• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengefektifkan Persiapan Hidup Berkeluarga

KELUARGA SEBAGAI UJUNG TOMBAK GEREJA

4.2. Pastoral tentang Keluarga

4.2.4. Strategi Pastoral Menjadikan Keluarga sebagai Ujung Tombak Gereja Agar keluarga-keluarga Kristiani dapat menjadi ujung tombak

4.2.4.3. Mengefektifkan Persiapan Hidup Berkeluarga

Mengingat betapa luhurnya makna perkawinan Kristiani dan tidak ringannya tugas serta tanggungjawab keluarga Kristiani, maka perkawinan dan hidup berkeluarga harus dipersiapkan dengan baik.306 Matangnya persiapan hidup berkeluarga tidak hanya penting demi kebaikan keluarga itu sendiri tetapi juga demi kedewasaan Gereja sebagaimana dinyatakan oleh Kardinal Darmojuwono

303 Darmojuwono, Umat Allah Mawas Diri, tertanggal 18 Agustus 1972

304 Kardinal Darmojuwono adalah Uskup Agung di antara para Uskup Sufragan Propinsi Gerejawi Semarang (Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang)

305 Misalnya dalam: Surat Gembala 2 Februari 1969, Surat Gembala 25 Desember 1974, Surat Gembala Puasa 10 Februari 1977, dan Surat Gembala Puasa 15 Februari 1979.

306 Darmojuwono, Perjalanan Umat Allah di Keuskupan Agung Semarang, 14

~ 150 ~

bahwa “Gereja akan makin dewasa, jika persiapan pembentukan keluarga makin mendekati cita-cita.”307

Kardinal Darmojuwono menyadari bahwa usaha untuk mempersiapkan hidup berkeluarga seringkali tidak mudah dilakukan karena terbentur berbagai macam kesulitan, misalnya “pasangan Katolik dengan bukan Katolik, pasangan yang karena sesuatu hal harus selekas mungkin melaksanakan perkawinannya, pengaruh sosial dari lingkungan, pandangan orangtua, dan lain sebagainya”.308 Bagi Gereja Indonesia yang hidup di tengah-tengah masyarakat majemuk, perkawinan campur antara pasangan Katolik dan bukan Katolik ini memang tidak selalu dapat dihindari sehingga menjadi tantangan tersendiri sebagaimanya dinyatakan oleh MAWI:

“Gereja merasa prihatin, sebab bentuk perkawinan campur agama ini bukan bentuk yang terbaik. Kenyataan menunjukkan, bahwa perbedaan agama, satu faktor yang secara mendalam mempengaruhi kepribadian dan seluruh hidup kita, dapat menimbulkan aneka macam persoalan. Perbedaan agama dapat menyebabkan khususnya suami istri terhambat untuk menciptakan hubungan yang terbuka dan erat, penuh kepercayaan. Dan di antara soal-soal itu, makin lemahnya iman pihak Katolik serta kesulitan mendidik anak-anak dalam suasana Katolik, bukanlah masalah yang boleh dianggap ringan.”309

Mengingat peliknya masalah kawin campur beda agama ini, Kardinal Darmojuwono menyatakan bahwa “dengan kebijaksanaan memberi dispensasi disparitas cultus ikatan kepada Gereja pada umumnya, dapat dipertahankan. Ini suatu keuntungan besar”.310 Namun, beliau juga menegaskan bahwa “ikatan

307 Darmojuwono, Umat Allah Mawas Diri, no. 8

308 Darmojuwono, Umat Allah Mawas Diri, no. 7

309 MAWI, Pedoman Pastoral Keluarga, no. 16

310 Dalam tulisan tentang Umat Allah Mawas Diri dalam mempersiapkan pembentukan keluarga no. 9, Bapak menyampaikan data bahwa pada tahun 1970, jumlah pasangan yang menikah campur beda agama di KAS sebanyak 691. Pada tahun 1972 mereka diberi angket dan yang

~ 151 ~

semata-mata belum tentu menguntungkan jika hanya berarti kwantitas dan bukan kwalitas”.311 Oleh karena itu, “keluarga perlu dipersiapkan dengan seksama, yang diwujudkan di mana-mana dalam rupa kursus-kursus maupun pendalaman-pendalaman.”312 Persiapan yang dimaksud di sini tidak cukup hanya jangka pendek tetapi juga jangka panjang yang akan sangat bermanfaat untuk menghindari atau paling tidak mengantisipasi terjadinya perkawinan campur ini.

Persiapan perkawinan jangka panjang dilakukan secara integral oleh orangtua sebagai pendidik anak yang pertama, utama dan tak tergantikan, meskipun harus dibantu oleh umat lain di wilayah atau kring. Persiapan jangka panjang ini meliputi penanaman nilai-nilai manusiawi dan Kristiani yang dibutuhkan setiap orang untuk hidup mandiri sekaligus hidup bersama orang lain.

Termasuk dalam persiapan jangka panjang ini adalah pendidikan seksualitas serta pembiasaan bergaul secara sehat dan benar.

Sementara itu, persiapan perkawinan jangka pendek meliputi usaha-usaha untuk melengkapi seluruh persyaratan administratif dan mendalami seluk-beluk perkawinan Kristiani secara lebih intensif melalui Kursus Persiapan Perkawinan.

Sampai tahun 1960-an, Kursus Persiapan Perkawinan masih dilakukan oleh pastor paroki sendiri sebagai satu kesatuan dengan proses penyelidian kanonik untuk masing-masing pasangan.313 Meskipun demikian, ada beberapa pastor paroki yang mulai melibatkan umat untuk memberikan pembekalan kepada muda-mudi yang

mengembalikan sejumlah 561 keluarga. Hasil dari angket tersebut menunjukkan bahwa 115 (20,49%) pasang menjadi keluarga katolik utuh, 253 (45,09%) tetap seperti semula, 27 (4,81%) berantakan, 135 (23,70%) pindah/tidak diketahui/mati, 25 (4,45%)pihak yang katolik kendor imannya, dan 6 (1,46) pihak non katolik magang baptis.

311 Darmojuwono, Umat Allah Mawas Diri, no. 9

312 Darmojuwono, Surat Gembala “Bersama Mewujudkan Gereja”, tertanggal 25 Desember 1974

313 Berdasarkan wawancara dengan Rm. G. Utomo, tanggal 26 Maret 2010 di Pastoran Ganjuran

~ 152 ~

ingin menikah.314 Mereka membentuk tim yang terdiri dari Imam, bidan, dokter, Suster dan Bapak-Ibu. Para imam memberikan materi tentang ajaran Gereja mengenai perkawinan; para dokter, bidan atau perawat memberi pembekalan tentang reproduksi, perawatan kehamilan, kesehatan ibu dan anak; dan Bapak-Ibu memberikan pembekalan tentang komunikasi dan pengelolaan ekonomi.315

Sejak tahun 1970-an, Kursus Persiapan Perkawinan dilakukan dengan semakin tertata dan tergoranisir melalui kevikepan-kevikepan. Di Kevikepan Semarang kursus diadakan sebulan sekali, pada hari Senin sampai Jumat antara jam 18.00 – 21.00 dan bertempat di Katedral. Pesertanya peserta berasal dari paroki-paroki se-Kota Semarang, yaitu: Katedral, Atmodirono, Gedangan, Karangpanas, Lampersari, Sendangguwa dan Bongsari. Sementara itu, untuk paroki-paroki di luar kota ditempuh kebijakan lain: “pasangan-pasangan disuruh datang pada hari Senin sore. Senin I pelajaran diberi oleh Imam, Senin II oleh seorang bidan, Senin III oleh suami-istri yang berpengalaman dan seterusnya.”316

Pada tahun 1975, Rm. Aloysius Budyopranoto, Pr mulai merintis kursus persiapan perkawinan di Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta.317 Namun, kursus ini hanya dapat diikuti oleh para calon yang berasal dari wilayah Kota Yogyakarta sedangkan yang berasal dari paroki-paroki di luar kota Yogyakarta

314 Berdasarkan wawancara dengan Rm. M. Sugito, tanggal 9 Maret 2010 di Pastoran Bintaran;

Rm. E. Rusgiharta, tanggal 10 Maret 2010 di Pastoran Klaten; dan Rm. Ig. Jayasewaya, tanggal 11 Maret 2010 di Pastoran Nandan.

315 Misalnya, di Paroki Boro, para orang-orang yang akan menikah dan sudah mendapat pembekalan tentang perkawinan berdasarkan ajaran Gereja dari pastor paroki, diminta untuk datang ke Rumah Sakit St. Yusuf, Boro guna menerima pembekalan tentang reproduksi dan kesehatan ibu dan anak dari para suster, dokter, perawat atau bidan (Berdasarkan wawancara dengan Rm. M. Sugito, tanggal 9 Maret 2010 di Pastoran Bintaran).

316 Darmojuwono, Perjalanan Umat Allah di Keuskupan Agung Semarang, 14; dilengkapi melalui wawancara dengan Rm. G. Norobudyo, tanggal 22 Maret 2010 di Pastoran Kumetiran

317 Tim KAS, Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik di Keuskupan Agung Semarang, 1992, 106

~ 153 ~

mengikuti kursus di paroki masing-masing karena jarak yang terlalu jauh dari paroki yang satu dengan paroki yang lainnya.318

Berdasarkan kesaksian beberapa Romo Paroki yang berkarya antara tahun 1960-1980, Kursus Persiapan Perkawinan merupakan kesempatan yang baik untuk memberikan pembekalan dan menyampaikan ajaran-ajaran Gereja mengenai perkawinan kepada para calon keluarga baru yang siap untuk menikah.319 Pada waktu itu, kesempatan-kesempatan lain seperti diadakannya fokus pastoral untuk keluarga (Tahun Keluarga) seperti sekarang ini belum ada.

Oleh karena itu, kesempatan Kursus Persiapan Perkawinan sungguh dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyampaikan Ajaran Gereja tentang perkawinan Kristiani disertai dengan sharing pengalaman dan praktik pelaksanaannya oleh orang-orang yang sudah berpengalaman (Bapak-Ibu, dokter, bidan, perawat dan lain-lain).