BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1. Karakteristik Sekolah Subjek Penelitian
Paparan karakteristik sekolah yang dijadikan subjek dalam penelitian ini dipilah atas (1) kategori sekolah subjek, (2) prestasi sekolah, (3) proporsi jumlah siswa, (4) waktu belajar, (5) lokasi sekolah, dan (6) lingkungan sekolah.
4.1.1. Kategori Sekolah Subjek
Gambaran kondisi sekolah yang dijadikan objek penelitian ini di antara sekolah-sekolah lainnya di daerah itu tergambar dalam Tabel 4.1. Hampir semua sekolah yang diteliti masuk kategori kelompok sekolah menengah ke bawah untuk tingkat kecamatan, apalagi untuk tingkat kota atau kabupaten setempat. Tabel 4.1 menunjukkan sekiar 66% sekolah subjek termasuk kategori kelompok menengah di tingkat kecamatan yang bersangkutan, sekitar 16% kelompok atas, dan sekitar 16% kelompok bawah. Di tingkat kabupaten/kota, sekitar 50% termasuk kelompok bawah, dan sekitar 42% termasuk kategori kelompok tengah. Hanya SDN Pejaten Jakarta Selatan, yang masuk kategori sekolah kelompok atas di tingkat kabupaten/kota. Kategori kelompok sekolah ini didasarkan pada penilaian persepsional kepala sekolah dan masyarakat setempat. Sekurang-kurangnya, kategori sekolah subjek penelitian ini menggambarkan kondisi objektif di antara sekolah-sekolah lainnya. Dengan kata lain, sebenarnya kondisi sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya seperti tercermin dari subjek penelitian ini.
Tabel 4. 1 Kondisi Sekolah Dibandingkan dengan Sekolah Lainnya No Nama Sekolah di tingkat kecamatan kota/kabupaten di tingkat
1 Pejaten Kelompok Atas Kelompok Atas
2 Beseran Kelompok Atas Kalompok Bawah
4 Kleco Kelompok Tengah Kelompok Tengah
5 Banaran Kelompok Tengah Kelompok Tengah
6 Panorama Kelompok Tengah Kelompok Tengah
7 Cigadung Kelompok Tengah Kelompok Tengah
8 Delitua Kelompok Tengah Kalompok Bawah
9 Karangayar Kelompok Tengah Kalompok Bawah
10 Bobang Kelompok Tengah Kalompok Bawah
11 Binataruna 3 Kalompok Bawah Kalompok Bawah
12 Selak Kalompok Bawah Kalompok Bawah
4.1.2. Prestasi Sekolah Subjek Penelitian
Gambaran sekolah subjek penelitian dapat diperoleh dari gambaran prestasi institusional sekolah, guru, dan siswa, sebagaimana terpapar dalam Tabel 4.2. Rata-rata sekolah pernah mencapai prestasi tertentu, demikian juga guru dan siswanya. Akan tetapi, tergambar juga bahwa prestasi yang pernah dicapai sekolah, guru, dan siswa bukanlah prestasi yang menampakkan habitus sekolah. Prestasi yang dimiliki sekolah bukan prestasi yang dipegang secara terus-menerus sebagai dampak dari keunggulan sekolah, akan tetapi lebih cenderung merujuk pada prestasi “biasa saja” yang sifatnya bisa jadi hanya kebetulan. Prestasi yang terpapar adalah prestasi yang didasarkan atas pengakuan kepala sekolah.
Tabel 4. 2 Macam Prestasi Sekolah, Guru, dan Siswa
No Nama Sekolah Prestasi sekolah Prestasi guru Prestasi siswa
1 Karangayar Belum ada Belum ada Juara I Bola Kaki
Tk. Kec
2 Pejaten Nilai UASBN
Peringkat 9 se DKI
Juara Kinerja Guru
IPA, Mat, IPS, Olah Raga, Kesenian
3 Kampung Sewu Bulu Tangkis
Juara I
Guru Berprestasi I Tk. Kota
Siswa berprestasi 8 besar Tk. Kec
4 Kleco Juara II IPA tk.
Nasional
Guru Teladan Tk. Kota
Lomba Mapel, POP, dan Pentas Seni
5 Selak Belum pernah Belum pernah LCC Juara II
6 Beseran Akreditasi A Belum ada Juara Lomba
Gugus Tk. Kab 7 Binataruna 3 10 besar nilai
lulusan tertinggi - Juara 4 Lomba Mat Tk. Kec
8 Delitua LCT, Olahraga UUD dan KORPRI Juara I Bola Kasti
9 Banaran - - MIPA, LMP,
Pantomim
10 Bobang - - Juara I Bola Voli
11 Panorama MIPA 10 besar Guru Berprestasi Catur III
12 Cigadung Akreditasi A Guru Berprestasi Sepak Bola, Juara
I Jaipongan
4.1.3. Proporsi Jumlah Murid Kelas IV terhadap Total
Proporsi jumlah siswa kelas IV di sekolah subjek pada umumnya sesuai dengan pagu nasional, bahwa satu rombel untuk SD berjumlah 40 orang, atau sekitar 16%—17 % dari total murid. Ada enam sekolah (50%) yang jumlah siswa dalam satu rombelnya kurang dari 40 orang. Jumlah itu mestinya makin ideal dari segi proses pembelajaran, karena layanan guru dalam pembelajaran akan lebih optimal. Ternyata keadaannya tidak selalu demikian. Rendahnya jumlah siswa dalam setiap rombel dibandingkan dengan pagu, bukan karena upaya untuk optimalisasi pembelajaran dengan melakukan seleksi untuk memperoleh siswa yang bermutu, tetapi karena adanya siswa memang hanya sejumlah itu. Dengan kata lain, sekolah tersebut memang rendah peminatnya. Minimnya peminat juga dapat dilihat dari segi jumlah seluruh siswa di sekolah tersebut. Jika sekolah tersebut termasuk kategori standar, jumlah seluruh siswa berkisar 240 siswa.
Di sisi lain, pada umumnya sekolah yang memiliki siswa dalam jumlah banyak menunjukkan bahwa sekolah tersebut masuk kategori sekolah kelompok atas. Jika sekolah yang memiliki jumlah siswa tiap kelas terdiri atas 2 atau lebih rombel dikategorikan sekolah kelompok atas, maka hanya terdapat 3 sekolah (25%) yang tergolong kelompok atas, yakni SDN Pejaten, Kleco, dan Cigadung. Dengan demikian, sekitar 75% sekolah subjek tergolong
kelompok menengah ke bawah. Tabel 4.3 menunjukkan deskripsi proporsi jumlah siswa kelas IV dengan total siswa sekolah.
Tabel 4. 3 Persentase Jumlah Murid Kelas IV terhadap Total Siswa
No Nama Sekolah Jml. siswa kelas IV Jml. siswa total % jml. siswa kelas IV
1 Karangayar 40 242 16,53 2 Pejaten 80 404 18,80 3 Kampung Sewu 45 270 16,67 4 Kleco 92 559 16,46 5 Selak 11 56 16,07 6 Beseran 30 178 16,85 7 Binataruna 3 30 276 10,87 8 Delitua 43 262 16,41 9 Banaran 23 135 17,04 10 Bobang 23 140 16,43 11 Panorama 34 236 14,41 12 Cigadung 70 365 18,18
4.1.4. Waktu Belajar di Kelas IV
Karakteristik sekolah subjek juga ditunjukkan oleh jumlah waktu belajar di sekolah. Rata-rata sekolah menggunakan waktu belajar 5 jam. Jumlah waktu belajar formal ini menampakkan kondisi jam belajar di SD pada umumnya. Hanya ada satu sekolah yang menggunakan waktu belajar di sekolah selama 7 jam, yakni SDN Kleco Solo. Ada indikasi sekolah yang menggunakan waktu belajarnya tinggi menunjukkan kecenderungan prestasi sekolahnya lebih baik daripada sekolah-sekolah pada umumnya. Hasil tes kemampuan membaca siswanya juga cenderung lebih tinggi daripada sekolah-sekolah lainnya. Ada satu sekolah-sekolah yang jam belajarnya kurang dari 5 jam. Durasi lama belajar di sekolah tersebut hanya 4 jam. Jam belajar di sekolah berdasarkan kondisi masing-masing dapat dipaparkan dalam Tabel 4.4.
No Nama Sekolah Jam masuk pulang Jam Durasi belajar
1 Karangayar 12.30 16.30 4 jam
2 Pejaten 06.30 12.15 5 jam 45’
3 Kampung Sewu 07.00 12.10 5 jam 10’
4 Kleco 07.00 14.00 7 jam 5 Selak 07.00 12.50 5 jam 50’ 6 Beseran 07.15 12.30 5 jam 15’ 7 Binataruna 3 07.20 12.30 5 jam 10’ 8 Delitua 07.30 12.10 4 jam 40’ 9 Banaran 07.00 12.00 5 jam 10 Bobang 07.00 12.00 5 jam 11 Panorama 07.30 12.30 5 jam 12 Cigadung 07.15 13.00 5 jam 45’
4.1.5. Kondisi Lokasi Sekolah Subjek
Dengan asumsi jarak sekolah dari pusat kota ke lokasi mencerminkan kondisi kota-desa, maka sebagian besar dari subjek penelitian berlokasi di desa, sedangkan sebagian kecil sekolah subjek yang berlokasi di kota. Meskipun berada di kota, tetapi sekolah-sekolah tersebut berada di pelosok perkampungan atau di pinggir kota. Secara fisik, kondisi sekolah tersebut relatif tidak berbeda dengan sekolah-sekolah subjek lainnya yang berlokasi di desa. Sebagai contoh, SDN Karanganyar Jakarta Selatan berada di tengah kota, dekat stasiun, tetapi berada di perkampungan dengan lingkungan masyarakat perkampungan kota yang tampaknya tidak begitu teratur. Tabel 4.5 menunjukkan jarak lokasi sekolasi dengan pusat kota.
Tabel 4. 5 Lokasi Sekolah
No Nama Sekolah Kabupaten/ Kota Sekolah Lokasi Jarak dari pusat kota (km)
1 Karangayar Jakarta Pusat Kota 0
2 Pejaten Jakarta Selatan Kota 40 km dari Jakpus
3 Kampung Sewu Solo Kota
5 Selak Magelang Desa 20 km
6 Beseran Magelang Desa 20 km
7 Binataruna 3 Medan Pinggir Kota 35 km
8 Delitua Delitua Desa 30 km
9 Banaran Kediri Kota 2 km
10 Bobang Kediri Desa 5 km
11 Panorama Bandung Desa 3 km
12 Cigadung Bandung Pinggir Kota 25 km
4.1.6. Mutu Lingkungan Sekolah
Secara fisik, sebagian besar sekolah subjek memiliki lingkungan yang relatif baik. Bangunan sekolah rata-rata bagus, halaman berpaving block, pagar rapi, cukup bersih, terawat, dan kualitas bangunan secara umum bagus, kendati beberapa sekolah dalam kategori sederhana. Ada beberapa sekolah yang kondisinya kurang terawat, dan sekolah-sekolah yang demikian ini tampaknya tidak terlepas dari kondisi lingkungan di sekitar sekolah, dan kemampuan sekolah yang amat terbatas untuk membiayai perawatan sekolah.
Tabel 4. 6 Mutu Lingkungan Sekolah
No Nama Sekolah Akses ke sekolah sekolah Kondisi Kebersihan sekolah
1 Karangayar Sangat Mudah Baik Kurang Terawat
2 Pejaten Mudah Baik Bersih
3 Kampung Sewu Terjangkau Cukup Cukup
4 Kleco Terjangkau Baik Baik
5 Selak Terjangkau Sangat
sederhana
Kurang terawat, halaman berdebu
6 Beseran Mudah Baik Baik
7 Binataruna 3 Jalan Raya Sederhana Kurang
8 Delitua Tidak ada
angkot
Sederhana Kurang
9 Banaran Jalan
Kecamatan
Baik Bersih
10 Bobang Jalan Desa Baik Cukup
No Nama Sekolah Akses ke sekolah sekolah Kondisi Kebersihan sekolah
angkot
12 Cigadung Jauh dari jalur
angkot Baik Cukup