• Tidak ada hasil yang ditemukan

KKR Harus Terbentuk Sebelum Pemilu 2004

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 125-130)

Jakarta, Kompas - Dewan Perwakilan Rakyat diminta untuk segera menggodok Rancangan Undang-Undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Diharapkan komisi tersebut segera terbentuk sebelum terselenggaranya Pemilihan Umum 2004. Jika komisi yang telah diamanatkan oleh Sidang Tahunan MPR 2000 ini tak juga terbentuk sebelum pemilu, dikhawatirkanKKR tidak dijamin akan terbentuk setelah kepemimpinan nasional hasil Pemilu 2004.

Demikian mengemuka dalam diskusi bertema "Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi: Menimbang Model yang Tepat dan Implementasinya di Indonesia" yang diselenggarakan Kelompok Kerja Pendampingan Orang Muda untuk Demokrasi dan Keadilan (Pokja Pedoman) di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, Sabtu (16/8). Pembicara dalam acara ini adalah Asvi Warman Adam (sejarawan LIPI), Daniel Panjaitan (YLBHI), Agung Putri (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat/Elsam), dan Musdah Mulia (staf ahli Menteri Agama).

Menurut Asvi, kalau pembentukan KKR ditunggu setelah pelaksanaan Pemilu 2004 dikhawatirkan justru tidak akan pernah terbentuk. "Sama sekali tidak ada jaminan apakah kepemimpinan nasional yang akan terpilih pada Pemilu 2004 akan punya komitmen untuk membentuk KKR ini," katanya.

Pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi sebagai lembaga ekstra yudisial ini telah diamanatkan dalam Bab V Butir (3) Ketetapan MPR Nomor V/MPR/2000 tentang Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional. Ketetapan MPR tersebut memerintahkan kepada pemerintah untuk membentuk KKR sebagai lembaga ekstra yudisial yang jumlah anggota atau kriterianya ditetapkan dengan UU.

Komisi tersebut bertugas menegakkan kebenaran dengan mengungkapkan penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran HAM pada masa lampau, sesuai dengan ketentuan hukum dan melaksanakan rekonsiliasi dalam perspektif kepentingan bersama sebagai bangsa.

Asvi mengajak berbagai elemen masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat untuk turut mengkritisi penggodokan RUU KKR ini agar KKR yang terbentuk sesuai dengan harapan rakyat, khususnya korban dan keluarga korban kekerasan yang dilakukan rezim otoritarian. Lembaga tersebut jangan menjadi lembaga yang justru akan menjadi alat atau sarana impunity (kebebasan dari hukuman) bagi para pelaku pelanggaran HAM.

Daniel Panjaitan dari YLBHI menyoroti inkonsistensi pemerintah dan DPR untuk melaksanakan amanat dari Tap MPR tersebut. Sebab, jika melihat niat untuk membentuk KKR tersebut sangat lemah. "Ini terbukti dengan sudah tiga kali direkomendasikan untuk pembentukan KKR, namun hingga kini KKR belum juga terbentuk," katanya. Padahal KKR bisa memberi arti banyak, yakni bagi keluarga korban secara individu, sebagai bentuk pendidikan dan pengetahuan politik publik, penyelidikan pelanggaran HAM, pertanggungjawaban pelaku kejahatan HAM, serta refleksi dan restrukturisasi lembaga-lembaga yang terlibat dalam pelanggaran HAM ini.

"Dari terminologi hukum, kasus-kasus pelanggaran HAM sering kali sulit dilakukan pembuktiannya di pengadilan. Karena waktu yang sudah lama sering kali para korban telah sembuh dari luka-lukanya serta banyaknya yang sudah lupa kronologis kejadian secara detail. Pelanggaran HAM berat terlalu sempit jika dimasukkan dalam pengadilan sehingga perlu adanya KKR ini," tegas Panjaitan.

Gerakan demokrasi

Agung Putri dari Elsam menjelaskan, tidak ada satu pun prinsip baku tentang pembentukan KKR. Sebab, KKR ini merupakan temuan dari pengalaman negara-negara yang baru saja keluar dari rezim otoritarian yang sedang mengalami masa transisi.

Putri menambahkan, dalam prinsip hukum internasional tercantum kewajiban negara untuk mengingat tindakan yang telah mengakibatkan terjadinya pelanggaran HAM di masa lalu. "Proses transisi akan mengalami kemacetan jika negara tidak bisa membongkar masa lalu dan memutus hubungan dengan masa lalu. Tetapi keinginan untuk membongkar masa lalu ini di Indonesia tidak terlalu kuat, ini terbukti dengan Undang-Undang Pemilu yang masih mensyaratkan eks tapol boleh memilih tetapi tidak boleh dipilih dalam Pemilu 2004. Para politisi di DPR masih terikat dengan masa lalu," tegas Putri.

kliping

ELSAM

Putri menjelaskan, pengalaman pembentukan KKR di hampir 20 negara berlainan satu sama lain karena bergantung pada kompleksitasnya sosial politik negara-negara tersebut. "Tapi yang perlu dicatat, gerakan demokrasi memang sering kali berhasil menggulingkan rezim otoritarian yang berkuasa, namun gerakan demokrasi tidak berhasil mengganti birokrasi pemerintahan," katanya. (VIN)

kliping

ELSAM

Kompas, Selasa 19 August 2003

Petisi 50: Segera Lakukan Rekonsiliasi Nasional

Jakarta, Kompas - Kelompok Kerja Petisi 50 mendesak pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat segera melakukan langkah-langkah konkret untuk melakukan rekonsiliasi nasional.

Langkah konkret yang mereka usulkan terdiri atas beberapa butir. Pertama, adili dan maafkan mantan Presiden Soeharto beserta kroninya, baik sipil maupun militer. Kedua, rehabilitasi dan hilangkan stigma keluarga korban politik masa lalu, terutama keluarga G30S PKI (Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia).

Ketiga, cabut seluruh Ketetapan Majelis Permusyawaratan Sementara (Tap MPRS) yang berkaitan dengan hukuman politik terhadap Bung Karno.

"Kalau kita mau menyongsong masa depan Indonesia yang bersih dari dendam dan produktif, dan kalau kita tidak mau melihat masa depan Indonesia yang porak-poranda, maka sudah saatnya pemerintah dan para wakil rakyat segera melakukan rekonsiliasi nasional," kata Ali Sadikin selaku juru bicara Petisi 50 dalam acara jumpa pers di rumahnya di Jakarta, Jumat (15/8).

"Kami berharap, lewat rekonsiliasi tersebut, kita juga bisa meluruskan sejarah," lanjut Sekretaris Petisi 50 Chris Siner Key Timu yang mendampingi Ali Sadikin.

Menurut dia, di samping idealisme dan puritanisme, kebangkitan gerakan radikal orang-orang muda di Tanah Air saat ini sebagian masih diwarnai perasaan dendam.

"Kalau ini yang terus mewarnai gerakan politik orang-orang muda, maka yang akan terjadi di Tanah Air adalah destabilitas politik, kekerasan, dan anarki," ujar Key Timu menambahkan.

Oleh karena itu, lanjut Key Timu, generasi tua harus memberi contoh sikap ksatria dengan berani mengakui kesalahan masa lalu. (win)

kliping

ELSAM

Kompas, Senin 25 Agustus 2003

Rehabilitasi Korban 1965

Asvi Warman Adam

SIDANG Tahunan MPR, Agustus 2003, gagal mencabut Ketetapan MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Paham atau Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme.

Padahal, selama puluhan tahun Ketetapan (Tap) MPRS inilah yang menjadi "cantolan" berbagai peraturan

diskriminatif yang menimpa jutaan warga Indonesia. Misalnya, sebuah keputusan Menteri Dalam Negeri tahun 1981 tentang larangan menjadi pegawai negeri sipil (PNS), anggota TNI/Polri, guru, pendeta, dan sebagainya bagi mereka yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam G30S/1965 dan mereka yang tidak "bersih lingkungan". Demikian pula ketentuan untuk memperoleh KTP seumur hidup bagi mereka yang berusia di atas 60 tahun tidak diperlakukan bagi kelompok ini, lagi-lagi berdasarkan Tap MPRS itu.

Rekomendasi MA

Upaya untuk mencabut stigma buruk bagi mereka yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam peristiwa 1965 beserta keluarganya tinggal melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), yang mana itu pun masih panjang prosesnya.

Saat ini Rancangan Undang-Undang KKR sudah ada di DPR tetapi belum dibicarakan. Tentu ini akan memakan waktu. Sementara pelaksanaan tugas dari KKR itu sendiri tentu akan berlangsung lebih dari setahun.

Namun, saat ini berembus angin segar di tengah teriknya matahari saat Mahkamah Agung (MA) menulis surat kepada Presiden Megawati Soekarnoputri, Nomor KMA/403/VI/2003 (12 Juni 2003), yang ditandatangani Ketua MA Bagir Manan. Dalam pertimbangan surat itu disebutkan, berdasarkan Pasal 37 UU Nomor 14 Tahun 1985, MA dapat memberi pertimbangan dalam bidang hukum, baik diminta maupun tidak, kepada lembaga tinggi negara lainnya. Belakangan ini MA telah menerima surat dari perorangan atau kelompok masyarakat yang menyatakan diri sebagai Korban Orde Baru dan menginginkan rehabilitasi. Padahal, wewenang rehabilitasi tidak ada pada MA, tetapi merupakan hak prerogatif presiden.

Dalam pemberian rehabilitasi itu, berdasarkan Pasal 14 Ayat (1) UUD 1945 yang sudah diamandemen, sebenarnya Presiden RI dapat memberikan rehabilitasi karena telah mendapat rekomendasi dari MA. Pasal 14 UUD 1945 yang sudah diamandemen berkaitan dengan hak prerogatif presiden: Ayat (1), Presiden memberikan Grasi dan

Rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. Ayat (2), Presiden memberikan Amnesti dan Abolisi dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat.

Alasan MA mengirim surat ini adalah (1) untuk memberikan penyelesaian dan kepastian hukum yang dapat memulihkan status dan harkat mereka sebagai warga negara yang sama dan (2) didorong semangat rekonsiliasi bangsa. Maka, MA "memberikan pendapat dan mengharapkan kesediaan Saudara Presiden untuk

mempertimbangkan dan mengambil langkah-langkah konkret ke arah penyelesaian tuntutan yang sangat diharapkan tersebut".

Pemulihan nama baik

Biasanya, menjelang 17 Agustus, pemerintah memberikan remisi bagi tahanan. Juga pada kesempatan ini dapat diberikan amnesti, abolisi, grasi, dan rehabilitasi yang semuanya merupakan hak prerogatif presiden. Seyogianya setelah tragedi nasional 1965, 38 tahun berlalu, presiden dapat memberikan rehabilitasi kepada mereka yang tidak pernah diadili tetapi telah diberi stigma buruk sebagai orang yang diduga terlibat G30S. Sepuluh ribu orang telah dibuang ke Pulau Buru tahun 1969-1979 tanpa diadili. Menurut Kopkamtib, pada tahun 1979 ratusan ribu orang orang masih dikenai wajib lapor.

Ada pendapat, rehabilitasi hanya bisa diberikan kepada mereka yang sudah pernah dihukum. Namun, ada pandangan lain, mereka yang tidak pernah diadili namun pernah menjalani hukuman seperti dibuang ke Pulau Buru, dapat direhabilitasi nama baiknya. Biasanya rehabilitasi itu disertai kompensasi atau ganti rugi. Namun, ganti rugi itu tidak harus berbentuk uang, dapat berupa natura (paket kredit usaha, beasiswa kepada anak-anak mereka, dan lain-lain).

kliping

ELSAM

Jika pemerintah tidak mampu karena kondisi ekonomi amat terpuruk dewasa ini, dapat saja kompensasi itu ditangguhkan sampai keadaan keuangan negara mengizinkan. Banyak di antara korban peristiwa 1965 yang sebelumnya bekerja sebagai PNS maupun TNI/Polri. Bila hak mereka dipulihkan, berarti akan diberi tunjangan pensiun bagi orang-orang itu. Namun, bila kini hal itu tidak sanggup dipenuhi, hal itu bisa ditunda. Bagi korban 1965 dan keluarganya, rehabilitasi nama baik itu merupakan hal yang paling utama.

Mungkin secara khusus, kalangan swasta yang mampu dapat memberi kompensasi. Seperti Caltex yang sejak tahun 1975 pernah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan "rendahan" (kelompok Non-Staff dan Associate Staff).

Rasionalisasi yang dilakukan perusahaan demi efisiensi tentu sesuatu yang lumrah. Namun, dalam kasus ini alasan yang digunakan adalah politik dan hukum. Penyebabnya sepele, karena gaji karyawan itu harus dipotong Rp 100 (seratus rupiah) antara tahun 1964-1966 untuk Persatuan Buruh Minyak (Perbum). Hal ini tidak jauh berbeda dengan keharusan gaji PNS dipotong untuk iuran Korpri pada masa Orde Baru. Padahal sebenarnya hanya sebagian kecil karyawan yang benar-benar aktif pada organisasi yang digolongkan sebagai "seasas/berlindung/bernaung di bawah PKI" (Lampiran Keppres No 85/Kogam/1966). Di Caltex, karyawan yang terkena kasus ini disebut sebagai "Kanai Saratuih" (maksudnya dipecat gara-gara seratus perak). Terhadap kategori ini dapat diberi kompensasi oleh perusahaan yang bersangkutan.

MPR telah memberi saran kepada presiden untuk melakukan rehabilitasi. Jadi, Ibu Megawati dapat memberikan rehabilitasi kepada korban peristiwa 1965 dimulai dari mantan Presiden Soekarno sampai kepada bekas tahanan politik golongan A, B, dan C. Tentu saja "rehabilitasi" ini dapat diwujudkan dalam bentuk lain bagi tokoh-tokoh PRRI (misalnya Sjafrudin Prawiranegara, M Natsir, dan Muhammad Rasyid) dengan mengangkat mereka sebagai pahlawan nasional. Rekonsiliasi nasional yang kita dambakan itu akan memperlihatkan titik-titik terang.

kliping

ELSAM

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 125-130)