebut dapat dinyatakan bahwa langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan guru sudah mengarah pada pencapaian kompetensi membaca pemahaman.

Dari paparan butir 3) dan 4) di atas, dapat dinyatakan bahwa secara umum pembelajaran membaca yang dilakukan guru sudah mengarah pada pembelajaran membaca. Hal itu ditandai dengan adanya akativitas membaca yang dilakukan siswa yang ditindaklanjuti dengan penampilan kemampuan memahami bacaan, baik yang diwujudkan dalam bentuk menulis maupun dalam bentuk bercerita. Aktivitas menulis yang dimaksud dapat berupa menulis rangkuman, ringkasan, gagasan pokok maupun dalam bentuk menjawab pertanyaan bacaan. Hanya saja aktivitas tindak lanjut membaca tersebut tidak disertai dengan pembahasan. Penampilan siswa

dalam bentuk cerita hanya sekedar diceritakan, tanpa adanya tanggapan atau komentar yang membahas kebenaran isi cerita. Demikian juga halnya dengan penampilan dalam bentuk tulis. Karangan siswa atau jawaban siswa sekedar dibacakan, tanpa adanya komentar atau tanggapan. Dengan demikian, siswa juga tidak memperoleh balikan dari karangan yang ditulis. Tidak berbeda halnya dengan jawaban siswa, jawaban siswa sekedar dikumpulkan dan dinilai yang tidak memungkinkan siswa memperoleh balikan.

5) Sebagian besar guru (66,33%) memulai kegiatan siswa dalam membaca hanya dengan meminta/menyuruh membaca, tanpa memberi pengantar. Tiga guru (25%) mengawali kegiatan siswa dalam membaca dengan tanya-jawab, dan 8,33% guru memulai kegiatan siswa dengan meminta menyimak.

Aktivitas prabaca merupakan hal yang sangat esensial dalam pembelajaran membaca pemahaman. Dengan adanya aktivitas prabaca, siswa akan memperoleh kesiapan membaca. Aktivitas prabaca, salah satunya, dapat diwujudkan dalam bentuk pemberian pengantar oleh guru. Pengantar itu akan mengarahkan siswa pada aktivitas apa saja yang akan dilakukan siswa dan bagaimana cara melakukan aktivitas tersebut. Dengan pengantar tersebut diharapkan siswa juga mengetahui hal-hal penting yang harus dilakukan siswa pada saat membaca. Dengan pemahaman tersebut siswa akan dapat memahami isi bacaan secara maksimal.

6) Ada satu guru (8,33%) yang menggunakan langkah pembelajaran yang tidak jelas arahnya. Kegiatan pembelajaran diawali dengan tanya-jawab, dilanjutkan dengan siswa membaca dan mencari gagasan utama, guru menjelaskan tanda baca, siswa membacakan hasil kerja (gagasan utama), dan diakhiri dengan kegiatan guru menjelaskan paragraf.

7) Tidak ada satu pun guru (0%) yang mengajak siswanya membahas isi bacaan. Dengan demikian, siswa tidak tahu kebenaran pemahaman mereka terhadap isi teks. Guru dalam memberikan penjelasan isi bacaan, cenderung bersifat umum dan langsung dikaitkan dengan kondisi nyata

dalam kehidupan. Dengan demikian, pada hakikatnya guru tidak membahas pemahaman siswa terhadap teks yang dibaca.

8) Tidak ada satu pun guru yang memanfaatkan kegiatan pascabaca dengan kegiatan pemahaman isi bacaan. Kegiatan pascabaca yang berupa kegiatan menuliskan kembali, menceritakan kembali, atau menjawab pertanyaan tidak diarahkan pada pemahaman bacaan. Guru sekedar meminta siswa menulis rangkuman, bercerita, atau menjawab pertanyaan tanpa diikuti dengan kegiatan pemahaman bacaan.

Peningkatan pemahaman isi bacaan dari waktu ke waktu merupakan hal yang sangat esensial dalam pembelajaran membaca pemahaman. Dengan peningkatan tersebut kemampuan membaca siswa akan terus berkembang. Peningkatan kemampuan membaca pemahaman dapat dikembangkan mulai dari pemahaman literal sampai dengan pemahaman kreatif.

Peningkatan kemampuan membaca tersebut dapat terjadi apabila siswa selalu berupaya memahamkan isi bacaan dan mempertajam pemahaman siswa dalam membaca. Upaya mempertajam kemampuan membaca dapat dilakukan dengan menanyakan isi bacaan, membahas isi bacaan, memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan isi bacaan, dan memberi kesempatan kepada siswa menemukan jawaban serta memandunya menemukan isi bacaan. Semua aktivitas tersebut harus berangkat dan kembali pada teks yang dibaca siswa. Pembahasan isi bacaan tidak boleh sekedar membicarakan isi bacaan yang terlepas dari bacaan. Pembahasan yang tidak berangkat dan kembali pada teks tidak akan bisa meningkatkan pemahaman siswa.

Hasil penelitian yang terpapar pada butir 7) dan 8) menunjukkan lemahnya guru dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa. Guru tidak melakukan upaya mempertajam kemampuan membaca. Guru juga tidak melakukan aktivitas pascabaca dengan mengembalikan karangan atau cerita ke dalam teks bacaan yang baru dibaca siswa. Kondisi tersebut

membaca pada diri siswa. Kondisi tersebut juga menjadikan kemampuan membaca siswa menjadi rendah.

5.3.4. Penggunaan Waktu dalam Pembelajaran Membaca

Bahasan penggunaan waktu dalam pembelajaran membaca pema-haman diarahkan pada proporsi penggunaan waktu dalam pembelajaran dan kualitas penggunaan waktu dalam pembelajaran membaca pemahaman. Bahasan proporsi penggunaan waktu diarahkan pada proporsi waktu aktivitas pokok dalam pembelajaran yang meliputi akktivitas prabaca, saat baca, pascabaca, dan aktivitas lainnya. Kualitas penggunaan waktu diarahkan pada aktivitas apa saja yang dilakukan dalam setiap langkah pokok pembelajaran. Bahasan penggunaan waktu dalam pembelajaran membaca didasarkan atas paparan hasil pada subbab 4.3.3. Dari paparan tersebut dapat dibahas hal-hal berikut.

1) Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada seorang guru (8,33%) yang tidak memanfaatkan waktu pembelajaran untuk kegiatan prabaca, saat baca, dan pascabaca karena kesalahan arah pembelajaran. Pembelajaran yang dilakukannya lebih mengarah pada pembelajaran menyimak dan menulis. Hal itu ditunjukkan dengan kegiatan guru yang meminta siswa untuk menyimak teks yang dibacakan guru, kemudian menulis pengumuman, membacakannya, serta mengerjakan soal.

Kesalahan arah pembelajaran itu dimungkinkan karena beberapa hal. Pertama, pengetahuan guru tentang arah pembelajaran memang kurang sehingga guru mengetahui secara pasti ke mana pembelajaran itu harus diarahkan. Kurangnya pengetahuan tersebut sangat dimungkinkan karena yang bersangkutan tidak memiliki pendidikan khusus pembelajaran bahasa Indonesia. Guru tersebut berpendidikan SLTA dan berstatus sebagai guru kelas sehingga ada kemungkinan guru tersebut tidak memperoleh pemahaman yang cukup tentang pembelajaran membaca pemahaman.

Kedua, guru tidak terbiasa menerima kehadiran orang lain dalam pembelajaran. Dengan demikian, hadirnya kamerawan untuk mengambil gambar sangat berpengaruh pada penampilan mengajar. Guru kehilangan kendali sehingga arah pembelajaran menjadi tidak jelas. Kondisi itu tidak bisa dilacak karena yang diamati adalah hanya sekali rekaman guru.