Determinan dan faktor pengarah
BANYUWANGI, BUDAYA KHAS OSING
Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Jawa Timur, karakterr wilayah yang terletak di ujung paling timur ini menarik untuk diketahui .selain selain wilayah Tapel Kuda.. Suku Osing adalah penduduk asli mayoritas Banyuwangi dan penduduk mayoritas dibeberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Suku osing merupakan perpaduan budaya dan tradisi yang ada di Banyuwangi. Topografi Banyuwangi yang unik di dukung oleh kekuatan karakter masyarakat multikultur yang jumlahnya sekitar 1,5 juta jiwa dan tersebar di wilayah seluas 5.782.50 km2. Ada 3 elemen masyarakat yang dominan membentuk streotipe Banyuwangi, Madura, pandalungan ( tapal kuda ) dan osing. Tapal kuda adalah nama sebuah kawasan di propinsi jawa timur tepatnya di bagian timur, dinamakn tapal kudakarena bentuk kawasan tersebut dalam peta mirip dengan bentuk tapal kuda, kawasan tapal kuda meliputi pasuruan ( bagian timur0, probolinggo, jember, situbondo,bondowoso dan Banyuwangi. Terdapat 3 pegunungan besar kawasan tersebut yakni pegunungan Bromo-tengger- semeru.pegunungan Iyang ( dengan puncak tertingginya gunung argopuro ), dan dataran tinggi Raung ).
Tapal kuda merupakan wilayah subkultur di jawa timur yang memilik sejarah panjang pemberontakan. Penghuni tapal kuda mayoritas adalah Madura. Meski ada minoritas etnis jawa, namun pengaruh Madura yang sangat kuat menyebabkabkan karakter budaya diwilayah ini lebih beraroma Madura. Orang-orang tapal kuda jg sangat identik dengan islam. Lebih spisifik lg NU. .
tapal kuda. Konon, menurut Pramudya Ananta Tour di Probolinggo. Mojopahit pernah direpotkan oleh pemberontak Minakdjinggo. Selain Mojopahit jg VOC pernah kesulitan di sini. Untung suropati, anak Bali yang diasuh oleh Belanda dan akhirnya diburu oleh tuannya itu memperoleh dukungan yang amat kuat di sini, hingga akhirnyaa sanggup membangun kerajaan di Pasuruan.
Persebaran 3 entitas ini bias ditelisik dg karakter wilayah secara geografis yaitu Jawa Mataram lebih bayak mendomonasi daerah daerah pegunungan yang banyak hutan seperti wilayah tegaldelimo purwohajo, tegalsari. Sedangkan masyarakat lebih dominan di daerah gersang muncar, glenmoure . sementara masyarakat osing dominan diwilayah subur diswkitar banyuwangi kota , giri, glagah, rogokampi, songgon, singojuruh.cluring . genteng, walaupun etnis khas banyuwangi. Secara proporsi . penduduk suku osing bukan mayoritas di 24 kecamatan.namun sebahagai gambaran etnis osing sekitar 20 persen. Dari total Banyuwangi jawa 67 % , Madura 12 % dan 1 %suku lain. Meski berkelompok dalam kantong tertentu, masyarakat osing tdk bersifat eksklusif seperti masyarakat Tengger yang hidup didaerah dataran tinggi Tengger dekat gunung Bromo) atau masyarakat Baduy di Banten.Osing sangat adaptif, terbuka dan kreatif terhadap unsurkebudayaan lain.
Unsuregalitermenjadi cirri yang sangat dominan dalam masyarakat osing. Ini tampak dalam bahasa osing yang tidak mengenal tingkatan bahas seperti bahasa jawa atau bahasa Madura. Struktur masyarakat osingpun tidak berorientasi pada priyayi seperti orang jawa juga tdk punya kyai seperti Madura dan tidak punya ksatria seperti kasta orang Bali ( Heru sp, saputra, Srintil, 2007) . Masyarakat Banyuwangi beragam islam tetapi karakter sinkretisme agama dan budayapun kental.kompas 25 juli 2008
SEJARAH
Sejarah Banyuwangi tidak lepas dari sejarah Blambangan. Pada pertengahan abad ke -17, Banyuwangi merupakan bagian dari Kerajaan Hindu Blambangan yang dipimpin oleh Pangeran Tawang alun. Pada masa ini secara administrasi, VOC menganggap Balambangan sebagai wilayah kekuasaannya, atas dasar penyerahan kekuasann jawa bagian timur
termasuk blambangan oleh Pakubuwono II kepada VOC. Padahal mataram tidak pernah bias menguasai daerah Blambangan yang saat itu merupakan kerajaan hindu terakhir di pulau Jawa. Namun VOC tidak pernah benar-benar mencapkan kekuasaannya sampai pada akhir abad ke-17, ketika pemerintah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan.. Daerah yang sekarang dikenal sebagai “ komplek Inggrisan” adalah bekas tempat kantor dagang inggris. VOC segera bergerak untuk mengamankan kekuasaannya atas Blambangan pada akhir abad ke-18. Hal ini menyulut perang besar selama lima tahun( 1767-1772). Dalam peperangan itu terdapat satu pertempuran dasyat yang yang disebut PUputan Bayu sebagai merupakan usaha terakhir Kerajaan Blambangan untuk melepaskan diri belelenggu VOC. Pertempuran Puputan Bayu terjadi pada tanggal 18 desember1771 yang akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi. Sayangnya perang itu tidak dikenal luas dalam sejarah perjuangan bangsa indonesi melawan kompeni Belanda. Namun pada akhirnya VOClah yang memperoleh kemenangan dengan diangkatnya R.Wiroguno ( Mas Ali) sebagai Bupati Banyuwangi pertama dan tanda runtuhnya kerajaan Blambangan.Tetapi perlawanan sporadic rakyat Blambangan itu bisa terlihat dengan tidak adanya pabrik gula yang dibangun oleh voc saat itu, berbeda dengan kabupaten lainya di Jawa Timur.
Tokoh sejarah fiksi yang terkenal adalah putri Sri Tanjung yang dibunuh oleh suaminya dipinggir sungai karena suaminya ragu akan janin dalam rahimnyabukan merupakan anaknya tetapi hasil perselingkungan ketika dia ditinggal menujumedan perang. Dengan sumpah janjinya kepada sang suami sang putrid berkata “ jika darah yang mengalir ke dalam sungai tersebut berbau wangi, maka menyesallah sang suami sebagai Raden Banterangini dan menamai daerah itu sebagai Banyuwangi.
Tokoh sejarah lain ialah Minak Djinggo. Seorang Adipati dari Blambangan yang memberontak terhadap kerajaan Mojopahit dan dapat ditumpas oleh utusan Mojopahit. Yaitu Damarwulan. Namun sesungguhnya nama Minak Djinggo bukanlah nama asli dari adpati Blambangan. Nama tersebut diberikan oleh sebagian kalangan istana MOjopahit sebagai wujud olok-olo kepada Brhe Wirabumi yang menang putra Prabu Hayam Wuruk dari selie. Bagi Masyarakat Blambangan,tidak berdasar. Cerita ini hanya bentuk propaganda`Mataram yang tidak pernah berhasil menguasai wilayah Blambangan yang saat itu disokong oleh kerajaan hindu Mengwi di Bali.
JULUKAN
Kabupaten Banyuwangi menyandang beberapa julukan diantaranya:
1. Kota Banteng: Kabupaten dijuluki kota banteng dikarenakan di Banyuwangi tepatnya di Taman Nasional Alas Purwo terdapat Banteng jawa.
2. The Sunrise of Java: Julukan the Sunrise of Java disandang Kabupaten Banyuwangi tidak lain karena Daerah yang terkena pertama sinar matahari terbit di Kabupaten Banyuwangi.
3. Kota Pisang: Sejak dahulu Kabupaten banyuwangi sangat dikenal sebagai penghasil pisang terbesar, bahan tiap di pekarangan rumah warga selalu terdapat pohon pisang.