• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTEKS PENGGEMBALAAN KARDINAL DARMOJUWONO

2.1. Situasi Intern Gerejani

2.1.3. Berdirinya FABC (1972)

Berdirinya FABC (Federation of Asian Bishops’ Conferences) berkaitan erat dengan berlangsungnya Konsili Vatikan II dan kunjungan Paus Paulus VI di Manila pada tahun 1970. Konsili Vatikan II membuka kesempatan bagi para Uskup Asia untuk saling bertemu yang pertama kalinya sekaligus membuahkan semangat persaudaraan satu sama lain. Mereka mulai menyadari pentingnya kerjasama antar Gereja-gereja di Asia sehingga perlu membentuk sebuah struktur yang dapat meningkatkan interaksi dan kerjasama di antara mereka.22

Sementara itu, kunjungan Paus Paulus VI memberikan kesempatan bagi para Uskup se-Asia untuk saling bertemu kembali di Manila, Filipina. Mereka, bersama-sama menyambut kunjungan Paus tersebut dan mengadakan pertemuan bersama antara tanggal 27 – 29 September 1970.23 Pertemuan para Uskup Asia ini dikenal dengan nama Asian Bishops’ Meeting (ABM). Dalam pertemuan tersebut, mereka mengalami dorongan yang semakin kuat untuk meningkatkan semangat

22 Edmund Chia, “Thirty Years of FABC: History, Foundation, Context and Theology”, dalam FABC Papers no.106, 4

23 Para Uskup yang hadir dalam pertemuan tersebut berasal dari Pakistan, India, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Malaysia, Singapura, Indonesia, Filipina, Makao, Hongkong, Taiwan, Jepang dan Korea Selatan.

~ 30 ~

kolegialitas, dialog dan solidaritas guna membuka hati dan budi bagi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi bangsa-bangsa Asia supaya dapat lebih sungguh berbakti kepada bangsa-bangsa Asia.24

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, pada pertemuan di hari yang terakhir, tanggal 29 November 1970, para Uskup membuat kesepakatan yang antara lain berbunyi, “Konferensi-konferensi Uskup yang pada Sidang ini diwakili, dimohon dengan sangat, supaya mengesahkan dan mendukung suatu struktur yang tetap, untuk secara efektif melaksanakan keputusan-keputusan Sidang ini.”25 Inilah awal mula dicetuskannya gagasan untuk mendirikan FABC sebagai struktur yang tetap untuk menjadi wadah komunikasi dan kerjasama bagi Gereja-Gereja di Asia.

2.1.3.1. Sejarah Berdirinya FABC

Langkah pertama yang dilakukan para Uskup Asia untuk mempersiapkan berdirinya FABC adalah membentuk kelompok kecil atau panitia pendiri FABC yang terdiri dari 11 (sebelas) Uskup yang pada waktu itu menjadi Ketua Konferensi para Uskup masing-masing negara.26 Mereka kemudian mengadakan pertemuan di Hong Kong pada bulan Maret 1971 untuk membicarakan mengenai dasar, tujuan dan lingkup dari Federasi yang hendak didirikan.27 Setelah pertemuan pertama di Hong Kong tersebut, salah satu pertemuan penting

24 Amanat Sidang Para Uskup Asia, no. 1, 2 dan 13 (Manila, 29 November 1970), dalam Seri Dokumen FABC no.1, 21, 23-24.

25 Keputusan Sidang Para Uskup Asia, no. 1 (Manila, 29 November 1970), dalam Seri Dokumen FABC no.1, 29

26 Ketua Konferensi para Uskup Indonesia (MAWI) pada waktu itu adalah Kardinal Darmojuwono

27 Edmund Chia, “Thirty Years of FABC: History, Foundation, Context and Theology”, 5-6

~ 31 ~

berkaitan dengan berdirinya FABC, adalah pertemuan yang berlangsung di Jesuit Xavier House, Manila. C.G. Averalo, SJ., seorang profesor teologi di Loyola School of Theology di Filipina, memberi kesaksian bahwa pada waktu itu ada tiga Uskup Asia yang luar biasa visioner, yaitu Kardinal Kim dan Valerian Gracias dari Bombay, India, serta Justinus Darmojuwono dari Semarang, Indonesia.28 Ketiganya, ditambah Uskup Francis Hsu dari Hongkong dan Mariano Gaviola dari Filipina, serta Horacio de la Costa, SJ., Provinsial Jesuit Filipina, menjadi motor penggerak dalam diskusi-diskusi pendirian FABC.

Dalam perjalanan waktu, garis besar struktur dan draft statuta semakin tampak jelas. Mereka akan mengikatkan diri secara tetap dan tidak dapat ditarik kembali pada sebuah jaringan antar para Uskup Asia yang akan berada di bawah Sekretariat Pusat. Namun, dalam diskusi-diskusi juga muncul persoalan mengenai kekuasaan atau wewenang dari Sekretariat Pusat tersebut. Dalam diskusi inilah, Kardinal Darmojuwono mempunyai peranan yang penting. Beliau meyakinkan para Uskup bahwa Sekretariat Pusat tidak akan mempunyai wewenang di atas Konferensi para Uskup, tetapi akan bertindak secara lebih sederhana untuk melayani Konferensi.29 Para Uskup menyetujui usulan Kardinal Darmojuwono ini dan mendukung sepenuhnya untuk segera mendirikan Federasi Konferensi para Uskup Asia yang tetap. Akhirnya, pada tanggal 16 November 1972, Federasi Konferensi para Uskup Asia yang kemudian dikenal dengan nama FABC secara resmi berdiri dan mendapat persetujuan dari Tahta Suci.

28 Thomas C. Fox., Pentecost in Asia: A New Way of Being Church, Philippines: Claretian Publications 2003, 20.

29 Thomas C. Fox., Pentecost in Asia: A New Way of Being Church, 20

~ 32 ~ 2.1.3.2. Ekklesiologi FABC

Dalam Asian Bishops’ Meeting di Manila pada tahun 1970, para Uskup Asia menyadari keprihatinan bersama berkaitan dengan cara hidup menggereja di Asia. Mereka sadar bahwa Gereja tidak mengejawantahkan hidup Kristiani dan kurang mendarah-dagingkan Gereja menurut cara-cara dan pola-pola kebudayaan setempat sehingga iman Kristiani menjadi asing di negaranya masing-masing.30 Menurut Felix Wilfred, keterasingan Gereja ini bukan melulu karena agama Kristiani berasal dari luar Asia dan menganut iman yang berbeda tetapi terutama karena Gereja pada umumnya menjaga jarak terhadap arus utama kehidupan rakyat, sejarah, perjuangan-perjuangan, dan impian-impian masyarakat Asia.31

Bertolak dari keprihatinan tersebut, para uskup Asia melakukan refleksi dan studi atas hasil-hasil Konsili Vatikan II dan Ensiklik Populorum Progessio (Paus Paulus VI, 26 Maret 1967) untuk diterapkan dalam konteks situasi Asia.

Dalam rangka kontekstualisasi tersebut, Gereja Asia mempunyai tekad dan orientasi untuk mewartakan kabar gembira secara bermakna dan relevan kepada bangsa-bangsa di Asia.32 Gereja bertekad bulat untuk hadir dan terlibat dalam kerjasama untuk membangun masyarakat yang memenuhi aspirasi-aspirasi terdalam bangsa-bangsa Asia sekaligus menanggapi tuntutan-tuntutan Injil, yakni membangun masyarakat yang hidup berdasarkan kebenaran, berpedoman

30 Amanat Sidang Para Uskup Asia, no.17 (Manila, 29 November 1970), dalam Seri Dokumen FABC no.1, 25

31 Felix Wilfred, “Federasi Konferensi-konferensi Para Uskup Asia (FABC): Orientasi, Tantangan-tantangan, Dampak, Pengaruh”, dalam Seri Dokumen FABC no.1, 11

32 C. Putranto, “Gereja Kaum Miskin dalam Konsili Vatikan II dan Dokumen Federasi Konferensi Uskup-uskup Asia”, dalam J.B. Banawiratma (ed), Kemiskinan dan Pembebasan, Yogyakarta:

Kanisius 1987, 110

~ 33 ~

keadilan, bermotivasi cinta kasih, berkembang dalam damai dan mewujudkan kebebasan.33

Dalam rangka mewujudkan Gereja yang bermakna bagi masyarakat, para Uskup menegaskan pentingnya membangun Gereja setempat yang sejati.34 Artinya, Gereja harus sungguh berinkarnasi dalam suatu bangsa, berinkulturasi dan menjadi pribumi sehingga dapat menjadi perwujudan dan pengejawantahan Tubuh Kristus dalam bangsa tertentu, di tempat tertentu, dan pada waktu tertentu.35 Hanya dengan menjadi Gereja setempat inilah, Gereja akan mampu menghadirkan nilai-nilai Injil dan berperan dalam membangun masyarakat untuk hidup dalam kebenaran, keadilan, cinta kasih, kebebasan, dan kedamaian.

Para Uskup Asia juga menyadari bahwa satu-satunya jalan untuk membangun Gereja setempat yang sejati adalah dialog, yaitu menjalin interaksi timbal-balik antara Gereja dengan realitas masyarakat setempat di mana Gereja itu berada. Dialog akan membebaskan Gereja dari kecenderungan menjadi jemaat yang berpusat pada diri sendiri serta menggabungkannya dengan rakyat di segala bidang dan dimensi kehidupannya. Menurut para Uskup, dialog di Asia harus dilaksanakan rangkap tiga, yaitu dialog dengan agama-agama Asia, kebudayaan-kebudayaan Asia, dan massa kaum miskin yang meluap.36 Hal ini menutut keterbukaan dari Gereja untuk menghargai ketiga realitas tersebut sejajar dengan apa yang dihidupi Gereja sehingga terjadi proses saling memahami, memberi, belajar dan mempengaruhi demi terciptanya kehidupan bersama yang lebih baik.

33 Amanat Sidang Para Uskup Asia, no.14 dalam Seri Dokumen FABC no.1, 24

34 Pernyataan Sidang Paripurna FABC I, no.9 dalam Seri Dokumen FABC no.1, 38

35 Pernyataan Sidang Paripurna FABC I, no. 10 dan 12 dalam Seri Dokumen FABC no.1, 38

36 Felix Wilfred, “Federasi Konferensi-konferensi Para Uskup Asia (FABC): Orientasi, Tantangan-tantangan, Dampak, Pengaruh”, 11

~ 34 ~

Upaya-upaya strategis untuk mewujudkan cita-cita di atas antara lain ditempuh dengan pembentukan jemaat-jemaat Kristiani basis, mengakomodasi pelbagai karisma umat beriman dan menerapkan kepemimpinan yang partisipatif.

Semuanya ini mencakup pengakuan terhadap umat awam berserta pelbagai karisma mereka, seperti ditekankan oleh pernyataan-pernyataan dalam Lokakarya-Lokakarya para Uskup tentang Kerasulan Awam (BILA), dan khususnya oleh Pernyataan Sidang Paripurna FABC IV di Tokyo pada tahun 1986 tentang peranan umat awam.37