• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tak Mudah Menemukan Konsensus untuk Menyikapi Masa Lalu

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 71-75)

MENEMUKAN konsensus untuk menyikapi masa lalu bukanlah tugas yang ringan. Hal yang paling sering mengemuka adalah perdebatan antara pendekatan moral untuk masalah pengampunan dengan pendekatan legal formal melalui pemidanaan. Perdebatan ini berada dalam kerangka bahwa sebenarnya tidak satu pun tindakan bisa mengembalikan apa yang hilang dari diri seseorang yang mengalami tindak kekerasan oleh pelaku pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat. Meski begitu, norma-norma kemanusiaan yang telah rusak harus diupayakan untuk dipulihkan.

Dalam diskusi "Menarik Garis Batas antara Masa Kini dengan Masa Depan", pekan lalu, perdebatan yang

melibatkan pendapat aktivis Cile, Jose (Pepe) Zalaquett, dengan pendapat Direktur Eksekutif Human Right Watch, Aryeh Neier, muncul dalam tanggapan Rachland Nashidik dari Imparsial atas pemaparan Ifdal Kasim dari Elsam. Meski tidak berlanjut karena waktu diskusi yang terbatas, pertanyaan Rahlan pada Ifdal Kasim mengingatkan pada perdebatan mengenai soal pengampunan antara Zalaquett dan Neier dalam sebuah seminar di Maryland tahun 1988 mengenai tindak kriminal yang melibatkan negara.

Zalaquett menyatakan setiap kebijakan menyangkut masa lalu harus mengacu pada masa lalu dan masa depan. Untuk masa lalu, diperlukan pemulihan, untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh pelanggaran HAM masa lalu. Sedangkan yang mengacu pada masa depan menyangkut perlindungan dan mempromosikan masa depan yang demokratis, yang tidak memungkinkan terjadinya pelanggaran lagi.

Menurut Zalaquett setiap kebijakan harus memenuhi standar persyaratan minimum. Artinya, kebenaran harus diungkapkan, lengkap dengan sanksi resmi dan disiarkan secara terbuka agar terekam oleh ingatan bangsa; kebijakan itu harus mewakili kehendak rakyat, dan tidak melanggar standar hukum internasional.

Namun, ketiga hal ini harus tergantung pada kebutuhan suatu bangsa, supaya bangsa itu tidak menjadi subyek absolut dari standar yang dipaksakan dari luar. Dalam hal ini pengampunan sama nilainya dengan perlindungan. Dikatakan juga, para pemimpin di masa transisi harus dipandu oleh etika tanggung jawab. Prinsip etika ini harus dicapai secara maksimal dengan menyeimbangkan faktor hambatan dan kesempatan politik. Karena tidak satu pun konvensi internasional memuat prinsip-prinsip itu, dibutuhkan perpaduan antara norma-norma internasional dengan postulat etika dan mempertimbangkan seluruh pengalaman yang relevan.

Sementara Neier bersikukuh pada penerapan hukum yang ketat. Ia menyatakan, prediksi mengenai kestabilan masa depan yang dibangun oleh demokrasi merupakan hal yang penuh spekulasi. Pengampunan tidak hanya akan membuat pelaku bertindak semakin berani, tetapi juga membuat perlindungan terhadap pelanggaran yang sama di masa depan tidak lagi dimungkinkan.

Menurut Neier, kapasitas manusia untuk melihat masa lalu sangat lemah. Karena itu, penghukuman merupakan tugas absolut dari masyarakat untuk mengembalikan kehormatan dan mengurangi penderitaan dari korban individual. Pengampunan atas pelaku tindak kejahatan terhadap kemanusiaan mungkin saja dipaksakan atas dasar force majeure, tetapi tidak pernah bisa dilakukan atas dasar hukum.

DUA pendapat ini masih terus memacu kontroversi dalam setiap diskusi mengenai masa lalu. Apalagi dalam kenyataannya banyak negara memasuki masa transisi dengan proses politik yang kompleks. Pada situasi seperti itu, pertanyaan yang paling mendasar adalah bagaimana pemerintah menentukan proses penyelesaian pelanggaran HAM dalam skala luas pada masa kekuasaan pemerintah sebelumnya. Sementara pelanggaran itu menyangkut kelompok yang masih memiliki akses kepada kekuasaan langsung atau tak langsung, militer atau sipil.

Direktur HAM Carter Center of Emory University Jamal Benomar dalam artikelnya 'Justice after Democracy" (Journal of Democracy, 1993) mencontohkan, militer Argentina yang merasa direndahkan martabatnya setelah

kliping

ELSAM

rezim militer digulingkan melakukan tiga kali pemberontakan selama tahun 1980- an. Mereka menolak tuntutan pelanggaran HAM secara umum.

Para demokrat yang menentang tuntutan pelanggaran HAM di masa lalu juga menekankan kasus-kasus di mana pemerintahan pada masa transisi menjalankan hasil perundingan perdamaian antara pemerintah yang menindas dengan kelompok militer oposisi yang diduga melakukan pelanggaran HAM berat.

Banyak pihak yakin bahwa gerakan-gerakan militer oposisi seperti ANC di Afrika Selatan, SWAPO di Namibia, dan SPLA di Sudan memiliki rekor buruk dalam HAM. Itu sebabnya saat dilakukan perundingan perdamaian di El Salvador tahun1991, para pemimpin gerilya FMLN tidak menentang keinginan pemerintah untuk memberikan amnesti karena tanpa amnesti beberapa komandan FMLN akan menghadapi tuntutan atas tindakan kriminal yang dilakukannya pada masyarakat sipil.

Cile juga menghadapi kasus luar biasa sulit pada masa transisi, yang didominasi oleh dilema antara amnesti versus keadilan. Karena Undang-Undang Dasar Cile yang dirancang pada masa rezim Pinochet melindungi kekuasaan militer secara penuh, maka kontrol terhadap tentara pada masa pemerintahan sipil tidak berjalan baik.

Terlepas dari perannya dalam serangkaian tindakan penghilangan aktivis, penyiksaan, dan pembunuhan ribuan warganya. Pinochet tetap menjadi komandan Angkatan Darat dan tidak bisa dipecat. Bekas anggota polisi rahasia yang melakukan pelanggaran HAM berat di masa lalu masih menduduki posisi-posisi terhormat di dalam Angkatan Darat.

Ketika pemerintahan Presiden Patricio Aylwin yang demokratis berkuasa pada bulan Maret 1990, dibentuk Komisi Nasional untuk Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk menyelidiki kasus-kasus pelanggaran yang menyebabkan kematian dan penghilangan selama 17 tahun pemerintahan rezim militer yang otoriter. Komisi itu bekerja selama sembilan bulan dengan 60 staf, menyelidiki lebih 4.000 pengaduan. Pada bulan Februari 1991, Komisi itu memberikan laporan setebal 1.800 halaman kepada presiden yang kemudian membawakan laporan itu dalam pidatonya di televisi pada tanggal 4 Maret.

Atas nama negara, Aylwin meminta maaf kepada korban dan keluarganya, serta meminta kepada Angkatan Darat untuk mengakui tindakan pelanggaran yang telah dilakukan. Pidato tersebut menekankan kepada masyarakat ’untuk menerima kebenaran’ dan membuka lembaran baru. Aylwin sama sekali tidak menyinggung peran Pinochet dalam tindakan kriminal di masa lalu, juga tak menyinggung persoalan hukum.

Hal yang mirip terjadi di Argentina. Ketika Presiden Alfonsin membawakan laporan Komisi Nasional untuk Orang Hilang kepada publik, tuntutan maksimal dari Para Ibu dari Plaza de Mayo juga tidak terpenuhi. Baru kemudian diketahui bahwa sekelompok pejabat penting di dalam pemerintahan Presiden Alfonsin, termasuk anggota kabinet, menentang proses pengadilan anggota militer.

Menurut mereka, pengadilan seperti itu hanya akan menciptakan ketegangan baru dengan Angkatan Darat. Mereka menganggap waktu dan tenaga yang digunakan lebih baik dipakai untuk memperkuat demokrasi yang masih lemah di negeri itu.

Jamal Benomar melihat pentingnya keseimbangan kekuatan antara kekuatan yang mewakili masa lalu dan kekuatan demokratis pada masa transisi merupakan faktor penting dalam berbagai kebijakan pemerintah mengenai persoalan itu.

Kompetisi kekuatan akan terus berlangsung antara mereka yang menekankan prinsip-prinsip legal dan moral dengan mereka yang memberikan perhatian utama pada proses untuk mempertahankan demokrasi.

TERKAIT dengan masalah pengampunan, ada baiknya mengingat kembali apa yang dipaparkan Dr Karlina Supelli dalam seminar "Penyelesaian Pelanggaran HAM Berat di Masa Lalu, antara Kebenaran dan Keadilan", di Jakarta tiga tahun silam.

Menurut Karlina, pelaku diajukan ke pengadilan tidak hanya dengan landasan telah melakukan kejahatan terhadap korban secara individu, tetapi karena tindakannya mengancam kemanusiaan secara umum.

kliping

ELSAM

Tindakan ini tidak bisa diartikan sebagai depersonalisasi penderitaan korban karena nilai setiap manusia merupakan landasan yang tidak bisa diganggu gugat di dalam hukum. Di sini Karlina mengutip filsuf Hannah Arendt, yang menyatakan, ketika pelaku pelanggaran HAM dibawa ke pengadilan, tubuh politik itu sendiri yang memerlukan pemulihan.

Tertib masyarakat yang telah dirusak harus diperbaiki. Dengan perkataan lain, yang dimenangkan adalah norma-norma hukum, bukan korban sebagai individu.

Karlina menegaskan, penghukuman bukan merupakan pembalasan. Tindak kekerasan, tidak dapat disangkal, hampir selalu melahirkan kekerasan lainnya demi pembalasan dendam. "Penyucian" korban akan membuat semua upaya untuk membela korban disahihkan, termasuk melakukan tindak kekerasan balik. Balas-membalas inilah yang terus berlangsung.

Sementara reaksi kebalikannya, yakni diam, bukan selalu karena korban tidak menghendaki pembalasan, melainkan karena korban tidak punya kemampuan untuk membalas. Dalam beberapa kasus, korban ataupun keluarganya yang sedang dalam proses mengatasi tahap sindrom pasca-trauma, kerap kali menciptakan sebuah fantasi bahwa jika saja pelaku mengalami apa yang sudah mereka timpakan kepadanya, atau kepada keluarganya, mungkin penderitaan mereka akan berkurang.

Jika diterjemahkan ke dalam prinsip hukum mengenai kesetaraan dan hak-hak individual, pembalasan atau pembayaran setara dengan tindak pelanggaran yang dilakukan menemukan bentuknya di dalam penghukuman retributif. Gagasan retribusi mendorong penghukuman atas dasar pertimbangan bahwa tindakan pelaku telah menimbulkan penderitaan dan rasa sakit luar biasa pada korban dan masyarakat. Oleh karena itu, ia harus dihukum sesuai dengan penderitaan yang telah ia timbulkan.

Landasan ideal dari gagasan ini adalah kesetaraan harkat setiap orang. Melalui retribusi, masyarakat diandaikan mengoreksi cara pandang yang ada di belakang tindakan pelaku yang melihat korban sebagai orang yang lebih rendah martabatnya sehingga bisa diperlakukan sewenang-wenang. Dalam praktiknya, penghukuman yang bersifat retributif ini memang menghukum, tetapi juga tidak mencegah apa-apa. Akibatnya penghukuman menjadi seperti tindakan balas dendam, yang justru bertentangan dengan tujuan hukum untuk memperbaiki keadaan.

PEMBALASAN dalam bentuk apa pun, hanya merupakan penukaran peran antara pelaku dan korban. Dari banyak pengalaman kekerasan, tindakan membalas ternyata membuat korban terus menerus terkungkung di dalam ingatan pedih akan kekerasan, penghinaan dan kebencian. Hasilnya pun tidak selalu menjamin perubahan, meskipun melalui sistem hukum. Pun tidak ada jaminan bahwa kejahatan tidak akan terulang atau akan berhenti setelah pemberian hukuman.

Tidak ada jalan pendek untuk menuju kepada rekonsiliasi. Karlina menyebut tiga langkah penting dalam upaya berdamai dengan masa lampau. Pertama, memulihkan hak korban dan keluarga mereka melalui proses reparasi, yang mencakup pengakuan, rehabilitasi, restitusi, dan kompensasi baik yang bersifat konkret maupun simbolis. Langkah kedua adalah dengan pertanggungjawaban hukum atas kejahatan yang dilakukan oleh pelaku dengan membuka kemungkinan pemberian amnesti. Langkah ketiga adalah reformasi kebijakan dan lembaga peradilan untuk memungkinkan penegakan tertib hukum.

Komisi kebenaran dapat dilihat sebagai salah satu bentuk upaya penyelesaian pelanggaran HAM yang memberi banyak kemungkinan untuk mengurangi ketidakpastian proses penyelesaian menurut jalur hukum karena terlalu banyak kasus yang harus ditangani. Langkah pertamanya adalah mendefinisikan ’masa lalu’, yaitu kurun waktu terjadinya pelanggaran dan kejahatan HAM yang meluas dari pemerintah terdahulu.

Selanjutnya adalah ’maaf’ dan janji, yang keduanya sarat dengan dimensi moral dan spiritual. Sebagai tindakan baru, maaf membuka kemungkinan untuk hubungan baru. Seiring dengan itu, janji di wilayah publik mengandung daya untuk memberi kepastian pada hubungan itu.

kliping

ELSAM

Janji seseorang secara pribadi bisa saja tidak dapat diandalkan, tetapi ketika banyak orang setuju untuk berjanji demi masa depan, maka kesepakatan yang tercipta seperti menghadirkan pulau-pulau kepastian di tengah lautan

kliping

ELSAM

Kompas, Rabu, 11 Juni 2003

RUU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Disampaikan ke DPR

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 71-75)