BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Hasil Penelitian dan Pengumpulan Informasi
4.1.1.1 Deskripsi Hasil Observasi Kelas Mata Kuliah Keterampilan
Teknik observasi kelas dilakukan peneliti sebagai langkah awal pengumpulan informasi untuk mengetahui situasi pembelajaran di kelas. Dari hasil observasi situasi pembelajaran itu akan diketahui bagaimana dosen dan mahasiswa dalam membangun pembelajaran sehingga mahasiswa dapat memahami materi yang sedang dipelajari. Dosen yang peneliti observasi adalah Ibu Septina Krismawati, S.S., M.A. Observasi kelas dilakukan pada hari Kamis, 12 Oktober 2017 pukul 14.00 WIB – 16.30 WIB di ruang K.22 universitas Sanata Dharma. Subjek observasi ada dua, yakni dosen pengampu dan mahasiswa peserta mata kuliah Keterampilan Menulis Ilmiah. Lalu, dalam observasi dosen terdapat dua instrumen yang peneliti gunakan dalam melaksanakan observasi kelas.
Pertama, instrumen observasi dosen di kelas secara umum. Instrumen tersebut terdapat 15 butir sasaran yang ingin diketahui peneliti dalam observasi, yaitu 1) dosen membuka perkuliahan, 2) suara dosen jelas, 3) dosen memakai media, 4) dosen sering bertanya kepada mahasiswa, 5) pertanyaan dosen diajukan kepada perorangan, 6) pertanyaan dosen diajukan kepada kelas, 7) dosen memanfaatkan penguatan, 8) dosen memberi tugas rumah, 9) sikap dosen serius, 10) sikap dosen santai, 11) dosen menulis di papan tulis, 12) dosen umumnya duduk di kursi, 13) dosen sering berjalan ke belakang, ke samping, dan ke tengah, 14) dosen membuat rangkuman perkuliahan, 15) a. evaluasi
diberikan kepada setiap indikator pembelajaran, b. evaluasi diberikan kepada sekelompok indikator pembelajaran. Kelima belas aspek tersebut akan dijabarkan sebagai berikut.
Hasil observasi dosen di kelas secara umum mengarahkan bahwa dosen telah mengajar dengan cukup baik. Data yang peneliti peroleh ialah dosen sudah melakukan 12 butir aspek dari 15 butir aspek yang diamati. Ketika mengawali perkuliahan, dosen memberikan salam kepada seluruh mahasiswa dan melakukan doa bersama yang dipimpin oleh salah satu mahasiswa. Kemudian dosen melakukan riview terkait materi yang dipelajari sebelumnya dan menanyakan tugas yang diberikan oleh dosen. Dari kegiatan tersebut, dosen telah melakukan apersepsi yang baik sehingga mampu menumbuhkan minat belajar mahasiswa. Adapun, tugas yang dibahas dalam hal ini yaitu menulis tulisan argumentasi yang dibuat oleh mahasiswa secara individu. Kemudian dosen meminta mahasiswa untuk menggunakan telepon pintarnya masing-masing untuk mencari materi penulisan argumentasi dari berbagai sumber terpercaya.
Setelah dosen memberikan kelonggaran waktu kepada mahasiswa untuk mencari berbagai materi argumentasi, dosen mulai menjelaskan sedikit-demi sedikit materi tersebut. Selanjutnya, dosen meminta mahasiswa untuk menilai sendiri tulisan argumentasinya sudah baik atau belum. Tidak lupa, di tengah-tengah penjelasan dosen mempersilakan mahasiswa untuk bertanya terkait materi yang belum jelas. Dari cara ini terlihat jelas bahwa dosen mengarahkan mahasiswa untuk aktif sehingga pembelajaran di kelas menjadi
hidup. Dosen juga memberikan penguatan materi yang penting agar materi yang diajarkan semakin jelas.
Dosen juga bersikap santai tetapi serius dalam menjelaskan, sehingga memunculkan keaktifan mahasiswa dalam belajar di kelas. Meskipun dosen tidak menulis di papan tulis, tetapi dosen tidak hanya duduk di kursi, melainkan sering berjalan ke belakang, ke samping, dan ke tengah sewaktu menjelaskan materi dan melakukan sesi tanya jawab di kelas. Dari sisi lain, dosen tidak memanfaatkan papan tulis sehingga materi-materi pokok yang beliau jelaskan kemungkinan tidak dicatat oleh mahasiswa yang mungkin tidak akan tersimpan dalam memori jangka panjang mahasiswa. Aspek terakhir, dosen memberikan evaluasi pada sekelompok indikator atau tujuan pembelajaran.
Kemudian observasi dosen yang kedua ialah instrumen observasi dosen di kelas secara keseluruhan terkait empat aspek utama dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar. Empat aspek yang diamati itu ialah (1) pra-pembelajaran, (2) membuka pelajaran, (3) kegiatan inti pra-pembelajaran, dan (4) penutup. Keempat aspek tersebut berfungsi bagi peneliti untuk menentukan jenis penugasan yang efektif untuk mahasiswa terkait dalam pengembangan modul pembelajaran menulis argumentasi yang akan dibuat.
Dalam observasi kali ini, dosen pengampu hampir memenuhi empat aspek utama yang telah disebutkan. Pertama, dosen sudah melakukan kegiatan pra-pembelajaran dengan sangat baik, seperti memriksa kesiapan ruang kelas, alat dan media pembelajaran yang digunakan, serta kesiapan mahasiswa. Kedua, dosen sudah melakukan kegiata apersepsi dengan baik, seperti
menanyakan materi apa yang dipelajari sebelumnya dan mengecek tugas yang diberikan sebelumnya. Dosen juga menyampaikan secara lisan kompetensi apa yang akan dicapai dalam pertemuan kali ini. Ketiga, dosen melaksanakan kegiatan inti dengan cukup baik. Misalnya dalam segi penguasaan materi pelajaran, dosen menunjukkan penguasaan materi pembelajaran dengan baik, menyampaikan materi sesuai hierarki belajar, yakni dosen menjelaskan materi dari yang termudah sampai yang lebih sulit. Dosen menjelaskan tentang kalimat sederhana hingga paragraf yang padu (terdapat kohesi dan koherensi). Kemudian dosen memberikan arahan tentang elemen-elemen Toulmin dari yang termudah hingga yang terlengkap. Saat menjelaskan materi, dosen sering mengajak mahasiswa untuk aktif, contohnya mahasiswa diminta sedikit menjelaskan materi yang ia peroleh ketika menelusuri sumber-sumber terpercaya seperti jurnal dan sejenisnya. Lalu, memberikan pertanyaan kepada beberapa mahasiswa terkait materi yang dipelajari. Oleh sebab itu, dosen menggunakan strategi pembelajaran yang komunikatif. Hal lainnya adalah dosen melaksanakan pembelajaran secara kontekstual dan runtut sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan mahasiswa. Akan tetapi, dosen kurang memberikan selingan sehingga mahasiswa mudah untuk ngantuk dan bosan. Keempat, aspek yang diamati ialah segi refleksi dan rangkuman pembelajaran. Dalam melaksanakan kegiatan akhir pembelajaran, dosen mengajak mahasiswa untuk berefleksi tentang apa yang telah dicapai oleh mahasiswa selama pembelajaran berlangsung dan dosen beserta mahasiswa membuat rangkuman
secara bersama-sama. Dosen juga tidak lupa menjelaskan secara rinci tugas yang diberikan untuk pertemuan berikutnya.
Selain melakukan observasi terhadap dosen di kelas, peneliti juga mengamati kegiatan mahasiswa selama pembelajaran berlangsung. Kegiatan ini berfungsi untuk mengetahui kondisi kelas dan menemukan strategi yang efektif agar mahasiswa termotivasi untuk belajar. Perkuliahan diawali dengan doa yang dipimpin oleh salah satu mahasiswa. Secara keseluruhan, mahasiswa datang tepat waktu, namun masih ada yang datang terlambat. Meskipun begitu, mahasiswa siap mengikuti pelajaran dan terlihat bersemangat. Mahasiswa juga memperhatikan penjelasan dosen terkait tujuan pembelajaran dan materi yang dipelajari saat itu. Kebanyakan mahasiswa mencatat hal-hal penting yang disampaikan dosen. Akan tetapi jika ada mahasiswa yang tertinggal materi, ia selalu bertanya kepada teman sebelahnya. Oleh karena itu, konsentrasi temannya terganggu. Banyak juga mahasiswa yang bosan ketika pembelajaran berlangsung. Hal ini terlihat ketika mahasiswa diminta dosen untuk mencari sumber referensi tambahan, dia mencarinya sembari membuka media sosial seperti (whatsapp, instagram, dan facebook). Selain itu, mahasiswa sering diajak diskusi dan diberikan pertanyaan oleh dosen, tetapi hanya beberapa mahasiswa yang berani menjawab pertanyaan dari dosen. Dari kejadian ini, dapat disimpulkan bahwa pemahaman mahasiswa terkait materi yang disampaikan dosen belum seutuhnya sampai ke mahasiswa. Kadaan ini bisa disebabkan karena beberapa faktor, seperti faktor kemalasan mahasiswa untuk mencatat hal-hal penting, kurangnya motivasi mahasiswa yang diberikan dosen
sehingga mahasiswa merasa bosan, kurangnya keberanian mahasiswa untuk aktif di kelas, serta terlambatnya mahasiswa memperoleh materi dari sumber yang ia cari dikarenakan tidak ada internet (wifi lambat). Dari bebrapa hal tersebut, dapat dijadikan peneliti sebagai dasar dalam pengembangan modul pembelajaran menulis paragraf argumentasi berperspektif logika Toulmin.
Berdasarkan penjabaran hasil observasi dosen dan mahasiswa di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa (1) dosen pengampu wajib menguasai materi ajar secara utuh; (2) dosen memerlukan strategi yang efektif agar materi yang diajarkan dapat diterima mahasiswa secara utuh; (3) dosen perlu memberikan selingan agar mahasiswa tidak bosan; (4) sebaiknya dosen mendorong mahasiswa untuk aktif membaca sumber-sumber referensi terpercaya, seperti jurnal-jurnal ilmiah yang up to date; (5) dosen melakukan refleksi pembelajran dan menyusun rangkuman dengan melibatkan mahasiswa; (6) dosen memberikan evaluasi pada sekelompok indikator; (7) mahasiswa membutuhkan motivasi yang kuat untuk belajar; (8) mahasiswa membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi supaya aktif di kelas; (9) mahasiswa memiliki gaya belajar masing-masing.
4.1.1.2Deskripsi Wawancara Dosen Pengampu Mata Kuliah Bahasa Indonesia Terkait Pengembangan Modul Menulis Paragraf Argumentasi
Langkah kedua dalam melakukan penelitian dan pengumpulan informasi ialah wawancara. Wawancara ini dilakukan dengan dosen pengampu mata kuliah Keterampilan Menulis Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yakni Ibu Septina Krismawati, S.S., M.A. Wawancara dilaksanakan pada tanggal 19 Oktober 2017.
Wawancara ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan dalam mengembangkan modul pembelajaran menulis paragraf argumentasi. Hal-hal penting yang menjadi fokus wawancara ialah (1) manfaat modul pembelajaran (2) bahan ajar atau referensi yang dipakai dalam menulis paragraf argumentasi (3) strategi pembelajaran (4) kendala yang dihadapi (5) solusi untuk mengatasi kendala (6) pengembangan modul menulis paragraf argumentasi yang di harapkan. Berikut uraian hal-hal penting tersebut.
Manfaat modul pembelajaran khususnya dalam menulis paragraf argumentasi adalah membuat pembelajaran menjadi lebih terarah. Hal ini karena di dalam modul itu ada rambu-rambunya yang tertuang dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS) kemudian dimuat kembali dalam modul pembelajaran, seperti standar kompetensi atau kompetensi dasar. Lalu mahasiswa juga akan sangat terbantu dengan materi atau referensi yang ada dalam modul secara lengkap. Beliau mengatakan bahwa biasanya mahasiswa diminta untuk mencari referensi merasa kesulitan, entah itu malas atau ada saja alasannya, yang pasti mereka malas membaca. Tetapi, dengan adanya modul pembelajaran mahasiswa bisa membukanya dan membaca isi dari modul tersebut. Meskipun modul itu tidak dibaca langsung secara menyeluruh oleh mahasiswa, paling tidak mereka membaca sekilas dan memahami apa yang tertuang dalam modul.
Referensi yang digunakan dosen pengampu tidak dibatasi berapa jumlahnya. Akan tetapi, beliau menyarankan banyak sumber yang dipakai akan
semakin baik. Beliau juga selalu mendorong mahasiswanya untuk banyak membaca dan mencari banyak sumber referensi terpercaya (artikel jurnal atau jurnal-jurnal ilmiah). Dari berbagai sumber itu pasti kita menemukan referensi yang berbeda-beda, akan tetapi kita dapat menemukan benang merah yang sama. Kesamaan itulah yang akan didiskusikan dan disepakati bersama antara dosen dan mahasiswa agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Dilihat dari jawaban narasumber di atas, narasumber selaku dosen yang mengajarkan keterampilan menulis ilmiah belum menggunakan referensi yang khusus karena masih mengambil materi dari sana-sini. Beliau juga menambahkan waktu pembelajaran menjadi kurang efisien karena mahasiswanya harus mencari-cari referensi terlebih dahulu saat di kelas sebelum mulai belajar ke materi yang pokok. Meskipun pijakan utamanya bertolak pada bukunya Toulmin.
Strategi yang dosen gunakan selama mengajarkan keterampilan menulis ilmiah juga sangat mempengaruhi proses belajar mahasiswa. Narasumber menekankan supaya mahasiswa yang harus aktif menulis, bukan hanya sekadar materi. Jadi, strategi yang digunakan dalam pembelajaran menulis ini sebaiknya mengarahkan pada student active
learning atau semacamnya.
Kendala dalam mengajarkan keterampilan menulis paragraf argumentasi pun masih sering muncul. Penyebabnya sendiri ialah belum adanya pegangan khusus bagi mahasiswa untuk belajar menulis paragraf argumentasi. Hal ini mempengaruhi ketika pembeajaran tersebut
berlangsung di kelas. Mahasiswa masih kebingungan dan membutuhkan cukup banyak waktu untuk mencari sumber-sumber referensi yang memadai. Alasan inilah yang menjadi salah satu masukan bagi peneliti untuk mengembangkan sebuah modul pembelajaran menulis paragraf argumentasi.
Sebelumnya, narasumber mengaku terkadang mahasiswa sendiri masih kurang persiapan untuk belajar dan masih kesulitan untuk memahami materi dari berbagai sumber itu. Jadi, narasumber yang harus menjelaskan dan terlihat seperti dosen yang aktif, bukan mahasiswanya. Terkadang narasumber yang harus mencarikan dan mengopikan materi kepada mahasiswa supaya mereka memahami materi yang diajarkan.
Pada wawancara ini, narasumber mengharapkan sebuah modul yang dapat membantu mahasiswa dalam melatih keterampilan menulis paragraf argumentasi dengan baik. Modul tersebut juga bisa dijadikan pegangan bagi mahasiswa untuk belajar mandiri. Saran yang narasumber berikan adalah modul yang dikembangkan lebih baik memiliki petunjuk yang jelas, bahasa yang mudah dipahami, dan materinya tidak membingungkan (khusus menulis paragraf argumentasi). Narasumber juga menambahkan bahwa mahasiswa akan lebih tertarik contoh-contoh konkret yang relevan untuk referensi mereka.
4.1.1.3Deskripsi Data Analisis Kebutuhan Mahasiswa Terkait Pengalaman Awal Mahasiswa dalam Menulis Paragraf Argumentasi
Pengumpulan informasi yang dilakukan peneliti selanjutnya adalah penyebaran angket kepada 25 mahasiswa peserta Mata Kuliah Keterampilan Menulis Ilmiah kelas B, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma. Penyebaran angket ini dilakukan pada tanggal 26 Oktober 2017 di ruang K22, Kampus I, Mrican pukul 14.00 – 16.30 WIB. Angket ini disebarkan kepada mahasiswa untuk mengetahui kesadaran mahasiswa akan pentingnya menguasai penulisan paragraf argumentasi, manfaat yang diperoleh dari penguasaan penulisan paragraf argumentasi, kendala-kendala yang dialami mahasiswa dalam menulis paragraf argumentasi, dan mendapatkan saran terkait pengembangan modul pembelajaran menulis paragraf argumentasi. Berikut ini adalah tabel rata-rata angket analisis kebutuhan mahasiswa.
Tabel 4.1 Hasil Analisis Kebutuhan Mahasiswa
No. Deskripsi Penilaian
Σ Skor (N=25)
Rata-rata % Kategori 1. Penulisan paragraf argumentasi
penting dikuasai oleh mahasiswa. 119 4,76 95%
Sangat Setuju 2.
Penulisan paragraf argumentasi menunjang penulisan karya ilmiah mahasiswa (artikel, makalah).
107 4,28 86% Sangat Setuju
3.
Paragraf argumentasi bermanfaat untuk mengemukakan aspirasi dalam kehidupan sehari-hari.
103 4,12 82% Sangat Setuju
4.
Logika berpikir kritis merupakan aspek penting dalam penulisan paragraf argumentasi.
114 4,56 91% Sangat Setuju
5.
Penggunaan modul dapat mempermudah penguasaan materi terkait menulis paragraf argumentasi.
110 4,4 88% Sangat Setuju
6.
Referensi materi untuk menulis paragraf argumentasi belum banyak ditemukan.
90 3,6 72% Setuju 7. Saya mampu menuangkan gagasan
melalui penulisan paragraf argumentasi sesuai dengan kaidah yang berlaku.
98 3,92 78% Setuju
8. Strategi pembelajaran yang tepat dalam penulisan paragraf argumentasi penting untuk meningkatkan motivasi belajar mahasiswa.
108 4,32 86% Sangat Setuju
9. Strategi pembelajaran yang tepat dalam penulisan paragraf argumentasi penting untuk mencapai kompetensi belajar mahasiswa.
107 4,28 86% Sangat Setuju
Rata-rata 106.22 4,2 85% Sangat Setuju
Berdasarkan tabel di atas, skor rata-rata dari seluruh aspek adalah 4, 2 atau 85% dengan kategori “sangat setuju”. Hal ini berarti mahasiswa sangat setuju dengan semua pernyataan dalam angket analisis kebutuhan tersebut. Aspek penilaian yang mendapatkan skor tertinggi yakni Penulisan paragraf
argumentasi penting dikuasai oleh para mahasiswa dengan skor 4,76 atau 95%.
Artinya, mahasiswa sangat menyetujui bahwa mahasiswa harus menguasai penulisan paragraf argumentasi dengan dilandasi logika berpikir kritis sehingga tulisan yang dihasilkan menjadi baik. Hal ini dibuktikan pada aspek penilaian tertinggi kedua dengan skor rata-rata 4,56 atau 91%. Kemudian, aspek penilaian yang memiliki skor rata-rata terendah yaitu referensi materi untuk menulis
rata-rata 3,6 atau 72%. Rendahnya skor pada aspek ini menandakan bahwa mahasiswa masih belum mengetahui referensi untuk menulis paragraf argumentasi.
Dilihat dari tabel dan uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa (1) mahasiswa sangat menyadari pentingnya menguasai paragraf argumentasi dan manfaatnya untuk menunjang penulisan karya ilmiah mereka; (2) logika berpikir kritis menjadi landasan penting untuk menulis paragraf argumentasi; (3) mahasiswa juga setuju bahwa penggunaan modul dapat membantu mereka dalam belajar menulis paragraf argumentasi; (4) mahasiswa masih banyak yang belum mengetahui referensi yang tepat untuk menambah wawasan dalam belajar menulis paragraf argumentasi (5) mahasiswa juga merasa mereka masih kurang yakin dengan kemampuan menulis paragraf argumentasi sudah sesuai kaidah yang berlaku atau belum; (6) mahasiswa menyatakan untuk meningkatkan motivasi belajar menulis argumentasi memerlukan strategi pembelajaran yang tepat.
Dalam penyebaran angket ini, peneliti tidak hanya memberikan 9 pernyataan di atas. Peneliti juga memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada mahasiswa terkait kendala atau masalah apa yang di alami mahasiswa tersebut, penggunaan strategi yang tepat dalam pembelajaran menulis paragraf argumentasi, serta pendapat-pendapat mahasiswa berkenaan dengan pengembangan modul yang akan dibuat peneliti.
Kendala yang sering dihadapi oleh mahasiswa dalam menulis paragraf argumentasi ada 5 kendala. Pertama, mahasiswa belum menemukan banyak
referensi yang memadai sehingga masih kesulitan untuk menulis paragraf argumentasi (12 responden). Kedua, pemahaman mahasiswa terkait dengan kaidah kebahasaan masih rendah (13 responden). Artinya mahasiswa masih kesulitan mengungkapkan argumentasinya ke dalam bentuk tulisan yang sesuai dengan kaidah. Ketiga, mahasiswa belum mengerti sistematika penulisan paragraf argumentasi (4 responden). Keempat, kesulitan mahasiswa untuk berpikir kritis (5 responden). Kelima, kurangnya motivasi mahasiswa untuk menulis paragraf argumentasi (3 responden).
Selain lima kendala tersebut, mahasiswa juga memberikan pendapat terkait strategi belajar menulis paragraf argumentasi, yakni (1) strategi yang mendorong mahasiswa untuk berlatih menulis paragraf argumentasi (6 responden); (2) strategi yang dapat menggali minat dan kreatifitas mahasiswa (2 responden); (3) strategi diskusi agar mahasiswa lebih mendalami materi (2 responden); (4) strategi yang mengarahkan mahasiswa untuk membaca buku referensi (6 responden); (5) strategi yang mengarahkan mahasiswa untuk mencari inspirasi dengan contoh atau data yang real (3 responden).
Kemudian pada akhir pengisian angket, mahasiswa memberikan saran yang membangun bagi peneliti dalam merancang modul pembelajaran. Ada lima saran yang diberikan, yaitu (1) modul berisi materi paragraf argumentasi yang baik dan benar (17 responden); (2) modul menarik dibaca dan mudah dipahami (9 responden); (3) terdapat lembar kerja atau latihan untuk melatih keterampilan menulis mahasiswa (12 responden); (4) terdapat lembar evaluasi
dalam modul (3 responden); (5) perbanyak contoh-contoh paragraf argumentasi (11 responden).
4.1.1.4Deskripsi Hasil Tes Tahap Awal Mahasiswa Peserta Mata Kuliah Keterampilan Menulis Ilmiah
Pengumpulan informasi dan penelitian selanjutnya adalah pengambilan data melalui teknik tes (tahap awal). Peneliti memberikan tes awal atau tahap awal ini kepada mahasiswa yang mengikuti Mata Kuliah Keterampilan Menulis Ilmiah, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma. Tes awal ini diberikan kepada mahasiswa pada tanggal 2 November 2017. Namun, pengumpulan tes awal ini dikumpulkan peneliti pada tanggal 9 November 2017. Peneliti sengaja memberikan waktu selama satu minggu kepada mahasiswa untuk mengerjakan tes ini. Tes yang diberikan peneliti kepada mahasiswa berupa tugas untuk membuat sebuah paragraf argumentasi dengan tema bebas sesuai keinginan mahasiswa. Tugas ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman atau kemampuan awal mahasiswa dalam menulis tulisan argumentasi terkhusus dalam bentuk sebuah paragraf.
Selanjutnya tes awal atau tugas yang sudah dikumpulkan oleh mahasiswa itu dianalisis peneliti. Peneliti menganalisis tes awal tersebut secara kualitatif. Analisis ini berdasarkan kisi-kisi analisis kemampuan menulis paragraf argumentasi menurut Logika Toulmin. Kisi-kisi ini telah peneliti buat dan adopsi dari Djiwandono (1996) dengan sedikit tambahan kelengkapan elemen dalam Logika Toulmin. Ada lima aspek yang
dianalisis dalam kisi-kisi tersebut, yaitu aspek isi, organisasi, kosakata, bahasa, dan penulisan. Berdasarkan lima aspek ini, peneliti telah memberikan ketentuan tingkatan kemampuan menulis paragraf argumentasi. Ketentuan inilah yang menjadi landasan peneliti untuk menganalisis tes awal mahasiswa. Berikut ini adalah hasil tulisan mahasiswa yang dianalisis oleh peneliti. 1. Aspek Isi
Berdasarkan aspek isi, mahasiswa masih ada yang kesulitan untuk menulis paragraf argumentasi. Hal ini terlihat dari hasil tulisan mahasiswa yang isinya belum mengarahkan pada satu topik. Hal tersebut terlihat dari beragam pandangan yang dijadikan satu oleh mahasiswa sehingga ide pokok yang akan ditampilkan kurang terlihat dengan jelas.
Gambar 4.1 Contoh Paragraf Argumentasi yang Belum Tuntas Gambar di atas merupakan contoh paragraf argumentasi yang kurang sesuai. Penjabaran yang ditulis masih kurang padu antarkalimat. Apa yang ingin dijelaskan oleh penulis belum tertata rapi. Belum ada elemen-elemen yang dapat menunjang argumen penulis seperti jaminan, pendukung, dan pengecualian. Selain itu, argumen yang ingin disampaikan belum memuat data yang cukup meyakinkan. Oleh sebab itu, ketuntasan menuangkan ide yang perlu disetujui pembaca belum begitu tampak.
Pada sisi lain, beberapa mahasiswa sudah ada yang mampu menentukan topik yang menarik, tetapi masih kurang baik dalam menjabarkan isi tulisan. Berikut contoh pemilihan topik yang menarik menurut peneliti.
Gambar 4.2 Contoh Topik yang Menarik
Dua gambar di atas merupakan contoh dari pemilihan topik argumentasi yang menarik minat pembaca. Pemilihan topik yang menarik adalah salah satu poin yang penting dalam menulis paragraf argumentasi. Menarik di sini diartikan sebagai topik yang memicu setuju atau tidak setuju pembaca terhadap tulisan yang dibuat. Pada gambar 4.2 topik yang dituliskan mahasiswa sudah menarik minat pembaca khususnya mahasiswa. Topik yang diangkat merupakan topik yang ada di sekitar mahasiswa. Kemudian isi dari topik yang ditulis ini masih kurang.
Argumen yang disampaikan hanya mengarah pada opini-opini penulis, sehingga argumen yang disampaikan belum kuat.
Selain contoh-contoh di atas, peneliti menemukan tulisan mahasiswa yang dinilai sudah cukup baik dalam menulis paragraf argumentasi. Ia sudah mampu memilih topik yang menarik dan isi yang dibuat juga sesuai dengan topik yang diangkat. Berikut contoh paragraf argumentasi yang cukup baik.
Gambar 4.3 Paragraf Argumentasi yang Cukup Baik
Gambar 4.3 adalah salah satu contoh paragraf argumentasi yang cukup baik. Paragraf tersebut memiliki judul atau topik yang menarik. Isi paragraf itu juga cukup terjabar dengan memperhatikan keterkaitan isi antar kalimat. Dalam konteks paragraf, kohesi itu sesungguhnya berurusan dengan persoalan ide atau gagasan, yakni gagasan pokok dari paragraf itu (Kunjana, 2010: 115). Berdasarkan pendapat beliau, paragraf yang kohesi adalah paragraf yang padu dalam bidang makna. Paragraf pada gambar 4.3
sudah cukup padu makna antarkalimatnya. Selain itu, paragraf ini juga sudah memuat fakta-fakta untuk mendukung argumennya.