BAB II STUDI PUSTAKA
2.2 Deskripsi Teori
2.2.3 Logika Toulmin
2.2.3.2 Elemen-Elemen Argumentasi Toulmin
Dalam bukunya yang berjudul An Introduction to Reasoning (1979), Toulmin mengemukakan bahwa terdapat enam elemen dalam mengemukakan argumen secara eksplisit. Keenam elemen argumen tersebut meliputi: claim (pernyataan posisi),
ground (data), warrant (jaminan), backing (pendukung), modal qualifiers, (keterangan
modalitas) dan rebuttal (pengecualian). Dari keenam elemen argumen model Toulmin, tiga elemen yang pertama (claim, ground, dan warrant) merupakan elemen yang utama menyusun suatu argumen, sedangkan tiga elemen yang kedua (backing, modal
qualifiers, dan rebuttal) merupakan elemen pelengkap (Institute for Writing &
Rhetoric: 2014). Elemen-elemen argumen Toulmin masing-masing dibicarakan di
bawah ini.
1) Pernyataan Posisi (PP) atau Klaim
Pernyataan posisi adalah pernyataan tegas yang diletakkan di awal dan dapat diterima secara umum dengan maksud mendasari sebuah pemikiran yang dapat ditunjukkan dengan baik, sehingga sesuatu yang belum diketahui menjadi sesuatu yang dapat diterima (Toulmin, et al, 1979:29). Pernyataan posisi merupakan pokok
permasalahan, tesis, atau ide pengontrolan. Klaim dapat langsung dinyatakan (biasanya pada bagian pertama dari teks, tapi kadang-kadang pada akhir, terutama untuk efek). Klaim dapat ditemukan dengan mengajukan pertanyaan, "Apa yang ingin dibuktikan oleh penulis?" (Intel Corporation, 2006).
Dalam bentuknya yang paling sederhana, sebuah argumen terdiri dari sebuah pernyataan Posisi (PP). Pernyataan posisi merupakan kesimpulan yang harus ditetapkan oleh argumen tersebut. Pernyataan posisi ini tidak memiliki dukungan beralasan untuk menentukan apakah mereka benar atau salah meskipun fakta bahwa itu benar atau salah.
Ada bermacam-macam klaim atau pernyataan posisi, Rottenberg (1988 : 24) membedakan 3 macam pernyataan posisi yaitu: (1) pernyataan posisi tentang fakta (claims of fact); (2) pernyataan posisi tentang nilai (claims of value); dan (3) pernyataan posisi tentang kebijakan (claims of policy). Berikut ini dijelaskan ketiga macam pernyataan posisi tersebut.
a) Pernyataan Posisi tentang Fakta (Claims of Fact)
Pernyataan posisi tentang fakta menegaskan bahwa suatu kondisi telah ada, memang ada, danakan ada, serta hal-hal yang mendukungnya berisi informasi faktual (Rottenberg, 1988 : 24).Informasi faktual yang dimaksud dapat berupa data statistik, contoh-contoh, dan kesaksian sumber-sumber yang dapat dipercaya. Untuk mendukung suatu klaim tentang fakta, penulis memerlukan data yang cukup dan tepat. Penulis harus mempertimbangkan hal-hal yang dapat melemahkan suatu pernyataan posisi dengan informasi-informasi faktual yang dikemukakan.
Selain itu, penulis perlu mempertimbangkan pemarkah-pemarkah yang menunjukkan makna generalisasi hendaknya dipertimbangkan benar-benar dengan tersedianya fakta. Klaim yang dinyatakan secara jelas dan spesifik akan membantu penulis untuk menemukan fakta yang cukup, tepat dan terpercaya. Demikian juga, pemakaian kata-kata yang ambigu dalam merumuskan sebuah pernyataan posisi harus dihindari (Rottenberg 1988: 24).
b) Pernyataan Posisi tentang Nilai (Claims of Value)
Pernyataan posisi tentang nilai menegaskan bahwa penulis berusaha membuktikan apakah suatu tindakan itu benar atau salah, baik atau buruk, apakah suatu keyakinan atau suatu kondisi itu adalah benar atau salah, baik atau buruk, berguna atau tidak berguna, dan sebagainya (Rottenberg 1988: 24). Jadi dalam hal ini, penulis membuat suatu keputusan yang menyangkut masalah-masalah nilai.
Dalam bentuk yang sederhana pernyataan posisi tentang nilai cenderung menyatakan suatu perasaan atau praduga terhadap sesuatu hal, misalnya perasaan suka atau tidak suka, atau praanggapan. Pada umumnya bidang-bidang yang dapat dijangkau oleh argumenator yang menyatakan pernyataan posisi tentang nilai adalah bidang moral dan kesenian.
c) Pernyataan Posisi tentang Kebijakan
Pernyataan posisi tentang kebijakan menegaskan bahwa suatu kondisi tertentu harus ada. Argumenator menekankan atau menganjurkan agar segera dilakukan pengambilan kebijakan (keputusan) sebagai langkah pemecahan terhadap
permasalahan-permasalahan yang ada. Pada umumnya, pernyataan posisi tentang kebijakan ini menggunakan pemarkah "harus" (Rottenberg 1988: 24).
2) Data
Menurut Rani, dkk. (2006; 41) data atau ground juga disebut dengan “alasan”. Mereka menjelaskan bahwa “alasan” adalah bukti -bukti yang bersifat khusus yang diperlukan untuk mendukung pernyataan. Alasan atau bukti pendukung dapat berupa data statistik, contoh, ilustrasi, penalaran, observasi eksperimental, dan materi ilmu pengetahuan umum maupun pengujian. Kesemua alasan itu digunakan untuk mendukung pernyataan posisi.
Dasar penyediaan informasi harus dimiliki oleh penulis. Hal ini dikarenakan argumen dalam pernyataan posisi dimaksudkan untuk meyakinkan orang lain tentang kebenaran atau probabilitas suatu masalah (Rottenberg 1988: 24). Ketika mencoba untuk menunjukkan kebenaran atau kemungkinan pernyataan posisi sebuah argumen, penulis dapat ditanyai: "Informasi apa yang harus Anda lanjutkan?"
Langkah pertama untuk membuat pernyataan posisi adalah memiliki beberapa informasi yang bisa membenarkannya. Pernyataan posisi biasanya didukung oleh beberapa fakta atau pertimbangan lainnya (Toulmin et al, 1979: 74). Secara umum, fakta-fakta atau bukti-bukti yang mendukung bisa disebut data (D). Data dapat berupa pengamatan langsung, menarik literatur yang dipublikasikan atau bentuk informasi positif atau negatif lainnya. Data ini juga bisa berisi bukti, data, argumen, atau alasan. Dukungan sebuah klaim bisa datang dalam bentuk fakta dan statistik, pendapat ahli, contoh, penjelasan, dan penalaran logis (Toulmin et al, 1979: 74).
Sebagai tambahannya, bukti atau data dapat pula berupa contoh dari teks yang membantu mendukung alasan. Bukti mungkin berupa fakta, kutipan, parafrasa, ringkasan, dan bentuk data pendukung lainnya. Apa yang penulis perhatikan tentang teks yang membantu membuktikan alasan penulis.
3) Jaminan
Pendukung antara data dan klaim adalah jaminan (W). Jaminan berbeda dari data dan klaim dan bertindak sebagai jembatan di antara keduanya. Jaminan di sini dapat diartikan sebagai kepercayaan dan nilai yang diterima secara umum, cara umum budaya atau masyarakat kita memandang sesuatu (Toulmin et al, 1979: 74). Jaminan penting karena merupakan "landasan bersama" antara penulis dan pembaca. Adanya jaminan ini, penulis mampu mengundang pembaca untuk berpartisipasi dan dengan tidak sadar memasok sebagian argumen. Jaminan ini juga penting karena menyediakan dasar alasan yang menghubungkan pernyataan posisi dan dukungannya.
Selain itu, penjamin adalah jembatan yang menghubungkan bukti dengan alasannya (dan juga alasan dan bukti klaim penulis) yang memungkinkan / meyakinkan pembaca untuk menerima alasan (dan pernyataan posisi). Jaminan dapat didasarkan pada logos, ethos atau pathos, atau nilai yang diasumsikan dibagi dengan pembaca. Hal ini karena pemikiran dan interpretasi penulis mengenai rincian bukti dan nalar. Jaminan juga penting untuk membuat pemikiran penulis terlihat oleh pembaca, bukan untuk menganggap pembaca tahu apa yang penulis pikirkan, dan dengan demikian membuktikan relevansi dan validitas data (bukti), alasan, dan pernyataan posisi.
4) Pendukung
Untuk menunjukkan validitas suatu jaminan, penulis perlu untuk mengenalkan data tambahan, informasi atau argumen lain yang mendukung dukungan (B) terhadap jaminan yang penulis berikan. Berbagai jaminan yang dapat digunakan dalam sebuah argumentasi berupa pendapat pakar, peneitian yang relevan, dan hal lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan penggunaan jaminan yang lebih kuat, penulis menjadi lebih percaya diri dalam hal validitas argumen dan pembaca pun akan lebih cenderung menerima klaim tersebut (Rottenberg 1988: 24).
Selain itu, pendukung atau Backing (B) adalah dukungan lebih lanjut untuk jaminan yang telah dikemuka penulis (Toulmin et al, 1979: 75). Penulis juga perlu mencadangkan asumsi dan interpretasi penulis dengan bukti lebih lanjut dari teks atau penjelasan lebih lanjut tentang gagasan/ pengetahuan penulis, dan sebagainya. Pendukung ini menjadi sangat penting karena berkaitan dengan asersi, alasan, atau interpretasi yang kontroversial yang mungkin tidak mudah dibaca atau dibagikan oleh pembaca.
Jika sebuah argumen sangat kontroversial karena dapat diterima atau sebaliknya, penulis perlu memberikan sanggahan (Toulmin et al, 1979: 74). Artinya, penulis mungkin perlu mengemukakan argumen lain terlebih dahulu beserta bukti yang cukup untuk membuktikannya, untuk menjelaskannya, dan menyajikannya dengan adil. Tapi tujuan utama penulis adalah menjelaskan mengapa pendapat penulis dianggap sah (baik sebagai tambahan atau bukan argumen lainnya). Sebagian besar bukti, jaminan, dan dukungan harus membantu mendukung argumen penulis.
5) Keterangan Modalitas
Keterangan modalitas adalah pernyataan yang berupa sikap, gaya, dan nada argumen yang dilakukan untuk mempengaruhi pembaca argumen. Menurut Toulmin,
et al, (1979) modalitas ini menunjukkan seberapa kuatnya argumen mengingat
ketersediaan elemen-elemen yang telah dikemukakan untuk mendukung klaim. Karena kebanyakan argumen tidak bersifat mutlak, Toulmin memperkenalkan kualifikasi (Q) ke dalam modelnya sebagai cara untuk mengekspresikan kekuatan relatif jaminan dalam mendukung kesimpulan yang penulis yakini. Jika jaminan (J) mengizinkan penulis untuk benar-benar menerima pernyataan posisi berdasarkan data yang sesuai, penulis dapat memenuhi syarat pernyataan psoisi dengan kata "pasti".
Rani, dkk. (2006:42) mengatakan bahwa modal adalah kata atau frasa yang menunjukkan derajat kepastian atau kualitas suatu pernyataan. Setiap argumen selalu memiliki modal yang menunjukkan kualitas suatu pernyataan. Kualitas sebuah pernyataan dapat diketahui dari penanda linguistik yang mengikutinya. Penanda linguistik inilah yang disebut modal. Modal dibedakan menjadi dua, yaitu: (a) modal sebagai penanda kepastian. Modal penanda kepastian merupakan kata, frasa, atau keterangan yang digunakan sebagai penanda kepastian, misalnya kata perlu, pasti, dan tentu saja; (b) modal sebagai penanda kemungkinan. Modal penanda kemungkinan berupa kata-kata atau frasa yang menandakan suatu kemungkinan, seperti kata agaknya, kiranya, rupanya ,kemungkinannya, sejauh bukti yang ada, sangat mungkin, mungkin sekali, dan masuk akal.
Dalam penggunaan modal, penulis seharusnya tidak menggunakan kata superlatif seperti semua, setiap, benar-benar atau tidak, tidak ada, atau tidak ada orang karena argumen penulis adalah tentang kemungkinan dan kemungkinan, bukan tentang kepastian, Sebagai gantinya, penulis mungkin perlu memenuhi syarat (nada bawah) pernyataan posisi penulis dengan ekspresi seperti banyak, berkali-kali, beberapa atau jarang, sedikit, dan mungkin.
6) Sanggahan atau Pengecualian
Sebuah kesimpulan biasanya disediakan kemungkinan pengecualian yaitu keadaan luar biasa yang mungkin melemahkan kekuatan argumen yang mendukung (Toulmin, et al, 1979:75). Sebuah bantahan (Rebuttals) adalah pernyataan yang mengakui keterbatasan argumen dan dapat diajukan untuk menunjukkan kondisi di mana jaminan tersebut tidak berlaku dan akibatnya kesimpulan tersebut dapat dibatalkan. Saat mengajukan argumen, penulis harus mempertimbangkan sudut pandang lain yang bertentangan dan menghadapinya secara adil. Penulis perlu menjawab pertanyaan dan keberatan yang muncul di benak pembaca. Jika penulis gagal melakukannya, argumen penulis sendiri akan melemah dan tunduk pada serangan dan pertengkaran. Terkadang pengecualian akan diarahkan untuk menentang klaim. Namun, bantahan juga bisa diarahkan pada interpretasi alternatif bukti atau bukti baru. Rani, dkk. (2006:42) menjelaskan bahwa sanggahan/penolakan adalah lingkungan atau situasi di luar kebiasaan yang dapat mengurangi atau menguatkan pernyataan. Jika suatu kondisi yang dapat melemahkan suatu pernyataan dapat dikontrol dengan menghadirkan elemen sanggahan/penolakan maka kedudukan
argumen semakin kuat. Sanggahan tersebut harus benar-benar kuat. Penggunaan elemen sanggahan juga berarti membuat pernyataan menjadi lebih spesifik. Piranti kohesi yang dapat digunakan untuk menandai elemen sanggahan antara lain kata
kecuali, jika …. maka, dan jika.