• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELUARGA SEBAGAI UJUNG TOMBAK GEREJA

4.2. Pastoral tentang Keluarga

4.2.4. Strategi Pastoral Menjadikan Keluarga sebagai Ujung Tombak Gereja Agar keluarga-keluarga Kristiani dapat menjadi ujung tombak

4.2.4.9. Gerakan Keluarga Swasembada

Cita-cita Kardinal Darmojuwono untuk membangun Gereja yang mandiri atau Gereja swasembada dimulai dari keluarga. Hal ini tampak dari seringnya beliau mengatakan bahwa, “Gereja swasembada itu basisnya adalah keluarga swasembada”.356 Oleh karena itu, demi perwujudan Gereja swasembada, dibuatlah gerakan keluarga swasembada. Setiap keluarga diminta untuk

354 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1977, 10 Februari 1977

355 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1980, 31 Januari 1980

356 Berdasarkan wawancara dengan Rm. G. Utomo, tanggal 26 Maret 2010 di Pastoran Ganjuran

~ 166 ~

merencanakan dan mengelola pengeluaran dan pemasukannya, termasuk merencanakan hari depan dengan menabung dan ikut mengambil bagian dalam mencukupi kebutuhan Gereja, baik dalam hal tenaga maupun dana.

Untuk mendorong tercapainya keluarga swasembada ini, Keuskupan mendukung dibukanya lembaga-lembaga Gerejani yang melayani berbagai macam kursus keterampilan. Paling tidak, pada waktu itu ada 3 (tiga) lembaga yang mempunyai peranan penting, yaitu: KPTT (Kursus Pertanian Taman Tani) di Salatiga, PTPM (Pembina Tenaga Pengembangan Masyarakat) di Yogyakarta dan KSED (Kursus Sosial Ekonomi Desa) di Bandungan. Mereka memberikan kesempatan bagi umat Katolik, khususnya kaum muda untuk mendapatkan berbagai macam keterampilan hidup di bidang pertanian, sumber daya manusia, industri kecil dan pengelolaan ekonomi. Banyak umat, entah atas inisiatif sendiri atau diutus oleh Paroki mengikuti kursus-kursus yang diselenggarakan kemudian setelah selesai mereka berusaha mengembangkan dan menularkan keterampilan yang mereka peroleh di keluarga, wilayah/kring dan paroki masing-masing.357

Beberapa Paroki juga membuat kegiatan-kegiatan swasembada. Misalnya, di Paroki Promasan didirikan Yayasan Pendidikan Kesejahteraan Tani (YPKT) yang mengelola Sekolah Kemasyarakatan atau Sekolah Pembangunan yang berwawasan lingkungan dengan pelajaran ekstra berupa keterampilan sederhana dalam bidang pertanian, organisasi, koperasi, kor, dan drama.358 Di Paroki Boro, Pertenunan Santa Maria yang berdiri sejak tahun 1938 semakin dikembangkan

357 Berdasarkan wawancara dengan Rm. G. Utomo, tanggal 26 Maret 2010 di Pastoran Ganjuran dan Rm. M. Soegito, tanggal 9 Maret 2010 di Pastoran Bintaran

358 M. Soegito, “Kenangan akan Paroki Maria Lourdes Promasan dalam Rangka Peringatan Pesta Emas”, dalam Panitia Pesta Emas Gereja St. Maria Lourdes Promasan, Kenangan 50 tahun Gereja St. Maria Lourdes Paroki Promasan tahun 1990, 28.

~ 167 ~

dan ditambah gerakan-gerakan lain seperti memelihara ayam, memelihata kambing, menanam pisang dan pengembangan pertanian yang lain. 359

Selain melalui berbagai macam kegiatan di atas, paroki-paroki juga mendorong umat untuk membentuk kelompok simpan pinjam sehingga mereka mempunyai kebiasaan menabung dan terhindar dari cengkeraman lintah darat.360 Selain itu, mereka juga dilatih dan dibiasakan untuk memikirkan dan merencanakan pemenuhan kebutuhan di masa depan. Di beberapa paroki, kelompok-kelompok simpan pinjam ini berkembang menjadi CU (Credit Union) yang berjasa besar bagi pengelolaan ekonomi rumah tangga umat, bahkan tidak hanya yang beragama katolik tetapi juga masyarakat pada umumnya.

4.3. Rangkuman

Keluarga Kristiani adalah persekutuan hidup yang terkecil baik dalam Gereja maupun dalam masyarakat sehingga menjadi dasar bagi keduanya. Bagi Gereja, keluarga Kristiani merupakan satu-satunya tempat untuk melahirkan Umat Allah yang baru di sepanjang zaman (bdk. LG 11; AA 11). Keluarga Kristiani juga menjadi tempat yang utama untuk menyediakan tenaga-tenaga pastoral dalam Gereja, termasuk imam, bruder dan suster. Dengan demikian, keluarga-keluarga Kristiani mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan Gereja, tidak terkecuali dalam mewujudkan cita-cita Kardinal Darmojuwono untuk

359 Anton Sumarjana, “Tenun Boro: Jejak Karya para Misionaris” dalam Hidup, No.11 Tahun ke-64, 14 Maret 2010, 6-8; Wawancara dengan Rm. Ig. Jayasewaya, pada tanggal 11 Maret 2010 di Pastoran Nandan

360 Berdasarkan wawancara dengan Rm. Ig. Jayasewaya, tanggal 11 Maret 2010 di Pastoran Nandan; Rm. G. Utomo, tanggal 26 Maret 2010 di Pastoran Ganjuran; Rm. M. Soegito. tanggal 9 Maret 2010 di Pastoran Bintaran; Rm. E. Rusgiharta, tanggal 10 Maret 2010 di Pastoran Klaten.

~ 168 ~

membangun Gereja yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat. Oleh karena itu, kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa keluarga Kristiani adalah ujung tombak Gereja.

Peran keluarga Kristiani sebagai ujung tombak Gereja ini didasari oleh jati diri mereka sebagai Gereja kecil, yang oleh Kardinal Darmojuwono ditegaskan bahwa mereka bukan sekedar kelompok sosiologis dalam bentuknya yang paling kecil tetapi pada hakikatnya merupakan perwujudan dan penghayatan Kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat. Dalam konteks Keuskupan Agung Semarang, khususnya pada masa penggembalaan Kardinal Darmojuwono, wujud konkret Kerajaan Allah di dunia adalah kemandirian, semangat misioner dan keterlibatan Gereja dalam masyarakat. Sebab, melalui ketiga hal tersebut, Gereja sungguh-sungguh berusaha untuk menjadi tanda dan sarana kehadiran Allah yang menyelamatkan umat-Nya, baik umat yang menjadi anggota Gereja maupun umat manusia pada umumnya. Oleh karena itu, sesuai dengan hakikatnya sebagai perwujudan Kerajaan Allah di dunia, keluarga-keluarga Kristiani sangat diharapkan menjadi ujung tombak dalam membangun Gereja yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat tersebut.

Dalam rangka menjalankan perannya sebagai ujung tombak pembangunan Gereja yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat tersebut, keluarga-keluarga Kristiani mengemban tugas perutusan yang konkret, antara lain untuk membangun keluarga yang sehat, melahirkan dan mendidik anak secara manusiawi dan Kristiani serta membangun ekonomi rumahtangga secara Kristiani. Melalui pelaksanaan tugas perutusan tersebut, mereka berusaha untuk

~ 169 ~

merasakan, mengalami dan megejawantahkan kehadiran (Kerajaan) Allah yang penuh cinta kasih dalam memimpin, menyertai dan menyelamatkan manusia.

Sebab, melalui keluarga yang sehat baik secara jasmani maupun rohani terciptalah Gereja dan masyarakat yang sehat secara jasmani dan rohani pula; melalui pendidikan anak dalam keluarga, terjaminlah tenaga pastoral Gereja; dan melalui pengelolaan ekonomi rumah tangga secara Kristiani terpupuklah jiwa kemandirian dan semangat solidaritas dalam Gereja. Singkatnya, untuk membangun Gereja yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat dibutuhkan keluarga-keluarga Kristiani yang sehat, mendidik anak dengan baik dan mengelola ekonomi rumah tangga secara Kristiani.

Peran keluarga Kristiani sebagai ujung tombak dalam membangun Gereja yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat, juga tampak dari kenyataan bahwa: pertama, untuk mewujudkan Gereja mandiri dibutuhkan keterlibatan dari seluruh umat yang dalam banyak hal dikelola melalui keluarga-keluarga. Mereka yang terlibat aktif dalam hidup menggereja – entah bapak, ibu atau anak – berasal dari keluarga tertentu dan sedikit banyak ditentukan oleh situasi keluarga mereka. Kedua, untuk dapat melaksanakan tugas misioner, dibutuhkan tenaga-tenaga pastoral yang handal dan mereka itu disediakan oleh keluarga-keluarga yang mengarahkan dan merelakan anak-anaknya menjadi imam, bruder, suster.

Ketiga, untuk dapat melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat dengan segala persoalannya, dibutuhkan kaum awam karena memang kekhasan mereka adalah untuk urusan-urusan duniawi (AA 2). Dalam hal ini, sebagian terbesar dari

~ 170 ~

kaum awam adalah mereka yang hidup dalam keluarga, entah sebagai orangtua (suami dan istri), atau sebagai anak (anak-anak, remaja dan kaum muda). Maka, tugas-tugas Gereja di tengah masyarakat dan dunia yang menjadi tanggung jawab kaum awam, praktis menjadi tanggung jawab keluarga-keluarga juga.

Dalam melaksanakan perannya sebagai ujung tombak Gereja tersebut, ternyata keluarga-keluarga Kristiani harus berhadapan dengan aneka macam tantangan dan persoalan, baik yang datang dari situasi masyarakat maupun dari dalam keluarga-keluarga itu sendiri. Beberapa tantangan yang berasal dari masyarakat antara lain: perubahan dalam segala bidang kehidupan, semakin maraknya praktik poligami dan perceraian serta ledakan jumlah penduduk yang oleh Pemerintah Orde Baru diatasi dengan program Keluarga Berencana (KB).

Sementara itu, tantangan dan persoalan yang datang dari dalam keluarga-keluarga sendiri, antara lain: menurunnya cinta kasih, kesulitan dalam mendidik anak, kesulitan ekonomi dan kurangnya penghayatan iman dalam keluarga.

Berhadapan dengan aneka macam tantangan dan persoalan aktual di atas, Kardinal Darmojuwono bersama para Uskup Indonesia yang lain memberikan berbagai macam pedoman tentang hidup berkeluarga untuk dijadikan sebagai arah dan pegangan bagi keluarga-keluarga Kristiani. Selain itu, seluruh umat di Keuskupan Agung Semarang juga dilibatkan dalam usaha-usaha untuk membangun keluarga yang baik. Pertama-tama, setiap orang yang akan membangun keluarga dibantu untuk mempersiapkan diri melalui Kursus Persiapan Perkawinan dan penyelidikan kanonik. Kemudian, setelah mereka hidup sebagai keluarga, pendampingan tetap dilakukan, antara lain melalui

~ 171 ~

kunjungan keluarga dan Marriage Encounter. Mereka juga diberi berbagai macam tema tentang keluarga untuk dijadikan sebagai bahan diskusi, renungan dan pendalaman bersama pada tingkat wilayah/kring dengan harapan pemahaman dan penghayatan mereka mengenai hidup berkeluarga selalu ditingkatkan dan disegarkan. Berkaitan dengan pendidikan anak, mereka juga dibantu dengan Sekolah Minggu dan pelajaran agama di sekolah-sekolah Katolik.

Demikianlah gagasan atau pemikiran-pemikiran Kardinal Darmojuwono untuk mewujudkan keluarga-keluarga Kristiani sebagai Gereja kecil sehingga mereka tidak sekedar menjadi kelompok sosiologis dalam bentuknya yang terkecil, tetapi sungguh-sungguh menjadi perwujudan dan penghayatan Kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat. Dalam konteks Keuskupan Agung Semarang, Kerajaan Allah yang hendak dibangun adalah perwujudan Gereja yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat. Sebab, melalui kemandirian, kegiatan misioner dan keterlibatan dalam masyarakat ini, Gereja dapat sungguh-sungguh menghadirkan Allah yang meraja (menyertai, memimpin dan menyelamatkan) umat-Nya. Dalam konteks inilah, keluarga-keluarga Kristiani dipanggil untuk menjadi ujung tombak bagi pembangunan Umat Allah yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat demi semakin tegaknya Kerajaan Allah di dunia ini.

~ 172 ~ BAB V