YANG MANDIRI, MISIONER DAN TERLIBAT DALAM MASYARAKAT
3.3. Gereja yang Misioner
Kemandirian Gereja yang dicita-citakan oleh Kardinal Darmojuwono, tidak hanya berhenti pada usaha untuk mencukupi kebutuhan sendiri tetapi juga dikembangkan keluar untuk berbagi sehingga Gereja dapat sungguh-sungguh menjadi sakramen bagi banyak orang. Hal ini sejalan dengan arah penggembalaan beliau, yaitu mewujudkan “Gereja mengumat berswasembada; baik ke dalam maupun ke luar, agar Gereja merupakan Gereja „mengumat‟ sebagai sakramen,
137 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1977, tertanggal 10 Februari 1977
138 J. Sunarka, SJ., “Tokoh „Eklesiologi‟ Gereja Mengumat”, 114 – 115
139 J. Sunarka, SJ., “Tokoh „Eklesiologi‟ Gereja Mengumat”, 114 – 115
~ 79 ~
dinamis dan beribadat”.140 Dalam lingkup internal Gereja Katolik, kerelaan untuk berbagi ini diwujudkan dengan mengembangkan Keuskupan Agung Semarang sebagai Gereja misioner.
3.3.1. Pengertian Gereja Misioner
Dalam arti yang sangat luas, tugas misi atau perutusan Gereja adalah
“untuk menjadi sakramen universal keselamatan” (AG 1; bdk. LG 48). Oleh Kardinal Darmojuwono, tugas misi Gereja tersebut dimaknai sebagai
“meneruskan perutusan Kristus”141 yang datang ke dunia untuk melaksanakan karya keselamatan Allah. Jadi, Gereja yang misioner berarti Gereja yang mengemban tugas untuk meneruskan perutusan Kristus sebagai tanda dan sarana keselamatan bagi banyak orang.
Tugas ini dilaksanakan melalui berbagai macam cara, tergantung kepada siapa tugas itu ditujukan. Jika tugas misioner tersebut ditujukan kepada orang-orang yang belum beriman atau belum menjadi anggota Gereja, maka tugas itu dilaksanakan dengan cara “pergi ke seluruh dunia untuk menunaikan tugas menyiarkan Injil dan menanamkan Gereja di antara bangsa atau golongan-golongan yang belum beriman kepada Kristus” (AG 6). Dalam hal ini, menjalankan tugas misioner berarti membuat orang-orang yang belum mengenal Kristus menjadi mengenal dan beriman kepada-Nya kemudian dibaptis dan menjadi anggota Gereja. Sementara itu, jika tugas misioner tersebut ditujukan kepada orang-orang yang sudah beriman kepada Kristus atau sudah menjadi
140 Darmojuwono, Perjalanan Umat Allah di Keuskupan Agung Semarang, 45
141 Darmojuwono, Tahun Suci: Mengumandangkan kembali Amanat Pembaharuan Kosili Vatikan II, tertanggal 8 Desember 1973
~ 80 ~
anggota Gereja, cara yang dilakukan adalah melalui pewartaan Sabda dan perayaan sakramen-sakramen agar iman mereka semakin dipupuk, dikembangkan dan diteguhkan sehingga mampu menghasilkan buah-buah keselamatan.142
Sejauh mencermati cita-cita dan usaha Kardinal Darmojuwono dalam menjadikan Keuskupan Agung Semarang sebagai Gereja Misioner, tugas misioner Gereja yang dimaksud beliau adalah kesediaan untuk memberikan bantuan tenaga pastoral kepada keuskupan-keuskupan lain di Indonesia yang berkekurangan. Hal ini tampak dalam seruannya pada Hari Panggilan tahun 1973,
“Sejak beberapa tahun terakhir, kami sering mendengar kesulitan-kesulitan kurangnya tenaga, lebih-lebih yang pribumi, yang menimpa keuskupan lain di Indonesia. Hal ini agaknya makin hari makin segar. Tidak hanya berhenti di situ saja, mereka pun dengan sangat minta agar dikirim tenaga dari KAS. Kami sendiri, lebih-lebih dalam rasa syukur atas pemanjaan Tuhan ini, pula mengingat solidaritas antar gembala, merasa wajib melayani jeritan dan permintaan bantuan semacam itu”.143
Berdasarkan kutipan ini dapat disimpulkan bahwa Gereja Misioner yang dimaksud oleh Kardinal Darmojuwono pertama-tama adalah Gereja yang bersedia memberi bantuan tenaga kepada keuskupan-keuskupan lain yang mengalami kekurangan tenaga pastoral sehingga karya keselamatan Allah semakin dirasakan dan dialami oleh banyak orang, khususnya di tempat-tempat mereka berkarya.
3.3.2. Perwujudan Gereja yang Misioner
Selama Kardinal Darmojuwono menjadi Uskup Agung Semarang, salah satu kondisi aktual Gereja Indonesia adalah sebagai berikut: Keuskupan Agung Semarang mempunyai tenaga pastoral yang cukup melimpah sementara
142 A. Heuken, SJ., Ensiklopedi Gereja V, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka 2005, 237 dan 240
143 Darmojuwono, Seruan Hari Panggilan, tertanggal 4 Mei 1973
~ 81 ~
keuskupan-keuskupan lain masih berkekurangan. Hal ini dinyatakan oleh Kardinal Darmojuwono, “... umumnya kita merasa begitu mendapatkan tenaga yang boleh dikatakan berlimpah-limpah, bila dibandingkan dengan tempat-tempat lain. Perhatikan saja: kini ada 222 orang imam, 179 orang bruder dan 573 orang suster, dengan calon-calon dalam jumlah yang sangat lumayan.”144 Oleh karena itu, sebagai perwujudan syukur atas kelimpahan tenaga pastoral yang diangerahkan Tuhan tersebut dan sebagai bentuk solidaritas antar gembala, beliau menanggapi secara positif permintaan bantuan dari keuskupan-keuskupan lain yang mengalami kekurangan tenaga pastoral. “Kami sendiri, lebih-lebih dalam rasa syukur atas pemanjaan Tuhan ini, pula mengingat solidaritas antar gembala, merasa wajib melayani jeritan dan permintaan bantuan semacam ini”.145
Secara konkret, tanggapan Kardinal Darmojuwono tersebut diwujudkan dengan mengirimkan para imam diosesan dan merelakan para imam lain yang berkarya di Keuskupan Agung Semarang untuk membantu keuskupan-keuskupan lain sejak tahun 1970. Hal ini tampak dalam kesaksian yang diberikan oleh para Uskup se-Kalimantan pada saat beliau meletakkan jabatannya sebagai Uskup Agung Semarang. Mereka antara lain menulis demikian,
“Selama ini kami mengalami bahwa Romo Kardinal mempunyai perhatian yang besar sekali terhadap Gereja Katolik Kalimantan. Perhatian ini Romo Kardinal wujudkan dalam bentuk bantuan tenaga-tenaga: 1 imam praja untuk Keuskupan Agung Pontianak tahun 1970 – 1971; 2 imam praja dari Keuskupan Agung Semarang untuk Keuskupan Ketapang; merelakan beberapa pastor MSF yang berharga di Keuskupan Agung Semarang untuk datang ke Keuskupan Banjarmasin dan Samarinda; menganjurkan para bekas misionaris dari Laos dan Vietnam datang bekerja di Keuskupan Samarinda (OMI) dan Keuskupan Sintang (OMI dan CM); menganjurkan
144 Darmojuwono, Seruan Hari Panggilan, tertanggal 4 Mei 1973
145 Darmojuwono, Seruan Hari Panggilan, tertanggal 4 Mei 1973
~ 82 ~
Suster-suster Penyelenggara Ilahi datang bekerja di Keuskupan Banjarmasin.”146
Usaha Kardinal Darmojuwono untuk menjadikan Keuskupan Agung Semarang sebagai Gereja Misioner semakin mendapat dukungan secara nasional ketika MAWI membentuk Biro Koordinasi Tenaga Misioner (BKTM) pada tahun 1974. Beliau sendiri menyatakan bahwa pembentukan BKTM ini “mencerminkan kesediaan untuk menggarap persoalan tenaga misioner di Indonesia secara kolegial”.147 Pada tahun 1976, ketika diangkat menjadi Ketua BKTM, beliau semakin mengobarkan jiwa dan semangat misioner di seluruh Indonesia.148 Beliau menekankan pentingnya solidaritas antar keuskupan, khususnya dalam hal tenaga pastoral, sebagai perluasan dan pengembangan kemandirian Gereja yang tidak cukup hanya bergerak ke dalam tetapi juga harus ke luar.