• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan: Ekklesiologi Kardinal Darmojuwono

PENUTUP: KESIMPULAN DAN USULAN PASTORAL

5.1. Kesimpulan: Ekklesiologi Kardinal Darmojuwono

Gereja adalah persekutuan (communio) Umat Allah yang kelihatan sekaligus rohani. Di dunia ini, Gereja hadir sebagai persekutuan yang kelihatan, disusun dan diatur dalam bentuk serikat (bdk. LG 8 dan GS 40). Namun, serikat tersebut tidak hanya merupakan kelompok sosial saja tetapi sekaligus merupakan

~ 173 ~

persekutuan rohani yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi. Oleh karena itu, realitas Gereja tidak boleh dipandang hanya sebagai kelompok sosial atau persekutuan rohani saja, juga tidak boleh dipandang sebagai dua realitas yang terpisah; melainkan sebagai satu kenyataan yang kompleks dan terwujud karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi (bdk. LG 8). Gereja yang berada di dunia merupakan persekutuan umat Allah yang hadir di dunia, hidup bersamanya, dan bertindak di dalamnya sebab para anggotanya “terhimpun dari orang-orang yang termasuk warga masyarakat dunia” (GS 40). Maka, “Gereja tidaklah mengawang di udara. Tetapi hidup dalam masyarakat konkret. Kini dan di sini.”361

Gereja sebagai Umat Allah “merupakan kelanjutan dari bangsa terpilih dalam Perjanjian Lama”.362 Hal ini dinyatakan dengan amat jelas dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen Gentium artikel 11,

“Di segala zaman dan pada semua bangsa Allah berkenan akan siapa saja yang menyegani-Nya dan mengamalkan kebenaran. ... Ia hendak membentuk mereka menjadi satu umat, yang mengakui-Nya dalam kebenaran dan mengabdi kepada-Nya dengan suci. Maka, Ia memilih bangsa Israel menjadi umat-Nya, mengadakan perjanjian dengan mereka, dan mendidik mereka langkah demi langkah, dengan menampakkan diri-Nya serta rencana kehendak-diri-Nya dalam sejarah, dan dengan menguduskan mereka bagi diri-Nya. Tetapi, itu semua telah terjadi untuk menyiapkan dan melambangkan perjanjian baru dan sempurna, yang akan diadakan dalam Kristus, ... . Dari bangsa Yahudi maupun kaum kafir Ia memanggil suatu bangsa, yang akan bersatu padu bukan menurut daging, melainkan dalam Roh, dan akan menjadi Umat Allah yang baru. Sebab mereka yang beriman kepada Kristus, ... dulu bukan umat, tetapi sekarang Umat Allah (LG 9).”

Mengingat bahwa Gereja itu terhimpun dari orang-orang yang termasuk warga masyarakat dunia, maka Gereja tampil sebagai masyarakat katolik di mana

361 Darmojuwono, Tahun Suci: Mengumandangkan kembali Amanat Pemhabaruan Konsili Vatikan II, tertanggal 8 Desember 1973

362 Darmojuwono, “Putusan Penting”, 2

~ 174 ~

masing-masing anggotanya menghayati persekutuan dengan Kristus dan sesama.

Persekutuan ini terungkap dan terlaksana dengan paling jelas dalam Perayaan Ekaristi, di mana Yesus Kristus sendiri secara sakramental hadir dan disambut dalam komuni suci.363 Maka, dalam Perayaan Ekaristi itulah, Umat Allah menghayati kesatuannya dengan Kristus dan sesama sehingga terbentuklah satu Tubuh Mistik Kristus, yakni Gereja (bdk. LG 7; 1 Kor 10:17). Kristus tampil sebagai pemersatu dan pemimpin Umat Allah itu karena Ia sendirilah yang telah

“mengumpulkan saudara-saudara-Nya dari segala bangsa dan dengan mengaruniakan Roh-Nya, Ia secara gaib membentuk mereka menjadi Tubuh-Nya”

(LG 7).

Sebagaimana sebuah masyarakat itu terdiri dari banyak anggota dan golongan, Gereja Umat Allah pun terdiri dari banyak anggota dan golongan.

“Di dalam Keluarga Umat Allah tersebut ada hirarkinya, ... Akan tetapi, keluarga Umat Allah (Gereja Katolik) tidak hanya terdiri dari hierarki saja, tetapi juga ada awamnya, yang malah merupakan golongan mayoritas. ...

Selain itu, masih ada golongan lain lagi, yang diberi tugas berbeda dengan hirarki dan juga berbeda tugasnya dengan awam, yaitu para biarawan-biarawati.”364

Anggota Gereja terdiri dari tiga kelompok besar, yaitu hirarki (uskup, imam dan diakon), para biawaran-biarawati dan kaum awam. Dalam konteks Keuskupan Agung Semarang, hal ini berarti bahwa

“Keuskupan Agung Semarang, seperti bagian dari Gereja di tempat lain, terdiri dari Uskup Agung yang menjadi pramugari dan pemimpinnya, didampingi oleh para imam, bruder dan suster. Akhirnya seluruh kaum awam yang merupakan sebagian terbesar dari Umat Allah Keuskupan Agung Semarang. Itu semua merupakan satu tubuh, tidak bisa dipisah-pisah.”365

363 Darmojuwono, “Pangadjeng-adjeng kula”, 3

364 Darmojuwono, “Putusan Penting”, 2

365 Darmojuwono, Surat Gembala Puasa 1964, tertanggal 25 Januari 1964

~ 175 ~

Meskipun Gereja terdiri dari banyak anggota yang mempunyai peran dan fungsi atau tugas berbeda-beda, mereka mempunyai martabat dan perutusan yang sama sebagai Umat Allah (bdk. LG 32).

Gereja yang berada di dunia ini terdiri dari orang-orang yang konkret dan tinggal di tempat tertentu. Oleh karena itu, Gereja Umat Allah yang berada di dunia ini tidak mengawang di udara tetapi hidup di tengah-tengah masyarakat yang konkret. Maka, Kardinal Darmojuwono berusaha untuk menghadirkan Gereja di Keuskupan Agung Semarang secara kontekstual, sesuai dengan situasi aktual pada waktu itu (1964-1981). Beliau berusaha untuk membangun Keuskupan Agung Semarang sebagai Umat Allah yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat.

Gagasan tentang Gereja Umat Allah mempunyai konteksnya pada peristiwa dan hasil Konsili Vatikan II sebagai Konsili ekumenis tentang Gereja.

Sementara itu, gagasan tentang Gereja mandiri terkait dengan kenyataan bahwa Keuskupan Agung Semarang belum lama mempunyai hirarki sendiri dan baru saja dinyatakan mandiri sehingga kemandirian itu perlu semakin diperkokoh. Gagasan tentang Gereja misioner lahir dari perjumpaan antar para Uskup yang membuka realitas bahwa banyak Uskup kekurangan tenaga pastoral sehingga lahirlah semangat solidaritas antar gembala. Sedangkan gagasan tentang Gereja yang terlibat dalam masyarakat lahir dari realitas bahwa Gereja hidup di tengah-tengah masyarakat yang sedang mengalami persoalan kemiskinan dan penderitaan tetapi juga sedang bergeliat untuk membangun sehingga Gereja terpanggil untuk mengambil bagian di dalamnya.

~ 176 ~

Untuk mewujudkan Gereja sebagai Umat Allah yang mandiri, harus ada dua gerak sekaligus, yaitu gerak Gereja mengumat dan gerak umat menggereja.

Artinya, Gereja harus sungguh-sungguh menjadi milik dan tanggungjawab umat sehingga umat harus terlibat dalam pembangunan Gereja, baik materiil maupun spiritual, melalui sumbangan yang berupa pemikiran, tenaga, dan dana. Umat sendiri harus tahu apa kebutuhannya kemudian bersama-sama merencanakan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya itu sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

Kemandirian Gereja yang membutuhkan keterlibatan seluruh umat secara mutlak ini, tidak hanya berhenti pada kemandirian dalam arti swasembada untuk mencukupi kebutuhan sendiri tetapi juga diperluas dengan gerak keluar untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Sebab, hanya melalui kesediaan berbagi ini, Gereja dapat sungguh-sungguh melaksanakan tugas perutusannya sebagai sakramen keselamatan universal bagi semua orang (bdk. AG 1, LG 48).

Dalam lingkup internal Gereja Katolik, kerelaan berbagi ini diwujudkan dengan semangat misioner, yaitu kerelaan untuk memberi bantuan tenaga pastoral bagi keuskupan-keuskupan lain yang berkekurangan. Dalam lingkup eksternal, kerelaan berbagi ini diwujudkan dalam berbagai bentuk solidaritas dan keterlibatan dalam masyarakat.

Bertolak dari uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan secara ringkas bahwa intisari dari ekklesiologi Kardinal Darmojuwono adalah Gereja sebagai Umat Allah yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat. Dalam ekklesiologi ini tampaklah suatu gambaran konkret mengenai hakikat dan

~ 177 ~

perutusan Gereja di dunia ini. Gereja adalah persekutuan Umat Allah yang diutus untuk mewartakan karya keselamatan Allah kepada semua orang dengan cara menjadikan persekutuan itu sebagai persekutuan yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat. Sebab, melalui kemandiriannya itu, Gereja Keuskupan Agung Semarang sungguh-sungguh melibatkan dan memberdayakan umatnya sekaligus memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, baik kebutuhan rohani maupun jasmani, sehingga kehadiran Gereja mempunyai makna yang dapat dirasakan dan dialami oleh umatnya sendiri. Sementara itu, melalui kegiatan misioner dan keterlibatan dalam masyarakat, kehadiran Gereja Keuskupan Agung Semarang menjadi semakin bermakna bagi umat katolik di keuskupan lain dan juga bagi masyarakat setempat. Dengan demikian, melalui kemandirian, kegiatan misioner dan keterlibatan dalam masyarakat tersebut, kehadiran Gereja sungguh dirasakan dan dialami sakramen keselamatan Allah bagi semua orang.

Untuk membangun Gereja Keuskupan Agung Semarang sebagai Umat Allah yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat, dibutuhkan pelaku yang mempunyai peranan kunci dalam arti yang pertama dan terutama, yaitu keluarga-keluarga Kristiani. Sebab, keluarga adalah kelompok terkecil baik dalam Gereja maupun masyarakat sehingga menjadi dasar bagi keduanya. Dalam lingkup Gerejawi, keluarga menjadi dasar terbentuknya lingkungan, wilayah, paroki, keuskupan dan akhirnya Gereja semesta. Sementara itu, dalam lingkup masyarakat, keluarga Kristiani bersama dengan keluarga-keluarga yang lain menjadi dasar terbentuknya kelompok RT, RW, dusun, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, propinsi dan akhirnya negara. Dengan demikian,

keluarga-~ 178 ~

keluarga Kristiani merupakan medan yang paling efektif di mana iman atau aspirasi Kristiani dihayati, dicari dan dikembangkan, dan di mana keterlibatan dalam masyarakat terjadi.366

Mengingat betapa pentingnya peran keluarga dalam mewujudkan Gereja yang dicita-citakan, Kardinal Darmojuwono memberikan perhatian yang tinggi kepada mereka. Hal ini terbukti dengan cukup seringnya beliau berbicara tentang keluarga dalam Surat-surat Gembalanya. Dari 25 (duapuluh lima) Surat Gembala yang ditulis oleh Kardinal Darmojuwono selama beliau menjadi Uskup Agung Semarang, 7 (tujuh) di antaranya selalu menyinggung pembicaraan tentang keluarga. Bahkan ada 2 (dua) Surat Gembala yang secara khusus berbicara tentang keluarga, yaitu Surat Gembala “Menuju Keluarga Bahagia” (13 Februari 1973) dan Surat Gembala Bersama para Uskup Propinsi Gerejawi Semarang

“Mengenai Hidup Keluarga Yang Beriman” (16 Januari 1975).

Memang, tema tentang keluarga dalam ekklesiologi Kardinal Darmojuwono bukanlah merupakan tema yang pokok dan tidak pernah berdiri sendiri. Dalam pembicaraan mengenai keluarga, beliau hampir selalu menempatkannya dalam konteks pembicaraan tentang cita-cita dan usahanya untuk membangun Gereja swasembada atau Gereja mandiri, yang merupakan ekklesiologi pokoknya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bagi Kardinal Darmojuwono, keluarga memang mempunyai peranan yang sentral dalam mewujudkan ekklesiologinya sehingga secara pastoral perlu diberi perhatian khusus. Oleh karena itu, pemikiran Kardinal Darmojuwono tentang

366 Para Uskup Propinsi Gerejawi Semarang, Surat Gembala Bersama “Mengenai Hidup Keluarga Beriman”, tertanggal 16 Januari 1975

~ 179 ~

keluarga bukan pertama-tama berupa konsep tentang keluarga tetapi lebih berupa sentuhan pastoral bagi keluarga-keluarga Kristiani dalam melaksakanan tugasnya sebagai ujung tombak pembangunan Gereja.

Bagi Kardinal Darmojuwono, keluarga Kristiani adalah Gereja kecil.

Keluarga bukan sekedar kelompok sosiologis dalam bentuknya yang paling kecil tetapi pada hakikatnya merupakan perwujudan atau penjelmaan dan sekaligus penghayatan Kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat. Dalam konteks Keuskupan Agung Semarang pada masa penggembalaan Kardinal Darmojuwono, wujud konkret Kerajaan Allah di dunia itu adalah kemandirian, semangat misioner dan keterlibatan Gereja dalam masyarakat. Melalui ketiga hal tersebut, Gereja berusaha untuk menjadi tanda dan sarana kehadiran Allah yang menyelamatkan umat-Nya. Maka, sesuai dengan hakikatnya sebagai perwujudan Kerajaan Allah, keluarga-keluarga Kristiani diharapkan menjadi ujung tombak dalam membangun Gereja yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat.

Dalam menjalankan perannya sebagai ujung tombak pembangunan Gereja yang mandiri, misioner dan terlibat dalam masyarakat tersebut, keluarga-keluarga Kristiani mengemban tugas perutusan yang konkret. Mereka mempunyai tugas untuk membangun keluarga yang sehat, melahirkan dan mendidik anak secara manusiawi dan Kristiani serta membangun ekonomi rumahtangga secara Kristiani. Sebab, keluarga yang sehat secara jasmani dan rohani menjadi dasar bagi terciptanya Gereja dan masyarakat yang sehat secara jasmani dan rohani pula; keluarga yang mendidik anak dengan baik merupakan sumber tenaga pastoral bagi Gereja masa depan, baik untuk mencukupi kebutuhan tenaga sendiri

~ 180 ~

(mandiri) maupun membantu keuskupan lain yang berkekurangan (misioner); dan keluarga yang mengelola ekonomi rumah tangga secara Kristiani semakin memperkokoh kemandirian dan semangat solidaritas dalam Gereja.