• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membangun Keluarga yang Sehat Jasmani dan Rohani

KELUARGA SEBAGAI UJUNG TOMBAK GEREJA

4.2. Pastoral tentang Keluarga

4.2.3. Tugas dan Perutusan Keluarga sebagai Gereja Kecil

4.2.3.1. Membangun Keluarga yang Sehat Jasmani dan Rohani

Bersama dengan para Uskup Indonesia yang lain, Kardinal Darmojuwono menegaskan bahwa keluarga adalah dasar dari masyarakat.268 Maka, kiranya tidak salah bila dikatakan bahwa teratur tidaknya kehidupan masyarakat luas tergantung pada kehidupan keluarga. Dalam hal ini, Gaudium et Spes artikel 47 yang juga

267 Para Uskup Propinsi Gerejawi Semarang, Surat Gembala Bersama “Mengenai Hidup Keluarga Beriman”, tertanggal 16 Januari 1975

268 Hal ini antara lain dinyatakan dalam Pedoman Kerja Umat Katolik Indonesia 1970, no.8.

~ 134 ~

dikutip oleh MAWI dalam Pedoman Pastoral Keluarga 1975, menyatakan bahwa

“kesejahteraan perorangan, masyarakat umum maupun umat Kristen terjalin erat dengan sehatnya perkawinan dan keluarga” (GS 47). Oleh karena itu, untuk menciptakan suatu masyarakat yang sehat, secara mutlak dibutuhkan keluarga-keluarga yang sehat. Demikian pula untuk membangun Gereja atau masyarakat Katolik yang sehat secara jasmani dan rohani, dibutuhkan keluarga-keluarga Kristiani yang sehat secara jasmani dan rohani pula. Konsekuensinya, keluarga-keluarga Kristiani mempunyai tugas untuk membangun keluarga-keluarga yang sehat secara jasmani dan rohani agar mereka dapat menjadi ujung tombak pembangunan Gereja yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat.

Menurut Kardinal Darmojuwono, ada beberapa hal konkret yang harus dibuat oleh keluarga-keluarga Kristiani agar tumbuh dan berkembang menjadi keluarga yang sehat secara jasmani dan rohani, yaitu:

4.2.3.1.1. Menghayati Hidup Berkeluarga sebagai Panggilan

Dalam tulisannya mengenai Umat Allah Mawas Diri (1972), Kardinal Darmojuwono menyatakan bahwa “yang dimaksud panggilan di sini juga panggilan umum, tidak dikecualikan panggilan membentuk keluarga ...”269 Beliau menegaskan panggilan hidup berkeluarga ini dengan mengutip Kitab Kejadian,

“Bila kita buka halaman-halaman pertama Kitab Kejadian, maka dikemukakan kepada kita, bagaimana Allah memberikan kepada manusia pertama: seorang wanita selaku pembantu yang sepadan (2:18-20).

Alangkah dalamnya makna kata-kata ini! Suami istri selaku pasangan, selaku partner, teman hidup yang sepadan.”270

269 Darmojuwono, Umat Allah Mawas Diri, tertanggal 18 Agustus 1972

270 Darmojuwono, Surat Gembala “Menuju Keluarga Bahagia”, tertanggal 13 Februari 1973

~ 135 ~

Dari kutipan ini jelas bahwa kesatuan Adam dan Hawa sebagai suami istri terjadi atas kehendak Allah sendiri. Mereka dipanggil untuk menjadi suami dan istri atau pasangan hidup sama lain. Oleh karena itu, dalam terang iman, suami istri hendaknya meyakini bahwa hidup berkeluarga mereka terjadi atas kehendak Tuhan. Demikian pula, tanggungjawab mereka untuk melahirkan dan mendidik anak tidak hanya dimaknai sebagai tugas manusiawi untuk menjaga kelestarian dan menghindari kepunahan, tetapi sebagai pelaksanaan atas kehendak Allah untuk beranakcucu dan bertambah banyak (Kej 1:28) guna melestarikan Umat Allah dari abad ke abad (LG 11).

Kesadaran bahwa hidup berkeluarga itu adalah suatu panggilan merupakan hal yang sangat penting karena akan menuntun suami istri untuk selalu menempatkan hidup perkawinan mereka dalam rencana Allah yang memanggil mereka. Mereka bertemu, saling mencintai, kemudian melangsungkan perkawinan dan membentuk keluarga, bukan karena kebetulan atau karena kehendak mereka sendiri. Oleh karena itu, Kardinal Darmojuwono menegaskan agar

“Arah panggilan tetap jadi pegangan. Makin sejiwa, makin bersatu dalam batin, kiranya perlu diusahakan bersama-sama dengan tak henti-hentinya (Ef 5:31; Kej 2:32). Berbeda perangai atau pendirian jangan sampai jadi halangan untuk makin dekat dalam hati. Sudah pasti pula bahwa masing-masing membawa serta kelemahan dan kekurangan-kekurangannya. Siapa di antara kita yang sempurna memenuhi segala persyaratan? Perlu kita menyadari kelemahan dan kekurangan kita sendiri, untuk ikhlas menyambut orang lain –lebih-lebih partner hidupnya– sebagai-mana adanya ialah: dengan segala kekurangan-kekurangannya. Sedia saling memahami, ya bahkan saling menghargai, itulah syarat untuk senantiasa sanggup bergandeng tangan mengarungi samudera kehidupan ini. Saling memahami membuat kedua hati terbuka bagi dialog terus-menerus dalam mengangkat tugas-tugas kehidupan dengan segala tantangannya.”271

271 Darmojuwono, Surat Gembala “Menuju Keluarga Bahagia”, tertanggal 13 Februari 1973

~ 136 ~

4.2.3.1.2. Menghayati Iman dalam Hidup Sehari-hari

Iman adalah permata yang berharga dan merupakan anugerah ilahi untuk selalu merasakan dan mengalami bahwa Allah selalu menyangga dan menerangi kehidupan.272 Oleh karena itu, Kardinal Darmojuwono meminta agar suami istri selalu menyegarkan hidup perkawinan mereka dengan pengalaman-pengalaman iman, yaitu keyakinan dan kesadaran bahwa Allah senantiasa berkarya dalam hidup mereka. Sebab, apabila hidup perkawinan mereka

“selalu disegarkan oleh pengalaman-pengalaman iman dalam terang Roh Kudus, maka dimungkinkanlah adanya keterbukaan yang sungguh berguna bagi keseluruhan suasana keluarga. Terbuka terhadap Tuhan, terbuka terhadap diri sendiri, terhadap seluruh anggota keluarga dan terbuka terhadap sesama, lingkungan dengan segala masalahnya, semuanya merupakan suatu rangkaian yang menyelamatkan dan membahagiakan.”273 Pernyataan Kardinal Darmojuwono ini menunjukkan bahwa keluarga yang hidupnya didasari oleh pengalaman iman akan lebih dapat terbuka pada seluruh realitas kehidupan. Lebih lanjut, mereka pun akan lebih mudah untuk melihat dan memaknai bahwa pengalaman dan peristiwa-peristiwa hidup mereka merupakan tempat dan sarana bagi Allah dalam melaksanakan karya keselamatan-Nya.

Agar keluarga-keluarga Kristiani dapat menghayati imannya dengan baik, Kardinal Darmojuwono juga menegaskan bahwa mereka perlu meneladan Kristus yang menjadikan doa sebagai sesuatu yang sentral dalam hidup-Nya.274 Di tengah kesibukan-Nya mewartakan Injil dan melayani banyak orang, Ia selalu meluangkan waktu untuk berdoa, baik pribadi (Mrk 1:32-39 maupun bersama (Mrk 1:21). Maka, Gereja sebagai Tubuh Kristus dan keluarga Kristiani sebagai Gereja kecil harus meneladan Kristus, Sang Kepala Gereja, dalam hal berdoa.

272 Para Uskup Propinsi Gerejawi Semarang, Surat Gembala Bersama “Mengenai Hidup Keluarga Beriman”, tertanggal 16 Januari 1975

273 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1979, tertanggal 15 Februari 1979

274 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1972, tertanggal 6 Februari 1972

~ 137 ~

Berkaitan dengan hidup doa ini, Kardinal Darmojuwono meminta agar keluarga mengikuti pola hidup Gereja perdana yang “selalu bertekun dalam ajaran para rasul dan dalam doa” (Kis 2:42).

“Mungkin terjemahan dalam bahasa sekarang, kalimat itu akan berbunyi:

mereka bertekun dalam pendalaman iman dan doa bersama. Pendalaman iman dan doa bersama merupakan pengarah aspirasi pribadi. ... Di dalam perdalaman iman dan doa, kita dapat melihat kembali arah yang benar.

Karena keterbatasan kita, sebenarnya makin sibuk kita makin memerlukan pendalaman iman dan doa agar terpelihara keseimbangan pribadi. Tidak tanpa arti semboyan ora et labora: bekerja dan berdoa terjalin satu dengan yang lain.”275

Dengan semboyan ora et labora ini, Kardinal Darmojuwono juga menegaskan bahwa iman tidak cukup hanya diungkapkan melalui doa, baik pribadi maupun bersama, tetapi juga harus diwujudkan secara konkret melalui keterlibatan dalam hidup bermasyarakat. Secara konkret, umat katolik sungguh diharapkan untuk memberi sumbangan kepada masyarakat, misalnya dalam bidang pendidikan, kesehatan dan pengembangan sosial ekonomi sebagai perwujudan iman yang nyata. Dengan demikian, “sumbangan mereka berdasarkan iman dan karya kasih diakui, dirasakan oleh masyarakat di mana mereka hidup”.276 Jadi, penghayatan iman yang diawali dalam keluarga-keluarga harus mencapai keseimbangan antara pengungkapan melalui doa pribadi maupun bersama dan perwujudannya melalui kerterlibatan nyata dalam hidup bermasyarakat.

Semua hal yang sudah disampaikan berkaitan dengan penghayatan iman di atas, mengandaikan peran sentral dari orangtua. “Orangtua harus menyadari

275 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1980, tertanggal 31 Januari 1980

276 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1980, tertanggal 31 Januari 1980

~ 138 ~

tanggungjawabnya, juga dalam hal penghayatan iman anak-anaknya”.277 Oleh karena itu, orangtua diharapkan selalu menciptakan suasana Katolik dalam keluarga, misalnya dengan doa bersama dan pribadi baik setiap hari maupun dalam keadaan tertentu, mengikuti perayaan Ekaristi hari Minggu bahkan harian, terlibat aktif di wilayah/kring, membaca dan merenungkan Kitab Suci, dan lain-lain. Mereka juga perlu meningkatkan pengetahuan imannya agar dapat mendampingi dan membantu perkembangan iman anak dengan lebih baik.

4.2.3.1.3. Saling Menyuburkan dalam Cinta Kasih

Cinta kasih adalah dasar dan jiwa dari perkawinan dan hidup berkeluarga sebagaimana diyakini bahwa makna perkawinan adalah “persekutuan cinta kasih antara seorang pria dan seorang wanita yang secara sadar dan bebas saling menyerahkan diri beserta segala kemampuannya untuk selamanya”.278 Sebagai dasar dan jiwa kehidupan keluarga, cinta kasih harus senantiasa dipelihara dan diaktualkan terus-menerus, baik antar suami istri maupun antara mereka dengan anak-anak yang tidak lain adalah buah dari cinta mereka itu.279

Untuk mengembangkan cinta kasih suami istri, Kardinal Darmojuwono memberi nasihat agar mereka jangan saling mengabaikan pasangannya. Sebab,

“mengabaikan pribadi pasangan sering parah tiada terduga akibatnya.

Mengerikan mendengarkan cerita suami istri yang merana, mengalami kekosongan sehingga merasa butuh mencari pemenuhan atau gantinya di luar keluarga. Tragislah memang situasi: terikat dalam perkawinan namun begitu saling berjauhan dalam hati.”280

277 Darmojuwono, Surat Gembala “Bersama Mewujudkan Gereja”, tertanggal 25 Desember 1974

278 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1979, tertanggal 15 Februari 1979

279 Para Uskup Propinsi Gerejawi Semarang, Surat Gembala Bersama “Mengenai Hidup Keluarga Beriman”, tertanggal 16 Januari 1975

280 Darmojuwono, Surat Gembala “Menuju Keluarga Bahagia”, tertanggal 13 Februari 1973

~ 139 ~

Melalui pernyataan tersebut, ditegaskan bahwa sikap mementingkan diri sendiri dan mengabaikan pribadi pasangannya, apalagi kalau pasangannya itu kemudian mencari perhatian dari luar keluarga, akan sangat membahayakan kelangsungan hidup keluarga. “Oleh karena itu dituntut, dari suami istri sikap yang tidak mementingkan diri sendiri, mencari enak dan keuntungan sendiri, melainkan kalau perlu harus berani meninggalkan kesenangan ataupun kehendaknya sendiri demi terbinanya suatu keluarga yang serasi.”281

Cinta kasih antara suami dan istri akan semakin berkembang jika mereka dapat saling berterimakasih dan mensyukuri keberadaan pasangan masing-masing.

Hal ini ditegaskan oleh Kardinal Darmojuwono dengan menyatakan bahwa,

“salah satu usaha untuk tetap menyegarkan hubungan suami istri adalah rasa terima kasih timbal-balik. ... Menggali, melihat, dan mengakui kebaikan, pengorbanan partner akan menggairahkan rasa terima kasih dan syukur. Dan rasa terima kasih dan syukur timbal-balik ini akan mengabadikan cinta kasih antar suami istri.”282

Berhadapan dengan kenyataan akan adanya kelemahan dan kekurangan yang dimiliki oleh pribadi pasangan, Kardinal Darmojuwono mengingatkan agar mereka menjauhi sikap hanya melihat kekurangan pasangan dan melupakan kebaikannya. Kekurangan memang merupakan hal yang manusiawi dan harus dilihat juga supaya dapat diperbaiki, tetapi melihat kekurangan pasangan tersebut harus diimbangi dengan melihat “dharma bhakti, pengorbanan yang tidak kunjung padam dalam keluarga.”283 Sebab, dengan melihat kebaikan, dharma bhakti dan pengorbanan pasangan, mereka akan lebih mudah untuk saling mengungkapkan terima kasih dan rasa syukur timbal-balik secara tulus.

281 Para Uskup Propinsi Gerejawi Semarang, Surat Gembala Bersama “Mengenai Hidup Keluarga Beriman”, tertanggal 16 Januari 1975

282 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1979, tertanggal 15 Februari 1979

283 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1979, tertanggal 15 Februari 1979

~ 140 ~

Akhirnya, cinta kasih antara suami dan istri harus dikembangkan menjadi cinta kasih kepada anak-anak yang tidak lain merupakan buah dan mahkota cinta mereka.284 Menurut Kardinal Darmojuwono cinta kasih orangtua kepada anak, pertama-tama diwujudkan dalam bentuk perhatian dan pengertian yang merupakan faktor sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka.

“Pertama-tama yang sangat mereka butuhkan adalah perhatian dan pengertian sebagai perwujudan cinta kasih orangtua. Sekalipun tidak selalu bisa memberikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan yang tengah dihadapi, namun ada rasa aman dan terlindung, ada yang mendorong dan mendukung, ada yang membesarkan hati di tengah perjuangannya.

Keunggulan serta pengalaman hidup orangtua sungguh diakui namun hendaknya dituangkan dalam sikap dapat memahami sehingga merupakan landasan mereka tabah di jalan hidup ini. Jurang yang terdapat antar angkatan sedikit banyak bisa dipersempit. Peranan orang tua sungguh sangat menentukan dalam memungkinkan pertumbuhan mereka. Keluarga didambakan menjadi ruang untuk mekar sesuai dengan bakat serta aspirasi mereka.” 285

4.2.3.1.4. Saling Bekerjasama

Kerja sama yang baik antara suami dan istri merupakan perwujudan dari kesatuan dan cinta kasih yang amat konkret. Oleh karena itu, Kardinal Darmojuwono menegaskan bahwa semangat kerjasama ini harus terus-menerus dikembangkan dan diwujudkan dalam hidup sehari-hari. Semangat kerjasama itu,

“hendaklah tercermin dalam sifat bermusyawarah yang senantiasa menghiasi kehidupan keluarga Kristiani. Oleh karena itu dituntut, dari suami istri sikap yang tidak mementingkan diri sendiri, mencari enak dan keuntungan sendiri, melainkan kalau perlu harus berani meninggalkan kesenangan ataupun kehendaknya sendiri demi terbinanya suatu keluarga yang serasi.”286

284 Para Uskup Propinsi Gerejawi Semarang, Surat Gembala Bersama “Mengenai Hidup Keluarga Beriman”, tertanggal 16 Januari 1975

285 Darmojuwono, Surat Gembala “Menuju Keluarga Bahagia”, tertanggal 13 Februari 1973

286 Para Uskup Propinsi Gerejawi Semarang, Surat Gembala Bersama “Mengenai Hidup Keluarga Beriman”, tertanggal 16 Januari 1975

~ 141 ~

Untuk mewujudkan bekerjasama ini, harus disadari bahwa kesepadanan mereka bukan berarti kesamaan dalam segala hal. Mereka disatukan dengan segala perbedaan, kelemahan dan kekurangan masing-masing. Maka, mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing kemudian menerima pasangan apa adanya adalam hal yang penting seperti ditegaskan oleh Kardinal Darmojuwono,

“Sedia saling memahami, ya bahkan saling menghargai, itulah syarat untuk senantiasa sanggup bergandeng tangan mengarungi samudera kehidupan ini.

Saling memahami membuat kedua hati terbuka bagi dialog terus-menerus dalam mengangkat tugas-tugas kehidupan dengan segala tantangannya.”287