• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belum Mengubah Wajah Penegakan HAM Oleh Usman Hamid

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 156-160)

SETAHUN sudah Komnas HAM berjalan di bawah kepengurusan baru periode 2002-2007. Kepemimpinan di bawah Abdul Hakim Garuda Nusantara, Solahuddin Wahid, dan Zoemrotin terbentuk 12 September 2002. Kepengurusan baru dikukuhkan melalui Keppres Nomor 165/M/2002 tertanggal 31 Agustus 2002. Meski masih ada wajah lama, kepengurusan baru ini memberi harapan dan angin segar bagi masyarakat, terutama korban kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia.

Harapan masyarakat yang tinggi memosisikan Komisi Nasional (Komnas) hak asasi manusia (HAM) ada pada posisi amat penting bagi perubahan dan penyelesaian masalah pelanggaran HAM masa lalu. Tengok saja berbagai pernyataan yang muncul di media massa serta laporan masyarakat yang dituangkan lewat aksi demonstrasi, audiensi maupun cara lain.

Satu tahun pertama, Komnas HAM belum terlihat banyak berubah. Bukan karena kelemahan pada dirinya, tetapi lebih dikarenakan ketidakpedulian otoritas politik yang ada. Tidak ada perhatian dan dukungan serius dari pemerintah untuk mengatasi hambatan yang ditemuinya, terutama yang bersifat politis.

DPR sendiri malah memberi berbagai tafsir hukum absurd yang justru berakibat fatal pada mekanisme penanganan kejahatan masa lalu. Pada saat yang sama, sikap ini tampak melegitimasi penolakan militer atas wewenang Komnas HAM, yang jelas merupakan preseden buruk sekaligus ancaman dalam perjalanan transisi politik di Indonesia. Masalah inilah yang mewarnai kinerja setahun Komnas HAM.

BEBERAPA masalah penting lainnya selain soal otoritas politik yang acuh terhadap kerja Komnas HAM adalah sebagai berikut.

Pertama, pendekatan agenda prioritas Komnas HAM. Di awal kepengurusan, kebijakan yang dipilih, Komnas HAM tampak lebih mengarah pada pemajuan HAM secara normatif. Hal ini ditunjukkan pada keputusan awal Komnas HAM mengenai: (1) pengajuan RUU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi; (2) ratifikasi kovenan induk hak asasi manusia, yakni Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik serta Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya; (3) pengajuan revisi terhadap UU No 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia dan UU No 26/2000 tentang Pengadilan HAM.

Semua itu berkait dengan perubahan dan pemajuan sistem hukum di Indonesia. Tentu saja ini bukan sesuatu yang tidak penting, sebaliknya justru diperlukan. Namun melihat banyaknya pekerjaan rumah Komnas HAM terkait kasus masa lalu, semestinya bukan pendekatan normatif seperti ini yang diambil Komnas HAM, apalagi perubahan dan kemajuan di bidang hukum melalui ketiga agenda itu sudah menjadi kewajiban konstitusional pemerintah. Komnas HAM tidak perlu repot mengurusi soal ini.

Kedua, tercecernya pekerjaan rumah Komnas HAM. Hingga kini, sejumlah kasus pelanggaran berat HAM masa lalu masih terabaikan. Termasuk beberapa kasus terakhir yang telah diputuskan pada periode Komnas HAM sebelumnya. Antara lain, kasus Talangsari Lampung 1989, kasus Aceh termasuk Bumi Flora, kasus penculikan dan penghilangan orang secara paksa, dan kekerasan atas wartawan. Seperti kita ketahui, pada periode sebelumnya telah ada beberapa keputusan Komnas HAM untuk menyelidiki kasus itu. Sayang, hingga hari ini kejelasan nasib dan tindak lanjut kasus-kasus ini masih jauh dari harapan.

Di sisi lain, terhadap berkas penyelidikan yang telah diserahkan ke Kejaksaan Agung, Komnas HAM tidak mengambil langkah pemantauan yang intensif guna mempertanyakan kelanjutan hasil penyelidikan. Misalnya, berkas perkara Trisakti, Semanggi I dan II, Abepura, Sampit, dan Maluku. Tanpa pemantauan intensif bagi tindak lanjut kasus-kasus itu, dapat kian mengendapkannya dalam "penyidikan" di Kejaksaan Agung, seperti terjadi pada kasus Tanjungpriok. Berkas perkara Priok baru dilimpahkan ke Pengadilan, setelah kurang lebih mengendap di Kejaksaan Agung sekitar 35 bulan. Kini sudah mulai disidangkan.

Ketiga, penggunaan wewenang dan mandat undang-undang yang setengah hati. Penggunaan wewenang terkait soal fungsi penyelidikan belum menghasilkan sesuatu yang signifikan. Tengok misalnya Tim Kajian Soeharto

kliping

ELSAM

yang dibentuk Komnas HAM. Mandat yang diberikan terbatas sebagai fungsi pengkajian, bukan penyelidikan pro-justicia. Padahal, sebagai lembaga tunggal penyelidik pelanggaran berat HAM masa lalu, Komnas HAM semestinya menggunakan wewenang yang diberikan UU, terutama UU No 26/2000 tentang Pengadilan HAM. Siapa yang akan menjalankan fungsi itu jika bukan Komnas HAM?

Keempat, integritas maupun konsistensi anggota Komnas HAM. Masalah ini tidak bisa dilepaskan dari terbatasnya pemahaman anggota soal konsep HAM sehingga kesan sarat kepentingan dan konservatisme tampak kental. Lihat sikap Komnas HAM soal pemberlakuan hukuman mati di Indonesia, darurat militer di Aceh hingga upaya mendeligitimasi kerja kelembagaan. Contoh yang penting dicatat saat Tim Ad Hoc bentukan Komnas HAM mengumumkan temuannya di Aceh, dua anggota Komnas HAM lainnya menemui Menko Polkam tanpa sepengetahuan dan melalui proses pengambilan keputusan dalam kelembagaan. Sikap Komnas HAM terpecah, mendukung dan menolak penerapan hukuman mati di Indonesia dan

pemberlakuan darurat militer di Aceh. Termasuk dalam melihat kasus pemerkosaan di Aceh, di mana Komnas Perempuan memprotes keras termasuk lewat sebuah surat terbuka kepada Komnas HAM, akhir Juli lalu. Seandainya ada mekanisme kerja yang kredibel di dalam Komnas HAM, hal-hal seperti ini tidak boleh terjadi. Tindakan anggota Komnas HAM di luar kesepakatan lembaga jelas tidak bisa ditolerir. Sebab, bisa

menimbulkan penafsiran yang membingungkan di masyarakat.

CATATAN pada uraian terakhir bisa menjadi faktor penyebab rendahnya kinerja Komnas HAM. Setahun lalu, sebelum anggota baru disahkan Presiden Megawati, ada keraguan terhadap kredibilitas sejumlah anggota dan kekhawatiran bahwa "wajah-wajah lama" yang kembali terpilih akan menghambat pengungkapan kejahatan masa lalu. Bahkan, sejumlah korban melalui kuasa hukum beberapa LSM menggugat Presiden Megawati di PTUN. Kekhawatiran ini bisa terjadi. Tetapi, jika dilihat dari komposisi keanggotaan, mereka tidak dominan. Begitu kuat dan berpengaruhkah mereka sehingga mampu menghambat penuntasan pekerjaan rumah Komnas HAM atas kasus masa lalu?

Sulit memastikan penyebab utama di antara catatan itu. Yang pasti, problem eksternal Komnas terkait sikap DPR dan pemerintah, yang langsung atau tidak melegitimasi sikap militer yang jelas melawan hukum, juga berjalan selaras persepsi dan kepentingan yang berbeda atas kasus atau isu tertentu di dalam tubuh Komnas HAM sendiri.

Karena itu, Pemerintah dan DPR harus bertanggung jawab atas rendahnya kualitas penghormatan dan pemajuan HAM seperti dimandatkan konstitusi. Demi perbaikan dan peningkatan kinerja di masa datang, Komnas HAM harus segera mengambil langkah inisiatif guna perubahan strategi lembaga dengan menempatkan kasus masa lalu sebagai prioritas.

Hal itu harus diiringi perbaikan internal di tubuh Komnas HAM. Langkah ini penting agar Komnas HAM mampu menghadapi tantangan masa kini dan masa datang. Sebab, tantangan ke depan dalam menuntaskan kejahatan masa lalu, jauh lebih berat.

Melihat perkembangan sosial politik saat ini terutama terkait Pemilu 2004 dan ramainya bursa bakal calon presiden, apakah masih ada harapan bagi Komnas HAM mengubah wajah penegakan HAM di Indonesia? Atau, haruskah menunggu pergantian pemerintahan di masa selanjutnya sehingga Komnas HAM mampu menjadi bagian penting mekanisme nasional bagi pemecahan problem impunitas? Apa pun yang terjadi, selama komitmen pemerintah dan DPR masih belum berubah, jangan harap wajah penegakan HAM di negeri ini bisa berubah.

kliping

ELSAM

Kompas, Sabtu 20 September 2003

Belajar dari Peristiwa Madiun

Oleh Baskara T Wardaya

SEBAGAIMANA banyak peristiwa kontroversial lain dalam sejarah, ada sejumlah teori yang muncul mengenai Peristiwa Madiun. Dalam peristiwa yang terjadi pada bulan September 1948 itu setidaknya ada empat teori yang berlaku.

Pertama, teori yang mengatakan, dalang Peristiwa Madiun adalah PKI. Menurut teori ini, Partai Komunis ingin merebut kekuasaan dari Pemerintah RI dengan cara menduduki Kota Madiun. Sebagaimana terungkap dalam dokumen yang diedarkan kalangan Partai Murba, PKI melakukan kerja sama dengan Front Demokrasi Rakyat (FDR) untuk menjadikan Indonesia berpemerintahan komunis. Di Madiun pula mereka membentuk "soviet" atau sistem pemerintahan model komunis Rusia. Muso adalah pemimpin dari pemberontakan di Madiun. Dengan tindakannya itu, dia dan kawan-kawannya dipandang telah "menusuk dari belakang" Republik yang sedang giat-giatnya berjuang melawan Belanda.

Kedua, teori yang mengatakan, pelaku utama Peristiwa Madiun adalah kabinet yang dipimpin Wapres Hatta. Pada pertengahan Februari 1948 Kabinet Hatta bermaksud melakukan "rasionalisasi" atau penciutan jumlah personel angkatan perang, antara lain guna mengurangi beban finansial "bayi" Republik. Dalam pelaksanaannya program rasionalisasi ini dilakukan oleh Divisi Siliwangi dan mendapat tentangan dari laskar-laskar rakyat, khususnya yang tergabung dalam Divisi Senopati yang berhaluan Kiri dan berkedudukan di Solo. Laskar-laskar itu merasa telah ikut berjasa dalam Revolusi, karena itu tak mau didemobilisasi begitu saja. Mereka bermaksud melawan program rasionalisasi. Dikatakan, dalam situasi demikian Kabinet Hatta sengaja memprovokasi kerusuhan di Solo dan Madiun, supaya ada alasan untuk menyingkirkan golongan Kiri.

Ketiga, teori yang mengatakan, provokatornya adalah Amerika Serikat (AS). Menurut teori ini, tanggal 21 Juli 1948 AS berinisiatif menyelenggarakan sebuah konferensi di Sarangan. Dalam konferensi yang dihadiri dua wakil AS, G Hopkins dan Merle Cochran serta Presiden Sukarno dan Wapres Hatta, dihasilkanlah dokumen Red-Drive Proposal. Konon, menurut dokumen berisi rencana pembasmian "kaum merah" itu, yang mau dibasmi bukan hanya orang-orang komunis, tetapi setiap unsur masyarakat yang antiimperialis. Pemerintah RI diminta melakukan pembasmian itu dengan imbalan 56 juta dollar AS. Sejak itu diadakanlah berbagai bentuk provokasi terhadap PKI dan FDR serta kelompok-kelompok Kiri lain. Dengan demikian dalam pandangan teori ini Peristiwa Madiun tak lain adalah buah provokasi AS dalam usahanya membasmi kaum Kiri dan unsur-unsur antiimperialis lain di Republik ini.

Keempat, teori yang mengatakan, "otak"-nya adalah Uni Soviet (US). Menurut teori ini, tidak bisa disangkal bahwa Peristiwa Madiun merupakan hasil rekayasa US melalui apa yang disebut Moscow Plot. Sebelum Agustus 1948, PKI tenang-tenang saja, tetapi setelah kedatangan Muso-yang selama 20 tahun tinggal di Rusia-pada bulan itu partai komunis itu menjadi amat agresif dan dalam waktu singkat berhasil merekrut banyak pengikut. Kementerian Penerangan RI saat itu, misalnya, menuduh kedatangan Muso terkait erat rencana Moskwa untuk menguasai Asia Tenggara.

Mengada-ada

Betapapun tampak meyakinkannya, teori-teori itu memiliki kelemahan masing-masing. Teori mengenai PKI sebagai dalang Peristiwa Madiun misalnya, mengandung kelemahan mencolok. Ketika peristiwa itu pecah tanggal 18 September 1948, Muso dan para pemimpin PKI lain sedang ada di luar kota. Bila "pemberontakan" itu dipimpin Muso, seharusnya hari itu ia ada di Madiun. Muso justru terkejut mendengar berita mengenai apa yang terjadi, dan baru tiba kembali di Madiun tengah malam. Sementara itu para pemimpin PKI yang lain justru tertahan di

Yogyakarta. Selanjutnya dokumen-dokumen yang konon "ditemukan" dan kemudian disebarkan oleh Partai Murba, amat diragukan keasliannya, termasuk oleh Profesor Kahin yang sempat membaca sendiri berkas-berkas itu (Kahin: 1952).

Teori mengenai Kabinet Hatta sebagai pelaku utama Peristiwa Madiun perlu dipertanyakan. Bahwa kabinet itu merencanakan rasionalisasi dan khawatir akan meluasnya pengaruh komunis di Indonesia, itu jelas. Tetapi apakah berdasarkan rencana dan kekhawatiran itu lantas secara sengaja memprovokasi golongan komunis agar berontak supaya bisa disingkirkan, belum bisa dipastikan. Tentu Hatta tak menghendaki adanya perang saudara di tengah seriusnya ancaman militer Belanda yang siap melancarkan Agresi Kedua.

kliping

ELSAM

Teori provokasi Amerika terasa meragukan, antara lain karena cerita mengenai "Konferensi Sarangan" yang disebut-sebut sebagai dasar teori itu sebenarnya tidak pernah ada (Swift: 1989). Cochran yang dikabarkan sebagai salah seorang wakil AS dalam konferensi yang katanya berlangsung 21 Juli itu, baru tiba di Indonesia 9 Agustus 1948. Sementara itu, orang bernama "G Hopkins" yang dikatakan sebagai penasihat Presiden Truman itu mungkin hasil mengada-ada.

Teori mengenai rekayasa Moskwa juga cukup meragukan. Ketika mendengar pecah Peristiwa Madiun, Moskwa justru kaget. Pemahaman Moskwa mengenai peristiwa itu baru datang belakangan hingga tanggal 25 September koran resmi US Pravda menurunkan berita singkat tentang apa yang terjadi di Madiun. Informasi lebih lengkap yang didapat Moskwa justru datang dari komunis Belanda, sehingga baru pada 15 Oktober koran itu menyampaikan tuduhan bahwa PKI telah diprovokasi untuk melakukan perlawanan supaya dapat dibasmi.

Mengolah

Kelemahan yang ada pada masing-masing teori bukan berarti tak ada kebenaran dalam teori-teori itu, tetapi bahwa "kebenaran" tentang Peristiwa Madiun mungkin terletak pada kombinasi dari unsur-unsur yang terkandung dalam keempatnya. Yang jelas, ada satu fakta yang sulit dipungkiri, dalam peristiwa itu anak-anak bangsa telah menjadi pelaku dan korban baku-tuduh hingga baku-bunuh dalam skala besar.

Banyak warga golongan Kiri dihabisi tentara pemerintah, tetapi banyak pula anggota PKI yang membunuh lawan-lawan politiknya dalam jumlah besar. Di antara golongan Kiri yang dibunuh adalah Amir Sjarifuddin, mantan Perdana Menteri RI yang disuruh menggali liang kuburnya sendiri sebelum kemudian dieksekusi tentara. Tanpa pengadilan, tanpa kesempatan membela diri.

Sayang, dalam sebuah peristiwa yang berlangsung secara relatif singkat di awal sejarah Republik, terjadi

pembantaian antarsesama warga bangsa dalam jumlah ratusan, mungkin ribuan. Namun, lebih sayang lagi, tragedi nasional macam itu kurang mendapat kesempatan untuk diolah secara mendalam, selain diberi label "pemberontakan PKI yang gagal." Jangan-jangan antara lain karena kurangnya pengolahan pengalaman atas momen-momen historis macam itu, maka tragedi baku-tuduh hingga baku-bunuh terus berlanjut sampai kini. Pembunuhan Massal 1965, Kerusuhan Solo, Maluku, dan Poso hanyalah beberapa contoh.

Diharapkan, ingatan akan apa yang terjadi dalam Peristiwa Madiun mendorong kita untuk tak enggan berdialog dengan pengalaman masa lalu. Munculnya berbagai teori itu hendaknya menyadarkan kita bahwa upaya mencari kebenaran itu tidak mudah tetapi harus dilaksanakan. Semoga kita tak bosan untuk terus mengolah pengalaman sejarah bangsa ini.

kliping

ELSAM

Kompas, Jumat, 26 September 2003

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 156-160)