• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budaya Konsumsi Pinang sebagai Tempat Pengucapan Ketiga

BAB III KONSTELASI KOMODITAS DAN BUDAYA KONSUMS

4) Budaya Konsumsi Pinang sebagai Tempat Pengucapan Ketiga

Mobilitas migrasi ke Manokwari menjadikan kebiasaan mengkonsumsi pinang semakin banyak dilakukan juga oleh warga pendatang (bukan Papua). Mereka ikut berbiasa mengkonsumsi pinang dan membaur dengan masyarakat setempat untuk beragam alasan. Sebagaimana diungkapkan oleh Musa Rumbarar: “… bahkan masyarakat dari luar Papua saat ini telah mengenal dan ikut terbiasa mengkonsumsi pinang.” Mereka menyesuaikan diri dengan warga setempat, menjalin relasi; dalam lembaga perkawinan, rekan kerja, relasi dagang, serta alasan lainnya, sehingga ada intimitas komunikasi (interaksi) secara lebih intensif untuk mengungkapkan hasil refleksi atas kehidupan masing-masing di dalam‘kedai-kedai kopi Papua’.

Dalam relasi antara masyarakat setempat dan pendatang akan terbangun kolaborasi koloni (struktur sosial) baru dengan segala aktivitas kesehariannya. Situasi tersebut terbangun seperti dicontohkan oleh Habermas dengan terbentuknya struktur sosial ruang publik Inggris Raya pasca Ratu Elizabeth I (sekitar abad 18):

Dominasi ‘kota’ semakin diperkuat oleh institusi-institusi baru yang, dengan semua ragamnya… mengambil alih

fungsi-fungsi sosial yang sama: “… kedai kopi dan salon

menjadi pusat kritik awalnya hanya bersifat kesusteraan,

22

Istilah yang dipakai oleh Homi K. Bhabha, pada buku. Teori Poskolonial. Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat. Karya Leela Gandi. 1998. Yogyakarta: Penerbit Qalam, hal. viii.

namun kemudian menjadi politis juga yang di dalamnya mulai lahir kelompok baru…”23

Tradisi mengkonsumsi pinang sebagai ‘ruang privat tak terbatas’ berfungsi menjadi kedai-kedai kopi atau salon-salon tempat seluruh pernyataan-pernyataan; seperti pengalaman diri, pengalaman sosial dan kritik keadaan serta menjadi bagian sistem kultur sosial dalam masyarakat di Papua. ‘Kedai-kedai kopi Papua’telah diminati (dihadiri) olehorang-orang yang tidak sekampung; seperti dari Bugis, Batak, Jawa, Timur, Minahasa dan sebagainya. “Orang dari luar Papua akan lebih akrab dengan masyarakat asli Papua, ketika para pendatang itu bisa makan

(mengkonsumsi) pinang bersama warga masyarakat asli Papua,”

sebagaimana menjadi sebuah harapan dari Bapak Edo Padwa.

Terbentuknya koloni baru menjadi sebuah wujud otorita komunitas masyarakat terbayang yang akan turut merubah dan membentuk struktur publik dan kultur masyarakat setempat. “Kampung Pinang” bukan lagi tempat keluarga saya saja, melainkan telah menjadi tempat mereka di rumah saya. Keadaan baru ini menjadikan ruang tempat kami berucap

bertransformasi dalam format transkultural yang baru, yang oleh Homi K. Bhabha disebut sebagai “tempat pengucapan ketiga”,24 tempat bersama

23

Jurgen Habermas. 1989. (terj. Yudi Santoso) Ruang Publik. Sebuah Kajian Tentang Kategori Masyarakat Borjuis. Yogyakarta: Kreasi Wacana, hal.49.

24

Leela Gandhi. 1998.Teori Poskolonial .Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat. Yogyakarta: Penerbit Qalam, hal. viii.

dengan latar heterogen (multikultur) yang akan berpartisipatoris dalam pembentukan identitas, karakter, dan wujud ruang publik Kota Manokwari yang berkelanjutan

Mengkonsumsi pinang bersama bukan hanya sebagai aktivitas fisik saja, namun di dalamnya sarat akan nilai serta makna persahabatan, persaudaraan, bahkan penyatuan antara dua pribadi atau lebih secara intensif dan intim. Tradisi mengkonsumsi pinang telah mampu memelihara dan memperkuat keharmonisan relasi antar personal mau pun komunal, karenanya mengkonsumsi pinang menjadi fasilitas dan medium untuk membangun sinergisitas yang akan memberi kemudahan dalam sistem pencapaian hasil/tujuan dari suatu kepentingan tertentu. Strategi yang sama diterapkan dalam kebijakan publik punggawa pemerintah Hindia Belanda untuk melakukan pendekatan kepada penduduk koloninya.

Tempat pengucapan ketiga tetap menjadi bagian dalam counter public sphere,25 dimana identitas kultural warga budaya (pengkonsumsi pinang) setempat tetap berada dalam wilayah kontradiksi dan ambivalensi di antara otoritas pemerintahan (state), kapital modal, media, serta masyarakat sipil (civil society) dengan beragam kultur. Pengakuan (claim) akan sebuah

“kemurnian” hierarki kultur masyarakat menjadi tidak dapat dipertahankan

25

Bdk. Pemikiran Ben Highmore dalam buku Michel de Certeau Analysing Culture(2006:164);While their examples are mostly focused on lesbian and gay culture as a counter public sphere, how they figure this is relevant (potentially) to all sorts of other counter public spheres. What makes a counter public both public and ‘counter’ is crucial to their theory.

lagi, karena telah mengalami suatu perubahan wujud dan sistemnya seiring dengan proses perkembangan ruang publik yang berada dalam arus globalisasi.

Obrolan Warung Pinang dan mop memposisikan pinang sebagai

medium dan dinamisator yang mendasari terjadinya komunikasi sosial dan budaya dalam keseharian hidup masyarakat di Papua. Komoditi tersebut juga mampu menjadi katalisator proses interaksi personal mau pun komunal pada ruang publik. Keduanya menjadi forum dan media komunikasi warga masyarakat dalam posisi strategisnya sebagai tempat pengucapan ketiga sekaligus berada dalam ruang publik tandingan(the counter public sphere).

Tempat pengucapan ketiga pun semakin meluas dan terbuka untuk subyek-subyek baru, tradisi mengkonsumsi pinang sebagai medium dialektika yang ekslusif berubah menjadi inklusif dalam lingkup dan penerapannya untuk negosiasi praktek pengoprasian beragam kepentingan publik. Dengan demikian lebih banyak membuka kemungkinan terbangunnya opini, wacana, upaya analisis, pencerahan intuisi, ide-ide baru, konsep baru, informasi baru, serta perspektif baru yang semakin mendekatkan kepada harapan dan idealisme masing-masing kontestan.

Dalam inklusivitas yang toleran, akan semakin meringankan beban- beban kehidupan sosial, memudahkan pencapaian harapan (kepentingan), bisa saling menerima dengan simpati (welcome), relasi mutualisma, dan bagi pemodal/pebisnis yang merupakan bagian dari kapital sosial modern, dengan

usaha mall, hotel, penyedia jasa dsb. akan berkemungkinan mendapatkan

profityang lebih.

Lapangan terbuka, pasar, tempat berkumpul (nongkrong), lorong pemukiman dan jalan-jalan menjadi ruang publik yang mempunyai aksesbilitas dengan berbagai jaringan bisnis mau pun teknologi modern, mengubah ruang publik tradisional menjadi lebih banyak fungsi (multifungsi); seperti arena politik, perekonomian, interaksi sosial dan budaya. Penetrasi investasi modal berlangsung kencang di Manokwari. …

Maka tidaklah heran jika pasar-pasar tradisional dan pusat-pusat keramaian di Papua Barat, di Kota Manokwari khususnya akan banyak ditemui pedagang-pedagang yang berasal dari Sulawesi dan Jawa.

(Suryawan.2011:223)26 Mobilitas keseharian masyarakat mengentarai Kota Manokwari menjadi arena kontestasi guna mendapatkan pemenuhan keinginan ego danidealismmodernitas.

Kontestasi tersebut semakin dinamis dengan diintensifkannya melalui program Pengembangan perkotaan utama di Kabupaten Manokwari sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) di Propinsi Papua Barat oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupten Manokwari. Program tersebut ditiik beratkan pada wilayah Distrik Manokwari Barat, Manokwari Timur, Manokwari Utara, dan Manokwari Selatan, dengan tujuan untuk mendorong dan mempersiapkan perkotaan Manokwari sebagai pusat pemerintahan, 26

perdagangan, jasa serta mendorong pengembangan perkotaan Manokwari yang berfungsi untuk pelayanan fasilitas umum skala regional, dengan Distrik Manokwari Barat sebagai pusat wilayah pengembangannya,27 yang di dalamnya termasuk upaya peningkatan Bandara Nasional Rendani serta Pelabuhan Laut Manokwari.

Pengembangan pusat perkotaan menjadikan tempat pengucapan ketiga

di Kota Manokwari tidak pernah berhenti dan sepi ‘pengunjung’, proses pembentukan ruang publik dengan dinamikanya berlangsung padatrajectory

yang tidak menentu secara berkesinambungan (kohoren) dan berkelanjutan (kontinuitas).