• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mempersoalkan Masa Lalu

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 68-71)

"MENARIK Garis Batas antara Masa Lalu dengan Masa Depan: Audiensi Publik dengan Nurcholish Madjid" adalah diskusi menarik yang diselenggarakan Radio 68 H bersama Demos, Elsam, dan Imparsial pekan lalu. Pembicara utamanya adalah Nurcholish Madjid dengan penanggap Agus Wijaya, tokoh yang aktif mempromosikan rekonsiliasi di antara keluarga korban peristiwa politik; Ifdal Kasim dari Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam); dan Kamala Chandrakirana dari Komnas Perempuan. Diskusi dipandu oleh Asmara Nababan dari Demos, diantar oleh Munir dari Imparsial.

TEMA diskusi ini menantang karena mengandaikan dalam waktu bisa ditarik garis batas seperti matematika. Diskusi ini diselenggarakan pada waktu yang bersamaan dengan berlakunya Darurat Militer di Aceh, pada saat a full scale military operation tengah dikerahkan. Yang tengah terjadi di Aceh saat ini, menurut Munir adalah "menghapus batas antara masa lalu dengan masa depan".

Banyak orang berasumsi bahwa masa lalu berada di belakang dan kita tengah berjalan menuju masa depan. Namun, melihat yang sedang terjadi, pandangan kedua lebih masuk akal: masa lalu sudah lewat dan berada jelas di hadapan kita. Selanjutnya, masa depanlah yang berada di belakang karena kita tidak bisa melihat apa yang belum terjadi. Kita hanya bisa menduga dan meramal. Sheila Rowbotham, ahli sejarah mengenai gerakan perempuan, memberi judul salah satu bukunya The Past is Before Us (1989) karena tertantang oleh ucapan orang bijak dari Timur mengenai konsep waktu, "The past is before us, the future’s behind us."

Kamala Chandrakirana (Nana) juga mempersoalkan makna "batas" tersebut. "Jika kita membayangkan batas, kita melihat garis tegas dan mutlak yang digunakan sebagai alat pembedaan dua hal tertentu," sergah Nana "Akan tetapi, ketika kita bicara tentang proses penarikan batas dan ketika menyisiri lingkungan terdekat pada wilayah batas, maka kita memasuki suatu arena yang penuh dengan ketidakmutlakan."

Bagi Nana, pembuatan batas yang mempunyai implikasi besar pada kehidupan manusia, merupakan konstruksi sosial yang lahir dari berbagai kepentingan yang sangat duniawi. Dalam kondisi ideal pun, suatu batas tak lebih dari hasil negosiasi antara dua pihak yang setara. "Dengan demikian, menarik batas merupakan suatu pilihan, tentang jenis kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang ingin kita bangun," tegas Nana.

MASALAHNYA sekarang adalah bagaimana memandang masa lalu kalau dihubungkan dengan peristiwa yang sedang berlangsung, dan siapa yang memandangnya.

"Menarik Garis Batas antara Masa Lalu dengan Masa Depan" sebenarnya merupakan wacana untuk

mempromosikan keadilan retributif sebagai model untuk menghadapi masa lalu yang kelam oleh pelanggaran hak asasi manusia yang masif.

"Menarik batas artinya menjadikan masa lalu sebagai pengalaman, sebagai referensi historis yang menuntun akal budi kita untuk pada hari ini membangun hari depan yang berbeda dan lebih baik," ujar Munir. "Jika kita terus menerus menolak, melupakan masa lalu, sesungguhnya kita sedang terus menerus mengembalikan masa lalu ke hari ini. Kita menjadi Sisyphus mendorong sebongkah batu besar naik ke puncak bukit hanya untuk mendapati batu itu jatuh dan turun lagi," katanya.

Munir mengemukakan pikiran-pikirannya yang mengacu kepada Martha Minow (1998) dan Herbert Hirsch (1995) mengenai politik ingatan: hanya dengan mengingat masa lalu, bisa dirumuskan masa depan. Melupakan perbuatan buruk di masa lalu akan memungkinkan terjadinya pengulangan, dan akhirnya kita akan kehilangan masa depan. Karena itu, ia ingin tahu dari Nurcholish Madjid-yang memutuskan maju sebagai calon presiden untuk lima tahun yang krusial ke depan-apa jawabannya terhadap masalah-masalah di masa lalu untuk merumuskan hidup yang lebih baik di masa depan di "rumah" bernama Indonesia.

"Masa lalu sudah terjadi. Pahit dan tidak boleh terulang. Oleh karena itu, tidak boleh dilupakan sama sekali," ujar Cak Nur. Masalahnya adalah bagaimana sikap kita terhadap masa lalu. Kalau jawabannya adalah rekonsiliasi, ia

kliping

ELSAM

menanyakan apakah proses rekonsiliasinya seperti yang terjadi di Afrika Selatan. "Di sana ada unsur keteladanan dan legitimasi dari pemrakarsanya. Mandela punya posisi moral sebagai orang yang selama 28 tahun dipenjara karena menentang pemerintah apartheid," ujar Cak Nur.

Kalau banyak orang saat ini lebih banyak menyebut peristiwa G-30 S sebagai peristiwa pelanggaran HAM berat di masa lalu, Cak Nur memandang perlunya melihat apa yang melahirkan sederetan vendetta, tindakan balas membalas yang menjadikan sejarah dipenuhi oleh darah. "DI/TII memiliki geneaologi pikiran, lalu ada PKI yang juga punya geneaologi pikiran," ujar Cak Nur.

Ia mengingatkan peristiwa Madiun tahun 1948, yang banyak memakan korban di kalangan santri dan kiai, untuk melihat peristiwa G-30 S di mana kejadian yang sebaliknya berlangsung. "Anak-anak melihat peristiwa itu dan menjadikannya sebagai ’catatan kaki’," sambung Cak Nur yang seperti menggarisbawahi pendapat Prof Mahmood Mamdani, ahli Kajian Afrika dari Columbia University dalam When Victims Become Killers (2001), bahwa korban dan pelaku bisa saling bertukar tempat ketika rantai dendam tak bisa diputuskan.

Untuk menyikapi masa lalu yang carut dan untuk menangkap kepastian, Cak Nur menyatakan, rekonsiliasi harus segera dilakukan. Syaratnya adalah komunikasi yang baik antarsemua pihak yang terlibat dalam proses tersebut agar proses itu tidak menjadi tidak terlalu ’terjal’ seperti dalam mitos Sisyphus.

PEMAKNAAN terhadap sejarah atau ingatan tentang masa lalu merupakan kekuatan luar biasa yang bisa

menggerakkan suatu komunitas untuk menyerang dan menghancurkan atas nama kebenaran. Nana mengutip Julie A Mertus dalam Kosovo: How Myths and Truths Started a War (1999), yang memaparkan bagaimana Slobodan Milosevic mengadakan pertemuan-pertemuan populis yang dijuluki ’pertemuan tentang kebenaran’ untuk memobilisasi serangan masyarakat Serbia terhadap warga Bosnia dan Albania dan memicu euphoria kebersamaan orang Serbia dengan ’ingatan-ingatan’ mengenai kesakitan masa lalu. Khususnya, ketika negeri itu diduduki oleh Kerajaan Ottoman dari Turki pada tahun 1389.

Milosevic menggunakan media Serbia untuk mengobarkan kebencian antarwarga dengan menyebarkan kisah-kisah perkosaan perempuan Serbia oleh laki-laki Albania di Kosovo dan tentang pengusiran orang Serbia.

"Di belakang segala kekejaman dan upaya-upaya pembersihan etnik adalah suatu bayangan tentang masa lalu dan impian tentang masa depan yang diisi dengan supremasi absolut dari suatu kebangsaan tertentu," tandas Nana. "Saya kira kita tidak bisa mengatakan kekejaman serupa tak mungkin terjadi di bumi Indonesia. Lihat Aceh, Papua, dan Timor Timur ketika masih di bawah RI."

Sementara masyarakat dididik untuk membisu dan melupakan, pemegang kekuasaan mempunyai prerogatif tunggal untuk menciptakan ’ingatan baku’ tentang masa lalu. Tidak mengherankan kalau pola-pola diskriminasi dan kekerasan di masa lalu menjadi langgeng akibat ketakutan dan dendam dari ingatan akan masa lalu.

Itulah cengkeraman mematikan dari masa lalu terhadap masa depan. Karena itu, menurut Nana, pembahasan mengenai pelanggaran HAM berat di masa lalu, seharusnya berada dalam bingkai wacana transitional justice karena momentum awal wacana penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu adalah pergantian rezim, dari rezim Orde Baru yang otoriter menuju rezim baru yang lebih demokratis.

"Masa depan yang baik masih bisa dibangun dengan melewati tahapan-tahapan sebelum rekonsiliasi," ujar Nana. Ia menyebutkan proses membuka dialog tentang kebenaran masa lalu, menegakkan keadilan melalui

pertanggungjawaban secara hukum oleh pelaku, memperbarui institusi-institusi dalam negara dan masyarakat, memenuhi hak para korban atas pemulihan, serta menemukan titik-titik rekonsiliasi. Proses itulah yang akan mengantar menuju perdamaian sesungguhnya.

Berbeda dengan Cak Nur yang menyoroti rekonsiliasi dari posisi struktural formal, Agus Wijaya menyoroti rekonsiliasi dari tataran kultural. "Kita perlu melihat hakikat korban, tetapi kita harus melihat proses seutuhnya, jangan hanya melihat akibat dari suatu peristiwa politik. Ini penting supaya kita tidak terjebak pada kepentingan yang terkotak-kotak, dan supaya kita mendapatkan konsensus bagaimana memandang masa lalu," ujar Agus.

kliping

ELSAM

Mantan Kepala Staf Teritorial TNI itu optimis generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut bisa lebih moderat memandang masalah rekonsiliasi. Ia juga menceritakan pertemuan antaranak-anak keluarga korban peristiwa politik, di mana anak tokoh PKI, Supardjo, bisa bersalaman dan bersanding dengan anak-anak pahlawan revolusi. Di situ juga hadir cucu Daud Beureuh dan anak tokoh DI/TII, Kartosuwiryo.

"Saya ingin melengkapi proses rekonsiliasi secara formal dengan proses dari bawah ke atas, mulai dari diri kita sendiri. Saya yakin rekonsiliasi bisa dilakukan kalau kita tulus," sambung putra sulung Pahlawan Revolusi Mayjen Anumerta Soetojo Siswomihardjo itu.

Namun, Ifdal Kasim lebih sependapat dengan Nana. Menurut dia, rekonsiliasi tidak bisa difokuskan pada pemaafan saja, tetapi harus ada proses hukum. Harus ada kombinasi antara aspek pemaafan dengan penghukuman.

"Pemidanaan itu penting," tegas Ifdal. Pertanggungjawaban oleh pelaku merupakan sesuatu yang tidak boleh dikesampingkan. Ifdal tidak sependapat dengan Cak Nur soal posisi moral pemrakarsa rekonsiliasi. Di Cile, misalnya, pemrakarsanya adalah seorang mantan hakim agung.

Tindakan Cak Nur yang mendukung upaya rekonsiliasi dengan islah untuk korban tragedi Tanjung Priok mendapat gugatan dari Aisyah, seorang keluarga korban Tanjung Priok. "Saya datang ke sini supaya bisa ketemu Cak Nur untuk menyampaikan bahwa keluarga korban Tanjung Priok sekarang terpecah akibat islah," ujar Aisyah. Suaranya seperti menahan tangis. "Setelah islah, posisi keluarga korban semakin buruk. Kami tidak bisa menuntut tanggung jawab. Mungkin memang begitu skenarionya."

Jawaban Cak Nur terasa normatif dan apologetik. Ia mengatakan bahwa saat itu ia melihat kebutuhan untuk segera memberikan bantuan, didasari semata-mata oleh rasa kemanusiaan karena memang keluarga korban tampak sangat membutuhkannya.

FORUM tanya jawab lebih banyak diambil oleh korban tragedi G-30S, yang memang mengalami diskriminasi dan pembisuan selama lebih 30 tahun. Namun, bahwa kebenaran masa lalu bukan merupakan sesuatu yang tunggal, tampak ketika aktivis Emmy Hafild yang hadir sebagai peserta dengan suara gemetar mengungkapkan kesaksiannya. "Saya sebenarnya bagian dari keluarga korban dari kasus pelanggaran HAM yang hampir tidak pernah disebut dalam sejarah," ujarnya. "Sebagian dari keluarga ibu saya habis dalam ’revolusi sosial’ di daerah Asahan, Langkat, Serdang, di Sumatera Utara. Ayah saya nyaris dibunuh oleh BTI dalam peristiwa Bandar Betsi, tetapi selamat karena ditolong seorang petani yang dibantunya. Waktu itu saya masih kecil, tetapi saya sudah bisa merasa bagaimana rasanya diperlakukan secara diskriminatif di dalam masyarakat."

Dalam penuturan Emmy tampak bagaimana sejarah tidak berjalan linier karena politik merupakan sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Artinya, kelompok yang mengalami penderitaan oleh PKI dan organisasi-organisasi di bawah payungnya, dalam perjalanan kemudian juga tidak sejalan dengan sistem politik Orde Baru. "Ayah saya juga sempat ditahan pada masa Orde Baru. Mertua saya, almarhum HR Darsono dipenjara selama bertahun-tahun oleh

Pemerintah Soeharto," sambung Emmy.

Seperti dikemukakan Nana, kebenaran itu majemuk. Tidak ada kebenaran tunggal. Yang penting adalah dialog yang terus-menerus. "Tanpa keputusan yang sadar tentang bagaimana memperlakukan masa lalu, pelupaan, pembisuan, dan impunity akan sekali lagi menjadi isi kontrak sosial Indonesia yang baru," ujar Nana.

Persoalannya kemudian adalah bagaimana memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan pemulihan korban jika pemegang kekuasaan politik tidak menginginkannya.

Bagaimana memenangkan kemanusiaan jika budaya yang hidup dominan di tengah masyarakat adalah budaya kekerasan? (mh)

kliping

ELSAM

Kompas, Selasa 10 Juni 2003

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 68-71)