• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTEKS PENGGEMBALAAN KARDINAL DARMOJUWONO

2.1. Situasi Intern Gerejani

2.1.4. Tahun Suci 1975

Pada tanggal 9 Mei 1973, Bapa Suci Paus Paulus VI mengumumkan bahwa tahun 1975 dijadikan sebagai Tahun Suci atau tahun Yubile.38 Berkaitan dengan Tahun Suci ini, Kardinal Darmojuwono memberi keterangan bahwa,

“Tahun Suci 1975 ini dirayakan bertepatan dengan ulang tahun kesepuluh selesainya Konsili Vatikan II yang mengamanatkan pembaruan seluruh Gereja. Titik pertemuan inilah yang agaknya mendorong Sri Paus untuk menjadikan Tahun Suci, yaitu gerakan pembaharuan. ... Sebagai sebuah segi pembaharuan dikemukakan tema: rekonsiliasi”.39

2.1.4.1. Sejarah dan Makna Tahun Suci

Tahun Suci diadakan untuk pertama kalinya pada tahun 1300 oleh Paus Bonifacius VIII.40 Akan tetapi, landasan diadakannya Tahun Suci sebenarnya berasal dari tradisi Tahun Yubile dalam Perjanjian Lama (lih. Im 25). Bagi umat

37 Felix Wilfred, “Federasi Konferensi-konferensi Para Uskup Asia (FABC): Orientasi, Tantangan-tantangan, Dampak, Pengaruh”, 11

38 Paul VI, “Holy Year for 1975 – Essential Characteristic of the Holy Year”, dalam L’Osservatore Romano, May 17, 1973

39 Darmojuwono, Surat Gembala Berhubung Tahun Suci 1975, tertanggal 5 Juni 1973

40 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1974, tertanggal 11 Februari 1974

~ 35 ~

Allah Perjanjian Lama, Tahun Yubile berarti tahun di waktu orang tidak menanam dan menuai; di mana hak milik dikembalikan kepada yang berwenang; budak belian dibebaskan dan hutang-piutang dilebur atau sekurang-kurangnya ditunda pengembaliannya. Dalam konteks sosialnya, Tahun Yubile dimaksudkan untuk menggalang keseimbangan masyarakat dengan mencegah penumpukan kekayaan pada beberapa kelompok kecil dan menghindari kelahiran seorang putera manusia tanpa jaminan sesuatupun, sehingga tidak terjadi pengelompokan kaum kaya berhadapan dengan kaum miskin, yang akan mengakibatkan penindasan. Tahun Yubile juga dimaksudkan untuk memulihkan manusia kembali kepada martabatnya dan dengan demikian meluruskan apa yang keliru karena kelemahan manusia dalam menghayati hidupnya.

Tahun Suci yang dimulai oleh Paus Bonifacius VIII merupakan gerakan yang sama sekali bersifat rohani, yaitu berupa ziarah dan laku tapa ke makan St.

Petrus dan Paulus di Roma. Kemudian, pada tahun 1500 ditambah juga ke beberapa Basilik yang ditentukan. Ziarah laku tapa tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan pahala rohani berupa indulgensi, baik bagi umat beriman yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dan berada di api penyucian.

Indulgensi ini diberikan berkat jasa-saja Kristus yang tanpa batas dan keikutsertaan para kudus dalam sengsara dan kemuliaan-Nya.41

Pada tahun 1967, Paus Paulus VI mengeluarkan Konstitusi Apostolik

“Indulgentiarum Doctrina”, yang antara lain menekankan bahwa yang pertama-tama membuahkan indulgensi adalah usaha konkret pribadi untuk bertobat dan

41 Gerald O‟Collins, SJ., dan Edward G. Farrugia, SJ., Kamus Teologi, Yogyakarta: Kanisius 1996, 115

~ 36 ~

memperbaiki hidup menurut cita-cita Injil. Sedangkan ziarah, upacara bersama dan doa-doa tertentu hanya merupakan ungkapan dari pertobatan yang harus dilakukan tersebut. Dengan demikian, indulgensi merupakan solidaritas Gereja sedemikian rupa sehingga jasa-jasa Persekutuan para Kudus yang tergabung dengan jasa-jasa Yesus Kritus diterapkan pada usaha tobat perorangan dalam bentuk pembebasan dari hukuman dosa.42

2.1.4.2. Tema Sentral Tahun Suci 1975: Pembaruan dan Rekonsiliasi

Tema sentral Tahun Suci 1975 adalah pembaruan dan rekonsiliasi, segaris dengan amanat pembaruan Konsili Vatikan II (lih. LG 8, 9, 15; GS 77; AG 8).

Tema ini didasari oleh refleksi iman Gereja bahwa pembaruan adalah mahkota dari karya penebusan Allah dalam diri Kristus, sebagaimana disabdakan oleh Kristus sendiri “Lihatlah, Aku membuat semuanya baru.”43 Maka, dalam peziarahannya Gereja selalu memperbarui diri dalam bimbingan Roh Kudus (bdk.

LG 9) dan tema Tahun Suci 1975 ini memberikan kesempatan dan semangat pembaruan yang khusus bagi segenap anggota Gereja di mana pun berada.

Pembaruan yang digariskan dalam Tahun Suci 1975, pertama-tama merupakan pembaruan batin. Akan tetapi, pembaruan batin ini harus tampak dalam perbuatan lahiriah sehingga Tahun Suci juga menegaskan pentingnya pembaruan dalam praksis hidup, yaitu rekonsiliasi (pemulihan, kerukunan, pendamaian). Rekonsiliasi ini didasari oleh kesadaran bahwa hidup manusia

42 Jacques Dupuis (ed.), The Christian Faith, Bangalore: Theological Publications in India 1996, 660 – 663

43 Darmojuwono, Tahun Suci: Mengumandangkan kembali Amanat Pembaharuan Kosili Vatikan II, tertanggal 8 Desember 1973

~ 37 ~

mengalami keretakan, ketidakserasian dan ketidakselarasan sebagai akibat dosa sehingga mereka tidak dapat menikmati keharmonisan dengan Allah dan sesama.

Oleh karena itu, manusia perlu menciptakan keharmonisan kembali dengan Tuhan dan sesama melalui rekonsiliasi baik dalam persekutuan Gereja sendiri, dalam masyarakat, dalam hubungan antarbangsa, dalam ekumenisme maupun dalam mengusahakan perdamaian dunia.44

Dengan tema pembaruan dan rekonsiliasi tersebut, Tahun Suci merupakan kesempatan memperbarui orientasi dan nilai-nilai hidup untuk diarahkan oleh dan kepada Kristus dengan lebih mementingkan kehidupan batin-rohani daripada manifestasi lahiriah. Akan tetapi, kehidupan batin seseorang tersebut senantiasa mendorong perbuatan yang serasi untuk mengarahkan perhatian pada dunia yang menjadi medan hidupnya. Maka, semangat pembaruan dan rekonsiliasi juga harus diwujudkan dalam karya kebajikan, ulah tapa dan cinta kasih yang juga menjadi syarat untuk mendapatkan indulgensi sebagai tanda kerahiman Allah.45

2.1.4.3. Peran Gereja Lokal

Jika Tahun-tahun Suci sebelumnya dipusatkan di Roma, di mana makam St. Petrus dan Paulus serta basilik-basilik yang lain berada, Tahun Suci tahun 1975 mengetengahkan peran Gereja-gereja lokal. Artinya, pembaruan dan rekonsiliasi dimulai dari Gereja setempat. Syarat-syarat untuk memperoleh pahala rohani diserahkan kepada kebijakan Gereja lokal agar seluruh Gereja dapat langsung memperoleh manfaat dari kesempatan pembaruan dan rekonsiliasi ini.

44 Paul VI, “Holy Year for 1975 – Essential Characteristic of the Holy Year”

45 Paul VI, “Holy Year for 1975 – Essential Characteristic of the Holy Year”

~ 38 ~

Dengan demikian, tidak terjadi kesan bahwa Tahun Suci hanya diperuntukkan bagi mereka yang beruntung saja, yaitu yang mampu melakukan ziarah ke makam St. Petrus dan Paulus atau basilik-basilik lain di Roma.46

Mengingat peran sentral Gereja lokal dalam pelaksaan Tahun Suci 1975 ini, maka para Uskup mempunyai tanggung jawab untuk mengumumkan adanya Tahun Suci kepada seluruh umat di keuskupannya sekaligus memberikan keterangan-keterangan secukupnya mengenai maksud dan tujuannya.47 Selain itu, para Uskup juga diminta untuk mempersiapkan umatnya secara rohani guna menyambut perayaan Tahun Suci, menyelenggarakan perayaan liturgi yang memupuk semangat doa bersama serta ambil bagian dalam Tahun Suci, memilih dan menetapkan gereja yang dapat menjadi tempat untuk memperoleh indulgensi, dan mengadakan kegiatan-kegiatan lain serta menentukan ketentuan-ketentuan praktis bagi pelaksanaan Tahun Suci.48