• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mitos Kebangsaan

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 58-61)

KOMPAS - Selasa, 20 May 2003

Halaman: 4 Penulis: Chang, William Ukuran: 7820 MITOS KEBANGSAAN

Oleh William Chang

KELAHIRAN bangsa Indonesia memiliki "sejarah" yang analog dengan sejumlah negara di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Penentuan status negara umumnya berdasar teritori jajahan. Malaysia, Singapura, India, Kenya, misalnya, adalah daerah eks-jajahan Inggris. Sementara, Indonesia dan Suriname adalah kawasan eks-jajahan Belanda. Timor Timur, Brasilia, Capo Verde, dan Angola adalah daerah eks-jajahan Portugal. Sementara, Aljazair, Madagaskar, Zaire, Vietnam, dan Kamboja adalah negara-negara eks-jajahan Perancis. Ternyata tidak sedikit negara yang pernah dikandung dalam rahim dan "ditentukan" penjajah.

Sejak awal abad lalu telah muncul sejumlah gerakan nasional yang bertujuan menghimpun dan membangkitkan semangat kebangsaan. Budi Utomo, yang didirikan atas anjuran Mas Wahidin Sudirohusodo (1908), antara lain berusaha memajukan kehidupan penduduk, baik dalam lapangan jasmani, maupun rohani. Lembaga yang beranggotakan 10.000 orang memiliki 40 cabang (dalam dan luar Jawa). Taman Siswa sebagai perguruan nasional yang didirikan Ki Hajar Dewantoro (3 Juli 1922) bermaksud memajukan pendidikan kebangsaan yang mengandung inti aliran- aliran modern (antrhosophi, buah pikiran Rudolph Steiner, metode-

metode Montessori, sistem Dalton, cita-cita pendidikan Rabindranath Tagore).

Napas kebangsaan tertuang dalam Sumpah Pemuda 1928 yang dianggap sebagai sumpah semua anak bangsa yang hidup dan tinggal dalam

kepulauan Nusantara. Dalam kemajemukan sosial waktu itu, anak-anak bangsa bertekad memiliki nusa, bangsa, dan bahasa yang satu dan sama yaitu Indonesia. "Indonesia" dan "keindonesiaan" yang sebenarnya menjadi perekat kesatuan dan persatuan suatu negara raksasa. Bahasa yang satu memungkinkan komunikasi antargolongan yang majemuk. ***

BUNG Karno, dalam pidato tentang Dasar Negara Indonesia pada 1 Juni 1945 di Gedung Pejambon Jakarta, antara lain, dengan tegas menggarisbawahi dasar pertama buat Indonesia adalah kebangsaan dan bukan yang lain. "Ini bukan berarti satu kebangsaan dalam arti

sempit, tetapi saya menghendaki satu nationale staat, seperti yang saya katakan dalam rapat di Taman Raden Saleh beberapa hari lalu. Satu Nationale Staat Indonesia bukan berarti staat yang sempit.

Sebagai saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo katakan kemarin, maka tuan adalah orang Bangsa Indonesia, bapak tuan pun adalah orang Indonesia, nenek tuan pun Bangsa Indonesia, datuk-datuk tuan, nenek-moyang tuan pun Bangsa Indonesia." (Risalah Sidang BPUPKI–PPKI: 29 Mei 1945–19 Agustus 1945:62).

Bangsa Indonesia, Natie Indonesia, menurut Bung Karno, bukan sekadar satu golongan yang hidup dengan le desir d’etre ensemble (Ernest Renan) di daerah-daerah kecil seperti Minangkabau, atau Madura, atau Yogyakarta, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa Indonesia ialah seluruh manusia yang menurut geopolitik telah

kliping

ELSAM

ditentukan oleh Allah SWT tinggal dalam kesatuan dengan semua pulau Indonesia. Seluruhnya! Kebangsaan Indonesia adalah kebangsaan yang bulat. Bukan kebangsaan Sumatera, Borneo, Sulawesi, Bali, atau lain- lain, tetapi kebangsaan Indonesia. Gagasan tentang kesatuan bangsa ini dibakukan dalam dasar negara kita, Pancasila.

Akibatnya, lahirlah negara dengan masyarakat yang serba majemuk, "multi ini dan multi itu" (multietnis, multikultur, multireligi,

multilinguae, dan multi-multi lainnya). Dari satu sisi, kemajemukan sosial dapat dipandang sebagai kekayaan, dari sisi lain, kemajemukan bisa mengundang masalah individual dan sosial. Keanekaragaman sering dialami sebagai mosaik yang memiliki keindahan dalam hidup manusia. Manusia dapat memperkaya diri melalui perjumpaan dengan mereka yang berbeda latar belakang sosial.

Namun, sering terjadi, perjumpaan dalam perbedaan sosial

menimbulkan rentetan konflik individual yang berubah menjadi konflik sosial. Malah, kecenderungan untuk melepaskan diri dari Jakarta sudah tampak sejak awal kemerdekaan Indonesia.

***

YANG menarik untuk disoroti dalam konteks kebangsaan adalah kecenderungan sosial beberapa kawasan untuk berdiri sendiri dan melepaskan diri dari Republik Indonesia. Makna kebangsaan dalam konteks plural dan global perlu dikaji dalam hidup harian. Kebangsaan tidak ditentukan hanya oleh warna kulit, bahasa ibu, nama, kedudukan sekarang, tetapi terutama oleh sense of belonging akan Indonesia sebagai tanah tumpah darah dan rumah kita bersama. Mengapa muncul benih separatis dalam tubuh Indonesia? Ini masalah rumit. Secara umum, beberapa alasan mendasar turut mendorong kecenderungan kuat untuk memisahkan diri dari Indonesia.

Pertama, anggota masyarakat masih mengalami ketidakadilan sosial dalam hidup sehari-hari, meski keadilan sosial akan menjadi sebuah masalah kekal di atas permukaan bumi, termasuk di negara kita. Adalah masalah klasik bahwa kekayaan daerah diraub dan dilarikan ke pusat, diterbangkan ke luar negeri atau masuk kantong sejumlah penguasa tamak. Anak-anak asal daerah belum dilibatkan dalam pengelolaan kekayaan alam dengan alasan rendahnya sumber daya manusia lokal. Keluarnya kekayaan alam dari daerah turut mengakibatkan hidup masyarakat yang tak mengalami banyak kemajuan dan perkembangan. Keadaan alam di daerah luluh-lantak, kekayaan alam sirna dan manusia sengsara. Ketidakadilan sosial tidak hanya mencakup bidang ekonomi, tetapi juga sosial, politik, dan religius. Kegagalan dalam mewujudkan keadilan sosial berarti kegagalan dalam menghargai dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia yang hakikatnya adalah sejajar, tanpa kehilangan makna unisitas. Yang kaya bertambah kaya dan yang berkuasa kian berkuasa.

Kedua, diskriminasi sosial masih terasa dalam hampir semua lapisan sosial. Hukum dan perundang-undangan yang jelas-jelas diskriminatif dari zaman penjajahan masih dipertahankan dan dipraktikkan hingga kini. Duit masih mengendalikan nurani banyak penegak hukum dan keadilan di negara kita. Yang kaya tinggal dalam penjara "berbintang", yang miskin mendekam dalam penjara penderitaan. Pemikiran primordialisme (beda dari nasionalisme) masih melekat dalam benak sejumlah wakil rakyat dan penguasa di Republik ini.

kliping

ELSAM

tertentu. Penerapan hukum yang pilih-kasih hanya akan menyuburkan iklim diskriminasi dalam suatu masyarakat majemuk. Kesetaraan hak dan kewajiban tiap warga negara acapkali dipermainkan penguasa pusat dan daerah.

Ketiga, trauma politik masa lampau mewarnai pandangan dan sikap dasar warga negara. Yang menggelora dalam batin adalah rasa sakit hati dan semangat balas dendam terhadap pihak yang pernah menyakiti hati dan merenggut nyawa anggota masyarakat. Trauma ini, secara tak langsung, turut membentuk watak manusia yang ingin membalas dendam. Hidup sebagai suatu bangsa (bukan hanya sebagai suatu kelompok sosial) yang berpersaudaraan dan bersolidaritas nasional kurang dialami di banyak kawasan. Kekuatan suatu kebangsaan perlu dibangun di atas semangat rekonsiliasi lokal dan nasional yang berdasarkan kejujuran dan keterbukaan.

Mitos kebangsaan yang telah dirintis tak cukup hanya dipertahankan dengan kekuatan ideologi dan militeristik, tetapi terutama oleh penegakan hukum yang adil, nonsektarian,

nondiskriminatif, yang sungguh menjunjung harkat dan martabat tiap pribadi dalam tiap sektor hidup manusia. Kebangsaan akan kuat bila tiap pribadi menjadi warga negara yang mendapat tempat layak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

WILLIAM CHANG

kliping

ELSAM

Media Indonesia, Selasa20 Mei 2003

Dalam dokumen 2003 Kumpulan Kliping KKR (Halaman 58-61)