• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengefektifkan Kelompok-kelompok Kategorial

KELUARGA SEBAGAI UJUNG TOMBAK GEREJA

4.2. Pastoral tentang Keluarga

4.2.4. Strategi Pastoral Menjadikan Keluarga sebagai Ujung Tombak Gereja Agar keluarga-keluarga Kristiani dapat menjadi ujung tombak

4.2.4.8. Mengefektifkan Kelompok-kelompok Kategorial

Kelompok kategorial yang langsung berkaitan dengan hidup berkeluarga adalah Marriage Encounter (ME) dan Sekolah Minggu. Kedua kelompok ini menyentuh kehidupan keluarga kendati berbeda subjeknya. Subjek ME adalah pasangan suami istri sedangkan subjek Sekolah Minggu adalah anak-anak.

343 Darmojuwono, Perjalanan Umat Allah di Keuskupan Agung Semarang, 49

344 Toha S., “Kebangkitan Umat dalam Paroki” dalam Peraba, Januari IV 1980, 7

345 Toha S., “Kebangkitan Umat dalam Paroki”, 7

~ 162 ~ 4.2.3.8.1. Marriage Encounter

ME mulai dikembangkan di Keuskupan Agung Semarang sejak tahun 1977.346 Gerakan ME ini merupakan salah satu wadah yang disediakan oleh Gereja dalam rangka membantu keluarga-keluarga Kristiani untuk memperdalam pengetahuan dan penghayatan mereka tentang hidup berkeluarga melalui sarana dialog yang intensif antara suami dan istri.

“Dialog dalam Marriage Encounter bukan untuk mencapai suatu keputusan, melainkan ingin mengetahui dan menghayati perasaan masing-masing, agar dengan demikian terjadi suatu perjumpaan di hati antara suami istri, artinya mereka lebih saling mengenal, menerima dan mencintai.”347

Jadi, melalui dialog model ME ini, suami istri dibantu menjadi semakin bersatu hati dalam ikatan cinta kasih sehingga dapat semakin menghayati makna perkawinan mereka sebagai sakramen, yaitu tanda dan sarana cinta kasih Tuhan kepada Gereja-Nya.

Untuk menjadi anggota ME, pasutri diminta mengikuti week end yang biasanya diadakan pada hari Jumat – Minggu. Maka, setiap kali akan mengadakan week end, tim dari ME berusaha merekrut keluarga-keluarga untuk menjadi anggota baru dengan cara memberikan pengumunan di paroki-paroki. Acara week end ini diisi dengan pembekalan-pembekalan yang bertujuan untuk memotivasi pasutri dalam menghayati kesetiaan perkawinan sampai akhir hayat, mengingatkan mereka untuk bersatu sebagai keluarga yang utuh dan menyadarkan bahwa perkawinan mereka adalah sebuah sakramen.348 Ketiga hal ini diperdalam

346 Berdasarkan wawancara dengan Rm. G. Notobudyo, tanggal 22 Maret 2010 di Pastoran Kumetiran dan Rm. FX. Wiyana, tanggal 8 Maret 2010 di Pastoran Pugeran

347 Darmojuwono, Perjalanan Umat Allah di Keuskupan Agung Semarang, 59

348 Berdasarkam wawancara dengan Rm. FX. Wiyana, tanggal 8 Maret 2010 di Pastoran Pugeran

~ 163 ~

oleh masing-masing pasutri melalui dialog yang intensif sehingga mereka semakin menyadari dan menghayati panggilan mereka untuk menjadi tanda dan sarana kehadiran Tuhan di tengah dunia. Setelah week end tersebut, para pasutri anggota ME diminta untuk selalu mengadakan dialog setiap hari dengan tema-tema yang disepakati bersama antara suami dan istri masing-masing. Kemudian, setiap 3 (tiga) atau 4 (empat) bulan sekali semua anggota ME mengadakan pertemuan bersama untuk saling berbagi pengalaman.

Dalam perjalanan waktu, gerakan ME ini kurang berkembang. Anggotanya tidak banyak dan tidak sampai di desa-desa. Beberapa kendala yang menyebabkan kurang berkembangnya ME ini antara lain: beaya week end yang tinggi dan harus ditanggung oleh pasutri sendiri, adanya pandangan yang keliru bahwa ME adalah semacam bengkel bagi keluarga yang bermasalah, para pasutri anggota ME sendiri mengalami kesulitan untuk mengadakan dialog setiap hari dan kadang-kadang kurang dapat memberi kesaksian yang baik bagi keluarga-keluarga yang lain.349 Selain itu, sampai tahun 1981, jumlah imam yang mau mengambil bagian dalam kegiatan ME sangat sedikit padahal keterlibatan mereka sangat dibutuhkan demi perkembangan dan kelangsungan ME dalam Gereja.350

Meskipun kurang berkembang, peran ME untuk membantu keluarga-keluarga Kristiani dalam menghayati makna perkawinan sebagai sakramen tetap harus diakui. Hal ini diungkapkan oleh Kardinal Darmojuwono sendiri,

“syukurlah bahwa di mana-mana hampir di seluruh wilayah KAS bermunculan kelompok-kelompok pendalaman iman, kelompok-kelompok doa baik kharismatik maupun doa tenang. Kelompok ME, pun tidak

349 Berdasarkan wawancara dengan Rm. G. Notobudyo, tanggal 22 Maret 2010 di Pastoran Kumetiran dan Rm. FX. Wiyana, tanggal 8 Maret 2010 di Pastoran Pugeran

350 Darmojuwono, Perjalanan Umat Allah di Keuskupan Agung Semarang, 61

~ 164 ~

ketinggalan. ... Ini semua memggembirakan hati. Marilah kita kembangkan lebih lanjut usaha-usaha tersebut dengan membantu, atau bahkan terjun sendiri ke dalamnya”.351

Secara konkret, peran ME tampak dalam usaha-usaha mereka untuk menjadi saksi dan teladan bagi keluarga-keluarga lain di paroki atau kringnya masing-masing dalam menghayati perkawinan. Melalui kehadirannya yang selalu membawa damai, tampak bahagia, rajin berdoa dan pergi ke Gereja bersama, aktif di paroki dan wilayah/kring, dan lain-lain, mereka dapat menjadi inspirasi bagi keluarga-keluarga lain untuk menjadikan keluarga mereka sendiri juga demikian.

4.2.3.8.2. Sekolah Minggu

Tugas orangtua untuk mendidik anak-anak mereka dalam hal iman tidak selalu mudah dilaksanakan, lebih-lebih bagi mereka yang menikah beda agama.

Berdasarkan pengalaman kunjungan keluarga, tampak bahwa pihak Katolik cenderung kesulitan memenuhi janjinya untuk mendidik anak-anak mereka secara Katolik.352 Jika yang Katolik itu pihak ibu, mereka cenderung tidak berani untuk menuntut suami agar ikut membantu dalam melaksanakan janjinya tersebut.

Sementara itu, jika yang Katolik adalah pihak suami, mereka cenderung menyerahkan pendidikan anak pada istrinya yang tidak Katolik.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kardinal Darmojuwono menganjurkan diadakannya Sekolah Minggu sejak tahun 1977.353 Beliau merumuskan bahwa “tujuan Sekolah Minggu ialah pada hari Minggu menampung

351 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1980, tertanggal 31 Januari 1980

352 Berdasarkan wawancara dengan Rm. FX. Wiyana, tanggal 8 Maret 2010 di Pastoran Pugeran

353 Darmojuwono, Perjalanan Umat Allah di Keuskupan Agung Semarang, 36

~ 165 ~

pelajar Katolik dan peminat yang tidak mendapat pelajaran agama di sekolah masing-masing sekaligus ber-Ibadat Sabda, jika tidak ada perayaan Ekaristi”.354 Melalui kegiatan Sekolah Minggu ini, kekurangan orangtua dalam menanamkan dan mengembangkan iman anak, baik dari sisi pengetahuan maupun penghayatan dapat teratasi dengan cukup baik. Demikian pula, perkembangan iman anak-anak yang tidak mendapatkan pelajaran agama Katolik di sekolah juga dapat terbantu.

Selain itu, dengan adanya kelompok Sekolah Minggu ini, anak-anak juga sudah mulai dilibatkan dan diitegrasikan dalam kegiatan-kegiatan paroki dan wilayah/kring melalui tugas-tugas yang diberikan kepada mereka, misalnya menjadi petugas kor, lektor, pemimpin doa, dan lain-lain. Dengan kata lain, melalui kegiatan Sekolah Minggu, anak-anak dilatih untuk mulai terlibat dalam usaha mewujudkan Gereja Umat Allah. Bagi Kardinal Darmojuwono, hal ini sungguh memggembirakan hati. Maka, beliau mengajak seluruh umat untuk terus mengembangkannya dengan cara memberikan bantuan sesuai kemampuan mereka atau bahkan terlibat dan terjun sendiri ke dalamnya secara langsung.355