BAB II STUDI PUSTAKA
2.2 Deskripsi Teori
2.2.2 Hakikat Paragraf
Kemampuan menerapkan kaidah penulisan bahasa Indonesia, memilih kata yang tepat, membuat kalimat yang efektif, belum sepenuhnya menjamin seseorang mampu menulis. Dalam menuangkan gagasan atau pikiran, penulis dituntut mampu menghubungkan kalimat dengan kalimat dalam satu kesatuan yang padu. Hubungan itu menyatakan kesatuan yang diikat oleh struktur bahasa dan kesatuan yang logis. Dalam tulis-menulis atau karang-mengarang, ikatan ini diwujudkan dalam bentuk paragraf (Akhadiah, dkk., 1991: 143). Berikut ini ulasan tentang paragraf.
a. Pengertian Paragraf
Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Paragraf mengandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat, mulai, kalimat utama atau topik, kalimat-kalimat penjelas sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan (Akhadiah dkk., 1991: 144). Selaras dengan pendapat tersebut, Keraf (1977: 51) menyebut paragraf dengan istilah alinea. Alinea adalah kesatuan pikiran yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Hal ini karena alinea merupakan himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah ide.
Menurut Ngalimun dan Yundi dalam (Akhadiah, 1991: 70) paragraf dapat juga dikatakan karangan yang pendek (singkat). Dengan adanya paragraf, suatu gagasan dapat dibedakan bagian awal gagasan dimulai dan gagasan diakhiri. Pembaca akan
kelelahan membaca sebuah tulisan atau buku jika bacaan itu tidak ada paragraf. Pembaca seolah-olah dicambuk untuk membaca terus-menerus sampai selesai. Pembaca juga susah mengonsentrasikan pikiran dari gagasan ke gagasan lain. Dengan adanya paragraf, pembaca dapat berhenti sebentar membaca dan pembaca pun dapat memusatkan pikiran tentang gagasan yang terkandung dalam paragraf itu. Selain itu, kegunaan paragraf yakni untuk menandai pembukaan topik baru, atau pengembangan lebih lanjut topik sebelumnya. Kegunaan lain adalah untuk menambah hal-hal yang penting atau untuk memerinci apa yang sudah diutarakan dalam paragraf sebelumnya atau paragraf terdahulu.
Syarat-syarat pembentukan paragraf menurut Akhadiah (1991: 71) ada tiga, yaitu kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan. Paragraf dianggap mempunyai kesatuan, jika kalimat-kalimat dalam paragraf itu tidak terlepas dari topiknya atau selalu relevan dengan topik. Semua kalimat terfokus pada topik dan mencegah masuknya hal-hal yang tidak relevan. Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh sebuah paragraf yakni koherensi atau kepaduan. Satu paragraf bukanlah merupakan kumpulan kalimat yang masing-masing berdiri sendiri, tetapi dibangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik. Jadi, kepaduan dititik beratkan pada hubungan antara kalimat dengan kalimat.
Kepaduan dalam sebuah paragraf dibangun dengan memperhatikan unsur kebahasaan yang digambarkan dengan pengulangan kata kunci, penggunaan kata ganti dan kata penghubung, serta pemerincian dan urutan isi paragraf. Syarat terakhir yaitu kelengkapan. Suatu paragraf dikatakan lengkap jika berisi kalimat-kalimat penjelas
yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik atau kalimat utama. Sebaliknya, suatu paragraf dikatakan tidak lengkap, jika paragraf tidak dikembangkan atau hanya diperluas dengan pengulangan-pengulangan.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa paragraf argumentasi adalah himpunan dari kalimat-kalimat yang berkaitan membentuk sebuah ide atau pendapat. Pendapat itu disertai alasan atau bukti agar dapat meyakinkan pembaca. Kalimat-kalimat yang terdapat dalam paragraf juga harus padu.
b. Jenis dan Cara Pengembangan Paragraf
Struktur karangan terbagi dalam tiga bagian, yakni paragraf pembuka, paragraf pengembang, dan paragraf penutup. Karangan atau tulisan dalam bidang apapun, hampir selalu memiliki konstruksi tiga paragraf demikian ini (Rahardi, 2009: 121). Berikut penjelasan lebih rinci mengenai bagian-bagian paragraf.
1. Paragraf Pembuka
Menurut Rahardi (2009: 121), paragraf pembuka adalah paragraf yang bertugas untuk membuka dan mengantarkan pembaca agar dapat memasuki paragraf-paragraf pengembang yang akan dihadirkan kemudian. Membuka berarti paragraf pembuka harus dibuat menarik agar pembaca terpikat untuk membaca paragraf-paragraf berikutnya. Selain itu, paragraf pembuka juga menggunakan kalimat-kalimat yang jelas. Hal ini akan mempengaruhi minat baca. Jika paragraf pembuka tidak jelas dan rancu, pembaca juga pasti akan enggan melanjutkan bacaannya. Oleh sebab itu, paragraf pembuka disebut juga dengan paragraf pengantar.
Sebuah paragraf pembuka juga dapat dilengkapi dengan sitiran dari seorang tokoh atau filsuf bagi paragraf-paragraf yang bersifat khusus. Hal ini dimaksudkan agar paragraf pembuka benar-benar memiliki arti khusus dan menarik. Dengan demikian, pembaca akan mengetahui lebih dalam terhadap bacaan-bacaan berikutnya. Dalam karangan ilmiah yang bersifat akademik atau formal, paragraf pembuka dapat dimuat latar belakang masalah atau permasalahan yang akan dibahas dalam karangan itu. 2. Paragraf Pengembang
Paragraf pengembang atau paragraf isi sesungguhnya berisi inti atau esensi pokok beserta seluruh jabarannya dari sebuah karya tulis itu sendiri. Dengan paragraf pengantar, para pembaca sesungguhnya dibawa dan diarahkan untuk dapat masuk ke dalam paragraf-paragraf pengembang ini (Rahardi, 2009: 121). Oleh sebab itu, paragraf pengembang harus memuat semua penjelasan inti tulisan. Penjelasan itu dijabarkan sampai tuntas karena tidak ada batasan paragraf dalam menjelaskan inti persoalan yang dibahas. Ketuntasan ini ditentukan pada penyajian paragraf pengembang. Jadi, ukuran paragraf pengembang tidak ditentukan dalam sebuah karya ilmiah.
Paragraf pengembang yang memuat tulisan yang pendek tidak dapat dikatakan sebagai paragraf pengembang yang tidak baik. Panjang atau pendeknya suatu paragraf pengembang tidak menjadi parameter bahwa paragraf tersebut baik atau tidak baik. Ukuran yang dipakai baik atau buruknya paragraf pengembang adalah ketuntasan penjabaran tema karangan dan kalimat tesis yang dimuat dalam karangan tulisan itu.
3. Paragraf Penutup
Menurut Rahardi (2009), paragraf penutup berfungsi untuk mengakhiri sebuah tulisan. Semua tulisan yang bersifat ilmiah maupun nonilmiah pasti diakhiri dengan paragraf penutup. Paragraf penutup dijadikan parameter bahwa permasalahan yang dipaparkan sudah terjawab dengan jelas dan tuntas dalam paragraf-paragraf pengembang. Artinya, paragraf penutup berisi kesimpulan atau penegasan kembali dari paragraf-paragraf pengembang. Selain itu, paragraf penutup dapat pula berisi rangkuman dari perincian-perincian jabaran yang telah dilakukan sebelumnya di dalam bagian isi karangan atau tulisan.
c. Cara Pengembangan Paragraf
Dalam suatu karangan, paragraf harus diuraikan dan dikembangkan oleh para penulis atau pengarang dengan variatif. Sebuah karangan ilmiah bisa mengambil salah satu model pengembangan atau bisa pula mengombinasikan beberapa model sekaligus. Berikut ini adalah beberapa model pengembangan paragraf.
1) Pengembangan Alamiah
Pengembang alamiah adalah model pengembang paragraf yang bersifat alamiah (Rahardi, 2009). Artinya, paragraf ini berisi fakta spasial dan kronologi. Paragraf pengembang ini harus sesuai dengan urutan tempat, yakni dari titik tertentu sampai titik tertentu dalam sebuah penjabaran. Selain itu, model pengembang ini juga perlu memperhatikan urutan waktu, yaitu pengembangan paragraf bermula dari waktu tertentu dan berkembang sampai waktu selanjutnya. Contoh model pengembangan ini digunakan pada deskripsi data, dongeng, atau narasi lainnya.
2) Pengembangan Deduksi-Induksi
Rahardi (2009) mengemukakan bahwa pengembangan paragraf model deduksi yaitu pengembangan gagasan yang dimulai dari yang sifatnya umum dan dilanjutkan dengan penjabaran yang sifatnya lebih spesifik dan sangat rinci. Jadi, gagasan utama dalam paragraf pengembang model ini berada pada awal pargraf. Paragraf-paragraf selanjutnya berisi penjabaran atau kaliat-kalimat penjelas.
Pengembangan paragraf model induksi adalah pengembangan paragraf yang bermulai dari hal-hal yang khusus menuju hal-hal yang sifatnya umum. Artinya, pengembangan paragraf model ini diakhiri dengan gagasan pokok pada akhir paragraf. Pengembangan ini bertolak belakang dengan pengembangan paragraf model deduksi. Jadi, paragraf induksi diawali dengan kalimat-kalimat penjelasan dan diakhiri dengan kalimat utama.
3) Pengembangan Analogi
Menurut Rahardi dalam bukunya Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tingi (2009), pengembangan paragraf model analogi dimulai dari hal yang bersifat umum. Bersifat umum di sini berarti sesuatu yang sudah dikenal oleh orang banyak atau sesuatu yang belum banyak diketahui kebenarannya oleh orang dengan hal yang masih baru. Cara analogi ini diharapkan orang dapat memahami dengan mudah isi atau maksud dari karangan ilmiah.
Jadi, tujuan dari pengembangan analogi adalah untuk memudahkan pemahaman pembaca terhadap tulisan yang telah dibuat. Analogi digunakan untuk
menggambarkan sesuatu yang masih samar-samar menjadi lebih mudah dimengerti dan pahami secara tuntas.
4) Pengembangan Klasifikasi
Pengembangan dengan cara klasifikasi dikembangkan dengan mengelompokkan hal-hal yang khusus (Rahardi, 2009). Sesuatu yang masih bersifat umum atau kolosal dapat dipahami dengan mudah karena dibantu dengan pengelompokkan yang jelas. Pengelompokkan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya pengelompokkan hal berdasarkan kesamaan karakternya, kesamaan bentuknya, kesamaan ciri dan sifatnya, dan lain sebagainya.
5) Pengembangan Komparatif dan Kontrasif
Paragraf yang menggunakan model pengembangan komparatif dipaparkan dengan cara membandingkan kesamaan-kesamaan suatu hal. Kesamaan ini dapat dilihat dari ciri-cirinya, tujuannya, bentuknya, jenisnya dan sebagainya. Perbandingan dengan cara mencermati kesamaan hal disebut dengan pengembangan komparatif. Sebaliknya, perbandingan yang mencermati dari segi perbedaan-perbedaan yang ada disebut dengan pengembangan kontrasif.
6) Pengembangan Sebab-Akibat
Pengembangan paragraf dengan model sebab-akibat atau sebaliknya akibat-sebab bersifat rasional (Rahardi, 2009). Artinya, pengembangan model ini diawali dengan sebab-sebab permasalahan yang timbul. Setelah itu, sebab-sebab itu diarahkan pada akibat-akibat yang muncul. Pengembangan ini dapat pula dijelaskan terlebih dahulu akibat-akibat yang terjadi. Selanjutnya, karya tulis yang dibuat diakhiri dnegan
sebab-sebab yang memicu akibat tadi. Biasanya, karya-karya ilmiah menggunakan model pengembangan akibat-sebab.
7) Pengembangan Klimaks-Antiklimaks
Pengembangan paragraf model ini biasanya dipakai oleh karangan narasi atau cerita-cerita dongen anak-anak (Rahardi, 2009). Hal ini karena pengembangan model klimaks-antiklimaks diawali dengan peristiwa yang kecil-kecil yang dilanjutkan ke peristiwa yang besar sampai puncaknya. Penggunaan model pengembangan ini ada yang berakhir saat di puncak masalah dan ada pula yang dilanjutkan sampai ke penyelesaian masalah, yaitu antiklimaks.
d. Kohesi dan Koherensi
Sebuah paragraf yang baik adalah paragraf yang memiliki kesatuan dan kepaduan gagasan. Kesatuan gagasan dikatakan baik jika terdapat satu gagasan pokok atau gagasan utama. Jadi, suatu paragraf tidak mungkin memuat lebih dari satu gagasan pokok. Gagasan lain yang muncul adalah penjabaran lebih rinci terkait gagasan pokok yang dibahas. Berikut ini penjelasan lebih mendalam tentang paragraf kohesi dan paragraf koheren menurut Rahardi (2010:115).
1) Paragraf Kohesi
Kohesi merupakan kesatuan dan kepaduan dari segi bentuk (Rahardi, 2010). Hal ini berarti kohesi merujuk pada hubungan antarkalimat. Kohesi dibentuk dari susunan kata dan kalimat yang padu dalam sebuah paragraf. Kepaduan antarkalimat ini dalam sebuah paragraf dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Cara-cara itu dapat menggunakan konjungsi, substitusi atau penggantian kata-kata, dan lain
sebagainya. Kepaduan dalam bidang bentuk itu pada akhirnya juga bermuara pada kesatuan dan kepaduan dalam bidang makna atau maksud. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kohesi itu pada akhirnya juga mendukung koherensi.
2) Paragraf Koheren
Perbincangan ihwal koherensi berada pada tataran makna atau maksud. Dalam konteks paragraf, kohesi itu sesungguhnya berurusan dengan persoalan ide atau gagasan, yakni gagasan pokok dari paragraf itu (Rahardi, 2010). Dalam konteks paragraf, koherensi berkaitan dengan gagasan pokok dari paragraf yang dibuat. Sebuah paragraf yang baik dari segi koherensi dapat dilihat dari makna atau maksud yang disampaikan penulis tersampaikan kepada pembaca. Dengan demikian, paragraf harus dibedakan dengan jelas antara kesatuan dan kepaduan dalam bidang dengan kesatuan dan kepaduan dalam bidang bentuk atau susunan atau struktur kebahasaan.