• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelesaian Pelanggaran HAM Era Orde Baru Mau ke KKR atau Pengadilan HAM Ad Hoc

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 166-176)

KEKUASAAN PRESIDEN Soeharto telah secara formal berakhir 21 Mei 1998. Namun, setelah lima tahun berakhirnya kekuasaan Soeharto, pemerintahan transisi post-Soeharto-baik BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri-belum mampu menyelesaikan satu pun berbagai kasus yang

dilakukan rezim Orde Baru. Padahal, pelanggaran HAM itu membentang dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam hingga Papua.

AHLI politik Samuel Huntington yang mendalami transisi politik di berbagai negara mengakui ada dua masalah pelik yang tidak mudah diselesaikan oleh pemerintahan baru setelah transisi politik. Kedua masalah itu adalah bagaimana pemerintahan transisi menyelesaikan kasus pelanggaran HAM warisan rezim otoriter dan bagaimana pemerintah baru mengatasi masalah keterlibatan militer dalam politik.

Alfred Stepan dalam buku Militer dan Demokratisasi, Pengalaman Brasil dan Beberapa Negara Lain mengungkapkan, sebuah rezim yang berada dalam proses demokratisasi, tingkat kontestasi militer terbuka sangat dipengaruhi oleh sejauh mana terdapat pertikaian besar atau ketidaksepakatan yang mendasar antara militer dalam pemerintahan baru dalam sejumlah isu penting. Salah satu wilayah isu yang mengandung potensi konflik besar ialah bagaimana rezim baru menangani kasus pelanggaran HAM.

Dari kajian Stepan di Argentina, Brasil, dan Uruguay, terdapat resistensi militer terhadap pengungkapan pelanggaran HAM masa lalu. Upaya Presiden Argentina Raul Alfonsin untuk mengadili sejumlah petinggi militer yang terlibat dalam dirty war (perang kotor) mendapat resistensi yang sangat kuat dari militer. Percobaan kudeta berulang kali terjadi, sampai kemudian Alfonsin mundur dari kebijakannya dan menghentikan proses penuntutan.

Pengalaman di berbagai negara juga menunjukkan, sebuah perdebatan keras mengenai format penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu. Diane Orentlichter menggambarkan sebuah pemerintahan transisi dihadapkan pada dilema Hobson’s Choice.

Pada satu sisi, pemerintahan transisi diwajibkan oleh hukum internasional untuk melaksanakan proses hukum terhadap pelanggar HAM. Namun, pada sisi lain, kondisi pemerintahannya masih rapuh. Penuntutan terhadap para pelaku pelanggar HAM dikhawatirkan bakal mengganggu stabilitas pemerintahan.

Terdapat dua kelompok yang berbeda pandangan. Ada kelompok yang mendukung penuntutan terhadap para pelaku pelanggar HAM, namun kelompok lain lebih mendukung pemberian amnesti demi untuk rekonsiliasi. Bagi kubu yang mendukung penuntutan ke pengadilan mengatakan, kebenaran dan keadilan mengharuskan tindakan penuntutan ke pengadilan.

Rezim pengganti mempunyai kewajiban moral untuk menghukum kejahatan biadab. Namun, kelompok yang menentang menyebutkan, demokrasi harus didasarkan pada rekonsiliasi di antara kelompok-kelompok utama di dalam masyarakat dengan mengesampingkan perpecahan di masa lalu.

Perbebatan antara kelompok pendukung penuntutan ke pengadilan dan kelompok amnesti ini telah menimbulkan sintesa baru, yakni format penyelesaian masalah pelanggaran HAM masa lalu melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Priscilla Hayner menyebutkan paling tidak sudah 20 negara membentuk KKR untuk menyelesaikan masalah pelanggaran HAM masa lalu.

kliping

ELSAM

KKR Timtim kini sedang bekerja dan belum merampungkan tugasnya. KKR yang paling populer di Indonesia adalah Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi di Afrika Selatan yang dipimpin Uskup Desmond Mpilo Tutu.

BERBEDA dengan negara-negara lain, baru setelah lima tahun sejak tumbangnya Soeharto, pemerintahan Megawati Soekarnoputri mengajukan sebuah draf Rancangan Undang-Undang (RUU) KKR. Draf RUU itu telah diserahkan kepada DPR tanggal 26 Mei 2003. DPR pun telah membentuk panitia khusus (pansus) untuk membahas RUU KKR. Namun, pembahasan RUU KKR baru akan dilaksanakan setelah Sidang Tahunan MPR.

Melalui RUU KKR itu, pemerintahan Megawati akan mengintrodusir sebuah lembaga baru, yakni KKR. KKR ini berfungsi untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran atas pelanggaran hak asasi manusia berat dan melaksanakan rekonsiliasi. KKR akan beranggotakan lima belas orang dan akan bertugas selama tiga tahun.

KKR Indonesia mempunyai tugas untuk menerima pengaduan atau laporan dari pelaku, korban, atau keluarga korban serta melakukan penyelidikan dan klarifikasi atas pelanggaran HAM berat. Selain itu, memberikan rekomendasi kepada presiden dalam hal permohonan amnesti serta menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah mengenai pemberian kompensasi, restitusi, dan atau rehabilitasi. Ada beberapa pokok pikiran yang melandasi penyusunan RUU KKR. Pertama, pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum berlakunya UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM harus ditelusuri kembali untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran serta menegakkan keadilan dan membentuk budaya menghargai HAM. UU No 26/2000 mulai berlaku 23 November 2000. Kedua, dalam rangka pencarian dan pengungkapan kebenaran pelanggaran HAM berat perlu dilakukan langkah konkret dengan membentuk KKR.

Ketiga, pengabaian tanggung jawab atas terjadinya pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum UU No 26/2000 telah menimbulkan ketidakpuasan, sinisme, apatisme, dan ketidakpercayaan dalam masyarakat terhadap institusi penegak hukum. Akibatnya, negara dianggap memberikan kebebasan dari hukuman kepada pelaku pelanggaran HAM berat.

RUU KKR tidak mengatur tentang proses penuntutan hukum, tetapi lebih terfokus pada pengaturan mengenai proses pencarian dan pengungkapan kebenaran, pertimbangan amnesti. Dan, pemberian kompensasi, restitusi, atau rehabilitasi kepada korban atau keluarga korban yang merupakan ahli warisnya sehingga diharapkan akan membuka jalan rekonsiliasi.

RUU KKR yang diajukan Presiden Megawati ini memberikan kemudahan bagi para pelaku dan korban yang telah saling memaafkan dan melakukan perdamaian. Dalam Pasal 27 disebutkan, dalam hal antara pelaku dan korban pelanggaran HAM yang berat, yang terjadi pada masa sebelum berlakunya UU No 26/2000 tentang Pengadilan HAM telah saling memaafkan dan melakukan perdamaian, Komisi memberikan rekomendasi kepada Presiden untuk memberikan amnesti.

Dalam Pasal 27 Ayat (2) disebutkan, saling memaafkan dan melakukan perdamaian wajib diikuti

pengungkapan kebenaran tentang terjadinya peristiwa pelanggaran HAM yang berat yang telah dilakukan. Dalam Ayat (3) disebutkan, pernyataan perdamaian dituangkan dalam bentuk kesepakatan tertulis yang ditandatangani kedua pihak dan Ketua Komisi.

kliping

ELSAM

Direktur Eksekutif Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) Ifdhal Kasim dalam percakapan dengan Kompas beberapa waktu lalu mengungkapkan, kemudahan dalam proses perdamaian dan pemberian amnesti ini perlu dipikirkan secara baik dan dipertimbangkan secara matang.

Seorang aktivis HAM dalam sebuah diskusi terbatas di Elsam mengemukakan, KKR Indonesia akan menghadapi resistensi dari militer dan juga korban. Militer tidak mau masalah pelanggaran HAM masa lalu diungkit-ungkit, sementara korban juga menolak kalau pelanggaran HAM yang dialaminya diampuni begitu saja.

RUU KKR sebenarnya merupakan perintah Tap MPR dan UU No 26/2000 tentang Pengadilan HAM. Dalam Pasal 27 UU No 26/2000 disebutkan bahwa "Pelanggaran HAM yang berat yang terjadi sebelum berlakunya undang-undang ini tidak menutup kemungkinan penyelesaiannya dilakukan oleh Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi."

Rumusan demikian itu menunjukkan ada dua jalur untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Pertama adalah jalur Pengadilan HAM Ad Hoc. Dalam Pasal 43 UU No 26/2000 disebutkan, "Pelanggaran HAM yang berat yang terjadi sebelum diundangkannya undang-undang ini, diperiksa dan diputus oleh Pengadilan HAM Adhoc." Dalam Ayat (2) disebutkan, Pengadilan HAM Ad Hoc dibentuk atas usul Dewan

Perwakilan Rakyat berdasarkan peristiwa tertentu dengan Keputusan Presiden.

Rumusan Pasal 43 UU No 26/2000 itu telah menimbulkan ketegangan antara Komnas HAM, DPR, dan militer berkaitan dengan penyelesaian kasus Trisakti dan Semanggi. Pada satu sisi, DPR mengambil keputusan yang jauh di luar kewenangannya yang mengatakan, kasus Trisakti dan Semanggi bukan pelanggaran HAM berat, sementara Komnas HAM berpendapat bahwa kasus itu adalah pelanggaran HAM berat. Akhirnya, kedua kasus itu mandek dan korban dirugikan.

Kedua, jalur Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Penyelesaian melalui jalur ini relatif lebih mudah dan tidak memerlukan keputusan politik DPR. KKR Indonesia bisa langsung menerima pengaduan dari masyarakat, menerima pernyataan perdamaian untuk memperoleh amnesti.

Dua jalur penyelesaian itu harus dipilih salah satu. Apakah akan ke Pengadilan HAM Ad Hoc dengan syarat ada dukungan politik DPR atau ke Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Dalam Pasal 42 disebutkan, pelanggaran HAM berat yang telah diungkapkan dan diselesaikan oleh Komisi, perkaranya tidak dapat diajukan lagi kepada Pengadilan HAM Ad Hoc.

Dari kedua undang-undang itu, tampak sekali bahwa upaya untuk menuntut ke pengadilan para pelaku pelanggar HAM berat menjadi lebih sulit karena masih harus menunggu keputusan politik DPR. Pengadilan HAM Ad Hoc tak mungkin terbentuk tanpa ada keputusan politik DPR.

Kasus Tanjung Priok dan Timtim bisa digelar setelah ada keputusan politik DPR, sementara kasus Trisakti dan Semanggi I-II tak bisa digelar karena DPR memandang kasus bukan pelanggaran HAM berat. Apakah desain itu menunjukkan arah politik dari pemerintahan Megawati yang cenderung akan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu melalui KKR karena persyaratannya yang mudah? Pertanyaan itu masih akan dijawab oleh waktu.

Jika ada dua jalur yang bisa dilalui, lalu di mana letak penyelesaian kasus 27 Juli 1996. Adalah suatu kenyataan bahwa kasus 27 Juli oleh penyidik koneksitas bukan dianggap sebagai pelanggaran HAM berat, meskipun Komnas HAM mengatakan paling sedikit terdapat lima pelanggaran HAM dalam kasus 27 Juli. Dipilihnya model penyelesaian pengadilan koneksitas merupakan sebuah kemenangan dari militer karena

kliping

ELSAM

apa pun pengadilan koneksitas/pengadilan militer merupakan hak istimewa militer yang masih bisa dipertahankan oleh militer.

Masalah lain yang perlu dipikirkan sehubungan dengan penyelesaian pelanggaran era Orde Baru adalah soal penyelesaian pelanggaran hak ekonomi, sosial, dan budaya.

"Masalah pelanggaran hak ekonomi dan sosial seperti kasus penggusuran di Kedung Ombo belum memperoleh jalan penyelesaian.

Seharusnya, RUU KKR juga menampung masalah ini," kata Asmara Nababan, mantan Sekjen Komnas HAM. (Budiman Tanuredjo)

kliping

ELSAM

Suara Pembaruan, Senin 11 Agustus 2003

UU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Perlu Segera Dibahas

JAKARTA - Undang-undang tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang akan dibentuk pemerintah bersama DPR dimaksudkan untuk mencegah terjadinya peristiwa-peristiwa yang menyakitkan di masa lalu tidak terjadi lagi di masa depan. KKR merupakan salah satu bentuk mencari, mengungkap kebenaran dan meraih rekonsiliasi, dan karena itu perlu segera dibahas.

"KKR untuk memastikan apa yang terjadi di masa lalu. Harus ada kebenaran dan rekonsiliasi baru bisa terlaksana setelah ada kebenaran," kata Direktur Eksekutif ELSHAM, Ifdhal Kasim kepada Pembaruan, di Jakarta, Sabtu (9/8). Panitia Khusus (Pansus) DPR RUU tentang KKR sudah dibentuk dengan anggota 50 orang.

Namun saat pembentukannya pada rapat pleno DPR belum ditentukan siapa yang menjadi ketua dan wakil ketuanya. "Kemungkinan baru akan dibahas pada rapat 14 Agustus mendatang," katanya. RUU tentang KKR ini sebagai bagian dari pelaksanaan Ketetapan MPR No 5/2000. Saran MPR kepada Presiden yang termuat dalam lampiran Keputusan MPR No 5/2003 adalah tentang Rekonsiliasi Nasional adalah wujud yang lebih spesifik dari upaya rekonsiliasi nasional. Dalam saran tersebut ditulis dengan jelas tujuannya, untuk menciptakan situasi kondusif bagi rekonsiliasi nasional.

MPR juga menyarankan kepada Presiden untuk merehabilitasi nama baik para pahlawan dan tokoh-tokoh nasional yang telah berjasa pada bangsa dan negara. Mengingat jasa-jasa Bung Karno, khususnya sebagai salah seorang Proklamator dan Presiden Pertama RI, MPR

menyarankan kepada Presiden untuk mengambil langkah-langkah merehabilitasi nama baik Bung Karno.

Saran ini salah satu upaya untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada Bung Karno pada 1965-1966. Karena tanpa penyelidikan yang mendalam, tidak akan pernah diketahui secara pasti apa sebenarnya yang menimpa Bung Karno.

Kepada mereka yang terlibat PKI saat itu, dapat diketahui peristiwanya secara benar. Untuk ini semua, tambahnya, perlu ada satu pengakuan untuk menemukan kebenaran dari mereka yang terlibat.

"Bertolak dari situ baru bisa dilakukan rekonsiliasi. Kalau tidak ada pengungkapan kebenaran, nanti yang terjadi hanyalah terus menerus timbul prasangka, yang itu dikuatkan dengan pernyataan-pernyataan politik," katanya. Untuk menuntaskan masalah ini, tambahnya, perlu proses yang relatif panjang dan pasti tidak bisa selesai dalam sekejap. (M-11)

kliping

ELSAM

Kompas, Rabu 3 September 2003

KKR Harus Ungkap Kasus HAM 30 Tahun

Jakarta, Kompas - Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi diharapkan dapat mengungkap pelanggaran hak asasi manusia yang telah terjadi selama 30 tahun ini di Indonesia. Harapan masyarakat terhadap komisi ini sangat besar sehingga masyarakat yang selama ini bungkam dalam ketakutan dapat menyatakan apa yang sebenarnya terjadi.

"Jika komisi ini punya badan- badan kerja di daerah dan membuka jalur mudah bagi korban untuk memberi kesaksian, saya yakin ada begitu banyak orang akan bicara," kata Kepala Divisi Studi Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) Agung Putri dalam diskusi "Proyeksi Publik atas Pembentukan Pansus RUU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi" di Jakarta, Selasa (2/9). Pembicara lain dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Elsam tersebut adalah M Akil Mochtar dari Pansus RUU Kebenaran dan Rekonsiliasi DPR.

Pada Sidang Istimewa MPR 1998 telah ditetapkan Ketetapan MPR No XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Selanjutnya, Ketetapan MPR itu ditindaklanjuti dengan pembentukan UU No 39/ 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Tahun berikutnya, muncul juga UU No 26/2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia sebagai instrumen hukum untuk mengadili pelanggar HAM berat. Dalam Pasal 47 UU No 26/2000 disebut, penyelesaian HAM berat yang terjadi sebelum

berlakunya UU No 26/2000 bisa diselesaikan lewat Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Pembentukan KKR juga ditegaskan lagi dalam Ketetapan MPR No V/MPR/2000 tentang Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional. KKR merupakan lembaga ekstra yudisial yang bertugas untuk menegakkan kebenaran dengan mengungkapkan penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran HAM di masa lampau. Ketatapan MPR itulah yang kini membutuhkan UU untuk mewujudkan pembentukan KKR.Sayangnya, RUU KKR yang kini diajukan pemerintah, kata Agung Putri, kurang memberi penjelasan lengkap apa yang dimaksud dengan kebenaran dan bagaimana kebenaran itu diperoleh.

Tidak memberi amnesti

Berbeda dengan komisi sejenis di negara-negara Amerika Selatan, KKR tidak memberikan amnesti. KKR hanya memberi rekomendasi amnesti.Yang jelas, komisi ini harus menghadapi luka yang telah berlangsung selama 30 tahun tanpa menutup diri. Karena itu, komisi ini harus menemukan metode yang tepat untuk itu.

"Yang penting kita pikirkan sebelum mengambil posisi atas komisi ini adalah apa yang kira-kira signifikan untuk dicapai oleh komisi ini? Di berbagai negara, transisi demokratis tidak ada yang berlangsung mulus, selalu menghadapi pasang surut yang tidak bisa kita perkirakan. Yang penting, kita tidak perlu meragukan atau sinis, tapi kita lihat dulu apakah komisi ini signifikan dengan transisi," kata Agung Putri.

"Saya tidak pusing soal nama komisi. Bagi saya, yang paling diperlukan adalah membuka kebisuan dan membuat orang bicara setelah bungkam sekian tahun," kata Agung Putri. (LOK)

kliping

ELSAM

Suara Pembaruan, Rabu 3 September 2003

RUU KKR Masih Terganjal Sejumlah Masalah.

Jakarta – Pembahasan Rancangan Undang-Undang Komisi Kebenaran Rekonsiliasi (RUU KKR) di pastikan masih terganjal sejumlah masalah. Hambatan yang bisa mengganjal pembahasan RUU KKR bukan hanya masalah campur tangan politik, namun juga masa sidang di DPR yang singkat yang tidak bisa ditawar-tawar.

“Persidangan di DPR akan kembali memasuki masa reses pada akhir September 2003. Dalam waktu singkat ini, DPR juga dibebani tugas legislasi yang tidak sedikit. Setidaknya, pada masa sidang kali ini, sekitar 60 RUU yang masih menunggu antrean untuk dibahas,” kata Anggota Komisi II DPR Akil Mochtar saat tampil sebagia pembicara pada acara “Proyeksi Publik atas Pembantukan Pansus RUU KKR”, di Jakarta, Selasa (2/9). Mengingat banyaknya RUU yang akan dibahas, kata Akil, DPR terpaksa membuat prioritas. RUU KKR tidak tercantum dalam daftar RUU yang menjadi priorits.

Menurut Akil, kendala lain yang bakal menjadi penghambat dalam pembahasan RUU KKR adalah

perbedaan persepsi dan pemahaman mengenai hukum HAM dan keadilan dan pentingnya KKR di kalangan anggota DPR. Akibatnya, RUU KKR bisa jadi dianggap tidak terlalu penting dibandingkan RUU yang lain. Selain itu, adanya kepentingan politik dari fraksi-fraksi yang ada di DPR juga akan menjadikan

pembahasan RUU ini semakin berlarut-larut. Karena masing-masing partai politik memiliki visi dan misi serta kepentingan yang berbeda-beda. “Tidak aneh kalau RUU KKR hingga kini belum dibahas di tingkat Pansus. Padahal, mestinya pada 28 Agustus lalu, ketua pansus sudah terpilih,” ujar Akil.

Di tempat yang sama, Kepala Divisi Penelitian dan Riset ELSAM Agung Putri tidak menampik

kemungkinan adanya kepentingan politik yang bermain sehingga pembahasan RUU KKR tersendat-sendat. Menurut Agung Putri, ELSAM sebagai pihak yang memprakarsai sebenarnya berharap RUU KKR

secepatnya disahkan dan komisi dibentuk.

Mencermati RUU KKR yang kini diajukan pemerintah, Agung sedikit menyayangkan karena RUU itu kurang memberi penjelasan lengkap apa yang dimaksud dengan kebenaran dan bagaimana kebenaran itu diperoleh. Berbeda dengan komisi sejenis di negeri-negeri Amerika Selatan, KKR tidak memberikan amnesti. KKR hanya memberi rekomendasi amnesti.

Yang jelasa, tambah dia, komisi ini harus menghadapi luka yang telah berlangsung selama 30 tahun tanpa menutup diri. Karena itu, komisi ini harus menemukan metode yang tepat untuk itu. “Saya tidak pusing soal nama komisi. Bagi saya, yang paling diperlukan adalah membuka kebisuan dan membuat orang bicara setelah bungkam sekian tahun,” kata Agung Putri.

Sebenarnya pemerintah, dalam hal ini Presiden Megawati sendiri sudah menyampaikan amanat presiden (Ampres) pada 26 Mei sewaktu penyerahan naskah RUU KKR ke DPR. Dalam pengantarnya, Pemerintah berpendirian, RUU KKR disusun untuk memperkuat landasan hukum yang mengatur perlindungan dan penegakan hak asasi manusia.

MPR juga sudah mengeluarkan Tap No. XVII/1998 tentang HAM, yang kemudian ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya UU No 39/1999, juga tentang HAM. Beranjak dari perkembangan hukum, baik ditinjau dari kepentingan nasional dan internasional, untuk menyelesaikan masalah pelanggaran HAM yang berat dan mengembalikan keamanan perdamaian di Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 104 Ayat 1 UU No. 39/1999, dibentuk UU No. 26/2000 tentang Pengadilan HAM.

Dalam Pasal 47 UU No. 26/00 disebutkan, dalam menyelesaikan perkara pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum 2000, tidak tertutup kemungkinan menggunakan jalur KKR. Selanjutnya, ditegaskan

kliping

ELSAM

kembali di dalam Tap MPR No. V/2000 tentang pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional, perlu dibentuk KKR sebagai lembaga ekstra yudisial yang bertugas menegakkan kebenaran dengan

kliping

ELSAM

Republika, Kamis, 04 September 2003

Pansus KKR Dibentuk

JAKARTA --Korban pelanggaran HAM yang melapor ke KKR, bisa diselesaikan melalui rekonsiliasi. Penyelesaian kasus-kasus pelanggaran berat HAM yang terjadi sebelum berlakunya UU No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, hingga kini masih banyak yang belum tuntas.

Sedangkan keluarga dan kerabat yang ditinggalkan menderita dan menyimpan dendam. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, DPR bersama pemerintah ditugaskan membuat RUU tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR).

Pansus RUU tentang KKR sudah disiapkan DPR RI, dan pimpinannya sudah dipilih, yaitu Ketua Sudharto dari FPDIP, wakilnya Akil Mochtar (FPG), Sofwan Chudori (FPKB), sedangkan FPPP belum menentukan wakilnya.

Wakil ketua Pansus KKR, Akil Mochtar, menjelaskan pembentukan KKR ini merupakan amanat Tap MPR, serta UU tentang HAM dan UU tentang Pengadilan Ad Hoc, di mana penyelesaian kasus berat HAM dapat diselesaikan melalui dua cara, yaitu proses di pengadilan ad hoc atau melalui rekonsiliasi.

Dia mencontohkan kasus-kasus seperti Tanjung Priok, Timtim pascajejak pendapat, kerusuhan Mei, kalau terbukti merupakan pelanggaran berat HAM, dan korbannya melapor KKR, maka bisa diselesaikan melalui rekonsiliasi. ''Silakan saja nanti para korban melaporkan kasus HAM tersebut, kalau mau diselesaikan melalui rekonsiliasi,'' tegasnya.

Kalau dipilih penyelesaian melalui rekonsiliasi, anggota KKR akan mencari bukti-bukti, lalu memanggil pelaku dan korban atau keluarganya. Kalau sepakat, maka pelaku akan mendapat amnesti, atau rehabilitasi nama baiknya, sedangkan korban mendapat kompensasi atas penderitaan yang dialaminya.

Selama ini, yang terjadi pelaku pelanggaran berat HAM bebas berkeliaran, sebaliknya korban tetap menderita, seakan-akan terjadi pengabaian tanggung jawab. Hal-hal seperti ini, menurut Akil, menimbulkan berbagai ketidakpuasan, dendam, sinisme, apatisme, dan ketidakpercayaan yang besar terhadap institusi hukum. ''Akibatnya, negara dianggap memberikan kebebasan kepada para pelaku pelanggaran HAM.''

Ketua Pansus RUU tentang KKR, Sudharto, mengatakan RUU tentang KKR ini sangat penting, karena sampai saat ini masih banyak dendam politik, juga kultur di daerah yang sering terjadi perselisihan. Oleh karena itu, RUU ini harus diselesaikan secara sempurna. Sebagai masukan, semua kalangan harus diundang untuk menyerap berbagai aspirasi.

Anggota KKR akan dipilih sebanyak 30 orang oleh tim seleksi, lalu diserahkan ke presiden. Presiden akan menetapkan 15 nama, lalu DPR tinggal menyetujui. Masa kerja anggota KKR selama tiga tahun, KKR juga bisa dibentuk di daerah-daerah.

Tak Sekadar Memaafkan Masalah

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) tidak hanya sekadar untuk memaafkan. Menurut pemerhati masalah HAM, Hendardi, bukan soal maaf-memafkan semata yang menjadi dasar suatu rekonsiliasi. Memaafkan tanpa pengungkapan kebenaran, lenjutnya, akan tetap meninggalkan luka.

''Inilah yang akhirnya terus menjadi salah satu penghambat terbentuknya Komisi Kebenaran dan

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 166-176)