• Tidak ada hasil yang ditemukan

YANG MANDIRI, MISIONER DAN TERLIBAT DALAM MASYARAKAT

3.1. Gereja sebagai Umat Allah

Pada awal masa penggembalaannya, Kardinal Darmojuwono menyatakan sebuah harapan agar umat katolik dapat mewujudkan masyarakat katolik.

“...Sekarang, usaha kita bersama adalah supaya umat katolik bisa mewujudkan masyarakat katolik. Masyarakat itu diikat oleh tujuan bersama, yang dirasakan sebagai kebutuhan dan juga oleh sarana-sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi, dalam masyarakat, orang tidak hanya terlalu memikirkan persoon/dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan kepentingan umum.”58

58 Darmojuwono, “Pangadjeng-adjeng kula”, dalam Praba, 5 April 1964, 3

~ 49 ~

Melalui pernyataan tersebut, rupanya Kardinal Darmojuwono berharap agar Gereja tidak hanya menjadi kumpulan orang-orang katolik tetapi sungguh merupakan masyarakat katolik. Dalam masyarakat katolik itu, masing-masing anggotanya diikat oleh tujuan yang sama sehingga mereka juga berpikir untuk kepentingan bersama. Masing-masing anggota menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Dengan demikian, semangat berkorban atau berderma darah dan harta benda demi pembangunan Gereja terwujud secara nyata.

Ada pun yang menjadi daya penyatu dari kebersamaan masyarakat katolik itu adalah “kurban salib Kristus di altar dan persatuan kudus (komuni suci)”.59 Jadi, masyarakat katolik itu diikat oleh Yesus Kristus sendiri yang secara sakramental hadir dalam Perayaan Ekaristi dan disambut dalam komuni suci (bdk.

1 Kor 10:17). Oleh karena itu, Kardinal Darmojuwono menyatakan bahwa kebijakan Konsili Vatikan II yang memperkenankan penggunaan bahasa pribumi dalam Perayaan Ekaristi sangat berperan dalam membangun masyarakat katolik.

Sebab, dengan menggunakan bahasa setempat, umat dapat terlibat dan menangkap makna kata-kata yang diucapkan dengan baik sehingga terwujudlah kebersamaan karena adanya kesepahaman dalam bahasa. Oleh karena itu, beliau mengharapkan,

“... karena bersama-sama aktif dalam perayaan tadi, perasaan sebagai masyarakat, bersatu dengan saudara lainnya yang bersama-sama mengucapkan kata-kata liturgi yang dimengerti menjadi semakin merasuk ke dalam hati. Bersatu dengan Kristus dan bersatu dengan saudara semuanya. Jadi, tidak hanya berkumpulnya orang katolik tetapi masyarakat katolik”.60

59 Darmojuwono, “Pangadjeng-adjeng kula”, 3

60 Darmojuwono, “Pangadjeng-adjeng kula”, 3

~ 50 ~

Dalam perkembangan selanjutnya, istilah masyarakat Katolik jarang sekali digunakan. Bahkan, dalam Surat-surat Gembalanya, Kardinal Darmojuwono tidak pernah sama sekali menggunakan istilah tersebut. Istilah yang selalu dipakai adalah Umat Allah. Kiranya, kedua istilah tersebut memang mempunyai makna yang sama. Sebab, istilah masyarakat katolik menunjuk pada umat katolik dan umat katolik itu tidak lain adalah Umat Allah. Selain itu, keduanya juga mengandung unsur yang sama, yaitu menekankan bahwa Gereja itu bukan semata-mata berkumpulnya orang-orang katolik tetapi merupakan communio atau persekutuan orang-orang yang beriman kepada Kristus dan menghayati baik persekutuan dengan Kristus maupun dengan sesama.

3.1.1. Konteks Ekklesiologi Umat Allah

Konteks terdekat dari ekklesiologi Umat Allah yang dikembangkan oleh Kardinal Darmojuwono adalah Konsili Vatikan II yang salah satu hasilnya adalah Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium). Dalam konstitusi tersebut, Gereja disebut sebagai “populus Dei – Umat Allah yang merupakan kelanjutan dari bangsa terpilih dalam Perjanjian Lama”.61 Gagasan mengenai Gereja sebagai Umat Allah inilah yang kemudian diperkenalkan dan diterapkan oleh Kardinal Darmojuwono dalam menjalankan tugasnya sebagai Uskup Agung Semarang.

Dalam tulisannya mengenai “Putusan Penting” Konsili Vatikan II, Kardinal Darmojuwono juga menyatakan bahwa, “Umat Allah tersebut

61 Darmojuwono, “Putusan Penting”, dalam Praba, 15 Februari 1965, 2

~ 51 ~

merupakan kesatuan, bisa disebut juga keluarga Umat Allah”.62 Gagasan ini sebenarnya tidak murni berasal dari Kardinal Darmojuwono sendiri tetapi diambil dari gagasan tentang “familia Dei” yang diusulkan oleh Gereja-gereja Timur dalam Konsili Vatikan II.63 Bagi Gereja-gereja Timur, istilah ini memang tepat karena mereka masih hidup dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil dalam suatu bangsa atau suku. Situasi ini kiranya juga cocok dengan konteks Indonesia di mana Gereja hidup dalam kelompok-kelompok kecil (minoritas) di tengah masyarakat yang beranekaragam suku dan agama, termasuk agama-agama asli.

Selain itu, penggunaan istilah keluarga Umat Allah ini kiranya juga terkait dengan konteks masyarakat Jawa, di mana Keuskupan Agung Semarang berada.

Bagi masyarakat Jawa, istilah keluarga tidak dibatasi pada hubungan darah yang terdiri dari bapak, ibu dan anak. Istilah keluarga sering dipakai untuk menyebut suatu hubungan dan ikatan persaudaraan yang lebih luas. Siapa pun yang masuk dalam suatu kelompok dengan ikatan tertentu yang sama, lazim disebut dengan istilah keluarga. Oleh karena itu, Gereja pun dapat disebut sebagai keluarga Umat Allah sebab setiap orang yang menjadi anggotanya mempunyai ikatan yang sama, yaitu iman akan Yesus Kristus.64

3.1.2. Pengertian Gereja sebagai Umat Allah

Pengertian mengenai Gereja sebagai Umat Allah terkait erat dengan istilah Qahal dalam Perjanjian Lama. Kata Ibrani Qahal ini menunjuk pada perkumpulan

62 Darmojuwono, “Putusan Penting”, 2

63 Prof. Dr. E. Schillebeeckx, “Masa Sehabis Konsili” dalam Praba, 25 Juni 1966, 9

64 Ikatan dengan Kristus itu dimeteraikan melalui perjanjian dalam darah-Nya (1 Kor 11:25; bdk.

LG 9) sehingga Umat Allah sebenarnya telah diangkat menjadi saudara “sedarah” dalam Kristus.

~ 52 ~

orang-orang beriman yang dipanggil oleh Allah untuk menjadi umat-Nya.65 Qahal adalah Umat Allah („am) yang dipanggil sejak awal mula, yaitu sejak Abel (LG 2), tetapi teristimewa sejak Abraham (Kej 12:1 – 9). Keturunan Abraham kemudian melahirkan umat Israel yang dipanggil dan dipilih Allah menjadi umat-Nya (Kel 6:6; Ul 27:9; LG 9). Pilihan Allah atas bangsa Israel ini merupakan persiapan bagi Gereja, yaitu Umat Allah yang baru, yang dipanggil dari segala bangsa (LG 7). Maka, dapat dikatakan bahwa Israel adalah Umat Allah yang lama dan Gereja adalah Umat Allah yang baru (Kis 15:14; 1Ptr 2:9-10).

Gereja sebagai Umat Allah yang baru dibentuk oleh Allah sendiri melalui Yesus Kristus, Putera-Nya sebagaimana dinyatakan dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja,

“Di segala zaman dan pada semua bangsa Allah berkenan akan siapa saja yang menyegani-Nya dan mengamalkan kebenaran. ... Ia hendak membentuk mereka menjadi satu umat, yang mengakui-Nya dalam kebenaran dan mengabdi kepada-Nya dengan suci. Maka, Ia memilih bangsa Israel menjadi umat-Nya, mengadakan perjanjian dengan mereka, dan mendidik mereka langkah demi langkah, dengan menampakkan diri-Nya serta rencana kehendak-diri-Nya dalam sejarah, dan dengan menguduskan mereka bagi diri-Nya. Tetapi, itu semua telah terjadi untuk menyiapkan dan melambangkan perjanjian baru dan sempurna, yang akan diadakan dalam Kristus, ... . Dari bangsa Yahudi maupun kaum kafir Ia memanggil suatu bangsa, yang akan bersatu padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh, dan akan menjadi Umat Allah yang baru. Sebab mereka yang beriman kepada Kristus, ... dulu bukan umat, tetapi sekarang Umat Allah (LG 9).”

3.1.3. Anggota Keluarga Umat Allah

Dalam tulisannya mengenai “Putusan Penting” Konsili Vatikan II, Kardinal Darmojuwono juga menyatakan bahwa,

65 J.-M.R. Tillard, Church of Churches: The Ecclesiology of Communion, The Litrugical Press, Collegevile, Minnesota, 1987, 84

~ 53 ~

“Di dalam Keluarga Umat Allah tersebut ada hirarkinya, ... Akan tetapi, keluarga Umat Allah (Gereja Katolik) tidak hanya terdiri dari hierarki saja, tetapi juga ada awamnya, yang malah merupakan golongan mayoritas. ...

Selain itu, masih ada golongan lain lagi, yang diberi tugas berbeda dengan hirarki dan juga berbeda tugasnya dengan awam, yaitu para biarawan-biarawati.”66

Jadi, anggota Gereja terdiri dari tiga kelompok besar, yaitu hirarki (uskup, imam dan diakon), para biawaran-biarawati dan kaum awam. Dalam konteks Keuskupan Agung Semarang, beliau menyatakan bahwa

“Keuskupan Agung Semarang, seperti bagian dari Gereja di tempat lain, terdiri dari Uskup Agung yang menjadi pramugari dan pemimpinnya, didampingi oleh para imam, bruder dan suster. Akhirnya seluruh kaum awam yang merupakan sebagian terbesar dari Umat Allah Keuskupan Agung Semarang. Itu semua merupakan satu tubuh, tidak boleh dipisah-pisah.”67

Pernyataan Kardinal Darmojuwono ini menegaskan bahwa ekklesiologi Umat Allah tidak lagi memberi tekanan pada pemimpin Gereja atau hirarki.68 Dalam ekklesiologi tersebut, tekanan justru diberikan kepada kesatuan dan kesamaan martabat seluruh anggota Umat Allah. Ketiga golongan tersebut merupakan satu-kesatuan yang tidak boleh dipisah-pisahkan agar Gereja dapat melaksanakan tugasnya dan mencapai tujuannya dengan baik. Setiap anggota Gereja, apa pun golongannya, mempunyai martabat dan perutusan yang sama sebagai Umat Allah (bdk. LG 32). Akan tetapi, mereka melaksanakan tugas perutusannya tersebut secara berbeda-beda sesuai dengan tempat, peran dan fungsinya yang khas. Jadi, antara hirarki, kaum awam dan biarawan-biarawati mempunyai kesamaan sekaligus perbedaan. Dengan demikian, di dalam Gereja terjadi kesatuan dalam kesamaan dan perbedaan sekaligus.

66 Darmojuwono, “Putusan Penting”, 2

67 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1964, tertanggal 25 Januari 1964

68 Darmojuwono, “Putusan Penting”, 2

~ 54 ~

Para uskup, imam dan diakon dipanggil untuk mengambil bagian dalam tri tugas Kristus untuk menguduskan, memimpin, dan mengajar seluruh umat beriman dengan cara menjadi pelayan bagi mereka. Sementara itu, kaum awam adalah rekan kerja hirarki yang dipanggil untuk mewujudkan perutusan Gereja di dunia sekular. Mereka dipanggil untuk menghadirkan Gereja sebagai sakramen keselamatan bagi dunia melalui kehidupannya di tengah masyarakat dan urusan-urusan duniawi (bdk. AA 2). Mereka tidak meninggalkan tempat, suasana, dan cara hidup dalam masyarakat, tetapi justru menjadikannya sebagai medan untuk menghayati hidup sebagai anak-anak Allah.69 Sementara itu, para religius dipanggil untuk hidup menurut nasihat Injil dan mengabdikan diri seutuhnya kepada Allah serta membaktikan diri kepada kesejahteraan Gereja melalui hidup rohani mereka (bdk. LG 44).

Dengan adanya kesamaan martabat dan perutusan sebagai Umat Allah – kendati cara pelaksanaannya berbeda-beda sesuai tempat, peran dan fungsi masing-masing – baik hirarki, kaum awam, maupun kaum religius bersama-sama mewujudkan satu keluarga Umat Allah. Dengan demikian, Gereja sebagai keluarga Umat Allah “tidak hanya berhenti pada slogan, tetapi sungguh terwujudkan dalam keterlibatan masing-masing anggotanya”.70

3.1.4. Dasar Kesatuan Umat Allah

Dalam harapannya yang disampaikan pada awal masa penggembalaanya, Kardinal Darmojuwono mengungkapkan bahwa Umat Allah, “...sudah diberi daya

69 Darmojuwono, “Paring Keterangan bab Awam” dalam Praba, 15 Maret 1964, 3

70 Darmojuwono, Surat Gembala Berhubung dengan Tahun Suci 1975, tertanggal 5 Juni 1973

~ 55 ~

penyatu sebagai dasar persekutuan, yaitu kurban salib Kristus di altar dan komuni suci”.71 Maka, dapat dikatakan bahwa pengikat kesatuan Gereja sebagai keluarga Umat Allah adalah Ekaristi, yaitu perayaan iman akan wafat dan kebangkitan Kristus. Pada kesempatan lain, yaitu dalam Surat Gembala Puasa tahun 1977, beliau menyatakan juga bahwa dasar kesatuan Umat Allah adalah iman atau kepercayaan kepada Kristus, Sang Kepala Gereja/Umat Allah.72 Kedua pernyataan tersebut bukanlah dua hal yang berlawanan tetapi merupakan satu-kesatuan yang justru saling melengkapi. Artinya, keluarga Umat Allah disatukan oleh iman atau kepercayaan kepada Kristus yang kehadiran-Nya dikenangkan, dialami dan dirasakan secara nyata dalam perayaan Ekaristi.

Berkaitan dengan makna Ekaristi sebagai daya penyatu keluarga Umat Allah, Kardinal Darmojuwono menegaskan bahwa Ekaristi memang dimaksudkan oleh Kristus sebagai pertemuan cinta kasih antara manusia dengan-Nya dan juga dengan sesama. Dalam perayaan Ekaristi, manusia ditempatkan di tengah-tengah saudara-saudaranya, yaitu isi keluarga, tetangga, dan orang lain yang tidak dikenal.73 Dengan demikian, Ekaristi mengikat semua orang yang mengimani Kristus untuk bersatu dengan Dia dan sesama yang beranekaragam menjadi satu keluarga Umat Allah.

Mengingat bahwa Ekaristi merupakan pengikat kesatuan keluarga Umat Allah, Kardinal Darmojuwono menekankan pentingnya Ekaristi bagi hidup umat beriman. Beliau mengajak seluruh umat beriman untuk menghayati hidup bersama dengan Allah yang sudah diterima melalui Sakramen Baptis dengan merayakan

71 Darmojuwono, “Pangadjeng-adjeng kula”, dalam Praba, 5 April 1964, 3

72 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1977, tertanggal 10 Februari 1977

73 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1972, tertanggal 6 Februari 1972

~ 56 ~

Ekaristi Kudus secara bersama-sama, khususnya pada hari Minggu. Sebab,

“Perayaan Ekaristi Kudus pada hari Minggu dengan ibadat Sabda-Nya serta perayaan Korban-Nya merupakan inti dari hidup kita bersama Allah.”74 Beliau juga menegaskan bahwa Ekaristi adalah jantung hati dari doa bersama, di mana Yesus hadir secara sakramental dan istimewa dibanding dengan kehadiran-Nya dalam doa bersama yang lain.75