• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari Kebenaran ke Rekonsiliasi

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 142-146)

Oleh Baskara T Wardaya

Dalam sebuah artikel di Kompas edisi 25 Agustus 2003, sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam, menulis tentang perlunya rehabilitasi bagi para korban peristiwa 1965 serta peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM lain yang pernah terjadi di negeri ini.

Artikel itu menarik antara lain karena penulisnya mengajak kita untuk secara ksatria menyadari kembali dan berefleksi mengenai kekejaman kemanusiaan yang terjadi di antara kita sejak beberapa dekade silam, khususnya menyangkut peristiwa G30S (1965) dengan segala dampaknya. Lepas dari penilaian siapa yang benar dan siapa yang salah dalam peristiwa (pembunuhan, pengasingan, dan pelanggaran HAM lain) yang dikaitkan dengan Gerakan 30 September 1965 itu, topik yang dilontarkan penulis artikel itu menarik (dan penting) dikaji. Hal itu terutama mengingat bahwa di beberapa kalangan kini sedang berlangsung sejumlah diskusi mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) Kebenaran dan Rekonsiliasi yang sekarang telah ada di DPR meskipun belum dibahas secara luas. Sebagaimana kita tahu, RUU macam itu amat diperlukan karena ia merupakan usaha pertama di negeri ini yang secara formal dan nasional mempertimbangkan suatu tindakan bersama guna membahas berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di masa lalu untuk kemudian memikirkan langkah-langkah praktis yang perlu diambil demi kebaikan bersama sebagai bangsa di masa kini maupun masa depan. Penundaan terwujudnya upaya macam itu hanya akan membuat bangsa ini terus berjalan pincang karena terbebani masa lalu yang gelap dan tak pernah tuntas.

Namun, di lain pihak kiranya perlu RUU macam itu mendapatkan sejumlah catatan kritis agar perumusan dan pelaksanaan upaya rekonsiliasi yang mau dituju dapat berhasil.

Empat unsur pokok

Setidaknya ada empat unsur sekaligus tahap pokok yang perlu dilalui bagi terwujudnya suatu rekonsiliasi, terutama jika ia dipahami sebagai bagian usaha memadukan kebenaran moral, kesabaran hati, dan empati dengan suatu komitmen untuk memperbaiki hubungan antar-manusia yang retak (Shriver Jr, 1995).

Pertama, kebenaran atau truth. Sebuah proses rekonsiliasi seharusnya bertolak dari kebenaran. Yang dimaksud di sini terutama apa yang disebut sebagai upaya truth seeking (pencarian kebenaran) dan truth telling (pemaparan kebenaran). Artinya, perlu ada kesediaan untuk menceritakan kembali apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu, berikut latar belakang yang mendasarinya. Penceritaan ini dilakukan oleh pihak pelaku, korban, maupun pihak lain yang tidak terlibat langsung tetapi relevan untuk didengar kisahnya. Tentu akan muncul berbagai versi dan perspektif. Tetapi, itu merupakan bagian dari proses yang harus dilalui. Dalam kasus pembunuhan massal 1965-1966, misalnya, ketiga pihak perlu "duduk bersama" dan saling menceritakan kembali apa sebenarnya yang terjadi menurut sudut pandang masing-masing. Termasuk di sini apa yang menurut pihak-pihak itu menjadi latar belakang dari tragedi berdarah yang menelan korban nyawa ratusan ribu (mungkin lebih) putra-putri bangsa itu.

Kedua, pengampunan atau mercy. Penceritaan kembali itu perlu diikuti kerelaan hati untuk saling mengampuni dan diampuni, baik dari pihak korban maupun pelaku. Langkah ini penting untuk menyadarkan kita bahwa truth telling tidak dimaksudkan terutama sebagai tindakan mengorek luka lama untuk kemudian melakukan balas dendam, tetapi benar-benar ingin mencari pengampunan bersama. Dalam komunitas beriman, pengampunan tidak hanya diharapkan dari sesama, tetapi juga dari Yang Maha Kuasa dan Maha Pengampun.

Ketiga, keadilan atau justice. Tahap "keadilan" perlu dilalui guna menyadarkan semua pihak bahwa tindakan jahat di masa lalu (apalagi menyangkut pelanggaran HAM berat) tidak bisa dibiarkan begitu saja. Suatu tindak kejahatan menuntut konsekuensi legal dan sosial yang harus dipenuhi pihak pelaku. Pemenuhan itu, misalnya, dalam bentuk retribusi atau kompensasi. Perlu diingat, pemenuhan konsekuensi ini juga bukan terutama dimaksudkan sebagai sarana balas dendam, tetapi sebagai wujud nyata dari tindakan mengampuni dan diampuni.

Keempat, perdamaian atau peace. Terlaluinya tiga tahap itu diharapkan membantu masyarakat untuk mencapai tahap keempat, yakni perdamaian. Bukan hanya perdamaian bagi para bekas korban dan keluarganya, tetapi perdamaian bagi semua pihak yang terkait di dalamnya. Jika keempat unsur ini terpenuhi, baru terwujud rekonsiliasi sejati.

kliping

ELSAM

Dengan kata lain, hanya dengan begitu kebenaran akan mengantar kita ke suatu rekonsiliasi yang menyeluruh dan mendalam.

Pada saat yang sama perlu diingat, unsur atau tahap itu tidak harus dilalui secara berurutan. Bisa saja proses rekonsiliasi dimulai berkat kuatnya hasrat untuk mengampuni atau keinginan pihak pelaku untuk memberikan keadilan bagi para korban dan keturunannya. Tetapi, yang jelas keempatnya harus hadir dalam proses itu. Hilangnya salah satu unsur atau tahap akan membuat proses rekonsiliasi itu menjadi timpang.

Dengan demikian jika suatu Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) mau dibentuk berdasarkan RUU, semua unsur itu perlu terpenuhi. Absennya sebagian atau semua unsur itu akan membuat rekonsiliasi yang diusahakan menjadi melulu formal dan kurang menyeluruh. Undang-undang yang lahir hanya menjadi rumusan legal yang dingin, sedangkan komisi yang terbentuk hanya akan berfungsi memperpanjang daftar komisi nasional yang telah ada. Berkait dengan model yang mau diacu, perlu kiranya ditambahkan, boleh-boleh saja pembentukan komisi macam itu mengacu komisi-komisi serupa di Afrika Selatan, Argentina, Timor Leste, atau tempat lain yang relatif berhasil. Tetapi, kita tetap perlu untuk tidak melepaskannya dari konteks pengalaman sejarah bangsa Indonesia sendiri.

Penyembuhan nasional

Jika keempat unsur itu terpenuhi, upaya rekonsiliasi yang ingin dicapai RUU Kebenaran dan Rekonsiliasi akan sekaligus merupakan suatu "undangan" bagi tiap warga masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam upaya serupa di komunitas masing-masing. Berkaitan dengan peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM massal yang pernah terjadi (entah Peristiwa 1965-1966, Peristiwa Tanjung Priok, Maluku, Poso, Talangsari, atau yang lain) tentu ada banyak anggota masyarakat yang terlibat dan perlu untuk saling berekonsiliasi. Dengan demikian, KKR tidak akan menjadi satu-satunya forum bagi usaha untuk mewujudkan rekonsiliasi itu, tetapi merupakan bagian dari sebuah gerakan nasional demi tercapainya tujuan itu.

Perlu ditekankan sekali lagi, tujuan pokok dari seluruh upaya ini terutama bukan untuk mengorek luka lama atau mencari alasan guna melakukan balas dendam, tetapi untuk menempuh usaha luhur dalam rangka penyembuhan nasional (national healing), demi terciptanya masa kini dan hari depan bersama yang lebih sehat, adil, dan sejahtera. Keengganan untuk berekonsiliasi dengan (kebenaran) masa lalu laksana kemalasan untuk membuka dan

menyembuhkan bisul yang kian membengkak. Suatu saat ia akan pecah. Bau busuk akan menimpa siapa pun yang ada di sekitarnya.

kliping

ELSAM

Media Indonesia, Selasa, 2 September 2003

Rehabilitasi Korban Komunisme

ISU komunisme yang telah menjadi momok dan beban politik selama sekitar 40 tahun akankah berakhir? Mungkin dengan berakhirnya isu tersebut bangsa Indonesia akan lebih ringan melangkah ke depan, karena terlepas dari beban masa lalu. Pemikiran seperti ini bisa muncul spontan karena tuntutan rekonsiliasi yang belakangan ini semakin kuat dari berbagai lembaga.

Komnas HAM baru-baru ini melayangkan surat kepada Presiden Megawati meminta secepatnya merehabilitasi korban dan keluarga PKI yang menjadi tertuduh peristiwa pemberontakan G-30-S pada 1965. Menurut penuturan Komnas HAM, korban sudah cukup lama menderita tanpa ada keputusan apakah dirinya bersalah ataukah

dibebaskan oleh pengadilan. Penderitaan itu bukan hanya dialami oleh yang bersangkutan, melainkan juga oleh istri, anak, bahkan sampai ke cucu terkena tindakan diskriminasi sepanjang Orde Baru.

Sebelumnya, Mahkamah Agung (MA) juga menyampaikan pertimbangan serupa kepada Presiden. Pada 12 Juni MA memberikan pandangannya yang mendukung rehabilitasi para korban komunisme tersebut. Konstitusi

menggariskan, bahwa Presiden boleh melakukan rehabilitasi setelah mendengarkan pertimbangan MA. Juga Ali Sadikin--tokoh 'Petisi 50'--mendesakkan hal serupa saat ia menerima penghargaan atas jasa-jasanya di hari kemerdekaann. Dan, sebagai puncak dari seruan itu, ST MPR 2003 meminta Presiden menindaklanjuti kebijaksanaan rekonsiliasi nasional.

Isu korban komunisme tersebut dibahas dalam diskusi interaktif Parliament Watch Metro TV yang dipandu oleh Denny JA, dihadiri oleh mantan Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) Laksamana TNI (Purn) Sudomo, pengamat sosial Asvi Warman Adam, serta seorang korban bersih lingkungan Robertus Guncahyo yang dihubungi terpisah.

Dalam sejarah politik di Indonesia pascakemerdekaan tak ada peristiwa politik yang begitu dahsyat, sehingga membelah komunitas politik Indonesia menjadi kawan dan lawan secara frontal. Jutaan warga yang terlibat konflik selama 40 tahun tak kunjung selesai, dan mereka tak kunjung sembuh dari luka-luka lama.

Di saat dunia yang telah berubah saat ini, karena komunisme sudah ambruk, beberapa negara melakukan reposisi atas isu komunisme. Isu rehabilitasi korban komunisme sangat mungkin didukung oleh mayoritas elite politik. Akan tetapi, ideologi komunisme tetap dilarang. Secara aklamasi semua politikus di ST MPR 2003, dari partai yang paling kental nuansa keislamannya seperti Partai Bulan Bintang sampai dengan yang paling sekuler seperti PDIP sepakat tetap melarang ajaran komunisme.

Terhadap rehabilitasi korban komunisme, Denny menanyakan kepada korban bersih lingkungan Guncahyo, apakah kebijakan ini akan mempunyai efek terhadap korban? Menjawab pertanyaan ini Guncahyo yang baru berusia dua tahun pada 1965 mengatakan bahwa ayahnya bukan tokoh komunisme, tetapi di-PKI-kan. Penderitaan yang dialami akibat tuduhan ini sangat sulit diungkapkan, karena terasa sakit luar biasa. Sejak masih kanak-kanak pihaknya sudah dikucilkan oleh lingkungan. Padahal, pihaknya berada dalam sebuah keluarga besar sehingga semua anggota keluarga menjadi tercerai-berai. Ditambah lagi untuk memenuhi tuntutan kebutuhan ekonomi agar keluarga harus survive.

''Saat itu saya dalam satuan militer. Ketika sedang mengikuti latihan, saya dipanggil komandan batalyon dan dikatakan tidak memenuhi syarat administrasi. Waktu itu saya tidak tahu soal bersih lingkungan, membuat saya merasa hancur,'' ungkap Guncahyo. Kemudian setelah berhenti dari tentara ia menjadi karyawan Garuda Indonesia. Tetapi, di tempat yang baru, ia juga disingkirkan dengan diberi label 'b'. Sebagai warga negara yang tidak tahu-menahu tentang G-30-S merasa haknya telah hilang karena tindakan diskriminasi. Oleh karena itu, rehabilitasi nama baik itu sangat diperlukan baik untuk dirinya maupun keluarganya. Terutama karena dirinya dan keluarga merasa telah di-PKI-kan.

Menanggapi pengalaman tersebut, Sudomo yang menjabat Pangkopkamtib pada 1978 hingga 1983 mengatakan bahwa telah disusun suatu sistem bersih lingkungan dengan litsus (penelitian khusus). Akan tetapi, hal ini dikaitkan kepada mereka yang berasal dari keluarga ABRI (TNI/Polri) yang terlibat dengan Gerakan 30 September (G-30-S/PKI). Apabila seseorang terkait dengan G-30-S/PKI maka dirinya tidak bisa diterima sebagai anggota ABRI bukan untuk yang lain-lainnya. Akan tetapi, ketentuan ini salah dalam penerapannya.

kliping

ELSAM

Untuk kasus salah kaprah itu, Sudomo menyampaikan suatu kisah sebagai contoh ketika seseorang yang akan melangsungkan pernikahan. Hanya karena seseorang pamannya terlibat G-30-S/PKI perkawinan itu tidak boleh dilangsungkan. Mendengar laporan dari peristiwa tersebut Sudomo langsung berinisiatif untuk berangkat ke Kalimantan, tempat akan dilangsungkannya pernikahan tersebut, dan meluruskan masalahnya sehingga perkawinan bisa dilangsungkan. ''Jadi, masalah bersih lingkungan itu salah penerapannya,'' tutur Sudomo.

Menanggapi penjelasan Sudomo tentang salah penerapan, Asvi Warman Adam mengatakan bahwa salah penerapan yang dikemukakan Sudomo adalah kesalahan yang dibuat secara sistematis dan terencana. Sebab, bersih lingkungan bukan hanya kepada jajaran ABRI, karena pada 1981 keluar keputusan Menteri Dalam Negeri Amir Machmud melarang orang-orang yang terlibat G-30-S secara langsung atau tidak langsung menjadi PNS atau menjadi anggota TNI/Polri, serta jabatan guru, pendeta, dan lainnya. ''Ini adalah sebuah sarana diskriminasi yang telah dituangkan dalam naskah tertulis oleh Mendagri pada waktu itu,'' ungkap Asvi.

Bahkan, lebih jauh Asvi mengatakan, bahwa sebelum Sudomo menjadi Pangkopkamtib, pada 1966 Soeharto sudah membuat kategori golongan A, B, dan C terhadap bersih lingkungan. Hal itu tidak hanya menyangkut militer, tetapi juga menyangkut kalangan sipil.

Tentang mereka yang dinyatakan tidak bersih lingkungan, Sudomo menjelaskan, mereka dibagi dalam tiga golongan yaitu A, B, dan C. Mereka yang terlibat golongan C, yaitu yang dinilai hanya sebagai simpatisan (sekitar 500 ribu orang) dan sudah dilepaskan, golongan B (33 ribu) yang benar-benar terlibat PKI tetapi tidak terbukti terlibat G-30-S 1965. G-30-Sedang golongan A adalah mereka yang benar-benar terbukti keterlibatannya dan langsung diproses ke pengadilan. Orang-orang ini mulai 1975 dilepaskan dalam Operasi Ksatria. Mula-mula dilepaskan 1.000 orang golongan B, kemudian 1.000 orang lagi, selanjutnya sepuluh-sepuluh. Pada dasarnya ketentuan itu adalah untuk mencegah mereka masuk ke dalam ABRI.

Menurut Asvi, mereka yang dilepaskan secara kesatria, misalnya mereka yang di Pulau Buru dari 1969 hingga 1979, sekitar 10 ribu orang dibuang ke pulau terpencil itu. Kalaupun kemudian dibebaskan lebih dari 10 ribu orang disebabkan karena desakan dunia internasional, karena akan dihentikan bantuan.

Adanya rencana rehabilitasi secara umum? Sudomo mengatakan, dengan demikian nantinya mereka yang ditandai pada KTP akan dibebaskan dari tanda-tanda tersebut sehingga mereka akan sama dengan warga negara lainnya tanpa ada catatan lagi pada KTP atau identitas lainnya. ''Saya setuju sekali dengan rehabilitasi itu. Karena sudah waktunya, dan dengan reformasi sekarang ini seharusnya begitu,'' tutur Sudomo.

Demikian pula Asvi yang menyatakan bahwa rehabilitasi seharusnya dilaksanakan sejak dahulu. Apabila sekarang momentumnya sudah ada, Presiden Megawati sebaiknya tidak perlu menunggu-nunggu lagi. Sebab, mereka menjadi korban menderita sudah cukup lama, apalagi di antara para korban komunisme itu saat ini banyak yang sudah tua renta.

Asvi menambahkan, bahwa banyak sekali kasus seperti yang dialami oleh Guncahyo, karena pada 1979 masih satu juta orang yang harus melapor. Bila mereka memiliki keluarga, maka sekarang kemungkinan jumlah keluarga yang terkait dengan sang korban sudah mencapai 20 juta orang. Pemerintah menurut Asvi tidak punya alasan lagi untuk melakukan penundaan, hanya saja belum pernah dibicarakan menyangkut kompensasi.

Hasil polling Metro TV, tentang pemberian rehabilitasi terhadap korban G-30-S/PKI, sebanyak 73% menyatakan perlu, 21% tidak perlu, dan hanya 6% yang tidak tahu. Sebanyak 78% masih menganggap komunisme sebagai ancaman, 20% tidak lagi menjadi ancaman, dan 2% menyatakan tidak tahu.*** (Rasyid R Sulaiman/A-1)

kliping

ELSAM

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 142-146)