Ekowisata saat ini telah menjadi peluang sekaligus tantangan industry wisata di Indonesia. Kesadaran masyarakat global akan pentingnya konservasi lingkungan hidup dan penggunaan sumberdaya alam dalam berbagai aspek kehidupan telah mendorong pelaksanaan pariwisata yang cenderung mengekploitasi alam dan menimbulkan anekaragam dampak negatif menjadi salah satu contributor penting dalam pembangunan berkelanjutan. Ekowisata menawarkan visi kegiatan pariwisata modern yang mengakomodasi pertumbuhan ekonomi, penghargaan akan nilai-nilai social dan konservasi lingkungan hidup (Gossling, 2007, Hakim et al., 2012).
Meskipun ekowisata di Indonesia mempunyai potensi kontribusi besar dalam pemecahan permasalahan nasional, tantangan pengembangannya menghadapi permasalahan yang tidak sederhana. Pertama, perkembangan segmen dan daya saing ekowisata di Indonesia tidak jauh berbeda dengan perkembangan wisatawan ke Indonesia secara umum. Sampai saat ini kunjungan wisatawan asing ke Indonesia masih tergolong rendah. Daya saing pariwisata Indonesia di Asia Pasifik cukup rendah, menempati posisi 12 dari 22 negara. Di Asia Tenggara, daya saing pariwisata Indonesia masih di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand (UNWTO, 2013). Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan potensi sumberdaya alam Indonesia yang melimpah, dimana Indonesia adalah salah satu Mega-biodiverity country di dunia. Kedua, tumbuhnya minat bepergian ke area-area alamiah tidak diimbangi dengan regulasi yang tepat dan peraturan kunjungan tidak dijalankan secara baik. Hal ini menimbulkan permasalahan degradasi dan penurunan kualitas destinasi. Beberapa tempat bahkan gagal mengendalikan jumlah dan perilaku pengunjung. Ketiga, banyak area-area dengan potensi tertentu belum berhasil dikembangkan sebagai destinasi baru. Keempat, banyak destinasi ekowisata stagman dan tidak mengalami perkembangan yang berarti, sementara pesaing telah melakukan inovasi-inovasi yang terbukti menjadi kunci sukses untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan industry ekowisata (Hakim et al., 2011; Pangeman et al., 2012).
Tantangan pengembangan industri wisata, khususnya ekowisata membutuhkan pemecahan komprehensif dengan tetap mengedepankan prinsip pelestarian lingkungan. Hal ini terutama relevan karena Indonesia adalah hot spot bagi keanekaragaman hayati dunia, namun laju kerusakan dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati sangat tinggi (Hakim et al., 2012). Berdasarkan permasalahan tersebut, pemikiran dan pengembangan kepariwisataan di Indonesia perlu melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif yang diharapkan dapat meningkatkan daya saing dan keberlanjutan ekowisata di Indonesia.
Inovasi
Inovasi adalah proses translasi ide (atau invensi) kedalam suatu barang atau jasa yang lebih mempuyai nilai/makna dan konsumen akan tertarik untuk menggunakannya. Dalam kontek kepariwisataan, inovasi berarti sebuah kemampuan untuk menghasilkan barang-barang atau jasa dalam industry wisata sehingga dapat menarik wisatawan. Inovasi dapat berupa melahirkan hal yang baru, melakukan perubahan-perubahan untuk memperbaiki struktur dan fungsi komponen destinasi dan menghasilkan barang dan jasa baru yang berdaya saing (Faché, 2000).
Para peneliti telah mengenali bahwa setidaknya terdapat beberapa alasan penting mengapa inovasi pada sector pariwisata menjadi penting, antara lain adalah:
• Meningkatkan pendapatan • Memperbaiki produktifitas • Mengurangi biaya
• Meningkatkan market share
• Meningkatkan daya responsif konsumen • Mencari dan membangun peluang pasar baru • Meningkatkan standar keamanan
• Mengganti barang dan jasa yang sudah ketinggalan zaman • Mengurangi konsumsi energi
• Mengurangi dan menghilangkan dampak lingkungan
Dalam pengembangannya, terdapat tiga pilar dalam inovasi destinasi wisata, yaitu:
1. Produk wisata yang sudah ada; meliputi produk-produk yang terlihat (kamar hotel, bandara, restouran, atraksi flora-fauna) maupun tidak terlihat (sikap dan perilaku penduduk)
2. Ekspektasi wisatawan, harapan wisatawan terkait kualitas barang dan jasa yang ditawarkan; pemenuhan standart dan mutu produk.
3. Tren kedepan, meliputi motivasi dan determinan wisatawan ke depan. Hjalager (2010) menyebutkan bahwa inovasi dapat dibedakan atas:
Inovasi produk jasa dan layanan. Bagaimana produk-produk dihasilkan ditangkap sebagai suatu produk jasa dan/layanan baru yang tidak ada sebelumnya. Produk jasa dan/layanan baru dapat menjadi factor penentu keputusan wisatawan untuk membeli produk dan/jasa destinasi wisata. Tantangan bagi pengembangan ekowisata di Indonesia adalah lemahnya basis data dan pemahaman konektifitas komponen ekosistem untuk menciptakan daya tarik atraksi 9barang dan jasa) yang berkualitas dan memenuhi harapan wisatawan.
Inovasi proses. Bagaimana mencapai efisiensi, produktifitas dan proses dapat berlangsung. Dewasa ini teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi tulang punggung bagi inovasi proses. Keterbatasan ketrampilan dan pemahaman pelaku ekowisata di lapangan menjadi penghalang bagi inovasi proses. Hal ini terutama disebabkan karena lemahnya penguasaan TIK. Dengan demikian, salah satu agenda pemberdayaan masyarakat yang dapat diajukan di daerah-daerah pengembagan ekowisata adalah peningkatan pengetahuan dan pengusaan TIK.
Inovasi manajerial. Terkait dengan cara-cara dan pendekatan baru dalam organisasi/pengaturan kerjasama internal, pengarahan dan penguatan staf, membangun
karir dan pengembangan-pengembangan insentif dan kompensasi untuk merangsang kinerja karyawan. Kelompok-kelompok bisnis ekowisata pada skala local harus didorong untuk meningkatkan profesionalitas manajerial kelompok dan mengurangi hambatan-hambatan yang mengurangi daya saing. Di ebrbagai daerah, banyak masyarakat masih emnajdi penonton dan belum terlibat secara aktif dalam perencanaan dan pengambilan keputusan pengembangan ekowisata.
Inovasi manajemen, meliputi antara lain inovasi pemasaran. Fokus terutama diarahkan kepada bagaimana membangun loyalitas wisatawan terhadap produk yang dihasilkan. Sampai saat ini, kelemahan dari berbagai destinasi ekowisata adalah lemahnya inovasi pemasaran sehingga mengakibatkan arus pengunjung mendatangi destinasi ekowisata tidak maksimal. Banyak daerah tujuan ekowisata belum dikenal oleh indutri wisata.
Inovasi institusional. Terutama dikaitkan dengan bagaimana stakeholder industry barang dan jasa kegiatan wisata dapat memanfaatkan teknologi-teknologi yang ada untuk meningkatkan kepuasan wisatwan dan daya saing ODTW. Teknologi dapat diintegrasikan untuk membangun kapasitas institusi dalam menjalankan bisnis wisata, mengelola atraksi, dan meningkatkan keterlibatan masyarakat setempat.
Inovasi adalah proses yang komplek (Weidenfeld et al., 2010) dan membutuhkan serangkaian determinan dan factor pengarah yang saling terkait. Hjalager (2010) menggambarkan bahwa tiga determinan dan pengarah penting tersebut adalah aspek kewirausahaan, sistem dan teknologi yang melekat dan dimiliki oleh destinasi. Rimmington et al (2012) bahkan menekankan bahwa aspek kewirausahaan adalah sangat penting untuk menggerakkan industry ekowisata. Pengembangan produk ekowisata memerlukan orang-orang yang dapat menciptakan produk-produk baru dengan telah mempertimbangkan resiko dan ketidakpastian bisnis yang akan dialami.
Dalam pengembangan ekowisata di Indonesia, inovasi sangat diperlukan karena: • Industri wisata semakin meningkat tajam. Perkiraan WTO menyebutkan bahwa
wisata adalah salah satu industry yang akan memberikan peran dalam perekonomian global, dan Asia Pasifik adalah salah satu area dengan pertumbuhan sector wisata yang menjanjikan.
• Daya saing Indonesia dalam pariwisata global masih sangat rendah. Kontribusi sector pariwisata dalam penerimaan negara sangat signifikan, namun demikian perhatian pemerintah terhadap daya saing pariwisata nasional masih sangat rendah.
Inovasi perlu dipromosikan sebagai satu kunci penting dalam peningkatan daya saing ekowisata di Indonesia.
• Daya saing Indonesia tidak sesuai dengan potensi sumberdya alam yang luar biasa. Masih banyak daerah-daerah alamiah berpotensi sebagai destinasi ekowisata belum dikembangkan.